facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi


Tugas kedua di minggu ketiga kelas Bunda Produktif adalah melengkapi canvas passion. 

Nggak bingung sih waktu mengisi kolom pertama. Yaitu tentang passion yang beberapa tahun ini sudah digeluti. 

Cuma kolom solusi yang bikin agak berpikir gitu. Secara akutuh masih belajar meningkatkan skill. Solusinya belum pede untuk dijalanin. 

Passion

Passion menurut KBBI adalah gairah berarti keinginan atau hasrat atau yang kuat. 

Kalau yang sudah mendapatkan passion pasti bakal lebih bersemangat hidupnya. 

Passion itu berbeda dengan hobi. Hobiku itu sebenarnya lumayan banyak. Sebut saja, crafting atau mencoba aneka resep baru. 

Hobi itu cuma bisa mengusir kejenuhan sejenak. Misalnya, nih, waktu aku mengerjakan decoupage. Awalnya semangat banget. Seharian bisa duduk utak-atik tisu bergambar untuk ditempel di media. Tapi begitu mentok. Langsung, deh, disudahi. Bosan aja gitu. 

Tapi kalau menulis. Biar sampai jam berapa aja selalu stay tune. Lelah kadang nggak dirasa. Kalau sudah mulai riset. Bisa berjam-jam browsing cari bahan tulisan. 

Menulis itu seperti ada daya magnetnya. Kalau tubuh nggak minta istirahat. Mungkin tidur bisa larut malam terus. Malah suka mengorbankan urusan rumah. Jam kerjanya suka dibalik-balik. 

Misal urusan mencuci, nih. Biasa pukul tujuh sudah mulai. Tapi karena ada tulisan yang harus diselesaikan. Maka waktu mencuci bisa molor jadi menjelang dzuhur. 

Ya, judulnya urusan rumah tetap kelar di hari itu. Cuma jamnya aja yang nggak pasti.

Bagaimana? Kolom satu aku isi dengan literasi (menulis), yaa. 

Life Stage Passion

Masuk di life stage passion mana? Apa saja yang sudah Anda lakukan dengan passion tersebut?  

Mulai serius menulis itu pertengahan tahun 2017. Diawali dengan mengikuti kelas berbayar menulis cerpen. 

Selain kelas berbayar, aku mengikuti komunitas menulis yang banyak membahas sastra. Suka banget, asli. Secara jarang menemui penggemar sastra. Hmm, mungkin aku yang kudet. Nggak bisa menemukan komunitas sastra yang lain. 

Menulis cerpen memang menyenangkan. Tapi menulis genre lain patut dicoba juga.

Cernak adalah fokus menulis berikutnya. Sempat merasa nyaman menulis genre cernak ini. Secara menulis cernak tidak sepanjang cerpen. 

Cernak paling banyak membutuhkan 200 kata dalam satu cerita. Tapi cari ide dan cara penyampapaian cerita ke dalam tulisan. Asli butuh kerja keras. Secara kita sebagai orang dewasa diminta untuk berpikir cara mereka, anak-anak. 

Hampir dua tahun mengikuti kelas cernak berbayar dan gratis. Menulis cerpen cuma sesekali aja kalau lagi kangen. 

Awal tahun 2019, beralih gaya kepenulisan. Blog. Iya, aku mau coba menulis ala-ala gue gitu. Gaya tulisan tanpa harus bercerita fantasi, thriller, romantis, horor, fiksi ilmiah, atau juga berpikir layaknya anak-anak. 

Belum berpikir apakah ini life stage terakhir atau bukan. Terpikir hanyalah harus mencoba semua jenis dan gaya menulis. Selain keluar zona nyaman, juga untuk memerluasan wawasan. Belajar, kan, nggak ada ruginya. 

Dari beberapa kelas yang sudah diikuti. Pencapaian adalah sebuah bukti kalau  itu adalah memang passion.

Beberapa antologi cerpen dan cernak sudah berhasil diterbitkan. Baik itu terbit secara mandiri atau mayor. 

Belum puas sebetulnya dengan pencapaian diri tersebut. Target buku solo belum terwujud. Apa daya diri malah berbelok arah malah mendalami dunia blog. 

Hmm, tapi siapa tahu kalau bisa menerbitkan buku sambil ngeblog. Doain, ya, man-teman. Terima kasiiih. 

Kerja sendiri pasti bikin cepat capek, lelah, dan bosan. Untuk mengatasasi tiga masalah itu. Diikutilah beberapa komunitas yang mempunyai visi dan misi sama. Yaitu menulis dan dapat menerbitkan buku.

Ada beberapa grup wa dalam gawai. Malah sudah ada yang berusia tiga tahun. Beberapa grup wa kepenulisan tersebut, mempunyai gaya menulis berbeda-beda. 

Makanya aku merasa sayang banget kalau keluar dari grup-grup itu. Meski hanya sesekali setor muka. Setidaknya para anggota dalam grup tahu kalau aku masih ada. 

Grup-grup kepenulisan, kan, lumayan suka memberi kelas gratisan. Siapa, sih, yang nggak mau ilmu gratisan? 

Nggak setiap saat juga, sih, ilmu gratisan itu didapat. Tapi sharing dan berbagi pengalaman sesama anggota, kan, itu namanya dapat ilmu gratisan juga. Ya, nggak? 



Hard Skill

Mengupgrade diri itu suatu keharusan. Bagaimana bisa mencapai tujuan dari sebuah passion bila berdiri di tempat yang sama. 

Begitu juga dengan menulis blog yang sedang aku jalani. Ilmu harus ditambah terus. Dunia keilmuan itu setiap harinya maju. Kalau nggak mengikuti perkembangan ilmu, yang ada ketinggalan zaman. 

Seperti dashboard blog ini. Tahun lalu penampilannya bukan seperti ini, lho. Belum juga sempat mengulik dashboard lama, yang baru sudah ada. 

Memang aku bisa mencari tahu sendiri lewat google. Tapi tetap saja aku membutuhkan mentor, apa fungsi dan bagaimana menggunakannya dashboard tersebut.  Aku membutuhkan penjelasan semua hal dan istilah-istilah dalam dunia blog yang baru kukenal ini. 

Lihat saja penampilan blogku ini. Istilah rumah, mah, RSS (Rumah Sangat Sederhana). Aku juga, kan, kepengin penampilan blognya seperti teman-teman blogger yang lain. Cantik dan enak dilihat. 

Selain itu, aku juga membutuhkan ilmu cara mengisi blog yang friendly user, content yang SEO, trik agak tulisan page one on google, dan masih banyak lagi. 

Soft Skill

Pasangannya hard skill, nih. Soft skill harus berjalan beriringan. 

Selain penguasaan teknik-teknik menulis dan utak-atik blog. Aku juga dituntut untuk bisa beradptasi cepat. Secepat ilmu yang berkembang di setiap harinya.

Bayangin aja, aku adalah seorang calon blogger dan penulis buku. Kalau nggak membaca sehari saja. Apa kata dunia #lebaymodeon 😋

Maka dari itulah adaptasi terhadap ilmu penting banget. Tapi yang lebih penting adalah beradaptasi dengan lingkungan. 

Aku seorang introvert dan kadang baperan juga, heuheu. Seringnya jadi silent reader di setiap grup. Paling sesekali aja nongol. 

Sepertinya selain perlu ilmu beradaptasi, butuh ilmu public speaking juga, nih.

Tantangan

1. Manajemen waktu


Apa, sih, di dunia ini yang nggak ada tantangannya?  Mau tidur aja kita suka menghadapi tantangan godaan supaya nggak ngedrakor, heuheu #nunjukidungsendiri. 

Mungkin buat kaum rebahan seperti aku. Cobaan untuk nggak rebahan itu berat banget. Kan, aku, mah, nggak punya anak kecil lagi. Jadi godaan rebahan sambil scroll up and down gawai lebih besar. 

Maklumin aja, yak, setelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tubuh minta diistirahatin. Sayangnya istirahat yang dijalani kelamaan. 

Jadi, aku membutuhkan manajemen waktu. Agar waktu tidak banyak terbuang. Khususnya waktu rebahan, medsos, game, drakor. Aku harus bisa mengimbangi antara produktivitas dan istirahat yang secukupnya. 

Sempat membuat jadwal aktivitas, kumplit dengan jam atau waktunya. Sayang, aku nggak cocok dengan sistem jadwal seperti itu. Aku lebih suka waktu yang fleksibel. 

Fleksibel dalam artian, yang terpenting adalah tugas wajib selesai pada hari itu juga sebelum pukul lima sore. 

Baiklah, mari kita menaklukan diri menuju waktu yang lebih banyak untuk berproduktivitas.

2. Mencari mentor

Seperti mencari pasangan hidup #eaa. Mencari mentor juga susah-susah gampang.

Seperti guru di sekolah mengajar kita dulu. Gaya mengajar guru, kan, berbeda-beda. Ada yang enak ngajarinnya dan kita langsung paham. Ada juga yang gurunya kurang enak cara penyampaian materinya.

Ilmu yang dimiliki guru juga berbeda-beda. Seperti buku yang mempunyai judul sama tapi selalu ditemukan perbedaan di bagian isinya.

Maka dari itulah, aku suka mengambil kelas dengan materi yang sama tapi beda-beda mentornya. Agar ilmu yang didapat saling mengisi dan melengkapi. 

Sepertinya pengalaman mentor, karya yang dihasilkan, dan jam terbang itulah yang membuat penyampaian materi dari masing-masing mentor berbeda-beda. Eh, tapi Itu menurutku, lho. 

3. Biaya

Makin berkualitas seorang mentor, makin mahal biayanya. Secara mentor yang mahal, pengalaman dan jam terbangnya udah banyak. 

Selain itu, mereka juga akan membimbing kita sampai naskah selesai dan tembus penerbit. Itu kalau aku mengikuti kelas novel atau buku solo. 

Lain lagi dengan blog yang sedang aku tekuni sekarang. 

Biayanya sama besar. Seseorang yang ingin menjadi blogger. Ia harus belajar SEO (Search Engine Optimization), fotographi, mengedit foto, dan belajar aneka tulisan. Seperti, review product, copy writer, apa itu content placement, juga belajar menjadi editor bagi tulisan sendiri. 

Darimana semua biaya itu? Toloooong?!

Solusi 1


Tantangan yang sudah disebutkan di atas, salah satunya adalah mengatur waktu. 

Maka solusi untuk mengatasinya adalah dengan membuat skala prioritas. 

Jujur, sih, skala prioritasnya belum tertib. Ini aja menulis sampai mengabaikan cucian dan setrikaan.

Belum bisa mengatur mood menulis. Kalau mood menulis datang, kerjaan lain bisa diabaikan begitu saja. Terkadang ditegur suami karena kelamaan menulis. Huhu. 

Semoga bisa mengikuti skala prioritas yang tidak tertulis ini. Aamiiin. 

Solusi 2

Itulah yang namanya passion. Dia selalu mencari jalan agar passion tetap dilakukan meski banyak tantangan. 

Selalu ada gairah setiap melakukan kegiatan menulis. Kalau cinta itu buta, ternyata benar adanya. Meski ke ujung dunia, aku akan mengejarnya.

Tantangan bukan hal yang membuat passion berhenti. Ini ujian cinta #lebay. Sampai dimana kadar cinta kita sebenarnya pada passion.

Semasa mengikuti kelas cerpen berbayar dan menghasilkan buku antologi. Aku menjual buku tersebut. Alhamdulillah, balik modal dan ada lebihnya.

Kelebihan yang berupa keuntungan dari menjual buku hasil mengikuti kelas berbayar itu. Kugunakan kembali untuk mengikuti kelas lanjutan. 

Begitu terus sampai akhirnya passion membiayai dirinya sendiri. 

Alhamdulillah, sekarang aku sedang mengikuti kelas gratis belajar blog tiga bulan. Cuma ya itu, sistem kelasnya, sistem gugur. Nggak atau telat mengerjakan tugas, dikeluarkan dari kelas. Doain ya man-teman, biar lulus dengan cumlaude. Terima kasih. 

Ide

Mari mencari ide agar passion menjadi solusi. 

Pada solusi 2 yang sudah dijelaskan di atas, kalau waktu mengikuti kelas cerpen dan cernak hasil karya belajar bisa dijualn dan kembali modal juga mendapat untung.  

Nah, sekarang  hal yang sama kulakukan juga dalam mempelajari blog ini. 

Sebagai awal, aku mengikuti kelas tidak berbayar. Menurutku kelas berbayar yang akan berjalan sampai tiga bulan ini. Rasanya cukup sebagai bekal perdana mencari job. 

Dari hasil job itulah yang nanti akan membawaku mengikuti kelas berbayar.  Semoga terwujud. Aamiiin ya Allah

Project Passion

Bagian ini belum berani panjang lebar menjelaskannya. Takut salah tulis. Soalnya bagian ini adalah pekerjaan kelompok.

Jadi cuma bisa informasikan kalau project passion kami dari cluster 6 adalah membuat e-book tringual,  Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab. 

Target pembaca adalah untuk balita 3-5 tahun dengan judul project "Buku, Teman Baikku". Dengan tema keseharian.

#HexagonCity
#Hexagonia
#ProjectPassion
#KuliahBundaProduktif
#InstituteIbuProfesional









Oktober 18, 2020 2 komentar

Pelaksanaan pilkada di beberapa daerah di Indonesia masih tarik ulur. Pro dan kontra terjadi antara pihak yang tetap bersikukuh melaksanakan pilkada dan pihak yang meminta untuk menunda pilkada. Penundaan pilkada dikarenakan negara kita, Indonesia, masih berada di tengah pandemi. 

Menurut pendapat yang kontra akan penundaan pilkada. Bila pilkada tetap dilanjutkan, ditakutkan penyebaran virus covid akan meluas. Hal ini bertentangan dengan usaha pemerintah sendiri yang sedang mengurangi laju penyebaran virus.

Kurva pandemi dari awal penyebaran covid-19 sampai sekarang, rata-rata masih terlihat landai dan bahkan belum mencapai puncak.

Seperti yang diungkapkan oleh epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman. Dicky mengatakan, landai atau tidaknya kurva pandemi bisa dilihat dari dua indikator, yakni angka kematian dan angka kasus baru harian. 

"Dua-duanya ini kan kita lihat masih tinggi. Artinya, tentu ini belum menunjukkan kalau kurva sudah melandai," kata Dicki pada kompas (22/09/2020).

Dikarenakan hal tersebut di atas, beberapa daerah zona yang kembali menjadi merah, menerapkan PSBB untuk kedua kalinya.

Hal ini  membuat aktivitas warga kembali terbatas. Dampak perekonomian mau tidak mau ikut melandai seperti kurva covid-19. 

Bahkan kuartal ketiga tahun ini Indonesia menghadapi resesi. Tapi tidak dengan kami. Kami akan menghadapi resesi dan tetap berkarya. Agar perekonomian tetap berjalan, khususnya perekonomian rumah tangga. 

Siapa kami? 

Kami adalah Komunitas Ibu Profesional. Aku adalah salah satu mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan Bunpro (Bunda Produktif). 

Namanya juga produktif. Jadi kami harus dan wajib produktif meski di tengah pandemi. 

Bahkan di masa pandemi inilah, rasa akan terasah untuk melihat peluang. Peluang yang akan membuat keterbatasan gerak menjadi sebuah kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri. Dan pada akhirnya berdampak pada masyarakat sekitar dimana kita tinggal. 

Begitulah kurang lebih salah satu tujuan dari perkuliahan Bunpro. Menjadi pribadi yang berkualitas dan bisa berbagi pada sesama dengan apa yang dimilikinya. 

Sungguh, sebuah passion bila dibagi pada sesama akan membuat diri kita menjadi berbinar dan merasa telah menjalankan apa yang diperintah oleh Sang Pencipta. 

Bukankah perintah Tuhan untuk berbagi pada sesama itu wajib? Bukan saja materi tapi ilmu pun wajib diberikan pada sesama. 

Bagaimana caranya di pandemi seperti ini menjadi kreatif? 

Hmm, sebelum menjadi kreatif. Kami diminta untuk memilih walikota di kota yang telah kami bentuk. Kota yang bukan sembarang kota. Namanya juga Kota Produktif. Berarti isinya ya, tentang keproduktivas-an. 

Seperti aku yang berada di co-housing Literasi dan Bahasa. Bertetanggaan dengan co-housing,  public speaking, komunikasi, video dan fotografi. Empat co-housing dikumpulkan menjadi satu cluster. Oh iya, masing-masing co-housing berjumlah sepuluh co-housing. Berarti dalam satu cluster kurang lebih ada empat puluh co-housing. 

Seru, kan, nama-nama co-housingnya. Bukan sembarang nama ini, lho. Nama-nama itu diambil sesuai passion pemilik co-house nya. Jadi bisa dibayangkan kalau kami bisa produktif dengan passion kami itu. Insha Allah akan menghasilkan sesuatu yang dapat saling mengisi sesuai kebutuhan di masa pandemi ini. Aamiiin. 

Calon Walikota

Layaknya sebuah warga yang terpusat disatu wilayah. Maka adanya pemimpin menjadi suatu keharusan. 

Leadership is relationship in which one person, the leader, influences, others to work together willingly on related task to attain that which the leader desires. - George. R Terry

Jadi, maksud George R Terry dengan kalimat di atas adalah bahwa kepemimpinan itu  merupakan aktivitas untuk memengaruhi orang-orang agar diarahkan mencapai tujuan organisasi. 

Disini, aku sebagai sebagai salah satu anggota atau penduduk Hexagon City. Diharuskan untuk memilih salah satu kandidat untuk dijadikan walikota Hexagon City.

Ada enam kandidat yang telah berkampanye selama seminggu. Dan semalam adalah kampanye terakhir dengan mengadakan adu pendapat atau debat secara live di FBG Ibu Profesional.

Asli, seru banget. Ya, meski aku telat hadir. Tapi enam kandidat calon walikota benar-benar telah tampil keren dengan visi-misinya masing-masing. 

Tujuan para calon kandidat hampir sama semua. Yaitu ingin memajukan kami sebagai penduduk Hexagon City dapat produktif dengan passion kami masing-masing dalam naungan komunitas Ibu Profesional.

Dalam kampanye oleh salah satu kandidat no. 2 kemarin. Ada satu pertanyaan yang menarik dari anggota IP Bekasi. 

Yaitu tentang gambaran Hexagon City yang terdiri banyak banyak cohousing (passion). Sehingga peran apa yang akan dilakukan oleh kandidat tersebut untuk mengkolaborasikan sehingga bisa menghasilkan karya.

Jawabannya lugas, simple, dan langsung pada tujuan. Bila disimpulkan, jawabannya adalah, kandidat akan menguatkan co-housing terlebih dahulu. Lalu mengakomodir tantangan yang dihadapi para co-housing. Dari tantangan tersebut akan didapat ide solutif. Dari ide solutif itu akan menghasilkan inovasi karya. Inovasi karya pun akan semakin beragam dengan berkolaborasi antar co-housing lainnya. Hasil akhir tentu sebuah karya yang baru.

Hmm, nggak sabar mau menggunakan hak pilihku, nih. ID Carp Bunpro juga udah siap. 

Siapapun yang terpilih nanti, semoga warga Hexagon City dapat menjadi produktif dengan passionnya masing-masing. Aamiiin. 

#Hexagoncity

#Hexagonia

#Kuliahbundaproduktif

#Instituteibuprofesional







 


 






Oktober 04, 2020 No komentar
KIRANA
Rahmawati Lestari, Desi Noviany, Nina Amelia Sasmita, dan Rizky Purnama Indah

Foto: clipart.email

"Ibu pergi lagi?", pertanyaan si Sulung mengagetkanku. 
"Iya, Nak. Tolong jaga adik-adikmu. Kamu tidur duluan ya. Tidak usah tunggu Ibu pulang." Yang diajak bicara hanya mengangguk. Kilatan sedih di matanya aku lihat, tapi aku bisa apa. 

Kurapikan barang-barang yang harus kubawa. Aku bergegas, purnama di luar memberi cahaya pada malam. Ah purnama, aku seperti mendapat kekuatan setiap malam terang bulan. Derap langkahku beradu suara dengan nyanyian jangkrik. Di ujung jalan kulihat 3 orang bapak sedang bermain karambol.

Kurapatkan jaket coklat tua yang panjangnya hampir menyamai blus atasan yang kukenakan. Jaket kulit ini cukup menghangatkan tubuhku dari terpaan angin malam.

Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ah, aku terlambat. Aku harus bergegas. Aku tidak mau sudut-sudut taman dibuat kotor oleh mereka.

Suara gaduh terdengar menembus keheningan malam.
Buk.... Buk... Buk. Suara jok motor dipukul keras.
"Motor siapa ini? Kalau tidak ada yang mengaku ban motor saya kempesin."
Sepasang muda-mudi terlihat menghampiri si Ibu.
"Pada ngapain jam segini belum pada pulang? Kamu anak perempuan gak dicariin orang tua? 
Mau-maunya diajakin mojok di taman. Pada pulang sana nanti saya lapor ke satpol PP nih." Ucap si Ibu 

"Siapa itu bang? Ngapain malam-malam razia sendirian?" tanyaku pada penjual kopi.
"Oh itu, Bu Kirana tiap malam memang razia di taman ini. Dengar-dengar suaminya meninggal ditusuk orang pas lagi nolongin perempuan yang yang mau dikerjain cowoknya. Pelakunya kabur sampai sekarang belum ketangkap. Katanya anak pengusaha jadi kasusnya ditutup-tutupi jadi korban perampokan." 

Otakku mengakses memori masa lalu yang kembali hadir melalui mimpi-mimpi buruk tiga hari terakhir. Mimpi tanganku bersimbah darah. 
Lintasan peristiwa itu hadir lagi kali ini lebih lengkap. Tepat di tempat Ibu muda itu berdiri lima tahun lalu.

Saat itu, aku melintasi taman sepulangnya mengantar suami yang pergi dinas ke pulau seberang. Bu Kirana terlibat pertengkaran mulut dengan muda-mudi di dalam taman gelap. Suara gaduh teriakan menggangguku yang melintas sepulangnya dari mengantar suami ke Bandara. Aku pinggirkan mobil di tepi jalan di seberang taman. Beberapa detik kemudian terlihat Bu Kirana berjalan gontai keluar taman. Dia berusaha berdiri memegang tiang listrik semampunya. Segera kuhampiri dengan berlari.

" Apakah ibu baik baik saja?", kataku. "Apakah ibu terluka?". Ibu Kirana hanya terdiam ketika aku bertanya. Kulihat gerombolan muda mudi tadi sudah menghilang. Tiba-tiba Ibu Kirana menangis. Aku ingin sekali mengecek ke taman tapi apa daya aku tak berani. Akhirnya aku hanya berdiri menemani si ibu yang masih menangis. Namun tiba-tiba saja, bu Kirana menghentikan tangisannya dan mengambil telepon genggam dari saku bajunya. "Pak polisi saya mau melaporkan ada penusukan di taman dan korbannya sudah tak bernyawa". Setelah telepon itu berakhir dan diiringi dengan rasa terkejutku. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku terdiam. Kemudian kulihat wajah bu Kirana tanpa ekspresi dan matanya menatap kosong ke depan.




Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti tantangan menulis Cerpen Keroyokan yang diselenggarakan oleh Rumbel Literasi IP Bekasi. 
Agustus 05, 2020 No komentar
Bulan kedua mengantar papap kontrol ke RSUPN Citpo. Kali ini bukan ke klinik THT.

Setelah menjalani operasi Tumor Sinonasal tanggal 29 Juni yang lalu. Hari ini adalah pertama kali untuk pemeriksaan lebih lanjut ke Poli Hematologi. Hasil kontrol dari poli THT minggu lalu. Biopsi hasil kedua dinyatakan bahwa diagnosa papap adalah kelenjar getah bening.

Entahlah, aku bingung. Setelah CT Scan berbicara tumor, biopsi pertama pun tidak ada bicara ada indikasi kelenjar getah bening. Di biopsi kedua inilah papap dinyatakan terdapat kelenjar getah bening di area hidung.

Sempet tanya ke dokter waktu itu. Kok bisa kelenjar getah bening di area sinonasal? Bukankah biasanya di bagian leher, dibelakang telinga dekat tengkuk? Kesimpulan yang diambil dari penjelasan panjang lebarnya dokter. Nggak dijelasin kenapa bisa kelenjar getah bening ada di area sinonasal. Ya sudahlah, mungkin dokter mudanya juga belum tahu pasti (pikiran aku, lho).

Dari hasil biopsi kedua yang dibacakan oleh dokter poli THT itulah, akhirnya papap dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke poli Hematologi (Poliklinik Penyakit Dalam).

Selesai kontrol kurang lebih pukul 14.00 dari mulai tiba di RSUPN pukul 06.45. Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya waktu kontrol ke poli Anestesi. Akhirnya aku dan adikku melakukan survey terlebih dahulu.

Survey yang dilakukan adalah:
1. Letak poli Hematologi
2. Cara pendaftaran

Letak Poli Hematologi

Poli Hematologi adalah bagian dari Poli Penyakit Dalam. Beberapa minggu lalu setelah pasca operasi, sebetulnya papap ada kontrol ke poli Penyakit Dalam, yaitu poli Ginjal dan Hipertensi. Eladalah poli Hematologi nggak tahunya ada dilantai yang sama dengan poli Ginjal dan Hipertensi, yaitu dilantai dua. 

Polinya lumayan luas. Jadi poli Penyakit Dalam ini adalah sub spesialisnya Penyakit Dalam. Seperti poli khusus konsultasi Kardiovaskular, Reumatologi, Hematologi-Onkologi Medik, Ginjal Hipertensi, Alergi Imunologi, Tropik Infeksi, Psikosomatik, Pulmonologi, Geriatri, Gastroenterologi, Gastroenterohepalogi, Endokrin Metabolik Diabetes (ya Allah nulisnya sampe nyontek berkali-kali saking takut salah huruf).

Cara Pendaftaran

Waktu pendaftaran secara umum adalah sama, yaitu batas maksimal sampai pukul dua belas siang untuk semua poli.

Hasil bertanya pada perawat yang bagian Hematologi. Katanya pendaftarannya harus online melalui aplikasi RSCMOnline. Sayang, pendaftaran online ini untuk peserta BPJS. Kalau papap kan pake Jamkesda alias KS (Kartu Sehat) daerah Bekasi. Jadi belum bisa online daftarnya.

Juga, pendaftaran pasien baru cuma ada di hari Kamis. Nanti untuk pemeriksaan berikutnya dapat dilakukan selain hari selain Kamis.

Hari Kamis yang ditunggu tiba, 23 Juli. Setelah dua hari sebelumnya adik laki-lakiku melakukan pendaftaran online untuk mendapatkan Surat Referensi dari Dinas Kesehatan Bekasi (Dinkes). Kami pun berangkat seperti biasa dari rumah, 05.50.

Begitu mobil diparkir di RSCM Kencana (parkir di RSCM publik susah dapet parkiran). Aku langsung turun dari mobil, dan segera melanhgkah cepat. Maksudnya sih biar dapet no mudaan alias lebih awal.

Emang sih waktu ambil no antrian didekat bagian informasi dapetnya no. E003. Tapi begitu masuk ke ruang admisi tetap aja antri pake banget.

Setelah nomor urut dengan awalan huruf I yang artinya untuk antrian Lansia sampai angka dua puluh. Baru deh, antrian dengan huruf E yang artinya untuk antrian Jamkesda dipanggil.

Sewaktu menunggu panggilan antrian. Aku sudah menyiapkan dokumen untuk mendapatkan SJP (Surat Jaminan Pelayanan), yaitu:
1. Surat rujukan dari RSUD Bekasi
2. Kartu Keluarga
3. KTP
4. KS (Kartu Sehat)
5. Kartu berobat
6. Surat rujukan konsultasi dari klinik asal (THT)

Pukul 07.28 aku sudah memgantri lagi di klinik Hematologi. Sedang papap dan adik laki-lakiku sedari tiba di RSCM langsung menunggu dilantai dua.

Ya Allah, belum pukul delapan, tapi sudah dapat nomor urut dua puluh empat.

Setelah menunggu hampir menunggu tujuh jam-an. Pukul 14.45 dipanggil juga ke ruang periksa.

Hasil pemeriksaaannya diceritain diberikutnya aja, yaa. Hayati mau rehat dulu.

Catatan:
Tidak ada foto dikarenakan pihak RS tidak mengizinkan pengambilan foto dalam proses pelayanan. 


Juli 24, 2020 No komentar
Rencana pertama yang telah dibuat adalah menentukan arah tulisan. Yaitu fokus menulis fiksi atau non fiksi. Nah, untuk mendapatkan salah satu dari pilihan tersebut. Saya harus membaca. Kalau nggak salah target membaca ada di poin ketiga yang ada dipostingan sebelum ini, deh.

Untuk menggairahkan minat baca yang melempem. Saya memilih bacaan ringan terlebih dahulu. Isitlahnya mah, seperti manasin mobil sebelum jalan, gitu. Alhasil, lumayanlah ya. Dalam waktu lima hari bisa menyelesaikan dua novel. Kira-kira untuk masing-masing novel berjumlah 230 halaman gitu, deh.


Ini novel dalam bentuk ebook, pinjam dari iPusnas. Maklum harga buku mahal. Apalagi sekarang sedang musim virus. Nggak kuat kantongnya, eung. Jadi baca online aja, deh. 

Duh, bacaan receh banget, kan? Tapi, sebagai seorang pemula yang bakal terjun kedunia kepenulisan. Nulisnya dimulai sama yang ringan-ringan aja dulu. Sambil mempelajari alur, plot, dialog, gaya menulis, juga ide cerita. 

Rencananya, sih, habis ini mau cari novel yang penulisnya Indonesia lagi. Selang-seling dengan penulis luar. Kan, gaya dan ide cerita mereka berbeda-beda. Saya butuh wawasan menulis ceritanya.

Trus gimana dengan non fiksinya? Nah, untuk non fiksi, saya belum baca buku. Tapi, saya baca esai di salah satu portal online https://mojok.co/esai/.

Portal berita mojok.co ini mau jadi sasaran media online buat kirim tulisan. Lumayan banyak udah baca, nih. Soalnya saya tuh perlu tahu gaya menulis dan cerita yang disuguhkan web ini. Jadi, kudu banyak baca. Biar bisa menulis dengan gaya yang sesuai webnya mereka. 

Ternyata, memang agak sulit untuk bisa jebol media mereka. Sudah seminggu ini mencari ide yang cocok untuk dikirim ke mereka. Tapi belum ketemu, huhu. Ide ceritanya sih, udah dapet. Cuma gaya nulisnya itu, lho, yang bikin sedikit putar otak. Ah, semoga aja bisa ketemu dalam waktu tiga hari ini. Yang penting kudu banyak baca aja, dah. 

Gimana menulisnya? Cuma baca doang? Nggak juga, sih. Saya nulis cerita anak di wattpad. Diusahain update cerita seminggu sekali. Lumayan yang udah mampir baca. Jadi bikin semangat nulis. Ada, lho, yang jadiin tulisan saya sebagai read aloudnya anak-anak mereka. Duh, seneng banget. Asli. Bolehlah mampir kalau butuh bacaan anak yang ispiratif dengan selipan pesan moral didalamnya ke https://my.w.tt/97HHV3zNk7.


Nggak cuma menulis cernak aja, sih, sebenernya. Saya juga ikut One Day One Post Blogger gitu. Blog sederhana dengan cerita keseharian. Kan katanya perempuan butuh 20.000 kata per hari buat dikeluarin. Nah, ini saya menulisnya seminggu sekali aja. Itung-itung mengabadikan cerita harian. Jadi semacam jurnal. Duh, kayak drakor yang berlatar belankang kerajaan gitu, heuheu. Mereka kan tulis semua, tuh, tentang kejadian hari-hari yang mereka kerjain. Mau mampir baca-baca pas santai? Hayu atuh main kesini https://inirumahtangga.blogspot.com/?m=1

Serius ini bukan maruk jenis tulisan, tapi saya lagi mencari kenyamanan menulis. Fiksi, non fiksi, cernak, atau novel. Jadi semua dijalanin. Istilah kalau mamak-mamak olshop, mah. Palugada (pa lu mau gw ada) 

Semoga saya cepat bertemu dengan belahan jiwa (menulis ini maksudnya).  Aamiiin. 

#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#kelaskupu-kupu
#buncekbacth1
#instituteibuprofesional



Juni 15, 2020 No komentar

Skala Prioritas

Alhamdulillah, mulai mengerjakan tugas lagi setelah libur lebaran kurang lebih dua minggu.

Tugas kali ini adalah tahap akhir sebelum kelulusan di kelas Buncek yang masih tersisa  lima minggu lagi. Tugas yang merupakan tujuan hidup diri. agar menjadi pribadi berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Merujuk pada mind mapping sebelumnya, maka didapatlah hasil tertulis seperti pada gambar di atas. Maksudnya, sih, untuk mengingatkan diri agar tidak melenceng dari tujuan yang sudah dibuat. Maklum, kalau gelap mata, apa yang menarik dihadapan langsung dikerjain. Terus yang tertulis di skala prioritas dinomor duakan. Duh, jangan ditiru ya plends.

Tujuan



Nah, ini yang dimaksud dengan tujuan dalam skala prioritas. Yaitu membuat susunan "tujuan" untuk mencapai target diri. 

Dari tiga item yang disebut di Skala Prioritas. Dengan berat hati ditinggalkanlah crafting dan menjahit. Tapi bukan berarti ditinggalin seratus persen. Kalau lagi mentok menulis, selingannya bisa mengerjakan crafting atau menjahit. Biasanya kan ide muncul pas lagi kasak-kusuk mengerjakan kegiatan lain, kan? 

Katanya kalau cita-cita harus dibuat setinggi mungkin. Kalau cita-cita cetek, sama aja merendahkan Tuhan. Manusia memang selalu ada sisi "nggak mungkin". Tapi buat Tuhan, apa yang dibilang jadi maka jadilah segala apa yang dikehendakiNya.

Usaha tanpa henti, haram putus asa. Seenggaknya kalau belum berhasil, kita udah dapat pahala dari usaha kita. Kan Allah mah nggak minta kita berhasil. Allah mah cuma minta kita usaha dan doa. Keberhasilan adalah hak prerogatif Allah. Kumaha? Satuju? 

Semoga tujuan menjadi penulis profesional terwujud. Aamiiin. 

Rencana


Sebenarnya waktu menulis rencana di tabel atas agak deg-degan gitu. Secara yang tertulis itu kan jadi janji diri. Ada keterikatan kalau nggak dijalanin. Bismillah aja, deh.

Ini kan ikrar untuk kebaikan diri sendiri. Kalau nggak dimulai sekarang. Kalau nggak dipaksa saat ini. Alamat semua cuma jadi wacana dalam angan. Kapan majunya #tutupmuka.

Doanya kudu makin kenceng, nih. Minta ke Allah supaya diri ini konsisten. Dijauhin sama males dan alasan. Soalnya musuh terbesar hambatan buat maju ya cuma diri sendiri.

Semangat

#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#instituteibuprofesional









Juni 08, 2020 No komentar

Hhm, baru beberapa kali ngobrol via messsenger. Ceritanya saya dimentorin gitu. Lumayan nyambung sih kita ngobrolnya.

Waktu ngobrol di tahap kedua pertama kali. Kita saling memahami satu sama lain terlebih dahulu. Saling tukar informasi. Saling mengenal  apa yang saya mau sebagai mentee dan pasangan sebagai mentor.

Saya sebagai mentee menceritakan apa yang akan dicapai selama enam minggu kedepan. Dan mentor pun menampung apa yang mentee sampaikan, untuk dibuat perencanaannya.

Dari beberapa kali obrolan kita minggu ini. Mentor pun memberikan informasi media online untuk kita pelajari bersama. Sayang, ternyata web nya sudah tidak aktif. Gagal deh untuk belajar bareng dari web tersebut.

Esok lusanya, mentor memberikan informasi dua web sebagai penhganti. Dan saya pun diminta memilih di antara dua web tersebut. Maksudnya untuk menyamakan visi dan misi yang saya mau.

Eladalah ternyata salah satu web yang mentor maksud adalah sama dengan yang saya punya. Beliau salah tulis satu kata didepannya. Heuheu jadi bodor kita berdua.

Tips artikel jebol media kuncinya untuk saat ini adalah menulis terus tanpa henti. Kalau belum jebol media, coba terus. Jangan putus asa.

Mari kita latihan menulis di tahap berikutnya.

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#institutibuprofesional
Mei 15, 2020 No komentar
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose