facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi


Judul Buku : Melati dalam Kegelapan
Penulis : Sidik Nugroho
Penerbit : Gramedia
Jumlah hal : 199 hal

Buku ini sebenernya bacaan kakak. Kebetulan butuh refresh sebelum kembali ke bacaan non fiksi yang agak sedikit membutuhkan konsentrasi #gaya

Buku ini bergenre horor misteri dengan setting tempat di Pontianak. Melati pada judul buku ternyata adalah sebuah nama perempuan. Dia terbunuh di ruko yang tidak jauh dari komplek perumahan Tony. Melati dibunuh dalam keadaan hamil. Sang kekasihnya lah yang membunuh Melati. Usut punya cerita, Melati menuntut sang kekasih untuk bertanggung jawab karena dia hamil. Sedangkan sang kekasih tahu bahwa Melati adalah seorang ayam kampus. Hal ini membuat kekasihnya ragu dan memungkiri kalau dia bukanlah bapak dari anak yang dikandung Melati.

Melati pun mati penasaran. Rohnya sering menampakkan diri di pohon rambutan yang tumbuh di belakang rumah Tony. Saking seringnya dia muncul. Membuat Tony ingin menyelidiki latar belakang kehidupan Melati sebelum dia tewas dibunuh. Setidaknya itulah perkiraan Tony mengapa Melati sering datang mengunjunginya.

Di lain sisi, Tony juga seorang pemimpin cabang sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pakan ternak. Dengan segala keterbatasan karena perusahaan yang berskala kecil. Tony tidak menyangka bila ada yang menaruh dendam dengan gaya memimpinnya itu. Nyawa Tony terancam bahaya.

Sekarang Tony mempunyai dua misteri yang harus diungkap. Latar belakang Melati yang tewas dan juga mencari tahu mengapa ada seseorang yang sangat ingin membunuhnya.

Dua kasus berbeda yang sampai pada akhir cerita tetap membingungkan saya. Dua ending yang berbeda untuk Melati dan si pengancam Tony.

#oneweekonebook
#cloverlinecreative





Oktober 13, 2018 No komentar
Membiayai pendidikan adalah salah satu kewajiban orang tua. Orang tua hanya mampu membekali anaknya dengan ilmu. Agar kelak dengan ilmunya tersebut, ia bisa hidup mandiri.

Begitu pula perlakuanku pada kakak. Membiayai kuliahnya hingga ia mendapat gelar S1.

Seperti pada tulisan sebelumnya dimana aku pernah berkata bahwa pada semester enam tahun depan. Kakak sudah harus menentukan jurusan yang lebih spesifik. Antara akuntansi pajak dan publik. Setelah beberapa minggu kakak merenung dan menimbang-nimbang. Plihan kakak pun jatuh untuk mengambil akuntansi pajak.

Jam kuliah mata pelajaran pajak memang tidak banyak. Satu minggu paling hanya dua jam-an gitu. Belum lagi dosen yang terkadang berhalangan hadir. Ditambah tiga bulan liburan tahun ajaran baru. Makin sedikitlah waktu untuk mempelajari pajak tersebut.

Kakak pun memutuskan untuk mengambil kursus pajak untuk lebih memantapkan ilmu tersebut.

Jelas mau tidak mau aku harus menyiapkan dana di luar biaya kuliah reguler. Sampai pada suatu hari di sebuah percakapan antara aku dan kakak.

“Mah, kakak kan lagi nyelengin buat biaya kursus pajak. Mudah-mudahan duitnya ke kumpul sebelum semester lima berakhir.”

Aku diam sambil menganggukan kepala beberapa kali.

“Iyah, nanti kalau kurang mamah tambahin deh.” Akhirnya aku menjawab dengan perasaan haru.

#Harike10
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP





Oktober 13, 2018 No komentar
Membekali anak gadis dengan berbagai keterampilan adalah tugas seorang ibu. Urusan dapur merupakan hal terpenting yang akan dihadapi sang anak ketika akan berumah tangga.

Memasak telur mata sapi, mie instan, atau martabak mie sudah biasa. Jenis masakan yang mudah kalau itu sih, ya. Bagaimana kalau naik level sedikit. Kebetulan kakaknya minat dan yang mau dicoba adalah masakan kesukaan kakak. Tumis kangkung.

Masakan sederhana tapi cukup menantang bagi yang belum pernah mencobanya. Terlihat mudah tapi belum tentu hasil akhir akan memuaskan.

Memotong kangkung, kakak lulus dengan nilai baik. Batang yang agak besar versi aku, biasanya dibelah dua. Sedangkan kakak tidak menyukai batang besar. Alasannya karena dia pernah membaca dan mendengar berita tentang lintah yang menempel di batang kangkung. Nasib anak yang mengkonsumsi kangkung tersebut sangat mengenaskan. Alhasil kakak lebih baik membuang batang kangkung yang ukurannya agak besar itu.

Mengupas bawang putih, merajahnya beserta cabai dengan pelan dan sangat hati-hati. Nggak sabar sih waktu aku melihat kakak melakukannya.

Aku memandu kakak cara memasak tumis kangkung. Kubiarkan dia menakar bumbu seperti garam, gula, dan saos tiram. Kubiarkan pula dia merasai dan mencicipi hasil akhir masakan sesuai dengan seleranya.

“Hambar, Mah,” ucap kakak ketika dia memakan hasil masakannya beserta nasi panas.

“Tadi perasaan udah enak waktu diicipin sebelum diangkat,” lanjutnya lagi.

“Enak, kok,” papah menimpali ucapan kakak sambil makan dengan lahap.

Aku tahu bahwa suamiku hanya ingin menghibur masakan pertama kakak. Aku sih diam saja. Sampai akhirnya kakak berkata, “besok bikin tumis kangkung lagi, ah.”

“Iyah, besok mamah beliin lagi kangkung di tukang sayur,” jawabku pada kakak.

“Tapi besok terakhir ya, Kak. Lusanya jangan bikin tumis kangkung lagi. Bosen,” timpal papah.

#Harike9
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP






Oktober 12, 2018 No komentar
“Jadi mamah ngasih bekel berapa?”

Itu adalah kalimat pertanyaan yang kukatakan pada kakak sebelum dia pergi kembali untuk kos. Baru dua kali aku melakukan kebiasaan seperti itu.

Biasa sih aku menghitung keuangan kakak per hari adalah Rp 25.000. Jadi kalau empat hari kuliah dari Senin - Kamis. Berarti kebutuhan kakak adalah Rp 200.000. Lalu ditambah ongkos PP Rp 50.00 jadi total per minggu yang kuberikan adalah Rp 250.000.

“Dua ratus ribu aja, Mah. Kakak masih punya sisa seratus ribu minggu kemarin.”

Usut punya usut, ternyata kakak dan teman-temannya memanfaatkan promo online makan gratis dari sebuah restoran di Karawang. Nggak tanggung-tanggung, kakak dan teman-temannya melakukannya dua hari berturut-turut. Pantas saja uang mingguan kakak masih ada lebihan.

Aku suka kakak jujur tentang kebutuhan keuangannya. Padahal kan bisa saja kakak tetap mendapatkan jatah mingguan secara utuh. Entahlah nanti uang lebihannya untuk apa. Tapi ini malahan kakak minta dikurangi jatah mingguannya.

Akhirnya jatah sisa mingguan yang tidak diberikan pada kakak. Aku masukkan ke dalam tabungan untuk biaya kuliahnya.

Minggu berikutnya kakak melakukan hal serupa. Kutanyakan pada kakak apakah ada sisa uang lebih? Soalnya minggu sebelumnya kan sudah dikurangi jatahnya.

“Kakak dapet uang dari eyang mamah (nenek) pas main ke sana hari Jumat.”

Kusembunyikan wajah banggaku pada kakak. Setidaknya aku berhasil menumbuhkan sikap tanggung jawab, prihatin, jujur,  dan hemat pada kakak.

#Harike8
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP













Oktober 11, 2018 No komentar
Tiga kilogram mangga di dalam kantong plastik diletakkan di meja makan oleh papah. Harum buah mangga menyeruak ke seluruh ruang makan. Menambah semangat mempercepat makan malam yang biasa kami lakukan setelah salat magrib.

“Kakak yang kupas mangga, yah,” kataku pada kakak setelah kami selesai melaksanakan salat magrib.

Selama ini aku belum pernah meminta dan melihat kakak mengupas buah. Memotong juga termasuk latihan kemandirian, kan?

“Dih, mamah. Kakak tuh kalau di kos-an rajin ngupas buah dibanding Ali (Alifira) tahu.” Balas kakak beragumentasi. Ali adalah teman kos sekamar kakak.

“Ya udah kalau gitu kakak aja yang kupas mangga. Pinginlah mamah sekali-kali langsung makan buah tanpa harus ngupas terlebih dahulu.”

“Iyah, nanti kakak kupasin. Tapi abis salat isya, yah.”

Aku tersenyum karena telah berhasil membuat kakak mau memotong buah. Maklum, ini adalah permintaan untuk kesekian kalinya. Hampir setiap kakak pulang ke rumah. Aku meminta dia untuk mengupas dan memotong buah. Tapi alasan yang dibuatnya selalu ada.

Jarum pendek jam di dinding berada di tengah angka tujuh dan delapan. Kakak belum juga keluar dari kamar. Kuberikan beberapa menit sebelum aku meluncur ke kamarnya.

Oke. Time is up.  Kubuka kamar kakak. Dengan posisi tubuh di luar kamar. Hanya kepala saja yang kulongokkan ke dalam.

“Udah mau jam delapan, Kak. Kapan mau potong buahnya?” tanyaku pada kakak.

Sunyi merambat di ruangan 2,5 x 3,5 meter persegi bercat merah muda itu. Terlihat kakak asyik dengan gawainya. Setelah beberapa menit, baru dia menjawab pertanyaanku.

“Iyah, sebentar lagi.”

Oke. Jawaban sudah diterima. Aku pun menutup pintu kamar kakak. Kembali duduk di depan tv yang menonton diriku. Soalnya akunya main gawai. Heuheu.

Tidak lama kakak keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Aku senang karena sebentar lagi buah mangga potong akan menemaniku menonton tv. Kalau sambil makan buah, tv nya aku tonton, kok.

Iseng-iseng aku menghampiri kakak yang sedang mengupas mangga. Ya, sekadar ingin melihat aksinya memegang pisau. Belum lagi aku bekomentar, kakak yang melihatku mendekatinya langsung berkata,”susah nih ngupasnya, Mah.”

Aku melihat tetesan air buah mangga yang sudah sangat matang membasahi lengan kakak. Menetes di atas meja makan. Kulit yang tekupas pun begitu tebal. Membuat daging mangga terbawa menempel di kulitnya dan terbuang.

“Ketebelan ngupasnya, Kak. Katanya udah biasa ngupas buah di kos-an,” ucapku pada kakak.

“Buahnya yang kematengan, Mah. Jadi susah motong,” balas kakak.

Tidak banyak komentar yang akan berujung perdebatan. Aku mengambil sebuah pisau. Setelah sebelumnya kakak tidak memberikan pisau yang sedang dipegangnya padaku. Kakak  bersikukuh akan melanjutkan memotong buah mangga. Menolak aku yang akan memberi contoh memotong buah mangga tersebut.

Kakak melihat caraku memotong buah. Memang tidak mudah untuk kakak mengupas buah dengan kulit yang tipis. Tapi setidaknya sudah lebih baik lah, ya.

“Besok malam, kakak lagi yang ngupas buah, ya.”

Diamnya kakak kuanggap setuju.


#Harike7
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP








Oktober 10, 2018 No komentar
Mah, Kak Intan mau ambil yoghurtnya nanti malam pukul tujuh. Kali ini beneran, nggak pake molor lagi.

Begitu pesan kakak via whatsapp hari Minggu malam.

Setelah satu minggu reseller kakap kakak membuat order. Barangnya masih nongkrong santai di freezer. Malah dia jadi dingin, sebeku es. Mungkin dia ngambek karena menunggu terlalu lama (dia=yoghurt).

Waktu yang dijanjikan reseller kakak pukul tujuh, mulur satu jam. Aku dibangunkan oleh suami karena tertidur di kursi depan tv ketika Intan datang. Begitu selesai menemui dan menyerahkan barang pada Intan. Segera kukabari kakak.

Udah diambil ya, Kak.

Terima kasih Mamah.

Ampe ketiduran mamah, kak, nungguinnya. Kakak lagi apa?

Ya udah, terusin aja lagi tidurnya, Mah. Kakak lagi ngerjain tugas presentasi buat besok. Dikit lagi kelar.

Mamah ada deadline tugas bunsay, Kak. Jam 23.39 deadlinenya. Jadi tidurnya ntar abis setor tugas, deh.

Jangan malem-malem tidurnya, Mah. Kakak aja mau tidur jam sembilan. Besok kuliah pagi. Takut kesiangan kalo tidurnya kemaleman.

Sukurlah kakak sudah lebih bijak mengatur dirinya sendiri. Sudah tahu tentang apa yang dibutuhkan olehnya. Nggak apa baru sebatas kalau dia lagi di kos-an. Soalnya kalau di rumah, kakak tidurnya sering menjelang tengah malam. Pelan-pelan sambil memberi pengertian tentang kebutuhan tidur cukup. Lama-lama dia juga bakal mengerti dan tahu.

#Harike6
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP



Oktober 09, 2018 No komentar
Minggu pagi pulang CFD (Car Free Day) lelahnya menjadi dua kali lipat. Lelah sehabis CFD dan lelah melihat cucian baju di ember yang penuh juga padat. Seketika sekujur tubuh menjadi lemas, tidak bergairah, dan tidak bersemangat.

Kulihat jam di dinding pukul 09.30. Lelah belum juga hilang, malah malas makin menguasai tubuh.

“Bantuin nyuci dong, Kak?” pintaku pada kakak.

Oh iyah, kelupaan bilang, kalau aku tuh nggak punya mesin cuci. Jadi tenaga dan kemauan kuat adalah modal utama. :)

“Yah, mamah. Kakak mau ngerjain sisa tugas yang belum selesai, nih.” Kakak memberi alasan tidak bisa membantuku mencuci pakaian.

“Lagian ntar sore kakak pulang. Besok Senin tugasnya dikumpulin,” lanjut kakak menguatkan alasan yang tidak bisa kubantah.

Akhirnya dengan menumbuhkan sisa semangat. Dan bayangan cucian yang akan bertambah esok hari. Aku pun membawa cucian naik ke atas untuk dicuci.

Di pertengahan menyuci terdengar pintu dibuka. Tidak perlu kulihat siapa yang menghampiriku. Terlihat kakak menaruh dingklik (bangku plastik kecil) di samping ku.

“Udah, mamah makan dulu, gih. Biar cuciannya kakak yang nerusin. Ntar pingsan lagi gara-gara nyuci dengan perut kosong.”

“Masih kenyang waktu makan bubur ayam tadi, Kak.”

“Itu kan tadi pukul tujuh, Mah. Sekarang udah pukul setengah sebelas.”

Angin berembus, meredam udara panas. Juga membuat hati adem. Kakak yang memutuskan untuk membantu menyuci dan membiarkan ibunya untuk makan siang. Berhasil membuat aku menjadi ibu yang paling bahagia.

Di hari Minggu itu. Kami mencuci berdua sambil ngobrol. Quality time tidak perlu di tempat mahal dan jauh. Menghabiskan waktu berdua dengan mencuci pun jadilah. Hampir dua jam lebih kami menghabiskan waktu bersama tanpa gawai di tengah kami.

#Harike5
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP


Oktober 08, 2018 No komentar
“Kertas A4 satu rim harganya berapa, Mah?” Suatu hari di Kamis sore lalu papah bertanya padaku.

“Buat apaan kertas A4 satu rim? Banyak banget. Emang di kantor nggak ada?” Aku bertanya balik pada papah.

“Ini kakak butuh kertas banyak. Mau ngeprint tugas seratus halaman,” ucap papah sambil membaca pesan kakak dari gawai yang dipegangnya.
*
Malamnya kira-kira menjelang pukul sembilan malam kakak tiba di rumah. Bukan waktu yang tepat untuk berbincang dengan kakak. Kakak lelah, aku pun lelah. Aku pun hanya menanyakan barangkali dia belum makan malam. Sesudah itu, aku masuk ke kamar untuk beristirahat.

Esok harinya kakak menanyakan kertas yang diminta dari papahnya. Kemudian dia mempersiapkan laptop dan printer.

“Tugas kelompok, Kak?” tanyaku pada kakak yang sibuk dengan kabel-kabel laptop dan printer.

“Bukan, Mah.”

“Trus apa dong? Papah bilang kakak mau ngeprint banyak,” ucapku memotong pembicaraan kakak.

“Kakak mau ngeprint buku budgeting. Dikasih soft copynya sama dosen.”

“Kenapa nggak beli bukunya aja?”

“Seratus ribu mamah. Mahal kan?”

Hmm, nggak menyangka ternyata kakak ketularan gaya emaknya. Kalau ada yang lebih murah untuk apa membeli yang mahal. Terlebih kalau soal buku. Inisiatif kakak bener-bener membuat aku bangga sebagai ibunya.. Dia berhasil mencari solusi untuk mendapatkan e-Book yang gratis dibanding membeli bukunya.

Sore harinya setelah papahnya datang pulang kerja. Kakak pergi menjilid buku yang sudah di print tersebut.

Semangat belajar kakak.

#Harike4
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP

Oktober 07, 2018 No komentar
Semester enam depan, kakak mulai KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebetulnya hal ini sudah digaungkan kakak ketika semester empat berakhir. Ketika akan mengambil SKS pada semester lima pun, kakak mengingatkan lagi tentang KKN di semester enam.

“Tahun depan kakak udah mulai KKN, Mah.” Suatu hari ketika kami sedang berdiskusi mata kuliah yang akan diambil di semester lima. Aku dan kakak sedang menghitung jumlah SKS agar jumlahnya bisa pas dengan nilai IPK kakak.

“Tuh, lihat!” Kakak menunjukkan mata kuliah praktek kerja lapangan di lembar SKS pada semester enam.

“Berarti kakak udahan di kegiatan komunitas YOT (Young on Top), dong,” sahutku.

“Yah, nggak harus udahan juga, sih. Tapi dikurangi gitu. Kan kakak sekretaris. Masa jabatannya satu tahun,” kakak menimpali cepat pernyataanku yang agak sedikit meminta untuk berhenti dari komunitasnya.

Maklumlah, kalau kakak sudah ada kegiatan di komunitasnya. Seperti kegiatan charity atau seminar motivasi, dia jadi sibuk banget. Sabtu dan Minggu full di luar rumah. Minggu sorenya balik lagi ke kos-an di Karawang.

Baiklah bila kakak memang maunya seperti itu. Aku mengajukan syarat agar nilai IP dan IPK nya harus stabil, sukur-sukur meningkat.

“Nah, dosen kakak bilang. Kakak harus udah mulai mikirin penjurusan untuk KKN itu,” ucap kakak mengembalikan topik pembicaraan yang terseling oleh masalah komunitasnya tadi.

“Kakak bingung harus pilih akuntasi publik atau pajak. Menurut mamah bagusan yang mana, yah?”

“Yah, terserah kakak. Kakak nyamannya yang mana di antara kedua jurusan itu. Mana yang paling kakak sukai. Kalau kakak suka dan nyaman, kan enak belajarnya. Sesulit apapun pelajarannya, kalau kakak suka. Nggak bakal berhenti di tengah jalan. Itu modal yang paling penting, suka.”

Tatapan mata kakak menerawang setelah ucapanku selesai. Kami saling berdiam diri. Sunyi. Sejenak suasana di ruangan di mana kami berada terasa hening. Tak lama kemudian kakak beranjak dari duduknya menuju kamar. Aku yakin kakak akan menemukan pilihan yang terbaiknya.

#Harike3
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP





Oktober 06, 2018 No komentar
Sebelum menekuni usaha sekarang yaitu yoghurt. Aku sudah mengenalkan produk tersebut pada anggota keluarga. Sebetulnya suami tidak menyukai rasa asam yoghurt. Sedang kakak biasa saja dengan produk tersebut.

Seiring berjalannya waktu yang mencapai usia dua tahun usahaku ini. Juga suami dan kakak yang mulai menyukai dan rutin mengkonsumsi yoghurt. Membuat usaha yang dijalani ini menjadi semakin mantap. Aku seakan mendapat back up dari mereka berdua.

Suami yang bersedia mengirim dan menjemput barang. Kakak yang mempromosikan produk di medsosnya. Membuat kami bertambah kompak dalam memajukan usaha ini.

Tiga minggu yang lalu, kakak mendapatkan reseller kakap. Maklum sebelum-sebelumnya kan kakak cuma bisa jual eceran. Ya, tiga atau empat botol gitu. Itu pun sebatas teman kampusnya. Jadi ya gitu, lebihan duit jualannya nggak banyak.

Aku memperlakukan kakak sebagai reseller juga, lho. Profesional. Walaupun harga yang diberi sedikit lebih murah dibanding reseller yang lainnya. Tidak ada maksud lain supaya kakak bisa sedikit menabung dengan uang yang didapat dari penjualan yoghurt.

Order minggu pertama reseller kakak adalah sebanyak 10 botol. Minggu kedua meningkat menjadi 29 botol. Minggu ketiga bertambah menjadi 30 botol. Celengan kaleng bekas kue kakak bertambah cepat. Sayang di minggu keempat, hanya order tiga botol.
Di sampaikanlah pada kakak, bahwa pengambilan minimal seorang reseller adalah 10 botol. Bila pengambilan di bawah 10 botol, maka harga yang didapatnya bukanlah harga reseller tapi harga normal.

“Mamah nggak ada ngomong kayak gitu ke Kakak.” Kakak kecewa, kesal, dan ada nada sedikit marah.

Aku lupa. Lupa sudah menyampaikan hal ini atau belum ke kakak tentang aturan reseller ini.

“Abis gimana dong, Kak. Kirain mamah udah bilang ke kakak soal peraturan itu.”

“Trus kakak harus bilang apa dong ke temen kakak.”

“Ya bilangin aja, kalau tetep mau dapet harga reseller. Temen kakak harus ambil jumlah minimal, sepuluh botol.”

“Iyah, kakak ngerti. Tapi gimana ngomongnya. Kan kakak nggak enak sama dia.”

Itu adalah kalimat terakhir kakak sebelum ngeloyor pergi meninggalkanku sendiri di ruang makan.
*
Malamnya kakak menghampiriku ke ruang makan. Ruang makan adalah ruang kerjaku. Hampir semuanya aku lakukan di ruang makan. Saat itu aku sedang melakukan pencatatan pembukuan dagangan.

“Ada kan tambahan order temen kakak. Tuh, dia jadi order sepuluh botol.”

Aku mengambil gawai dan membuka pesan whatsapp dari kakak. Begitulah cara kami berkomunikasi bila ada orderan masuk. Kakak lebih suka mem-forward orderan resellernya dibanding menuliskan di atas kertas.

“Ada,” jawabku setelah mengecek buku order.

Entah bagaimana cara kakak menyampaikan pada temannya tentang pengambilan order minimum. Entah kalimatnya seperti apa. Yang jelas aku senang kakak bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku pernah mengalami hal seperti kakak. Nggak sama tapi miriplah sedikit. Aku tahu hal itu susah. Terlebih kakak sering merasa nggak enakan sama orang.

Pelajaran kakak untuk menyelesaikan masalah selesai. Yaitu poin yang dimaksud oleh Gea dan Havighurst ( www.dispsiad.mil.id/index.php/en/psikologi-olah-raga/290-membentuk-kemandirian-anak-remaja), mampu mengatasi masalah atau hambatan; sebagai orang yang mampu berinisiatif orang yang mandiri mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dengan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.

#Harike2
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP


Oktober 05, 2018 No komentar
Foto: Kakak menuju stasiun

Jadwal kuliah semester 5 kakak sudah fix. Jadwal semula adalah Senin - Kamis dan Sabtu. Jumat libur. Hal inilah yang membuat kakak BT. Hari terjepit dan tanggung bila pulang ke Bekasi.

Bersyukur di minggu pertama jalannya perkuliahan, jadwal berubah. Dosen muda yang mengisi kuliah hari Sabtu memajukan jadwal kuliahnya menjadi Rabu malam pukul 18.30. Kabar bahagia tersebut kakak sampaikan via whatsapp.

“Akhirnya kakak bisa pulang seminggu sekali lagi.”

Aku pun turut senang mendengar hal itu. Ada satu pertanyaan yang mengganjal. Jadwal kuliah kakak kan sampai sore. Sedangkan kereta terakhir dari Karawang menuju Bekasi kira-kira pukul setengah empat sore. Dengan apa kakak akan pulang?

“Emangnya ada kereta sore, Kak?”

“Nggak ada sih, Mah. Kakak kan selesai kuliahnya pukul lima lebih-an gitu.”

Begitu percakapan kami via whatsapp. Diakhiri dengan kalimat bahwa kakak akan mencari informasi mengenai transportasi selain kereta yang menuju Bekasi.

Terus terang, aku tidak mau kakak menggunakan bus tiga perempat. Selain tidak nyaman, juga tidak aman. Makanya aku tidak menyarankan kakak untuk menaikinya.

Aku pun tahu kakak mempunyai teman yang tinggal di Tambun. Kakak pun pernah minta izin untuk pulang nebeng bersama temannya itu. Tapi aku tidak memberi izin. Kalau kendaraan yang ditumpanginya roda empat sih, oke-oke saja. Lah, ini roda dua. Bukan perjalanan rumah ke mall, lho ini. Bukan perjalanan sepuluh atau lima belas menit.

Aku tidak bisa membayangkan kakak duduk di atas motor selama kurang lebih dua jam. Belum lagi jalan yang akan dilaluinya. Serem! Jalan arteri Karawang kan banyak kendaraan besar seperti truk, container, bus. Haduh, nggak deh. Belum angin, apalagi ini pulangnya sore dari Karawang. Big no, Kak!

Aku pun tidak mempunyai solusi lain. Kakak tetap dengan pendiriannya tetap akan pulang Kamis sore selepas kuliah. Ia tidak mau membuang waktu untuk berlama-lama di kos-an. Kakak mau segera pulang dan berkumpul dengan kami, kedua orang tuanya.

“Mah, Kakak udah di mobil, nih.”

Begitu pesan yang saya baca pada sore hari menjelang magrib.

Kok bisa kakak ada di mobil? Mobil apa nih maksudnya? Berada di mobil siapa pula kakak, nih?

Kami, aku dan kakak pun terlibat percakapan via whatsapp. Usut punya cerita. Ternyata kakak mencari informasi transportasi selain kereta ke beberapa teman di kampusnya. Akhirnya kakak pun mendapat informasi dari teman lintas kelas. Heuheu keren kan, lintas kelas.

Dari teman lintas kelas tersebut. Kakak mendapatkan informasi bahwa temannya tersebut terkadang menggunakan travel. Travel tujuan Karawang - UKI, Cawang itu tidak keluar Bekasi Timur pun Bekasi Barat. Jadi kakak harus turun di bawah jembatan.

Ngeri juga mendengar kakak harus turun di bawah jembatan. Lalu menaikin undakan tanah ke atas menuju tepi jalan. Aku tahu bagaimana kondisi daerah tersebut.

Kuusulkan kakak untuk keluar tol barat. Tapi kakak menyampaikan bahwa kondisi bawah jembatan tol barat lebih menyeramkan dibanding tol timur. Terus terang aku tidak tahu kondisi daerah jembatan tol barat. Jadi yah, aku percaya dengan kakak.

Aku pun menyimpulkan bahwa situasi dan kondisi yang dialami kakak sudah memenuhi tugas kemandirian dari kelas Bunsay#4.

Berdasarkan kesimpulan ciri kemandirian Gea dan Havighurst (www.dispsiad.mil.id/index.php/en/psikologi-olah-raga/290-membentuk-kemandirian-anak-remaja).  Maka kakak sudah memenuhi dua poin kemandirian, yaitu:

1. Mampu berinisiatif; orang yang mandiri mampu berinisiatif yaitu bertindak dengan keinginannya sendiri tanpa harus menunggu instruksi orang lain. Di sini kakak berinisiatif mencari informasi kendaraan selain kereta menuju Bekasi.

2. Mampu mengambil keputusan; ketika dihadapkan pada berbagai pilihan dia dapat menentukan pilihan yang sesuai bagi dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Pada poin dua ini, kakak dapat        mengambil keputusan di mana ia akan turun. dari kendaraan yang dinaikinya. Ia memahami kondisi dan situasi daerah yang akan dilaluinya. Bahwa ia memutuskan untuk turun di bawah jembatan tol timur.

#Hari1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian

#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP






Oktober 04, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ▼  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ▼  Oktober (11)
      • Review Buku : Melati dalam Kegelapan
      • Melatih Kemandirian #Biaya Kursus Pajak Kakak
      • Melatih Kemandirian #Masakan Pertama Kakak
      • Melatih Kemandirian #Uang dan Kejujuran
      • Melatih Kemandirian #Mengupas Mangga
      • Manajemen Diri #1 Kakak Tidur Cepat
      • Dibantu Kakak
      • Mencari Solusi #4 Kakak Nge-Print Buku
      • Mencari Solusi #3 Memilih Sesuai Hati Kakak
      • Mencari Solusi #Kakak Bicara dengan Pelanggan
      • Mencari Solusi #1 Travel
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose