facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi



"Sstt! Jangan berisik nanti kita ketahuan," ucap Odi sambil menempelkan telunjuk di bibirnya yang dimonyongkan. Mata Odi pun melotot pada Seno setelah ia menginjak daun kering sehingga menimbulkan suara.

Halaman rumah Pak Beni siang itu terlihat sepi. Rindangnya pohon buah yang tumbuh dekat pagar. Dan rimbun pepohonan perdu, membuat Odi dan Seno dengan mudah menyelinap ke samping rumah Pak Beni.

Odi dan Seno saling berpandangan, tersenyum penuh arti dan kemenangan. Meskipun perjalanan mereka masih panjang. Tapi, menyelinap tanpa diketahui si pemilik rumah sudah merupakan suatu keberhasian awal.

Kedua bocah SD kelas lima tersebut memasang mata waspada. Kepala mereka menoleh ke kiri dan ke kanan. Sangat kompak. Seakan mereka sadar akan tugas masing-masing, mereka pun saling memisahkan diri.

Seno berjongkok di ujung samping rumah Pak Beni yang bercat hijau. Bukan tanpa alasan Odi dan Seno memilih rumah Pak Beni sebagai sasaran hari ini.

Pak Beni yang sudah berumur, pendengaran dan penglihatan pun sudah berkurang. Ditambah lagi bila siang hari dia hanya ditemani, Rina. Cucu Pak Beni sekaligus teman bermain Odi dan Seno. Membuat Odi dan Seno dapat bertindak lebih leluasa untuk menuntaskan aksi mereka.

"Gimana Sen? Aman nggak?" tanya Odi pelan dan hati-hati pada Seno sambil memegang sepeda mini milik Rina.

"Aman."

Kondisi jalan di komplek siang itu terlihat sepi. Penjual batagor baru saja melewati rumah Pak Beni. Menurut perhitungan Seno, setengah jam lagi, tukang cilok akan lewat. Seharusnya pada saat tersebut, mereka sudah aman meninggalkan rumah Pak Beni.

"Ayo lekas kau bersiap kalau begitu," ucap Odi masih dengan suara pelan setengah berbisik.

Seno pun berjalan menghampir pagar bambu yang tingginya tidak lebih dari setengah meter. Bunga mawar merah kesayangan Rina terinjak. Lebih baik diinjak daripada terkena durinya, pikir Seno dalam hati.

Seno memberi isyarat dengan tangan mengajak pada Odi. Odi mulai beraksi. Didorongnya sepeda mini kecil milik Rina ke arah pagar dekat pohon buah. Seno bersiaga dengan menengokkan kepala ke kiri dan ke kanan.

Sebentar kemudian, Odi dan Seno tertawa bersama. Mereka berboncengan naik sepeda menuju tukang loak di ujung komplek. Terbayang mereka akan bermain game on line seharian.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch5#day10

Januari 31, 2018 3 komentar
Berdagang atau berjualan bukanlah hal yang mudah. Bahkan ibu pernah bilang kalau berdagang itu bakat alias turunan (sifat).

Dalam hal ini menurut beliau, adik saya yang no.2 menuruni bakatnya dalam berdagang. Setiap saya mengungkapkan keinginan berdagang, beliau selalu membuat contoh adik saya itu. Saya dianggap tidak memiliki bakat dagang katanya. Yang pada akhir setiap pembicaraan mengenai bahasan tersebut, saya pun mengurungkan niat untuk berdagang.

Maju mundur untuk melakukan sebuah usaha dan tidak mendapat dukungan, membuat saya pun akhirnya terlena pada zona nyaman kembali.

Namun seiring dengan waktu berjalan dan pertambahan usia. Membuat saya mempertimbangkan kembali untuk memulai berdagang. Kali ini saya tidak berbicara dengan ibu. Saya ingin mematahkan pendapat beliau tentang bakat dan keturunan dalam berdagang. Saya juga ingin menjadi salah satu anak yang bisa berdagang seperti adik saya.

Memangnya  berdagang atau berjualan itu harus mempunyai sifat keturunan dari salah satu orang tua kita?

Kalau menurut saya, berdagang itu tidak ada hubungannya dengan keturunan. Berdagang itu lebih condong ke inisiatif dan kemauan kita untuk melakukannya. Yah, yang ada hanya itu, mau atau tidak.

Dalam hadits, Nabi Muhammad saw mengatakan:
Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki (H.R.Ahmad).

Tuh jelas kan. Di dalam hadits saja tidak ada kata keturunan. Maka, saya pun memutuskan untuk berdagang.

Mengawali berdagang pun tidak mudah. Benar adanya keuletan akan membuahkan hasil. Katakan selalu pada putus asa, no way!Karena bila sekali saja menuruti si putus asa, tamat sudah mengawali kegiatan berdagang.

Let me tell you something, guys. Ternyata untuk menemukan produk yang akan dijual sesuai dengan karakter kita itu sulit pakai banget. Karena kalau kita tidak cocok dengan produk yang akan dijual. Aral melintang yang datang pada awal kita berdagang tidak akan kita sikapi dengan pantang menyerah.

Jadi, berdagang itu harus bermental baja. Tahu kan orang jatuh cinta? Segala sesuatu yang mustahil akan dilakukannya. Sama dengan berdagang, bila gagal, dia akan selalu mencoba sampai berhasil.

Satu lagi. Kalau kita berdagang dengan produk yang kita sukai atau sesuai dengan passion. Cara atau solusi selalu akan ditemukan. Karena selain berdagang mencari keuntungan, kita juga ingin selalu memberikan manfaat dari produk yang kita jual.

Seperti saya yang pada akhirnya menemukan produk yogurt (Yo'Qta) ini. Setelah sebelumnya saya berpetualang dengan beberapa produk lain dalam waktu satu tahun.



Semoga saya selalu bisa menebar manfaat Yo'Qta pada lingkungan sekitar dan semua masyarakat bumi di Indonesia ini. (lebay dikit eh banyak deng).
Aamiin-in yah yah.

Jadi menurut kamu, berdagang itu bakat atau bukan?
#OneDayOnePost
#ODOPBatch5#day9



Januari 30, 2018 6 komentar

"Awas kalau kau ngadu ke Bu Guru!" Ancam Dodi pada Tino.

Ditariknya baju seragam sekolah Tino hingga napas Tino yang berirama cepat karena ketakutan menerbangkan poni Dodi naik dan turun. Jarak wajah mereka berdua begitu dekat. Mata Tino tidak berkedip, alisnya berkernyit, mulutnya terbuka sedikit untuk mengimbangi napas dari hidungnya. Tino butuh oksigen lebih banyak agar tidak semaput.

Tubuh Dodi yang gempal sangat berbanding terbalik dengan Tino yang bertubuh kurus dan cungkring. Hingga wajar bila Tino bertekuk lutut pada Dodi.

"Iyah, a... , a ... , aku nggak bakal ngadu," jawab Tino tergagap.

Dan Dodi pun melepaskan genggaman erat tangannya pada baju Tino setelah mendapatkan sebuah janji.

Tugas prakarya hari itu adalah membuat layangan. Disebabkan Dodi tidak membawa peralatan yang diperintahkan oleh guru. Maka hasil prakarya Tino yang baru separuh jadi direbut.

Tidak ada satu pun teman satu kelas Dodi dan Tino menyadari kejadian tersebut. Mereka begitu serius dan asyik mengerjakan tugas prakarya hari itu. Lagipula Dodi dan Tino kan satu bangku.

"Dodi!" suara Bu Endang mengejutkan Dodi.

"Kalau kau tidak membawa peralatan prakarya hari ini. Jangan ganggu Tino. Menggambar layangan saja kau. Bawa kan buku menggambarnya?"

Ternyata Bu Endang walaupun sedang membaca buku materi. Dia melihat adegan kejadian pada dua orang anak didiknya tersebut.

Dodi pun bernapas lega. Dipikirnya dia akan dihukum.

"Bawa, Bu," sahut Dodi sambil mengeluarkan buku gambar dari dalam tasnya.
Diserahkan kembali layangan yang baru separuh jadi itu pada Tino. Terlihat seulas senyum dibibir Dodi yang disambut pula dengan senyum Tino.

Bu Endang pun tersenyum dari depan kelas hinggal bel berbunyi sebagai tanda pelajaran telah usai.

"Dodi, lain kali satu hari sebelum tugas dikumpulkan atau dikerjakan. Kau harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Jangan sampai hal ini terulang lagi yah," ucap Bu Endang ketika Dodi mencium tangannya untuk pamit pulang. Dodi menganggukan kepala.

Terlihat Tino sudah menunggu Dodi di luar kelas. Mereka berencana akan bermain layang-layang bersama sepulang sekolah.
Dodi merangkul tubuh kecil Tino. Mereka pun tertawa bersama sepanjang perjalan pulang sekolah tersebut.

#TantanganKe-2#TantanganODOP
#OneDayOnePost#ODOPBacth5




Januari 29, 2018 8 komentar

Dijaman now ngutang menjadi hal lumrah Katanya kalau nggak ngutang hampa nih hidup.

Bahkan si penerima utang pun, jarang yang mempunyai malu, bila jatuh tempo telah lewat dan ditagih terus menerus oleh si pemberi utang.

Janji yang diucapkan seperti angin. Tidak ada rasa tanggung jawab bila diingkari. Semua sudah biasa dan banyak orang melakukannya. Jadi menurut dia no problemo dong.

Berbagai alasan diberikan oleh si penerima utang. Hingga akhirnya si pemberi utang bosan dan jenuh menagihnya. Padahal bisa saja ini taktik si penerima utang. Yang berkeinginan bebas dari utang.

Mungkin tips berikut bisa digunakan untuk menagih utang:

1. Kalau pesan singkat cuma diread doang. Coba deh forward pesan singkatnya itu ke saudara atau teman dekat. Kita tinggal berdoa semoga berhasil. Namanya juga usaha. Ya nggak?

2. Ajak dia jalan ke tempat makan atau supernarket. Kita makan atau belanja. Dan, biarkan dia yang menyelesaikan pembayarannya. Dengan catatan jangan melampaui jumlah utangan. Satu lagi saat bertransaksi di kasir, kita tinggalkan dia sendiri jangan didampingi, kalau nggak nanti kita yang bayar.

3. Waktu kita lihat dia sedang berselfie ria pada waktu liburan. Kita bisa memberi komentar dengan menyindir secara halus dan elegan. Misalnya, "eh lo lagi pelesiran yah? Ntar pulangnya bawain oleh-oleh yah. Kan duit gue masih ada di lo."

4. Jurus terakhir adalah jurus tingkat tinggi. Tidak semua orang bisa melakukannya. Yaitu mengikhlaskan utang kita dan berharap mendapat pahala hanya dari Allah.

Jadi teman-teman mau coba yang mana? Atau punya tips lain? Boleh dong dishare.

#OneDayOnePost
#ODOPBacth5#day7


Januari 28, 2018 15 komentar

Kemarin Jumat saya mengikuti sebuah kuis yang diadakan oleh salah satu komunitas yang saya ikuti.
Pertanyaan dari sponshorship adalah mengenai arti Kesuksesan Menurut Saya.

Hmm, pertanyaan sederhana tapi jawabannya kudu menyelam ke dasar hati heuheu
Soalnya standar kesuksesan buat masing-masing individu pastinya berbeda-beda. Ada yang menjadikan tolak ukur kesuksesannya itu berupa materi, karir, keluarga (anak), prestasi dan masih banyak lagi.

Tapi kalau buat saya, kesuksesan itu bisa menemukan passion. Masih inget banget waktu nyari si passion tahun 2016 awal. Saya nyemplung ke lebih dari dua puluh grup wa. (sekarang lebih banyak 😁).

Karena dari passion tersebut saya merasa hidup penuh arti 😎😜 Nggak ada istilah loyo dalam menjalani hidup. Semangatnya on terus. Meski ada kerikil menghalangi jalan, saya selalu menemukan cara untuk mengatasinya.

Sstt! Saya kasih bocoran yah. Karena passion, saya berani keluar dari zona nyaman. Padahal hasil dari passion jauh lebih kecil dari zona nyaman.
Tapi, kapan lagi kalau nggak saya mulai dari sekarang. Masa usia 56 tahun saya baru mulai cari dan menjalani passion. Disaat tenaga dan daya pikir sudah meredup.

Itulah kesuksesan buat saya. Berani mengambil keputusan keluar dari zona nyaman yang telah mengurung saya selama 21 tahun.

Dan yang membuat saya bertambah sukses dan bahagia adalah dapat memengaruhi teman melakukan hal yang sama. Yah, nggak perlu sampai keluar dari zona nyaman. Yang penting mereka dapat menemukan passion. Setidaknya hidup mereka akan menjadi lebih bergairah dan berarti.
Kalau udah mantap sama passion. Keputusan ada ditangan mereka.

#JumatKuis
#KabolBerbagi

#OneDayOnePost
#ODOPBatch5#day6
Januari 27, 2018 No komentar

"Mamah nemenin ade yah hari ini? Yang cari uang papah ajah?" Atief menarik-narik ujung baju kau.

Kau sebenarnya sudah ingin mengabulkan permintaan Atief. Tapi kau langsung teringat bahwa ada tugas kantor yang harus diselesaikan hari ini.

"Atief sayang. Besok kan hari Sabtu mamah libur. Nanti kita bisa main seharian bersama sampai puas." Kau membujuk anakmu. Menuntut pengertian Atief agar melepaskan cengkraman tangannya  pada ujung bajumu.

Anakmu terdiam. Hari libur sekolah anakmu memang akan berakhir di hari Minggu. Dan selama libur kenaikkan kelas yang dua minggu itu. Tak satu hari pun kau habiskan waktu bersamanya. Kau selalu membawa pulang kerjaan kantor dengan seribu satu alasan.

Wajah bocah kecil enam tahun itu memberikan senyum terindah untukmu. Dengan baris giginya yang ompong di depan, menambah berat kakimu untuk melangkah. Begitu sudah banyak janji diumbar tanpa satu pun terlaksana. Tapi bocah kecilmu tak menaruh dendam padamu. Dia tidak lupa akan janjimu, tapi dia yakin kali ini kau akan menepatinya.

Dilambaikan tangan mungilnya padamu. Wajah putih bersih dan sinar matanya yang ceria melepasmu pergi. Tiada tangis pagi itu. Kau pun tenang meninggalknnya. Setiap langkahmu yang menjauh darinya. Kau tanamkan janji pada hatimu bahwa pada akhir tahun ini, kau akan fokus mengurus rumah dan keluarga. Dan kau pun menyadari bahwa janji yang ditanamkan tersebut adalah untuk yang kesekian kalinya.

Sepanjang perjalanan keluar komplek perumahan pagi itu, terdengar tangisan anak yang enggan ditinggal ibunya bekerja. Ah, kau tidak sendirian rupanya. Banyak ibu yang mempunyai balita bernasib sama. Mereka mau ibunya selalu ada di rumah. Menemani, mengawasi, bermain, dan menghabiskan waktu bersama.

"Berangkat, Bu?" sapa Pak Satpam komplek ramah. Salah satu tugas satpam adalah wajib ramah pada penghuni komplek. Kalau tidak? Alamat dilaporkan warga, dan jadi penilaian buruk. Jadi senyum itu wajib bagi mereka.

Entah mengapa kau suka sekali menggunakan kendaraan umum.

"Aku suka keramaian di dalam angkot. Terkadang aku seperti tenggelam dalam percakapan di antara beberapa penumpang. Aku bisa mendapatkan sebuah cerita menarik yang tidak pernah kudapat dari membaca novel-novelku." Jawabmu ketika ditanya teman sekantor.

Dan pagi itu, angkot yang tidak jauh dari komplek perumahanmu sudah siap berangkat. Yah, kau beruntung karena di situlah lokasi angkot ngetem.

Kau pilih tempat duduk di ujung dekat jendela. Hanya seorang pelajar SMA bersamamu pagi itu di dalam angkot.
Kau keluarkan gawaimu seperti kebanyakkan orang. Yang setelah duduk manis di kendaraan umum maka memainkan gawai menjadi hal wajib dilakukan.

Kau buka aplikasi photo pada gawaimu. Dan tiba-tiba matamu berkaca-kaca. Kau melihat seorang bocah kecil dengan senyum dan tanpa gigi dua buah di depannya.

Kau berucap, "maafkan mamah, Nak. Seandainya waktu dapat diputar kembali."

Dan selamanya kau hanya bisa mengenang tentang pagi.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch5#day5

Januari 26, 2018 4 komentar

"Ish, Deri tuh bukan cowok tipe gue." Sherryl menjawab pertanyaan Vanny ketika Vanny bilang kalau Deri naksir dia.

Gelagat Deri yang selalu mengejar Sherryl pada setiap jam istirahat. Membuat Vanny menyimpulkan kalau Deri naksir dia.

Padahal Deri lumayan ganteng. Dengan body atletis, sorot mata tajam yang bikin cewek klepek-klepek, udah gitu jago basket lagi. Bahkan di sekolah Deri dijadikan cowok gebetan of the month selalu.

"Ya udah kalo lo nggak mau. Palingan ntar lo nyesel kalo dia jadian sama yang lain," ucap Vanny melirik nakal.

"Biarin." Sherryl menjawab pendek dan cuek. Kemudian meninggalkan Vanny karena bel masuk kelas berbunyi.
*
Sherryl mulai BT dengan Deri yang mengajaknya pulang bareng terus. Dan ini sudah ketiga kalinya dia menolak permintaan tersebut. Sherryl menulis di bagian belakang sobekan kertas dari Deri.

"Sorry gue nggak bisa."

Dikembalikannya lagi buku sejarah yang telah diselipkan sobekan kertas tadi pada Deri.
*
"Lo ngapain sih ngintilin gue? Kan gue udah bilang nggak mau pulang bareng lo," ucap Sherryl dengan langkah kaki dipercepat.

"Ayolah Sher, sekali ini ajah. Ada yang mau gue omongin nih. Mumpung Vanny ada ekskul lab."

'Loh, loh, kok Deri bisa tahu Vanny hari ini ada ekskul lab? Kan ekskulnya baru mulai hari ini.' Batin Sherryl bertanya-tanya.

Vanny akan mewakili sekolah SMA TOP Bangsa untuk lomba karya ilmiah.  Dan tidak banyak siswa yang tahu. Karena kepala sekolah baru memberi keputusannya tadi pagi kalau Vanny terpilih.

Tak kunjung jawaban diterima dari Sherryl. Deri anggap itu tanda setuju dia bisa pulang bareng dengannya.

"Katanya lo mau ngomong sesuatu. Ya udah sih ngomong ajah!" Lirik Sherryl pada Deri.

'Aduh kenapa gue nantangin? Kalo dia nembak gimana? Duh, Van! Maaf kalo gue boong kalo gue nggak naksir Deri.' Batin Sherryl tidak mau diam.

"Hhmm," Deri mulai bersuara, "gue boleh minta sesuatu dari lo nggak?"

'Deg! Omigot. Ini dia saatnya nih.'

"Tolong apa?" Jutek nada Sherryl untuk menutupi gugupnya.

"Gue ... ," Deri menunduk dan melirik Sherryl di sebelahnya, "gue mau lo bilang ke Vanny, kalo gue suka dia."

Sherryl  terdiam. Kakinya tetap melangkah pelan dan pasti. Ucapannya telah menjadi nyata.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch5#day4


Januari 25, 2018 No komentar

Bismillah

Ini adalah NHW (Nice Homework) minggu pertama dari kelas matrikulasi batch5 IIP (Institute Ibu Profesional). Dan tugas NHW minggu pertama ini adalah tentang "Adab Menuntut Ilmu".

Terdapat empat pertanyaan. Tadinya saya tuh mau saling contek dengan teman dekat yang kebetulan satu kelas. Itu waktu kita tidak tahu tugas NHW seperti apa.
Ternyata setelah didapat. Jeng... Jeng! Empat pertanyaan tersebut cuma bisa dijawab secara personal. Jawabannya hanya bisa ditulis berdasarkan pengalaman, keinginan dan cita-cita.

Seperti ini soalnya:

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di Universitas Kehidupan ini.

Ok. Bagi saya cukup membingungkan dalam menentukan jurusan ilmu di Universitas Kehidupan ini. Karena terus terang, sudah satu tahun ini saya menjalankan dua jurusan dalam satu fakultas. Yaitu Fakultas Dagang, dengan Jurusan Menjual produk yogurt dan Jurusan Menulis. Saya nggak bisa memilih di antara kedua jurusan tersebut. Karena jurusan terebut saling mendukung satu sama lain. Dalam berjualan kan saya harus bisa menulis. Jadi saya memutuskan untuk menjalaninya berbarengan.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut

Berjualan tidak hanya sekadar menawarkan dagangan atau seperti toko yang menunggu pembeli datang. Jaman now kalau tidak mengikuti perkembangan bakal tergilas alias tenggelam. Kan sekarang jamannya tekhnologi canggih. Hanya melalui smartphone semua bisa diraih. Tinggal kemauan belajar dan mempraktekan ilmu yang sudah didapat, in shaa Allah cita-cita dan keinginan akan kita didapat.

Medsos adalah sarana jualan saya. Agar pembeli tertarik, tidak mungkin saya membuat status hanya memasang poto produk. Dengan tulisan "Minat? Chat me, please". Lalu dibawahnya tercantum no telpon dan wa.

Hello... Kalau bukan teman yang kenal, mungkin tidak ada yang lirik status saya. Yang memberi "like" mungkin hanya iba atau balas "like" yang pernah saya berikan di berandanya dia.

Di sinilah saya membutuhkan ilmu Copy Writing, Heart Selling, Hypno Writing dan ilmu kepenulisan lainnya. Saya harus bisa menulis untuk mempromosikan produk saya. Dan itu membutuhkan ilmu. Dengan mendalami ilmu menulis. Saya tidak hanya menjual produk. Tapi juga memberikan ilmu dan manfaat tentang produk yang saya jual. Tulisan yang indah dan jujur, akan menarik calon pembeli. Lagi pula dengan keahlian menulis review produk, bisa saja olshopper lain yang melihat akan meminta jasa dibuatkan tulisan tentang produk mereka.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan dibidang tersebut?

Strategi saya untuk mendapatkan ilmu dagang dan kepenulisan sebenarnya mudah. Cukup bergabung dengan beberapa komunitas yang mempunyai visi dan misi sama dengan saya. Tentu saja via watsapp. Kan dijaman canggih sekarang, ilmu hanya digenggaman.

Dengan memiliki misi dan visi yang sama, maka kami akan saling memberi motivasi dan semangat. Di dalam komunitas tersebut selalu terdapat diskusi. Sehingga masalah yang dihadapi dapat ditangani dengan baik. Sebut saja, menangani keluhan pembeli, masalah produksi, bahkan di grup komunitas tersebut kita bisa sharing pengalaman masing-masing.

Tidak cukup dengan komunitas. Saya pun mengambil kelas berbayar. Mentor sangat diperlukan dalam memandu usaha saya, agar target dapat tercapai.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam mencari ilmu tersebut?

Dalam menuntut ilmu, saya harus bersikap seperti gelas kosong. Bagaimana gelas bisa terisi bila sudah penuh? Oleh sebab itu, isi gelas yang sebelumnya saya simpan di tampungan yang besar. Walaupun isi tampungan belum banyak. Tetap saya pun membuka keran. Karena ilmu yang sudah saya tampung tersebut akan menjadi modal dalam berdiskusi dengan teman di dalam komunitas. Hal yang menyenangkan bila bisa berbagi apa yang kita punya. Karena di setiap interaksinya, saya akan selalu menerima ilmu baru.

Ilmu tidak pernah berbatas, setiap harinya mengalami perkembangan. Bila kita tidak mau tersingkir dalam jaman. Kita harus selalu mengosongkan gelas.

#IIPBatch5
#KelasMatrikulasi
#NHW1


Januari 24, 2018 No komentar

"Disti!"

Deg! Aku mengenal suara yang memanggilku itu. Benarkah itu dia? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku pun kembali asyik memilih baju yang tergantung di rak pakaian.

Dept. store hari ini begitu ramai. Padahal puasa yang dijalani belum juga seminggu. Mungkin orang-orang banyak berpikir, bila membeli baju lebaran menunggu THR cair, pastinya dept. store bakal ramai. Dan kalau ramai, pasti anak-anak akan rewel karena penuh sesak. Memilih baju pun tidak maksimal. Terlebih bila mendekati hari lebaran, stok lama di gudang akan didisplay kembali. Kalau tidak cermat dan teliti. Hal yang mungkin terjadi adalah kita mendapatkan kualitas baju jauh dari baik. Entah itu jahitannya yang jelek atau kancing baju yang hampir terlepas.

"Disti!"

Suara itu lagi. Dan sekarang aku mulai terusik. Terusik dengan kerinduan yang sangat mengganggu ini. Aku membalikkan tubuhku. Mataku berkeliling di penuh sesaknya pengunjung dept store. Tidak ada sosok yang kuharapkan itu.
Kugelengkan kepala dengan mata terpejam. Sial! Tidak berhasil. Suara yang memanggil namaku itu tidak mau pergi.

Aku benci bila mengingat dirinya. Semenjak dia putuskan untuk menerima pekerjaan di Dubai sebagai tekhnisi kilang minyak. Saat itu pun aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan dia, tanpa kata perpisahan.

Sepertinya baju bermotif bunga kecil-kecil didominasi oleh warna hijau ini cocok untukku. Aku mengambil baju tersebut dan menempelkannya ke tubuhku.

"Kurasa warna biru ini lebih cocok untukmu." Seorang laki-laki tiba-tiba saja muncul sambil memperlihatkan baju yang sama modelnya dengan yang dipegang oleh aku.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Kami saling tatap tanpa berkedip. Seakan hati kami saling berbicara meluapkan kerinduan.

"Bisakah kita berbicara menuntaskan apa yang tertunda lima tahun yang lalu?" ucapnya menyadarkanku.

Aduh, harus kujawab apa ajakannya itu. Aku tidak bisa membohongi hati, kalau nama Ray masih terpatri indah di jantungku. Bilakah aku menjalani hubungan ini kembali dengannya? Aku pasti bisa bermain aman. Aku hanya ingin Ray mengisi sebelah hatiku yang kosong.

"Mamah!" Zacky memanggilku.

Kulihat suamiku menghampiriku dengan menuntun anakku Zacky.

"Maaf Ray, aku tidak bisa," ucapku singkat dan pergi meninggalkan dia yang berdiri terpaku.

#OneDayOnePost
#ODOPbacht5#day3





Januari 24, 2018 2 komentar


"Bener lo sama dia udah end?" tanya Dinar untuk yang kedua kalinya. Seakan jawaban tegas "iyah" dari mulut Zein perlu diverifikasi lebih dari satu kali oleh Dinar.

Zein menatap tajam tepat di bola mata Dinar yang kehijau-hijauan karena memakai contact lens. Tidak mau kalah, Dinar pun menatap mata Zein tanpa berkedip. Tidak perlu kata-kata panjang lebar. Tatapan mereka sudah melebihi kalimat yang harusnya terucap. Bukankah kejujuran dapat dilihat dari sorot mata yang tersirat?

"Jadi?" Zein mendekatkan wajahnya ke wajah Dinar, "lo terima gue lagi kan?"
Merasa risih karena napas Zein begitu memburu ke wajah Dinar. Dan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi. Dinar menarik tubuhnya ke belakang.

Semilir angin sore dan pantulan sinar mentari ke danau. Membuat taman komplek perumahan Dinar begitu indah.
Bangku taman terbuat dari semen dan dibentuk menyerupai sebuah potongan batang pohon besar. Sedangkan mejanya terbuat dari tumpukan batu bata yang dilapisi semen, sehingga terkesan alami. Apalagi pepohonan di sekitar danau sangat rindang dan rimbun.

Anak-anak bermain, berlarian, berkejaran dengan tawa riang yang tak henti-hentinya. Tidak jauh dari Dinar dan Zein duduk. Terlihat seorang bocah kecil kira-kira berusia empat tahunan melempar potongan roti ke arah sekawanan bebek yang berenang di tepi danau. Sedangkan pengasuhnya menyuapkan nasi ke dalam mulut bocah kecil itu.

Apabila Dinar sedang galau dan pikiran kalut. Dia akan menyendiri, merenung, dan menenangkan hati di danau ini. Seperti satu kejadian yang tidak pernah dia lupa.
*
Ketika itu, pada jam yang sama disore hari. Zein memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Dinar. Yah, enam bulan yang lalu. Setelah dua tahun mereka bersama dan tidak ada masalah di antara mereka kala itu. Tiba-tiba saja sebuah pesan singkat dari Zein mengejutkan Dinar. "Maaf, Din. Sepertinya hubungan gue sama lo harus udahan sampe di sini."

Dan keesokkan harinya di sekolah. Dinar melihat Zein asik bercanda mesra dengan Teri, anak IPS.

Sebelumnya memang santer kalau Zein ada hubungan dengan Teri. Tapi, setiap ditanya kejelasan hal tersebut. Zein selalu bilang, " lo lebih percaya mereka dari pada gue?"
*
"Din!" Zein menjentikkan jarinya di depan wajah Dinar. Mata Dinar pun mengerjap, tersadar dari lamunannya.

"Kesendirian lo sampai sekarang masih membuktikan kalau lo masih cinta gue," ucap Zein yakin.

"Dinar sama gue sekarang!" Tiba-tiba ada suara laki-laki dari belakang Zein.
Dinar berdiri dari duduknya dengan senyum dan mata berbinar.

Sedangkan Zein?  Belum sempat dia menoleh ke belakang untuk meyakinkan suara laki-laki tersebut. Laki-laki itu sudah berjalan menghampiri Dinar yang kemudian merangkul bahunya.

"Lo?" Zein menatap terkejut laki-laki itu. Dugaannya tidak salah. Laki-laki itu adalah sahabatnya sendiri, Dito.

#OneDayOnePost
#ODOPbatch5#day2
Januari 23, 2018 7 komentar
Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Selama untuk kebaikkan dan meningkatkan kualitas hidup. Usia hanyalah sebuah angka.

Seperti saya ini. Usia diawali dengan angka empat pada empat tahun yang lalu sungguh amat membuat diri ini malu.

Malu?

Iyah, malu. Saya malu bila diangka ini ibadah saya masih sama dengan sepuluh tahun yang lalu. Saya malu bila status di medsos saya berisi keluhan. Saya malu bila diangka ini saya tidak bisa meninggalkan kesan dan pesan untuk keturunan.

Kesan dan pesan apa?

Yah, inilah kesan dan pesan saya bila nanti jiwa meninggalkan raga. Yaitu keikutsertaan saya mengikuti ODOP.

Memang banyak cara untuk meninggalkan kesan dan pesan. Tapi, siapa yang bakal mengira. Bila suatu saat nanti keturunan yang ketujuh membaca blog saya ini. Dan hal yang bukan mustahil, di jaman itu nanti, nama ODOP makin santer (baca:tenar).

Nah, nama saya juga bakal jadi ikutan santer, kan? Yah, paling nggak untuk cakupan turunan saya yang ketujuh deh. Heuheu

Dan lagi menurut beberapa artikel yang saya baca. Bahwa kegiatan membaca dan menulis dapat mencegah kepikunan. Yah, sebenarnya sih bukan membaca dan menulis saja. Selama kegiatan yang dilakukan itu merangsang otak agar tetap aktif. Maka yang namanya penyakit lupa dapat dicegah. Seperti Teka Teki Silang atau game Sudoku.

Jadi, saya tuh inginnya, dihari tua nanti tetap bisa eksis di lingkungan anak, cucu dan menantu. Saya tetap bisa berbagi pengalaman waktu jaman muda dulu dengan daya ingat yang kuat.

Siapa tahu setelah ikut ODOP ini saya bisa mengabadikan sejarah hidup dalam bentuk sebuah buku. Suatu prestasi yang kelak akan membanggakan para keturunan saya. Bahwa neneknya pernah ada di sejarah ODOP.

Semoga jejak baik ini dapat diikuti oleh generasi-generasi berikutnya.

Kayaknya itu deh salah satu kesan pengalaman hidup yang bakal dikenang sepanjang masa. Bukannya apa-apa, ini kan kali kedua saya ikutan ODOP.  Setelah sebelumnya takluk hanya dalam waktu kurang lebih dua minggu saja.

Doakan yah, Nak! Semoga nenek bisa membanggakan kalian. Dengan cumlaude ditangan dengan menaklukan tantangan ODOP ini. :)

#TantanganODOP1#OneDayOnePost#ODOPbatch5

Januari 22, 2018 6 komentar
Hasil gambar untuk mengendalikan emosi
jabar.tribunnews.com

Sesuatu yang mengesalkan dan tidak mengenakkan hati memang selalu memancing emosi. Terlebih bila emosi ini membawa efek negatif pada pertemanan atau keluarga.

Memang kita tidak bisa menghilangkan sifat emosi yang sudah menjadi salah satu dasar bawaan manusia. Tapi bila kita memandang dari sudut yang berbeda pada setiap masalah yang menghampiri. Tentu saja lain cerita yang bakal didapat. Hal negatif akan tergantikan dengan hal positif.

Cobalah gunakan cara di bawah ini setiap kali emosi datang:

1. Setiap kali kita akan bereaksi negatif, tenangkan diri dengan mengambil napas panjang dan menutup mata.

2. Ubah fokus kita. Jika kita lebih sering merasa rendah diri karena menganggap orang lain lebih hebat, ubah fokus pada diri sendiri, apa yang ingin kita kerjakan, dan kemampuan yang ingin kita tingkatkan, sehingga membuat diri kita lebih percaya diri.

3. Hindari situasi yang membuat kita mudah merasakan emosi negatif. Sebagai contoh, jika kita mudah kesal saat terburu-buru, maka kita dapat mengatur waktu untuk berangkat lebih awal. Dengan begitu, kemacetan atau pun pengguna jalan yang lambat tidak akan terlalu membuat kita terganggu atau bahkan dapat dihindari.

4. Jalin komunikasi dengan orang-orang di sekitar kita seperti keluarga, teman, tetangga yang membuat kita nyaman. Kita perlu sahabat dan keluarga sebagai tempat berbagi permasalahan.  Yang bersedia mendengarkan dan tidak membiarkan kita sendiri.

5. Temukan aktivitas yang membuat kita senang dan dapat menjadi bagian positif dari keseharian kita seperti bersepeda, berjalan santaj. Mengerjakan hobi yang kita sukai membuat kita merasa rileks dalam dunia kita sendiri. Selain itu, olahraga dapat menjadi sarana untuk mengelola stres.

6. Memberi dapat membuat kita senang. Berikan waktu, bantuan, atau pun senyum kita untuk orang lain, misalnya mengikuti bakti sosial.

7. Menjaga berat badan tetap ideal adalah salah satu cara mengendalikan emosi dan kesehatan mental. Cobalah untuk mengonsumsi makanan sehat yang kaya nutrisi dan dengan porsi yang tidak berlebihan.

8. Yoga dan meditasi dapat menjadi metode manajemen stres dan melatih Anda mengendalikan emosi.

9. Kelola waktu dengan mengatur jadwal dan membuat rencana hal-hal yang perlu dilakukan. Perencanaan akan membantu kita mengurangi stres.

10. Belajar mengatakan “tidak” terutama pada hal yang sebenarnya memang sudah tidak dapat kita kelola, atau acara yang memang benar-benar tidak dapat kita hadiri.

11. Jaga agar tubuh selalu mendapat istirahat cukup sehingga masalah tidak dengan mudah menyulut emosi.

12. Kesehatan tidak hanya tentang tubuh yang sehat, tetapi juga pikiran yang sehat yang memengaruhi emosi. Sehat secara emosional berarti dapat mengelola masalah sehari-hari seperti stres, mengubah kebiasaan buruk, berkreasi, menjalin hubungan pertemanan, dan semua hal lain yang dapat berdampak pada kesehatan jiwa dan raga.

13. Menjaga kesehatan emosional sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh, karena keduanya saling memengaruhi. Kesehatan emosional yang terganggu dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan kesehatan seperti nyeri dada dan tekanan darah tinggi. Orang yang pikiran dan emosinya sehat akan lebih mudah menghadapi persoalan hidup besar seperti perpisahan atau pun kematian.

Namun, kita harus mewaspadai jika ternyata yang kita rasakan bukan sekadar fluktuasi emosi, melainkan pertanda depresi. Kenali gejala depresi yang dapat ditandai dengan tanda-tanda seperti mood buruk lebih dari dua minggu, merasa putus asa, kelelahan, tidak dapat berkonsentrasi, hilang nafsu makan atau sebaliknya makan terlalu banyak, susah tidur atau pun terus ingin tidur, dan terpikir untuk mengakhiri hidup.

Cobalah menerapkan berbagai cara mengendalikan emosi di atas untuk mendapatkan kesehatan fisik dan mental. Jika gejala depresi mulai muncul, jangan ragu untuk segera berkonsultasi pada dokter.


Sumber artikel: Alodokter.com
Januari 15, 2018 No komentar
Dikalangan masyarakat umum, sebuah profesi adalah sesuatu yang bisa menghasilkan materi. Dan mereka berpendapat bahwa titel profesi ini bisa membuat seseorang bangga dengan menyandangnya.

Bagaimana dengan Ibu Rumah Tangga? Apakah IRT adalah sebuah profesi? Karena banyak masyarakat awam menilai bahwa IRT bukan merupakan sebuah profesi. Mereka menganggap bahwa sebuah profesi adalah seseorang yang bekerja terikat waktu dan mendapat upah.

Pekerjaan rumah tangga memang tidak terikat waktu. Karena pekerjaan rumah tangga dilakukan, dari mata terbuka sebelum adzan subuh berkumandang sampai penghuni rumah terlelap semua dalam sunyinya malam.

IRT adalah sebuah pekerjaan tak kasat mata. Rumah bersih dan rapih, pakaian tertata dengan menyebar aroma wangi di lemari, perut yang dimanjakan oleh makanan lezat dan bergizi, anak-anak yang lucu, menggemaskan, sehat dan cerdas. Hal-hal semacam itu dianggap lumrah dan wajar. Karena memang seharusnyalah begitu keadaan sebuah rumah tangga.

Belum lagi menjadi tempat pendengar setia suami dan anak. Suami yang mengeluhkan macetnya perjalanan atau anak yang bercerita tentang kesehariannya di sekolah. IRT menjadi pendengar setia. Tidak perduli lelah karena pekerjaan yang datang silih berganti pada dirinya.

Apakah mendapatkan upah?

Tentu saja mendapatkan upah, yaitu upah dalam bentuk sebuah kebahagiaan yang nilainya jauh melebihi materi. Anak yang berbakti, suami yang bahagia dengan pekerjaannya adalah upah kebanggaan seorang IRT. Karena seorang IRT akan memastikan anggota keluarganya keluar rumah dan datang kembali ke rumah dengan selalu membawa hati yang bahagia. Karena hati yang bahagia akan memandang semua masalah hidup dengan positif.

Jadi, masihkah berpendapat bahwa pekerjaan IRT bukan sebuah profesi?

Januari 12, 2018 No komentar
Seorang teman yang dikenal melalui facebook, tiba-tiba saja membeli produk kita. Kita pun lega karena kebingungan akan stok barang yang menumpuk menjadi sirna.

Dikejadian lain.

Seseorang hampir saja terpeleset karena menginjak kulit pisang dijalan.

Pernahkah mengalami hal semacam di atas?

Kasus pertama, seakan-akan kita terbantu oleh salah satu pembeli yang hanya dikenal melalui facebook. Dimana dia menyelamatkan kita dari stok dagangan yang menumpuk.

Kasus kedua, hanya karena kulit pisang, kita hampir saja celaka. Padahal kalau direnungkan, kenapa dari sekian banyak orang yang lewat, harus kita yang mengalami hal tersebut?

Dari dua kasus tersebut pasti ada sebab musababnya. Bukan sebuah kebetulan belaka. Hanya diri kita sendirilah yang mengetahui kenapa semua itu bisa terjadi.

Tidak mungkin tiba-tiba teman yang tidak pernah berinteraksi dengan kita, membeli barang dagangan. Itu semua pasti karena usaha dan doa kita.

Facebook di masa sekarang adalah media on line yang selain digunakan sebagai ajang silaturahim, juga sebagai sarana media iklan usaha dan bisnis. Mungkin teman kita tersebut baru tergerak membeli produk ketika melihat status kita di facebook yang kesekian kalinya. Dan disaat yang bersamaan kita sedang bingung dengan stok yang ada. Akhirnya pertemuan saling membutuhkan tercipta seperti sebuah kebetulan.

Semua yang ada di dunia takkan terjadi tanpa sepengetahuan Allah, bahkan daun takkan gugur tanpa sepengetahuan-Nya. (HR. Tirmizi)

Semua kejadian adalah sebagai pengingat diri. Bila mendapatkan keberuntungan, ucapkanlah syukur. Bila mendapat musibah seperti terpeleset kulit pisang tadi. Itu tandanya kita harus lebih banyak mengingat sang Pencipta. Beruntung Tuhan memberikan langsung peringatan di dunia. Bagaimana kalau kita sudah berhadapan dengan-Nya. Masih berlakukah peringatan itu?
Januari 11, 2018 No komentar
"Kamu yakin ikut ODOP lagi?" ucap saya tidak yakin.

Ini adalah kali kedua aku mengikuti ODOP. Setelah sebelumnya dalam waktu dua minggu, aku takluk dengan alasan kesibukkan.

"Aku akan mencoba lagi kali ini. Aku akan mengajak si konsisten bekerja sama dengan diriku," balasku.

Semenjak aku mengundurkan diri dari pekerjaanku dua bulan yang lalu. Seharusnya konsisten bisa menaklukan alasan kesibukkan. Kalau direnungi, kesempatan untuk menulis itu sebenarnya selalu ada. Aku yakin, kesempatan memang harus diciptakan. Pasti selalu ada waktu luang di antara kesibukkan. Yah, itu waktu aku masih menjadi karyawan, olshopper dan ibu rumah tangga. Susah juga mengatur waktu dan menyelipkan kegiatan menulis untuk ODOP.

Tahu nggak? Blog pun akhirnya tidak terurus. Password dan email lupa. Maklum teman yang buat blognya. Da aku mah apa atuh, cuma emak-emak rempong yang udah nggak muda lagi. Tapi, masih punya mimpi menjadi seorang penulis.

Dan akhirnya, belum lama aku membuat blog baru. Aku buat sendiri, loh. SENDIRI. Kemajuan lumayanlah buat emak-emak.

Karena aku penulis pemula, di mana konsistensi masih naik turun. Maka bergabung dengan ODOP, diharapkan bisa menjaga si konsisten tersebut. Berharap teman-teman yang memiliki passion sama bisa selalu membakar semangat.


"Baiklah, bila kau yakin. Semoga kali ini kau bisa menaklukan ODOP," ucap saya.
Januari 05, 2018 2 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ▼  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ▼  Januari (15)
      • Game On Line
      • Haruskah Mempunyai Bakat dalam Berdagang?
      • Layangan Persahabatan
      • Tips Menagih Utang
      • Kesuksesan Buatku
      • Tentang Pagi
      • Pupus
      • Adab Menuntut Ilmu #NHW1
      • Keputusanku
      • Dinar
      • Berkarya Tidak Mengenal Usia
      • Kendalikan Emosi Dengan Cara Ini
      • Sebuah Profesikah Pekerjaan Seorang IRT?
      • Adakah Kebetulan?
      • Kesempatan Kedua
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose