facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi



Sebenarnya wajah Iren kalau diperhatikan lumayan manis. Tapi itu kalau dia menarik garis bibirnya ke atas walaupun sedikit.

Wajah oval dengan rambut lurus setengkuk itu selalu berjalan cepat. Kepalanya akan tertunduk bila melewati sekelompok pelajar. Sampai-sampai rambut halus hitam Iren itu hampir menutupi sebagian wajahnya.

Terlihat kedua tangan Iren memegang erat tali tas yang disandang di bahu kirinya. Seakan dia akan mendapat kekuatan dari tali tas tersebut. Yaitu dari perbincangan teman-teman sekolahnya, yang begitu menyinggung hati dan perasaan.

“Gue enggak ngerti apa yang bikin Reynold tertarik tuh sama si Cupu,” ucap Sherryl memajukan dagunya menunjuk Iren yang baru saja lewat di hadapan genknya.

Kabar cepat tersiar tentang kedekatan Iren dengan Reynold. Reynold si ketua tim basket yang tampan, pintar, dan pastinya incaran cewek-cewek satu sekolah.

Termasuk Sherryl yang bekerja keras melangsingkan tubuhnya dengan menjalani program diet ketat. Entahlah ukuran langsing menurut dia itu berapa kilogram. Padahal tubuhnya sudah cungkring menurut teman-teman satu genknya.

Stt, kamu tahu? Sherryl selalu akan merasa berdosa bila sudah makan terlalu banyak. Dan untuk menghilangkan dosa dari raganya, dia akan memuntahkan kembali apa yang sudah masuk ke dalam tubuh. Sayangnya yang dikeluarkan lewat mulut mungil itu tidak sama dengan makanan yang baru masuk tersebut. Sampai-sampai pernah dia hilang kesadaran karena asam lambung yang naik.

Kebiasaan tersebut sudah berlangsung dari kelas satu sampai menjelang kelulusan SMA ini. Dia mati-matian berusaha keras untuk memikat hati Reynold. Alhasil dari sakit mentalnya tersebut, yaitu bulimia. Dia pun terkena penyakit lambung kronis.

Bukan hanya diet. Sherryl juga menjalani beberapa rangkaian perawatan wajah agar terlihat lebih cantik. Doktrin yang ditanam di dalam kepalanya bahwa tubuh indah harus diimbangi dengan wajah cantik juga.

Dilakukanlah sulam alis agar dua garis di atas mata jeli Sherryl terlihat seperti semut hitam yang berbaris. Agar bibirnya berwarna merah alami, dia mengoleskan campuran madu dan gula jawa, minyak zaitun dan kelapa, sampai bunga mawar yang diblender campur susu.

Terlihat memang hasil dari usahanya tersebut. Dia mendapat julukan Ratu di SMA Bunga Bangsa.

Banyak sudah teman laki-laki yang menyatakan cinta pada Sherryl. Dan ini membuat dia menjadi sombong dan merasa tidak ada yang dapat mengalahkan kecantikannya. Sayangnya Reynold tdak termasuk salah satu yang mengejar cintanya.

Terlebih ketika dia mengetahui Reynold lebih memilih Iren. Dia tidak menerima hal itu. Enak saja Iren mendapatkan cinta Renynold tanpa berusaha. Begitu pikir Sherryl.
Padahal Sherryl melupakan satu hal untuk menjadi cantik. Yaitu hati, sikap, dan perilaku.

#ODOP



April 24, 2018 No komentar

Punggung lelaki yang dicintainya itu menjauh pergi. Sakit memang, walaupun konsekuensi situasi yang akan dialami sudah pasti akan terjadi.
*
Terbayang keindahan, kebahagiaan, suka dan duka, akan dijalani bersama, setelah mengucap janji suci di hadapan penghulu. Ah, mereka sungguh tiada mengira, sekian tahun merajut kasih, akhirnya terikat juga pada tali yang dinamai pernikahan.

Hubungan jarak jauh yang mereka lakukan dan banyak orang bilang tidak akan berhasil, telah mereka patahkan. Mereka dapat membuktikan bahwa akhirnya mereka dapat menyatukan jiwa sebagaimana halnya raga.

Memang bukan usia muda bagi perempuan tersebut menjalani peran barunya. Hampir mendekati usia empat puluh. Dia begitu setia menanti sang pujaan kekasih meminang dirinya. Dia pun berhasil meyakinkan kedua orang tua tercinta bahwa penantian yang dia lakukan pasti akan berakhir.

Tawa dan bahagia mereka tumpahkan, setelah sekian lama menahan rindu. Berharap perempuan itu dapat mendampingi suami ketika dia harus kembali pada pulau yang berbeda. Tapi apa daya, hal tersebut tidak memungkinkan dan tidak akan pernah terjadi.
*
“Pergilah, Mas!” Perempuan itu mencium tangan suaminya dengan penuh cinta dan sayang.

“Maafkan Mas, De. Mas hanya bisa memenuhi janji sampai di sini.” Tangan kiri laki-laki tersebut membalas rasa cinta dan sayang perempuan itu dengan mengusap kepalanya.

Perempuan yang memiliki wajah sendu tersebut mencoba menarik sudut bibirnya. Dipaksakan memang, tetapi keindahan lesung pipi yang dihasilkan membuat rasa sakitnya tersamar. Laki-laki yang telah mengubah status diri perempuan tersebut menjadi seorang isteri, mengetahui betapa terluka hatinya. Tapi semua sudah menjadi kesepakatan bersama.

Terlihat gambar anak perempuan dan laki-laki berusia empat belas dan sebelas tahun dilayar gawai sang suami yang berbunyi.

“Iyah, ayah ingat kok pesanan kalian. Tenang saja. Nggak lupa kok.”

Senyum perempuan itu makin mengembang saat percakapan antara ayah dan anak selesai. Keberhasilan melepas status perawan tua dan menjaga nama baik orang tua membuat dia terhibur.

Tidak mengapa sang suami kembali menjalani peran sebagai kepala keluarga di tempat lain. Cukuplah dia yang merasakan apa artinya menjadi yang kedua. Walaupun seharusnya dialah adalah yang pertama bila perjodohan itu tidak terjadi.

Yah, mereka mempunyai maksud dan tujuan yang sama, yaitu membahagiakan kedua orang tua.

#ODOP#batch5






April 21, 2018 2 komentar

Dibuka sebelah matanya, itu pun dengan terpaksa. Berat dia mengangkat tangan untuk membuka tirai jendela. Kilau sinar matahari pagi membuat matanya menyipit. Bukan bangun, ini malah menutup tirai dan matanya kembali.

Terdengar suara notifikasi dari gawai yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurnya. Dia pun membuka pesan, dibaca, untuk kemudian lanjut tidur lagi.

Ketukan kamar terdengar samar. Suara seorang perempuan memanggil nama penghuni kamar tersebut. Lembut sekali suara perempuan itu. Tidak ada emosi meskipun jawaban yang dinanti tidak ada.

Menyerah. Suara sandal pun terdengar menjauh meninggalkan kamar. Sedang penghuninya? Terlihat dia makin tenggelam dalam mimpi.

Gawai yang tadi tergeletak tanpa dikembalikan ke meja yang berada di sebelah tempat tidurnya, berbunyi kembali.

An, jangan lupa satu jam lagi kita kumpul di rumah Ziya.

Setelah membaca pesan singkat tersebut. Digeletakkan kembali gawai itu di sebelah tubuhnya.

Tempat tinggal Ziya tidak jauh dari rumah di mana dia kos. Yah, kurang lebih dua puluh menit dengan menggunakan sepeda motor. Hal itulah yang menyebabkan dia merubah posisi tidur menjadi telungkup. Masih cukup waktu.

Setelah dirasa cukup mengumpulkan nyawa agar tubuh tersadar dari tidur. Dia beranjak dari kasur empuknya.

Kemudian, laki-laki berwajah bulat, hidung mancung terjepit pipi tembem, tubuh gempal, berambut keriting itu membuka tirai jendela dengan sebelah tangan. Sinar matahari membuat kulit putihnya bersinar.

Sambil berjalan ke kamar mandi, dia melepas kaus bergambar Captain America. Lamat-lamat terdengar senandung di antara gemericik air dari kamar mandi. Tidak bernada, datar, dan tanpa lirik. Susah untuk mengenali lagu siapa yang sedang dinyayikannya.

Tubuh bulat dari kepala sampai kaki itu,keluar dari kamar mandi dengan hanya terbalut handuk. Perut buncit bulatnya menggelayut di atas kain tebal berbulu, bergambar Wonder Women. Beruntung pusernya tidak bodong. Rambut keriting bak mie ayam Karso di ujung jalan rumah kos nya terbungkus handuk kecil hijau bermotif Cat Women.

Bibir lebar dan sedikit tebal itu dikerucutkan hingga menghasilkan bunyi siulan. Kali ini lebih bernada dan berirama dibanding senandung yang dia lakukan di kamar mandi tadi.

Memilah baju di antara sekian gambar super hero kesukaannya, seperti: Spiderman, Robocop, Batman, Zoro, Phantom, Hulk, dan masih banyak lagi. Setelah membolak balik baju yang tergantung di dalam lemari berwarna hitam dan bergambar kelelawar. Dia pun menjatuhkan pilihan pada gambar super hero yang mempunyai tubuh besar berwarna hijau.

Dipadakannya baju kaus berwarna dominan putih tadi dengan celana selutut berwarna cokelat susu. Kalau saja dia menurunkan bobot berat tubuh yang hampir 90 kg itu. Pasti banyak gadis yang klepek-klepek sama dia.

Cermin yang terpasang di pintu lemari, memperlihatkan keseluruhan tubuh dia yang gempal. Masih tetap bersiul lagu sound track Batman, Kiss from The Rosenya Seal. Disisir asal rambut mie goreng itu dengan jemari bulatnya. Percuma memakai sisir juga, dia berpikir seperti itu.

Jam dinding dengan gambar Robin menunjukkan angka sepuluh. Masih satu jam lagi dari perkumpulan yang direncanakan oleh Ziya.

Diambilnya kotak susu literan dan lima potong roti bakar sisa semalam dari dalam kulkas. Setelah semua habis dilahap dan menyisakan separuh susu di dalam kotak. Dia mengelus-ngelus perut yang makin membuncit dan bergumam, “Ah, indahnya dunia hari ini.”

Setelah makanan tadi dirasa cukup untuk mengganjal perutnya. Tubuh gempal itu direbahkan kembali ke tempat tidur. Direntangkan kedua tangan ke samping, demikian juga dengan kedua kakinya. Mata terpejam seakan dia sedang menikmati dunia di dalam kamar 5x5 tersebut. Suhu AC dalam ruangan dibuat 18 derajat celcius. Hmm, dia benar-benar sangat PW, posisi wuenak.

Notifikasi gawai berbunyi. Dia pun mengambil dan membaca pesan yang baru masuk. Ziya ternyata memberitahu bahwa sebagian teman sudah berkumpul.

Enggan dia beranjak dari tempat tidur. Setelah dia melihat cuaca luar lewat jendela kamar yang begitu terik. Terbayang tubuh yang akan basah karena peluh. Belum lagi debu dan asap kendaraan bermotor. Terlebih mereka berkumpul hanya untuk sekadar mengobrol, membahas tugas kuliah. Membosankan, begitu dia berpikir.

Kamar ini lebih menjanjikan kenyamanan daripada pergi ke rumah Ziya. Apalagi jam makan siang akan segera tiba. Ibu kos biasanya akan membuat menu ayam goreng bumbu lengkuas. Hal yang pantang untuk meninggalkan kamar kos ini.

Diurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Ziya. Rasa-rasanya mager.  Alasan yang berada dibenaknya lebih masuk di akal. Terlebih urusan perut lebih penting. Begitulah dia berpikir.

Diambilnya remote DVD. Mengalun lagu “Mager” yang disenandungkan oleh Ran. Dia pun menikmati hari itu. Di dalam kamar yang kebal dari terik panas matahari dan debu.

#ODOPBatch5













April 19, 2018 2 komentar

sumber foto: agrinak.com

Tema: hewan peliharaan

“Jupri!”

Ditutupnya telinga Jupri dengan bantal. Berharap bantal kumel dan dekil kesayangannya dari semasa kecil, dapat meredam suara teriakan cempreng emak yang seperti kerupuk kaleng jatuh ke lantai.

“Jupri!”

Ditekannya lebih kuat bantal lepek ke telinga Jupri. Kali ini dia ingin suara emak tidak terdengar sama sekali.

Hari ini Jupri ingin bangun lebih siang sedikit saja. Semalam habis menggerebek maling di rumah Pak Dirman. Dia dan kawan-kawan rondanya berhasil menangkap maling yang mencoba melarikan diri itu.

Kasihan juga si maling digebukin oleh warga kampung Poyoh. Kalau tuh maling pintar, harusnya tv berkonde dengan berat 24 kg yang dia bawa itu dilepas saja. Dijamin dia bakal lolos dari kejaran kami.

Heran saja tuh Pak Dirman. Orang terkaya di kampung Poyoh, rumah gedong, kontrakan banyak. Tv kok masih pakai yang tabung alias berkonde. Malingnya tertipu dengan penampilan rumah yang besar.

Tiba-tiba suara keras berasal dari benturan kayu double triplek dan tembok mengagetkan Jupri. Dia tahu siapa yang masuk kamarnya. Tubuh tegap Jupri yang mengenakan kaus dan bercelana pendek sedengkul itu berbalik ke arah tembok. Membelakangi seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya.

“Jupri! Orang-orang wayah gini udah pada pegi begawe. Cakep, wangi, rapih. Lah elu? Masih ngedekem ajah di kamar. Kapan sih elu sadar sama umur, trus cari kerja.”

Ceramah pagi emak dengan susunan kata dan irama yang selalu sama. Seperti mendengarkan rekaman kaset.

Jupri tidak menggubris omongan emak. Matanya benar-benar minta untuk dipejamkan.

“Noh si Bleki kabur, Pri!” ucap emak kesal karena anaknya yang tidak pernah berubah kelakuannya.

Habis sudah kesabaran emak akan perilaku Jupri, anak satu-satunya. Padahal dia memiliki wajah cukup ganteng, seperti Justin Timberlake dengan brewok tipis. Perbedaannya cuma diwarna kulit saja. Tubuh tinggi tegapnya selalu dijaga dengan berolahraga di sore hari.

Dasar pemalas memang si Jupri. Habis salat subuh dia malahan tidur lagi. Bagaimana emak tidak kesal. Membiayai sekolah hingga menjadi seorang sarjana, tapi tidak mau melamar kerja. Setiap hari kegiatannya cuma mengurus si Bleki.

Mendengar nama Bleki disebut. Jupri langsung melonjak kaget. Dan langsung lompat turun dari tempat tidur. Bantal lepek kesayangannya terlempar sembarang,  hingga mendarat di atas lantai.

Terbirit-birit dia keluar dari kamar. Hingga hampir saja menabrak tubuh subur dan lebarnya si emak yang berdiri tidak jauh dari pintu kamarnya.

Emak hanya tersenyum kecil penuh kemenangan melihat tingkah Jupri. Atau emak sedih karena pamornya kalah dengan si Bleki? Entah.

“Mak!”

Emak tahu arti dan maksud panggilan anaknya. Emak yang baru saja tiba di dapur, dengan sengaja membunyikan peralatan masaknya. Suara wajan, panci, piring, dan sendok, diadukan satu sama lain. Seakan emak sedang memasak atau mencuci. Agar ada alasan bahwa emak tidak mendengar teriakan Jupri.

“Mak!”

Kali ini nada panggilan Jupri lebih tinggi. Tetap emak tidak menghampirinya. Balas dendam atau memberi pelajaran? Ah, dalam kondisi seperti ini, dua kata tersebut menjadi beda tipis artinya.

“Mak! Udah deh, jangan pura-pura nggak denger Jefri panggil. Di mana emak ngumpetin si Bleki?”

Akhirnya Jupri menghampiri emak dengan wajah memelas dan bingung. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Hmm, tambah ganteng kalau tampang Jupri lagi BT gitu. Rambut yang tidak beraturan, mulutnya terbuka sedikit, sorot tajam matanya seperti anak kucing.

“Mak, di mana si Bleki?” tanya Jupri manja sambil menarik-narik daster emak.

“Eh, Jupri. Udah Emak bilangin jangan suka ganti-ganti nama. Segala nama lu diganti jadi Jefri.”

“Ah, Emak. Masa tampang ganteng kayak Justin Timberlake gini dipanggilnya Jupri. Emak lidahnya kudu dibiasain manggil nama Jupri pake Jefri. Biar kalau udah terkenal enggak canggung lagi nyebut nama Jupri jadi Jefri.”

Begitulah Jupri. Dia sangat terobsesi menjadi seorang model. Oleh sebab itulah, dia mengganti nama panggilannya menjadi Jefri.

Entah sudah berapa banyak foto yang dia kirim melalui surel. Tetapi belum satu pun mendapat balasan. Dikira wajah ganteng hanya milik Jupri kali, yah. Tidak sadar kalau wajah yang lebih ganteng dari dia bertebaran di luar sana.

“Eh, Jup,” ucap emak menepuk pipi kanan Jupri beberapa kali dengan pelan.

“Sadar lu. Udah mao tengah ari bolong nih. Masih ngimpi aja lu. Bangun!”

Jupri melepaskan genggaman tangannya dari daster emak. Dia bersungut. Kesal dengan emak yang dianggap tidak pernah sayang dengan Jupri, anak semata wayangnya.

Padahal emak sebenarnya sangat sayang pada Jupri. Sengaja dia disekolahkan sampai sarjana, agar dapat kerja di kantoran. Punya gengsi, mengangkat derajat keluarga, dan bisa mendapat jodoh yang sepadan. Begitulah pikiran sederhana emak.

Sayang si Jupri masih berkeyakinan bahwa dia tetap bisa menjadi seorang model. Sehingga waktu kesehariannya hanya bermain dengan si Bleki. Seekor ayam pelung pemberian almarhum babehnya.

Diberi nama Bleki karena warna hitam mendominasi tubuhnya dibanding merah. Setiap pagi sebelum jam delapan, Jupri sudah memandikannya. Kemudian menjemur hewan tersebut. Dia bilang waktu yang paling baik menjemur Bleki dari jam delapan sampai sepuluh. Agar vitamin D terserap dengan baik.

Sudah beberapa kali Bleki menjuarai perlombaan ayam pelung antar kampung. Hal inilah yang membuat emak kalah berdebat dengan Jupri. Dia bilang, si Bleki tuh mencari makan sendiri. Tidak minta jatah makan sama emak.

“Ayolah Mak, Bleki ada di mana? Udah mau jam sembilan, nih.” Jupri memaksa emak mengatakan keberadaan Bleki.

Baru saja emak akan menjawab di mana keberadaan Bleki. Gawai Jupri berbunyi. Tiba-tiba mimik wajah BT anaknya dilihat begitu gembira saat sedang berbicara melalui gawai tersebut. Entah siapa yang menghubungi si Jupri.

“Siapa, Jup?” tanya emak pada anak kesayangannya itu.

“Kabar gembira, Mak. Sekarang Jefri butuh si Bleki cepat,” jawab Jupri yang memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.

Ternyata emak menitipkan Bleki ke Ijong. Tetangga sebelah buat memandikan hewan kesayangan si Jupri. Emak tahu bahwa jam mandi dan penjemuran si Bleki yang berbobot lima kilo itu adalah jam tujuh sampai jam sepuluh pagi. Semua demi menjaga kesehatan  hewan peliharaan Jupri. yang nantinya akan mempengaruhi suara ayam pelung tersebut.

Warna hitam dan merah sayap Bleki bertambah mengkilap serta bercahaya, setelah dimandikan dan dijemur. Sebuah tas rotan sudah disiapkan Jupri untuk membawa hewan bersayap hitam merah tersebut. Yah, Jupri mendapat panggilan foto. Akhirnya setelah sekian lama menunggu. Ada juga production house yang membutuhkan jasa model untuk sebuah iklan.

“Kan lu mau pemotretan, Jup. Orang mah sekali-sekali, si Bleki kagak usah dibawa,” ujar emak.

Jupri dan Bleki itu seperti perangko, nempel terus. Di mana ada Jupri, di situ ada Bleki. Kalah dah sama orang yang pacaran, tidak terpisahkan.

“Si emak, gimana ceritanya si Bleki kagak dibawa. Pan dia yang jadi modelnya, Mak. Tuh rumah produksi lagi butuh suara kokok ayam yang merdu.”

Emak pun no comment.

#ODOP
#tantangankedua


















April 13, 2018 4 komentar

Seandainya mamah bisa bersuara seperti burung kutilang peliharaan papah di depan rumah. Pasti ocehan mamah pagi ini nggak akan bikin gue BT. Pasalnya itu burung, entah dalam keadaan senang, sedih, atau marah, suara yang dikeluarkannya selalu merdu.

Suara lengkingan mamah sepertinya delapan oktaf, deh. Gue yang berada di kamar lantai dua, bisa mendengar dengan jelas ucapannya.

“Kalau kamu nggak turun dalam hitungan sepuluh menit, mamah bakal tarik kamu paksa!”

Gawat nih! Kalau mamah udah mengancam seperti itu, gue harus buru-buru turun. Jangan sampai kejadian kemarin terulang. Bayangin aja, kuping gue ditarik sampai duduk di meja makan. Untung bekas jeweran mamah, kuping gue nggak jadi kayak si Goblin, lancip.

“Kamu tuh! Sekolah baru hari kedua udah malas-malasan. Memangnya liburan panjang kemarin kurang?” ucap mamah sambil memasukkan bekal roti ke dalam lunch box, dan kemudian duduk di sebelah gue.

Gue bersungut. Mamah nggak peka banget, sih. Padahal mamah kan tahu kalau kemarin gue diledekkin temen-temen satu kelas karena poni gue mirip Dora The Explorer. Gue BT abis, super duper deh malunya. Bener-bener deh kemarin itu mental gue down.

Untung Deri belum masuk sekolah. Dia masih dalam perjalanan pulang dari liburannya di luar negeri. Coba kalau dia lihat poni gue yang potongannga kayak dicetak batok kelapa ini. Alamat dia ilfil dan nggak jadi naksir gue lagi. Soalnya kabar dari Sisil teman sebangku gue, Deri itu naksir gue.

Memang tuh ya, si tukang salon tulalit. Katanya nih poni mau dipotong trap gitu. Udahannya dia malah bilang minta maaf. Dia bilang nggak sengaja kebablasan potong pendek nih poni gue. Udah gitu, pas dia ngomong, pakai acara pasang wajah memelas. Yah, gue jelas nggak tega buat marahi dia lebih lanjut.

“Udah, nggak usah dipikirin kejadian kemarin. Simpan saja sebagai kenangan yang bakal bikin kamu tersenyum nanti. Dengan dijepit seperti itu. Nggak keliatan kok poni Doranya,” ujar mamah menghibur, seperti mengerti kegalauan gue.

“Mamah sih enak ngomong kayak begitu. Emang poni Doranya nggak kentara karena dijepit. Tapi dahi Esi keliatan lebarnya,” ucap gue membalas pernyataan mamah yang sedang menyeruput kopi susunya.

“Loh, terus kamu nggak mau sekolah lagi hari ini? Mau tunggu rambut poni kamu panjang dulu, baru sekolah? Begitu?”

Bener juga apa kata mamah nih. Kalau gue nggak sekolah, selain ketinggalan pelajaran. Gue juga nggak dapet uang jajan. Nggak kumpul sama genk gue, Rani, Siska, dan Wini. Dan yang lebih gawat, bisa-bisa Deri cari cewek lain buat gebetannya. Wuah, ini nggak boleh terjadi.

“Ya sudah kalau memang itu mau kamu. Mamah nanti tinggal bilang sama ibu Wati, guru wali kelasmu bahwa Esi izin untuk tidak masuk sekolah,” lanjut mamah lagi sambil menaruh piring kotor di bak cucian.

“Ng… nggak…  nggak, Mah!” Gue menjawab mamah dengan tergagap dari perang batin yang sedang berlangsung dalam diri.

“Esi bakal pergi sekolah kok hari ini. Tapi, please, deh Mah!” ucap gue dengan bola mata mengarah ke atas di mana jepit rambut hello kitty tertempel manis di poni.

Mamah mengerti maksud gue, kemudian dia berdiri. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, jari lentik mamah menarik sedikit rambut poni yang terjepit ke dahi gue yang lebar ini.

Mamah memegang kedua bahu gue agar berdiri dari kursi makan. Mengajak gue ke ruang tamu di mana sebuah cermin cukup besar terpasang.

Terlihat sebuah bayangan berwajah manis di cermin. Anak poni yang menghiasi di dahi gue menambah kesan chick. Gue tersenyum karena bukan bayangan Dora yang gue lihat di cermin. Tapi, Esi Kinasih. Ah, teman-teman gue di SMP Melati Bangsa pasti nggak bakal ngecengin lagi hari ini.

Gue peluk mamah dengan hangat dan penuh rasa cinta. Mamah memang the best mom in the world.

#ODOP

April 11, 2018 15 komentar


"Miraaaa!” Johanna berteriak senang ketika bertemu denganku. Aku memang sudah berjanji dengan Jo untuk bertemu  di  sebuah  coffee shop di Mall Metropolitan dekat Kalimalang, Bekasi.

“How are you, darling?” lanjutnya sambil kami beradu pipi, tepatnya Jo lah yang menyodorkan pipinya padaku. Aku memegang bahunya ketika melakukan cipika-cipiki.  Sedang Jo?  Tangan kanan menggantung di udara, karena tas tangan yang dibawanya, sedang tangan kiri tergantung sebuah paper bag kecil. Jadi, alhasil cuma pipinya saja yang disodorkan.

Johanna terlihat semakin cantik dengan balutan busana dress berwarna pink dan rambut hitam tergerai  lepas. Sepatu hak setinggi delapan sentimeter menambah kesempurnaan tubuhnya yang ramping dan berkulit kuning langsat. Aku masih terpaku dengan penampilan Jo yang begitu sempurna bagai seorang model. Aku yakin, mata laki-laki seisi coffee shop ini akan terpikat dan patah hati, melihat Jo yang berwajah klasik oriental. Lihat laki-laki tua nyentrik yang duduk di sudut dekat pintu masuk. Mulutnya terbuka, memperlihatkan gigi hitam yang mungkin akan mengundang lalat masuk karena aroma yang dikeluarkan dari mulutnya.

Berbanding terbalik dengan diriku.

Aku, Mira Ratna Djaya, menikah di usia muda karena dijodohkan oleh orang tua yang takut anaknya akan menjadi perawan tua. Sebenarnya sih, bukan usia muda, tapi 25 tahun adalah cukup muda untuk menikah di jaman yang menjelang abad dua puluh ini. Aku hanya mencicipi dunia kerja dua tahun. Setelahnya, aku hanya bekerja di seputaran dapur, mengantar anak sekolah dan tempat tidur.

Aku iri pada Johanna. Dia begitu bahagia dengan hidupnya. Single, cantik, karir bagus, dan semua apa yang diiingini dengan mudah didapat. Tapi, di usianya yang hampir melewati tiga puluh tahun. Belum pernah aku melihat dia berteman dekat dengan makhluk yang bernama laki-laki. Semua foto di FB nya hanya dengan perempuan. Apa di kantornya tidak ada laki-laki? Atau semua mata laki-laki cuma berfungsi sebagai mata kaki?

“Baik, Jo. Kamu apa kabar? Makin terlihat muda saja kamu.” Pujian itu memang tulus kuucapkan. Jo terlihat jauh lebih muda lima tahun dari usianya. Pipinya yang putih kencang terlihat bersemu merah karena pujianku. Mata bulat dengan kontak lensa berwarna cokelat itu terlihat bersinar hanya karena sebuah kata “muda”.

“Terima kasih my dear Mira atas pujianmu. Di mana kita akan duduk?” tanya Jo sambil matanya berkeliling ruangan coffee shop mencari tempat nyaman untuk berbincang-bincang.

“Ah, Jo. Aku sudah menyiapkannya sebelum kau datang. Malah aku sudah memesan black coffee kesukaannmu. Masih sama kan?” Mira mencoba memastikan kalau ia tak salah order.

Sepuluh tahun yang lalu ketika mereka menimba ilmu bersama di kampus, Jo selalu memesan black coffee di kantin. Dia bilang setelah minum kopi tubuh akan serasa relaks, tapi satu hari tidak boleh lebih dari dua cangkir, loh.

“Kamu belum minum kopi kan hari ini? Atau jangan-jangan kamu sudah minum dua cangkir?” sambung  Mira.

“Mira, Mira, Mira,” Jo tersenyum manis pada Mira, “kamu akan selalu menjadi teman baikku. Kamu tidak lupa kesukaanku, kopi hitam tanpa gula. Dan tentu saja aku sudah menyiapkan diri sebelum bertemu dirimu. Satu cangkir tadi pagi dan satu cangkir lagi denganmu sekarang."

"Kau juga baik sekali sudah mau meluangkan waktu untukku. Kau bersedia ijin setengah hari dari kantormu untuk bertemu denganku." Mira merangkul bahu Jo, mengarahkan ke meja yang sudah di pesan.

Pemandangan dua wanita yang sangat berbanding terbalik. Aku hanya berpakaian sederhana, blouse  polos berwarna hijau pastel dengan bercelana panjang coklat senada. Tas yang kubawa pun bukan branded  seperti Jo. Sepatu yang kupakai pun hanya sepasang flat shoes biasa saja, tidak seperti yang dikenakan Jo, ber-hak tinggi dan branded. Tapi, setidaknya aku punya satu kesamaan yaitu rambut hitam yang tergerai.

Aku duduk di sebuah sofa coklat setelah Jo duduk terlebih dahulu. Kupilih posisi sudut sebelah dalam dekat jendela, agar kami lebih leluasa berbincang-bincang.

Kopi yang dipesan oleh ku pun datang. Satu cangkir kopi hitam untuk Jo, dan satu green tea frapuccino untukku.

"Rupanya kau tidak minum black coffee lagi?" Jo mengambil cangkir kopinya dari atas meja kayu bulat. Dan mendekatkan mulut cangkir kopi tersebut ke bibirnya yang terpulas lipstik matte nude  berwarna beige. Siang menjelang sore sepertinya kalah cerah dengan wajah Jo yang yang begitu terlihat segar.

"Masih kok,"  kilahku sambil mengaduk isi gelasku, "cuma kepingin nyoba yang baru aja. Barangkali mood ku nanti jadi sehijau kopi ini."

"Loh, ada apa sih denganmu, Mir? Kamu bahagia kan hidup dengan Ringgo? Aku lihat di FB, dua anakmu lucu-lucu dan cakep." Mimik serius Jo menyelidik wajahku. Diletakkan cangkir kopinya di atas meja. Aku hanya menunduk, sedangkan tangan tetap mengaduk isi cangkir. Sikapku membuat Jo makin penasaran. Dia tidak bertanya lebih lanjut. Disentuhnya tanganku yang satu dengan lembut dan perlahan. Berharap sentuhannya dapat meringankan mood ku yang sedang jelek hari itu.

"Cerita dong, Mir." Jo agak sedikit mendesak, karena aku terdiam dan tidak membalas apa yang ditanyakan olehnya.

Kuangkat wajahku yang sedari tadi menunduk lesu. Jo dan aku saling tatap, terdiam.

"Aku ... ," mulutku mulai mengeluarkan suara. Tanganku berhenti mengaduk  green tea frapuccino .
Jo menunggu dengan sabar potongan kalimat yang akan keluar dari mulutku. Akhirnya.

"Aku tuh sebenernya iri sama kamu, Jo. Aku cemburu." Aku bicara perlahan dengan nada rendah di titik G pada tangga nada.

"Whats!?" Mata bulat dengan kontak lens berwarna coklat itu terbelalak kaget. Sepertinya nada Jo delapan oktaf deh. Pandangan seluruh pengunjung coffee  dengan mudah mendapati suara Jo. Untung Jo cantik, sehingga pengunjung coffee shop  yang laki-laki malah berlomba-lomba menarik perhatian Jo, bukan kesal.

Melihat pemandangan seperti itu. Jo yang tadinya akan meminta maaf, malah takut dengan pandangan mata laki-laki seisi coffee shop tersebut. Dia pun membalikkan tubuhnya kembali padaku. Aku hanya tersenyum.

"Kamu tuh yah, Mir. Bikin aku malu saja." Jo berbicara dengan mencondongkan tubuhnya, hingga meja bulat kayu dan cangkir kopi bergetar karena senggolan tubuhnya.

"Ayo ceritakan apa yang membuatmu iri dan cemburu padaku?" nada Jo mendesak penasaran, "hidupmu sudah sempurna, Mir. Suami yang mencintaimu, anak-anak yang lucu. Aku lihat di medsos, kau dan keluargamu sangat harmonis. Harusnya aku yang iri padamu." Jo menekankan kalimat terakhir, agar aku sadar bahwa tidak ada yang harus dicemburui dari seorang Johana.

Kuhela napas panjang sebelum penjelasan dimulai. Green tea frapuccino yang baru kupesan pertama kali itu, menjadi tak menarik. Demi kelancaran berbicara, mau tidak mau kuminum juga teh tersebut. Tidak kusangka aroma green tea  dari kopi membuat hati sedikit tenang. Terlebih tenggorokanku pun menjadi basah karenanya. Ah, leganya.

"Aku iri dan cemburu sama kamu, karena kamu memiliki segala apa yang tidak aku punya. Kecantikan, pekerjaan, uang, benda-benda yang kau pakai di seluruh tubuhmu, adalah keinginan terbesarku." Aku menunduk, tapi tidak menangis.

"Kau tahu?" Aku mengangkat wajah, dan kulihat sepasang mata berlensa coklat itu tengah memandangku.
 "Aku sudah terlalu lelah dengan hidupku. Aku bahkan tidak berhak atas diriku sendiri." Aku membuang muka, menatap keluar jendela. Kulihat matahari seperti menggelamkan dirinya di balik jembatan layang yang sudah separuh berdiri.

"Bangun subuh, mengurus keperluan anak-anak sebelum sekolah, mengurus keperluan Mas Ringgo sebelum berangkat ke kantor, mengurus rumah. Begitu terus sampai akhirnya malam menjelang. Pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu pun, aku harus tetap siaga untuk anak-anak dan suami. Aku lelah, Jo." Terasa lega dada ini setelah mengeluarkan segala uneg-uneg yang kurasa.

Johanna memang teman baik. Dia mendengarkan keluh kesahku tanpa memotong cerita. Hingga akhirnya giliran dia berbicara.

"Mir," Jo mengangkat daguku sehingga mataku beradu pandang dengannya. "Harusnya kau bersyukur. Pekerjaan yang kau anggap melelahkan itu, adalah dambaan setiap perempuan. Tidak semua perempuan diberi rezeki untuk mengurus rumah tangga." Jo menarik tangan dari dagu Mira. Sekarang wajah Jo menunduk. Kulihat setetes kristal jatuh ke pipinya yang kencang dan halus itu.

Masih dengan wajah tertunduk, kuusap bening kristal dipipinya dengan selembar tisu yang ada di atas meja dekat cangkir kopi. Tiba-tiba dia memegang tanganku. Digenggamnya tanganku dengan dua tangannya. Diletakkannya tanganku di dada Jo. Kemudian dia berkata, "Mir, ajarkan aku melupakanmu. Ajarkan aku mencintai laki-laki."
*
Jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Aku bergegas pulang dengan menumpang ojek on line yang sudah dipesan. Di tanganku sebuah paper bag , Jo memberikan parfume, oleh-oleh dari Paris. "Pakai ini ketika kau sedang bersama Mas Ringgo. Dia pasti tambah klepek-klepek." Nasihat Jo sebelum kami berpisah di coffee shop sore tadi. Sedang ditanganku satunya lagi, sebuah paper bag berisi tiramisu cake  untuk anak-anakku.

Ah, Jo, tenang saja. Akan.kubantu dirimu agar kau bisa mendapatkan seorang laki-laki yang mencintaimu.
*
Aku, Mira Ratna Djaya, seorang ibu rumah tangga yang paling beruntung dibandingkan temanku, Jo.

#ODOP

April 10, 2018 10 komentar
Udara pagi memang belum beranjak pergi. Sinar mentari pun baru memberikan hangat suam-suam kuku. Ditambah lagi mesin pendingin pada kendaraan darat terpanjang ini, membuat udara di dalamnya mengundang rasa kantuk pada beberapa penumpang.

Di salah satu kursi berkapasitas tujuh orang pada gerbong khusus perempuan. Seorang wanita dewasa duduk dengan melipat kedua tangan di dada. Bibirnya yang berwarna merah dengan jenis lipstik matte itu terkatup rapat.

Tidak seperti penumpang yang berada di sebelahnya, tidur dengan mulut sedikit terbuka karena kepala yang terdongak ke belakang.

Hmm, beruntung wanita dengan ukuran pakaian double XL itu, duduk dengan latar belakang dinding kereta. Sehingga kepalanya dapat tertahan ketika dia terkulai jatuh dengan pasrah.

Kendaraan panjang ini seperti berayun ketika menikung atau berpindah rel. Membuat wanita itu betambah nyenyak. Hal tersebut ditandai dengan kepalanya yang jatuh tertunduk ke depan atau tersandar ke bahu penumpang di sebelahnya.

Mungkin tadi malam wanita itu tidur terlalu malam atau mungkin dia bangun terlalu pagi? Mata yang disapu eye shadow cokelat gelap itu, terpejam rapat. Terlihat bulu mata lentiknya memakai maskara hitam tebal dan menggumpal di bagian tengah. Ah, lelah sekali wanita ini rupanya.

Kuperhatikan wajah wanita tersebut. Kemudian membayangkan bila dia memiliki kulit berwarna gelap, tentu wajah oval dan lebar itu akan terlihat kusam dengan rambut lurus dicatok bercat blonde. Baju berwarna biru gelap, warna warni motif bunga yang cerah, melingkar di dada dan berujung di kedua bahu lebarnya membentuk seperti kalung. Cukup pintar dia merias dan memantaskan diri, sehingga dapat tampil menarik.

Entah dia akan turun di stasiun mana. Sedangkan aku sudah melihat wanita tersebut dalam keadaan tidur semenjak dari stasiun Bekasi tadi. Hhh, semoga nanti dia bangun sebelum stasiun yang dituju tiba.

Aku pun berdiri, sebentar lagi stasiun Gondangdia. Kususuri beberapa gerbong agar tidak terlalu jauh dari pintu keluar stasiun. Sekilas dari ekor mataku, kepala wanita itu tertunduk jatuh ke depan. Separuh rambutnya menjuntai menutupi wajahnya.

#ODOP




April 08, 2018 6 komentar
"Cantik nggak dia?" Reno menyodorkan gawainya padaku, memperlihatkan seorang wanita cantik. Seorang wanita mengenakan hijab kuning, berkebaya brokat hitam dan tentunya memakai make up.

"Seperti bukan Risa, yah? Manglingin," ucap Reno membesarkan photo wanita tersebut.

Aku hanya mengikuti gerak jari Reno yang makin memperlihatkan wajah Risa. Alisnya hitam seperti semut berbaris. Yah, model alis zaman now. Lipstik berwarna merah bata dibibirnya, menambah kesan penuh dan seksi. Hidung Risa terlihat lebih mancung. Nih, tukang make up benar-benar jago. Shading pada tulang hidung Risa membuat penampilannya sempurna. Terlebih warna blush on pada pipi chubby wanita paruh baya berkulit putih ini begitu pas. Pemilihan warna baby pink memang tepat. Membuat dia nampak begitu natural dan alami. Warna cokelat gelap pada kelopak mata wanita yang merupakan temanku juga, membuat penampilan eye make up nya begitu outstanding. Belum lagi maskara yang membuat bulu mata Risa terlihat lebat dan lentik.

Mungkin Reno tidak ada maksud apapun membicarakan Risa. Toh, hubungan mereka itu kan waktu zaman putih abu-abu. Jadi seharusnya tidak ada alasan hatiku harus terusik. Lagipula Reno sudah menjadi milikku. Jelas sudah siapa pemenangnya, kan?

Reno yang duduk di kursi, memeluk pinggangku yang berdiri di sampingnya. Wajah Risa masih terpampang di layar gawai. Reno masih asik melihat berbagai macam pose photo Risa. Dia tidak tahu kalau pertahananku mulai terusik. Hati ini mulai resah, jantung berdetak kencang layaknya ABG berpacaran. Perbedaan yang kumiliki adalah ekspresi wajah datar, tenang, dan tanpa emosi. Sayang, penampakkan wajah tenang ini malah membuat Reno tidak berhenti membicarakan tentang Risa. Yaitu tentang pertanyaan dan keheranannya yang diulang-ulang.

"Apa yang membuat penempilan dia berbeda, yah?" Sekarang Reno membesarkan photo Risa yang berada di antara teman-temannya. Memandang dengan mata tanpa berkedip. Diputar-putar gawai itu demi mengambil sudut pandang yang berbeda. Berharap dapat menemukan jawaban karena aku yang tak kunjung bersuara memberikan pendapat.

Sambil berlalu meninggalkan Reno dan melepas tangannya yang memeluk pinggangku. Aku berkata dengan nada penuh penekanan,"kacamatanya Pah yang nggak dipake sama Risa."

#ODOP
#kelasfiksi




April 05, 2018 9 komentar
Banyak bercerita dengan cerewet berbeda arti, kan? Soalnya lima bulan yang lalu pada saat dia masih bekerja. Teman-teman kantor sangat senang akan kehadirannya. Padahal ruangan kerja di lantai dua itu, hanya ditempati lima orang dari sepuluh kubikal yang tersedia. Hanya gegara satu orang yang selalu ceria dan banyak cerita. Akhirnya ruangan berisi lima orang tersebut terasa sepuluh orang deh.

Tapi keadaan sekarang berbeda. Sebelas tahun dari masa pensiun, keputusan mengundurkan diri diambilnya. Bukan hal mudah meninggalkan dunia kerja yang sudah menjadi keseharian selama dua puluh satu tahun. Itu semua dilakukan karena dia terbayang akan seorang anak perempuan muda berusia sembilan belas tahun. Anak yang hanya dipenuhi oleh kebutuhan materi dan sedikit waktu untuk bersama ibunya.

Meskipun sudah diperhitungkan resiko karena tidak bekerja. Tetap saja adaptasi perbedaan dua dunia tersebut banyak memengaruhi hidupnya. Lihat saja sekarang penampilan yang biasa rapih di setiap pagi, kini keseharian dia hanya mengenakan daster batik. Meja kantor berubah menjadi meja dapur. Pulpen berubah menjadi pisau. Pokoknya semua berubah 180 derajat. Lingkungan kesehariannya hanya dapur, sumur, dan kasur.

Stres?

Hmm, perempuan yang bobot tubuhnya naik tiga kilo dari lima puluh lima setelah berubah status ini, apakah bisa disebut stres? Bukan maksud menyindir sih, tapi dengan tinggi tubuh 154 senti meter, apa tidak jadi terlihat bantet? Terlebih wajahnya akan menjadi terlihat semakin bulat bila memakai hijab.

Lima bulan berlalu, kesendirian sudah menjadi karibnya. Sepi adalah teman tanpa suara. Dan ketika pasangan hidup mencari nafkah sedang anak sembilan belas tahunnya menuntut ilmu di lain kota. Hanya benda kecil canggih dengan segala macam fiturlah yang dia jadikan teman berbagi. Banyak cerita dan celoteh sudah terekam di salah satu aplikasi pada benda kecil canggih tersebut. Yah, dia tidak kehilangan jati diri meski berdiam di rumah. Dia tetap seseorang  dengan banyak cerita, tapi tidak di ruangan kantor.

#ODOP
#tantanganfiksi#deskripsidiri

April 04, 2018 15 komentar
Perempuan yang berusia lima tahunan lagi mencapai setengah abad itu, terlihat serius. Dia sedang berbaring santai di kursi ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Jarinya dengan lincah menyentuh dan memainkan layar gawai. Dia sedang melihat-lihat postingan photo di facebooknya yang baru saja lewat beberapa hari lalu. Wajah bulat dengan bibir mungilnya itu menyungging senyum. Dia membaca salah satu komentar bahwa wajah dia dan anaknya seperti adik-kakak. Mungkin karena tubuh anaknya lebih besar dan lebih tinggi enam senti dari dirinya yang hanya 154 senti meter.

Kemudian dia beralih melihat photo, saat perpisahan dia dengan teman-teman kantornya. Sudah lima bulan dia menyandang status ibu rumah tangga, setelah dua puluh satu tahun bekerja. Terlihat wajahnya begitu sumringah dengan baju kuning kunyit yang dikenakannya. Hijab berwarna abu-abu muda polos menambah manis tawanya sore itu.

Perubahan status yang dialaminya terkadang membuat dia galau. Bagaimana tidak, biasa pagi-pagi sudah rapih dan wangi. Sekarang seragam kebesaran yang dia kenakan setiap hari adalah daster. Dapur, sumur, kasur, adalah sekian banyak hal yang harus dia jalani. Terlebih anak perempuan satu-satunya yang kuliah di Unsika, Karawang, pulang seminggu sekali. Dia pun merasa kesepian.

Beruntung dia menemukan sebuah komunitas menulis, ODOP. Segala sesak di dada dapat dia salurkan ke dalam tulisan. Yah, semoga saja semangat menulis dan passion yang sedang dia jalani dapat menular ke teman-temannya. Dia sangat berharap dapat menerbitkan buku solo terbit mayor.

#ODOP
#kelasfiksi#tugas1



April 02, 2018 20 komentar

Makanan berlemak memang lezat. Sebut saja, masakan padang, soto betawi, sea food, dan masih banyak lagi. Dan seringnya setelah makan, terlebih bila pedas, meminum segelas air es tentunya sangat menyegarkan.

Padahal menurut ilmu kedokteran, minum air dingin setelah makan akan membekukan makanan berminyak yang baru dikonsumsi. Kebiasaan minum air dingin setelah makan akan mempersempit saluran usus. Membekunya makanan berminyak yang baru dimakan dan akan memperlambat proses pencernaan.
Untuk mencegah penimbunan lemak dalam tubuh yang nantinya akan menyebabkan kolesterol atau tekanan darah naik. Maka konsumsilah makanan/minuman di bawah ini:

1. Air putih hangat



Untuk mengimbangi hidrasi dalam tubuh akibat makan makanan yang berlemak. Dan untuk menghindari munculnya peradangan. Maka disarankan untuk minum air putih hangat setelah makan. Air hangat membantu menyerap makanan pada tubuh menjadi baik. Lemak-lemak dari makanan yang kita konsumsi juga akan larut ketika kita minum air hangat.

2. Perasan air lemon



Campurkan perasan air lemon ke dalam segelas air hangat atau bisa ditambahkan sedikit madu agar tidak terlalu asam. Campuran minuman lemon ini mampu mengatasi masalah pencernaan dan meminimalisir kemungkinan terjadinya dehidrasi yang dapat menghambat proses pembakaran lemak.

3. Bawang putih



Ini dia bumbu dapur yang memiliki khasiat menetralkan, mendetoksifikasi, dan mengurangi timbunan lemak dalam tubuh kita, yaitu bawang putih. Bawang putih mampu meluruhkan kolesterol jahat yang menempel pada pembuluh darah. Caranya bagaimana? Cukup dikunyah saja kok. Kalau nggak tahan sama bau dan rasanya yang tajam cukup haluskan tiga buah bawang putih, kemudian campurkan dengan perasan air lemon atau madu.

4. Yoghurt

Siapa yang nggak tahu yoghurt? Yaitu minuman yang mengandung nutrisi dan dipercaya bisa mengurangi peradangan pada usus akibat terlalu banyak konsumsi gula dan makanan tak sehat lainnya, termasuk yang berlemak. Kalau kita
Ingin mendapatkan keuntungan dari mengonsumsi yoghurt untuk menurunkan kolesterol. Maka pastikan bahwa yoghurt tersebut mengandung bakteri lactobacillus acidophilus La5 dan bifidobacterium lactis Bb12. Menurut Journal Dairy of Science, kedua bakteri probiotik ini mampu menurunkan kadar kolesterol, terutama kolestrol jahat atau LDL.

#happylifewithyoqta
#ODOP









April 02, 2018 No komentar
Review Buku
Judul Buku: The Lady Escort
Penulis: Kinanti WP
Penerbit: Kubusmedia
Jumlah hlm: 194 hlm

Tema dalam novel ini sebenarnya sudah umum. Tapi penulisan yang ringan dan enak dibaca, membuat pembaca enggan berhenti. Saya pun hanya menghabiskan kurang lebih tiga jam untuk membacanya.

Diawali dengan seorang pria tampan, mapan, malah terbilang kaya raya. Memiliki perusahaan, beberapa apartemen, dan sebuah rumah besar pemberian orang tuanya yang kaya raya. Tama namanya.

Tama mencari seorang escort untuk dijadikan ‘pasangan’, agar mendapat hak asuh anaknya.

Tapi, pada cerita ini bukan tentang bagaimana Tama mendapatkan hak asuh anaknya, Adrian. Kisah ini lebih menceritakan bagaimana hubungan Tama dengan Jani, sang lady escort yang dibayarnya.

Tanpa diduga, ternyata ibu Jani adalah teman kecil ibunya Tama. Malah ibu mereka pernah saling berjanji untuk menjodohkan anak-anak mereka.

Sayang, Hana kakak ipar Tama mengetahui sandiwara antara Tama dan Jani. Hana begitu mengenal Tama. Tama adalah seseorang yang tidak mudah jatuh cinta. Terlebih semenjak wanita yang bernama Alice, ibunya Adrian tidak disetujui oleh orang tuanya dan akhirnya meninggal.

Jani semakin terseret jauh ke dalam tokoh yang dia mainkan. Bahkan ibunya Tama berniat akan melamar Jani pada pamannya. Tama pun menyadari hal ini. Terlebih Adrian sudah cukup akrab dengan Jani.

Tama meminta perpanjangan kontrak. Sayang, Jani menolak. Jani tidak mau menjalani peran dalam sandiwara yang mulai melibatkan perasaannya itu.

Sekilas kisahnya seperti Pretty Woman yang diperankan oleh Julia Roberts. Tapi Jani bukan wanita nakal lho yah. Yah, lumayan cukup mengaduk perasaan. Terlebih sikap Tama yang cool dan penuh kejutan. Atau sikap Tama yang hanya sekadar memperhatikan hal kecil. Hmm, cewek mana coba yang nggak melayang dengan sikap cowok seperti ini.

Keluarga yang lebih mengedepankan cinta di atas harta, tahta, dan jabatan. Ah, jadi pingin jadi Jani.




April 01, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ▼  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ▼  April (12)
      • Obsesi
      • Bukan yang Kedua
      • Mager
      • Si Bleki
      • Poni Dora
      • Obrolan di Coffe Shop
      • Wanita XXL
      • Mantan
      • Seorang Perempuan dan Cerita
      • Dia
      • Konsumsi ini setelah makan yang berlemak
      • Review Buku - The Lady Escort
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose