Angkuh

by - November 24, 2018



Awan putih berarak cepat digantikan dengan awan hitam. Tetes air mulai jatuh satu-satu berirama. Dan diperkirakan langkah kakiku akan sampai di halte depan mall, sebelum tetes hujan mempercepat iramanya turun ke bumi.

Masih asik dengan gawai di tanganku. Juga kepercayaan diri bahwa cuaca masih mendukung untuk aku berjalan sambil chatting. Tiba-tiba keangkuhanku dijawab oleh sang empunya dan penguasa alam. Tetes hujan satu-satu yang jatuh dan berirama tadi. Kini turun secara keroyokan. Tidak tanggung-tanggung, langsung brek besar juga disertai angin.

Langkah kaki seribu pun dilakukan. Ah, ternyata aku kalah cepat dengan hujan. Dengan tubuh setengah basah, berteduhlah aku di bawah atap parkiran masuk motor. Sayang, angin kencang membuat tubuh menjadi seluruhnya basah. Menyesal selalu datang diakhir. Terlalu percaya diri hingga batas kesombongan hampir tercapai.

Begitu banyak seandainya terlintas di benak ketika sedang berteduh. Seandainya tadi langkah kaki fokus pada tujuan menuju halte. Seandainya tadi tidak bergawai ria ketika sedang berjalan. Seandainya tidak terbesit dalam hati meremehkan cuaca.

Tentu sekarang aku sudah berada di atas ojol dan sampai rumah. Itu berarti aku bisa menyiapkan makan malam. Ah, sudahlah.

#TantanganRumlitIPBekasi
#DiariIbuProfesional
#CeritaIbu
#CeritaKeluarga
#CeritaKita

You May Also Like

0 komentar