facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

Sabtu pagi menjelang siang. Kakak menghampiri saya, kemudian duduk di kursi makan. Sedang saya duduk di atas lantai sambil mengulek bumbu.

Hari ini saya akan membuat daging gepuk alias empal daging. Buat bekal kakak besok pulang ke kos-an. Biar irit nggak usah beli lauk makan katanya. Nasib anak kos kudu bisa menghemat pengeluaran seminimal mungkin.

“Kenapa matanya jadi tambah parah, Kak?” ucap saya yang belum sempat ditanyakan ke kakak kemarin.

“Itu lho, Mah. Kakak baru inget sekarang. Kalo di kelas ada temen Kakak yang lagi sakit mata.”

Saya mengusap dan mengucek mata. Heran aja, setiap ngulek bawang merah selalu aja mata perih dan berair.

“Kakak pake kacamata, nggak?”

“Pake, Mah.”

“Temen Kakak pake, nggak?”

“Nggak.”

“Pantes. Seharusnya dia pake kacamata, yah. Kan kasian sama temen kelas yang lain.”

Kakak menepuk-nepuk tisu ke daerah matanya yang berair. Terlihat matanya merah dan bengkak. Kasihan kakak.

“Udah ditetesin obat mata lagi, belom?”

“Ntar deh sebentar lagi. Baru kelar makan, masa tiduran.”

Kakak pun beranjak dari duduknya. Meninggalkan saya yang masih mengusap sisa air mata yang berair karena bawang merah.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 15, 2018 No komentar
Tadi siang kakak memberi kabar bahwa kuliah hari Jumat ini diliburkan. Hadewh, baru masuk empat hari, hari kelima malah diliburin. Nggak ngerti deh sama sistem perkuliahan zaman now.

Pesan terakhir via wa dari kakak adalah, “Mah, siapin uang ojol lima ribu, yak. Ntar Kakak ganti.”

Ngobrol satu jam tapi karena diseling iklan (baca: ngurus rumah), ya, paling sebenernya cuma sepuluh menit. Dari mulai kakak berada di mobil travel sampai kendaraan yang ditumpanginya tiba di tol Timur. Pesan di atas itulah percakapan terakhir saya dan kakak.

Kedatangan kakak yang sudah biasa. Membuat sikap saya juga biasa saja. Toh, kakak memang seminggu sekali pulang ke rumah. Saya melanjutkan chatting dengan grup Bunsay. Sedang kakak langsung mandi.

Sampai akhirnya tiba waktu ashar. Kakak menghampiri saya dan berkata,”mata Kakak merah lagi nih, Mah. Bengkak dan kayak ada yang ngeganjel gitu di dalem mata.”

Padahal ya, waktu kakak kembali ke Karawang hari Senin. Matanya itu sudah membaik. Paling satu hari berobat lagi, mata kakak akan sembuh seperti sedia kala. Lah ini. Saya kaget dong. Matanya jadi mengecil karena bengkak dan merah.

Saya meminta kakak untuk memberi obat tetes mata pada mata kanannya. Sedangkan saya, kembali berkutat di dapur.

Setelah magrib, saya menemui kakak di kamar. Untuk melihat kondisi matanya. E...ladalah, dia lagi main hape.

“Hapenya ntar-ntaran lagi, Kak. Itu kan matanya lagi bengkak. Istirahatin dulu tuh mata. Kasihan.”

Cuma lirikan mata doang sebagai balasan dari saran saya. Itu juga lirikan karena kakak nggak mau kalah sama game yang sedang dimainkan.

Ya, sudah. Saya pun keluar dari kamar kakak.

Selang beberapa lama kemudian. Saya masuk ke kamar kakak lagi untuk kedua kalinya.

“Udah ditetesin lagi matanya?”

“Udah, baru aja,” balas kakak sambil berkaca memeriksa matanya.

“Mata Kakak tambah berair nih, Mah.”

“Makanya main hapenya diudahin dulu. Kan dah dibilang tadi. Itu mata butuh istirahat.”

Terdengar musik dari hape kakak yang diletakkan di atas kasur.

“Yah, baru aja mau baca buku, Kakak.”

Sebuah novel di samping hape sudah disiapkan kakak untuk dibaca.

“Udah, hapenya dengerin musik aja. Bacanya juga nanti-nanti aja. Nggak kasian apa sama tuh mata.”

Saya keluar kamar. Sama seperti keluar kamar kakak pada saat saya masuk. Untuk yang kedua kali ini pun. Saya tidak mendapat janji kakak untuk menuruti saran saya.

Tapi yang jelas. Ketika saya masuk ke kamar. Kamar kakak gelap, lampunya sudah dimatikan. Berarti dia tidak main hape dan tidak juga membaca novel.

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 14, 2018 No komentar


Hari ini super duper padat kegiatan saya. Workshop yang diikuti hari ini fullday. Berangkat dari rumah pukul delapan dan tiba di rumah kembali pukul 19.30.

Laporan ke kakak satu hari sebelumnya, cuma bilang kalau saya akan mengikuti workshop.

Saat masih di kereta kakak mengirim pesan via wa. Kakak ternyata ingin berbicara langsung denganku. Apa boleh buat situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Kereta pada jam pulang kantor setelah magrib benar-benar sumpek, ramai pakai banget. Nggak perlu pakai pegangan, secara berdiri saja sudah terhimpit dan nggak bisa bergerak. Apa kabarnya terima telpon coba?

Setelah selesai makan malam dan beristirahat sebentar. Setengah jam kemudian kakak mengirim pesan. Menanyakan apakah saya sudah sampai di rumah atau belum. Sepertinya benar-benar masalah penting. Sampai-sampai kakak tidak mau menyampaikan maksudnya via wa.

Setelah beberapa kali video call saya tidak dijawab oleh kakak. Saya pun menelepon kakak lewat GSM nya.

“Kenapa, Kak?” Tanya saya setelah mengucapkan salam dan menanyakan kabar.

Ternyata kakak ingin memberi kabar bahwa jadwal kuliahnya berubah. Jadwal kuliah semula adalah pada hari Senin - Jumat. Perubahan jadwal kuliah terbaru adalah Senin - Selasa, Kamis - Sabtu. Jadi kesimpulannya, perubahan jadwal tersebut membuat kepulangan kakak seminggu sekali ke Bekasi menjadi terganggu.

Harusnya kakak bisa pulang pada hari Jumat siang. Sekarang malah terancam tidak pulang. Ia memaksakan diri untuk pulang ke Bekasi setiap Sabtu dengan cara nebeng temennya.

Saya pun memberikan alasan jarak tempuh yang terlalu jauh dengan motor. Karawang - Bekasi dengan menggunakan motor tentu akan membuat tubuh tidak nyaman. Saya pun menambahkan alasan kesehatan. Untuk sementara, keputusan awalnya adalah kakak pulang ke Bekasi satu bulan sekali. Dan pada minggu ketiga, kami akan mengunjungi kakak. Sebagai pelepas rindu gitu, deh.

“Kakak BT tau, Mah, di kosan sendirian. Mana nggak ada wifi. Boros kuota deh, Kakak.” Itu adalah salah satu alasan yang diberikan. Kakak keberatan dengan usul saya pulang satu bulan sekali. Setelah alasan sebelumnya adalah sedih karena nggak bisa kumpul bersama kami, kedua orang tuanya.

Setelah tawar-menawar yang cukup rumit. Pun hampir dua puluh menit pembicaraan kesepakatan belum tercapai. Akhirnya kakak dengan berat hati menerima keputusan saya tersebut.
Itu juga pakai kalimat hiburan dan janji yang lain. Bahwa hal tersebut akan dibicarakan bila kakak pulang dan berada di rumah.

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 13, 2018 No komentar

Masih melanjutkan pembicaraan soal mepet. Kali ini percakapannya lewat aplikasi whatsapp.

Setengah jam berlalu semenjak kakak meninggalkan rumah. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul sebelas. Harusnya kakak sudah sampai stasiun dan sudah di atas kereta.

Kukirim pesan pendek karena berita yang ditunggu tak kunjung datang. Hati gelisah karena takut ojol yang dikendarai tak bisa tepat waktu sampai di stasiun.

Percakapan via wa (whatsapp)
“Udah sampe stasiun, Kak?”
“Udah, Mah. Pukul 10.47 tadi.”
“O, berarti udah di kereta dong, ya?”
“Keretanya masih di Jatinegara, Mah. Gak tahu nih Kakak harus sedih atau seneng.”

Hmm, mungkin maksud kakak dengan sedih karena kereta telat berarti jam tiba di kampusnya terancam. Terancam ketinggalan kuliah hari pertama pukul satu siang. Sedangkan senang, berarti kakak bisa terangkut kereta. Karena kereta berikutnya baru ada sekitar pukul tiga.

“Kan sekarang masih sepuluh menit dari pukul sebelas. Mudah-mudahan keretanya cepat sampai dan terkejar sampai tiba di kelas dengan lancar.” Hiburku menenangkan kakak yang juga menstabilkan deg-degan jantungku sendiri. Asli. Mepet banget ini, sih.

“Untung tadi dapet abang ojolnya anak muda gitu. Jadi diminta ngebut deh sama Kakak. Trus ya, Mah. Jadwal kereta nggak tahunya pukul 10.52.”

“Lho, Kakak bilang pukul sebelas jadwal keretanya. Untung telat tuh kereta datengnya. Coba kalo on time.”

Untuk sementara kami pun menyudahi percakapan tersebut.

Aku pun melanjutkan pekerjaan rumah. Sambil sesekali memerhatikan jam di dinding. Aku berencana akan menanyakan kabar perkembangan perjalanan kakak ke Karawang. Harapannya sih, kakak yang memberi kabar.

Akhirnya, pukul 11.15 aku yang menanyakan kabar kakak lewat wa. Anaknya anteng, emaknya yang rempong. Hadewh Kakak… Kakak.

“Udah di kereta kan, Kak”
“Udah, Mah. Udah sampe Kedunggedeh, nih.”
“Keburu nggak?”

Walaupun jawaban kakak menenangkan tapi tetap saja ada rasa khawatir. Kali ini aku harus benar-benar percaya pada kakak. Karena memang kakak yang tahu jarak tempuh dan waktu yang diperlukan untuk mencapai kampusnya.

Alhamdulillah, perkiraan kakak memang tidak meleset. Sepertinya hari ini keberuntungan kakak. Semoga kejadian tersebut tidak terulang kembali.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 12, 2018 No komentar
Senin adalah hari tersibuk saya dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Senin saya harus menyiapkan dan mengirim barang serta mem-booking ojol.
Dalam waktu dua jam mencuci, merapikan rumah, packing, belanja, harus sudah selesai.

Di hari Senin ini pulalah, kakak akan kembali memulai perkuliahan. Kesibukan pagi saya tersebut membuat tidak punya banyak waktu untuk berbincang dengan kakak. Pukul sepuluh ia harus segera berangkat. Jadwal kereta menurutnya adalah pukul sebelas.

“Mah, Kakak udah mau berangkat, nih.”Teriak kakak memanggil saya yang sedang diatas membereskan cucian yang memang sudah selesai.

Saya pun mengiyakan panggilan kakak untuk turun menemuinya.

“Cepet, Mah. Mana bekelnya (baca:uang).”

Jarum pendek pada jam dinding diatas pintu depan berada di angka sepuluh. Sedangkan jarum panjang berada di angka empat.

Saya menghampiri kakak di kamar setelah mengambil beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu. Terlihat kakak sedang memakai masker.

“Udah booking ojolnya?”

“Udah.” Kakak masih terlihat sibuk mempersiapkan sisa-sisa barang yang akan dibawa.

“Udah dari tadi padahal bookingnya. Satu menit melulu tapi nggak sampe-sampe,” ucap kakak sambil menutup resleting tas dengan dipaksakan.

“Gimana tas nggak cepet rusak. Biar tas yang mahal sekali pun juga kalau overload gitu isinya. Bakal cepet rusaklah, Kak.”

Saya melihat sudut mata kakak sedikit berkerut. Ada sekilas sinar cahaya dari bola matanya yang tidak tertutup masker. Ya, kakak tersenyum. Rupanya ia menyetujui dan membenarkan apa yang dikatakan saya.

“Kak.” Saya berdiri di pintu kamar kakak. Biar deh waktu yang cuma sebentar ini saya cerewet.
“Tadi malem udah mepet janjian ketemuan sama reseller. Sekarang mepet lagi aja mau pulang. Kereta mah nggak nungguin Kakak,” lanjut saya.

Kakak masih kasak-kusuk menurunkan dua tas dari atas kasur. Menyiapkan ongkos ojol, kereta, dan ongkos ojol ketika nanti sampai di Karawang nanti. Dimasukkannya uang-uang tersebut di saku celana yang kiri, kanan, dan belakang.

Ya, saya memang meminta kakak untuk mempersiapkan uang pas untuk transportasi sebelum berangkat. Dengan maksud agar kakak tidak perlu membuka tas dan dompet di tempat keramaian seperti stasiun. Demi keamanan dan terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Misalnya ada barang yang terjatuh atau tercecer ketika membuka tas yang sarat akan isi.

Kakak menenteng tas dan membawanya keluar kamar. Kemudian meletakkannya di samping pintu keluar.

“Itungan Kakak tuh, Mah. Kalau kereta berangkat pukul sebelas. Kakak masih dapet kuliah yang pukul satu. Palingan Kakak sampai Karawang pukul 12.30,” ucap kakak sambil membalikkan badan menghadap saya yang berada persis di belakangnya. Meyakinkan saya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lima menit kemudian ojol pun datang. Kakak mencium tangan dan berpamitan pada saya.

Semoga perjalanan kakak lancar dan bisa sampai di Karawang sebelum pukul satu. Aamiiin.

#hari6 (Clear and clarify, choose the right time)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



September 11, 2018 No komentar

Terkadang kalau kakak sudah mulai sibuk. Entah itu perkuliahan pada hari biasa yang mengharuskan ia kos. Sehingga waktu  untuk saya berduaan dengannya cukup susah ditemukan. Atau bila ia berada di rumah, tapi weekend pun disibukkan dengan kegiatan komunitasnya.

Dikarenakan hal di atas itulah. Maka saya harus jeli melihat moment untuk berbicara dengannya. Bukan hal yang penting banget, sih. Kadang kegiatan harian pun akan menjadi topik obrolan.

Seperti semalam. Sepulang kakak dari acara meeting dengan komunitasnya. Yang menyebabkan seseorang harus menunggu kedatangan kakak. Seseorang yang merupakan reseller kakak. Reseller yang akan mengambil barang. Sebetulnya saya bisa saja mewakili kakak menggantikannya. Tapi di mana tanggung jawab kakak dong.

Kakak tiba di rumah pukul tujuh lewat lima sepuluhan gitu. Ia langsung menyiapkan barang pesanan.
Saat itu saya baru keluar dari toilet.

“Emang orangnya udah sampe, Kak?”
“Udah, baru aja.”

Saya melihat ke arah pintu luar dari ruang tengah di mana kami berada. Benar saja, sebuah motor sudah terparkir di luar.

“Kakak sih, pulangnya telat. Udah tau punya janji. Pulangnya mepet. Kasian kan, dia jadi nunggu.”

Kakak tidak menggubris ucapan saya. Ia tetap dengan pekerjaannya, mem-packing yoghurt ke dalam kantong plastik.
Memang sih bukan waktu yang tepat. Habis mau bagaimana lagi. Ya, setidaknya intonasi saya nggak tinggi seperti biasanya kalau lagi kesal deh.

Saya anggap diamnya kakak adalah penyesalan atau mungkin sedang membenarkan perkataan saya.

Setelah selesai serah terima barang dengan reseller kira-kira pukul 19.20. Saya biarkan kakak istirahat dan membersihkan diri.

Besok saya akan membicarakan hal ini dengan kakak. Hal tentang memenuhi janji dan ketepatan waktu.

#hari5 (I’m responsible for my commnunication results)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 10, 2018 No komentar
Dalam perjalanan pulang dari acara pernikahan sepupu di Bandung kemarin Sabtu, 8/9. Saya menanyakan pada kakak perihal perkuliahan yang akan dimulai pada hari Senin, 10/9.

“Berarti Kakak pulang besok dong, ya?” Saya menoleh pada kakak sebentar kemudian melihat ke arah jalan tol di sisi kaca kakak duduk.

Susahnya kakak dinasehati kalau sedang di dalam kendaraan yang bergerak tidak usah main game. Ah, mau bagaimana lagi.

Sepertinya kakak merasa sedang saya perhatikan. Mungkin karena jalan yang kupandangi searah dengan posisi duduk kakak. Eh, kakak langsung berhenti main game. Heuheu.

“Jadwal kuliah Kakak baru keluar nih, Mah. Semester ini, Kakak kuliah dari Senin sampai Kamis. Sayang, Kamis nggak bisa langsung pulang walaupun cuma satu matkul (mata kuliah). Baru kelar sore gitu. Nggak kekejar naik kereta yang pukul tiga sore. Jadi ya pulangnya Jumat pagi.”

Saya mendengarkan penjelasan kakak. Sesekali kami berpandangan lalu lanjut melihat kendaraan yang berbaris rapi di jalan tol.

“Apa naik travel aja ya pulangnya?” Tanya kakak.

“Travel kan harganya tiga lipat dibanding kereta. Nggak saya uangnya buat beli apa gitu?”

Kakak terdiam. Pertanda setuju mungkin. Kareena pembahasan tentang travel tidak dilanjutkan kembali.

“Jadi? Pulang besok Minggu?” ucap saya mengembalikan pada pertanyaan yang sesungguhnya.

“Kakak mau ada meeting sama YOT (Young on Top) dulu.”

“Lho? Kan hari Senin ada kuliah, Kak?”

“Jam satu mulainya. Kakak nanti naik kereta yang pukul sebelas.”

“Itu kan mepet banget, Kak? Nggak ada spare waktu  kalau ada halangan di jalan, gitu? Ntar kayak waktu itu. Ketinggalan kereta.”

“Doain biar lancar aja deh, Mah. Udah satu bulan Kakak nggak ketemuan sama temen-temen komunitas, nih.” Kakak mencoba memberi pengertian pada saya tentang kesibukannya. Berharap saya mengabulkan permintaannya untuk pulang pada hari Senin.

Tidak ada jawaban iya terlontar pada mulut saya. Saya keberatan dengan tidak adanya spare waktu sebelum memulai perkuliahan. Setelah sebelumnya tiga bulan liburan. Masa hari pertama kuliah, mepet banget waktunya.

Kami pun saling terdiam. Kami menatap kembali jalan tol yang cukup padat pada sore hari Sabtu itu.

#hari4 (Choose the righ time, kaidah 8-38-55)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



September 09, 2018 No komentar


Pada hari Sabtu, tangal 8-09-2018, kami diundang untuk menghadiri acara pernikahan sepupu perempuan saya di Bandung.

Jauh hari sebelumnya, pakaian yang akan dikenakan pada saat akan resepsi sudah dipersiapkan. Tubuh kakak yang langsing sekarang, dibanding awal tahun. Membuat ia bisa mengenakan pakaian saya yang dulu masih berbobot kurang lebih 50 kg.

Kebaya modern dengan bawahan songket berwarna emas dan bercorak strip warna warni, tergantung manis di handle lemari baju kakak. Ia masih bingung dengan hijab yang akan dikenakan.

“Bosen Kakak, pake hijab warna item terus. Kalau bingung dan nggak punya hijab yang sesuai selalu warna yang dipake item.”

Kakak menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur setelah memerhatikan pakaian itu untuk yang ke sekian kali. Saya yang berada di belakangnya terdiam. Turut memikirkan dan membayangkan koleksi hijab yang ada berada di dalam lemari kakak tersebut.

“Kakak sih, nggak mau pake hijab pendek pendek mamah yang biasa untuk pasangan baju itu.”

“Ih, Mamah apaan, sih? Masa ntar Kakak pake kudungan model emak-emak. Nggak, ah.”  Kakak meletakkan hp nya dan bangun dari rebahannya. Kemudian duduk dengan kaki bersila di atas tempat tidurnya.

Lalu kami berdua menatap dan melihat pakaian yang tergantung manis itu sambil membayangkan bila dipadankan dengan hijab yang saya maksud. (Intensity of eye).

“Nggak,” ucap kakak tegas dan menggeleng kepala untuk memperkuat kata penolakannya. Lau diambil kembali hp nya yang diletakkan di atas tempat tidurnya.

“Bagaimana kalau pake hijab yang boleh dapet sebagai souvenir acara siraman minggu lalu?” (Clear and calarify)

Kakak menoleh pada saya. Kami saling berpandangan. Sesaat kakak diam, seakan memutar memorinya kembali pada warna hijab yang telah diterimanya.

Waktu acara siraman sepupu saya sebelum nikah. Mereka memberi dua hijab, abu-abu muda dan hijau toska. Pada pakaian bermodel kebaya tersebut. Kain songket yang sebagai baju bawahannya terdapat salah satu warna yang saya pikir marching dengan hijab hijau tosca.

“Emang cocok ya, Mah?”
“Coba mana hijabnya?”

Kakak mengambil hijab dari yang belum dimasukkan ke dalam lemari. Saya belum lama menyetrikanya dan kakak masih meletakkan hijab tersebut dii sisi tempat tidurnya. Di atas sebuah koper.

“Iyah, Mah. Cocok.”

Kakak menaruh hijab yang masih dilipat itu dan menggantungnya di atas pakaian tersebut. Kami berdua memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan beberapa kali. Seakan membenarkan dan meyakinkan bahwa memang hijab itu cocok. (kaidah 7-38-55).

Kami saling berpandangan dan tersenyum.

“Iyah, Mah cocok.”

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 08, 2018 No komentar


“Jadinya hari ini Kakak mau berobat ke mana?” Saat itu waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Saya berdiri di samping tempat tidur kakak yang sedang bermain hp. Susah juga memberikan pengertian pada kakak untuk tidak berlama-lama main hp. Game pula.

“Kakak mau ke RSUD. Dokternya praktek sore, jadi daftarnya jam 13.00.”

Sebelumnya saya sudah menyarankan untuk berobat ke klinik terdekat. Tapi kakak kurang yakin dan percaya dengan dokter di klinik tersebut. Maklumlah, beberapa kali berobat di sana, kurang memuaskan. Ya, wajarlah yah. Namanya juga gratisan. Jadi yah obatnya ala kadar gitu deh.

Ya, sudahlah terserah kakak saja kalau dia memang ingin berobat ke dokter yang lebih jauh dari rumah. Padahal maksud saya kan agar kakak tidak capek. Mata yang sakit dan semakin merah, lebih baik kan tidak terlalu kena angin. Ah, mau bagaimana lagi. Setidaknya dia menuruti nasihat saya untuk memakai kacamata dan pergi lebih awal.

“Mah, dokternya nggak ada. Hari ini dia nggak praktek.” Kakak menyampaikan hal itu sesaat setelah dia mengirim pesan lewat wa. Dan saya menelpon balik ke dia. Perjalanan mengendarai ojol memang lebih cepat. Tidak sampai dua puluh menit, kakak memberi kabar tentang dokter mata yang dituju.

Coba tadi mengikuti kata-kata saya untuk langsung ke klinik. Setidaknya saat itu tentu sudah kembali ke rumah dengan obat dari dokter di klinik yang sarankan tadi. Ucap batin saya tentu.

“Kakak langsung ke klinik aja ya, Mah .” Tuh kan. Akhirnya kakak menyampaikan bahwa dia akan langsung ke klinik.

Dan pembicaraan pun selesai. Kenapa nggak dari awal ikutin kata mamah sih, Kak?
*
“Tuh kan, Mah. Mata Kakak merah bukan karena main hp.” Kakak masuk ke dalam kamar saya. Kemudian duduk disisi tempat tidur. Saya alihkan pandangan dari hp pada kakak.

Ya, kakak baru saja kembali dari apotek. Kami lupa kalau tetangga tidak jauh dari rumah ada dokter spesialis mata. Kakak memberikan laporan  hasil pemeriksaan dokter mata tersebut.

“Dokter Diki bilang, kalau merahnya karena radiasi hp, mata yang kena tuh dua-duanya, bukan cuma sebelah.” Saya tetap mendengarkan penjelasan kakak. Kemudian kakak pun mengeluarkan dua strip obat tetes mata dari kantong plastik kecil. Kemudian menunjukkannya ke saya, “Nah, ini obatnya yang oke punya, Mah. Yang dari klinik tadi nggak usah dipake lagi. Obat minumnya juga nggak usah.”

Sekali lagi kekurang yakinan kakak pada dokter di klinik terbukti benar. Obat yang diteteskan pada mata kakak. Membuat matanya bertambah merah. Bukan mengarah pada perbaikan.

Okelah, pada malam tersebut, saya cuma menjadi pendengar. Padahal maksud saya bilang mata kakak merah akibat kebanyakan main hp, biar kakak bisa mengurangi jam main hp-nya. Tapi apa boleh buat. Kakak mempunyai argumentasi lebih kuat. Yaitu dari dokter spesialis mata.

#hari2 (intensity of eye contact, choose the right time)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



September 07, 2018 No komentar

Setelah menunaikan salat isya. Saya mengetuk pintu kamar kakak. Kali ini saya ingat pesan kakak untuk mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Setelah beberapa kali saya melanggar privasinya dengan nyelonong masuk kamar tanpa izin. Alhasil dia marah karena merasa daerah privasinya dimasuki seorang penyelundup. Meski saya adalah ibunya sendiri.

Pintu saya buka setelah izin diterima. Lalu duduklah saya di tempat tidur kakak. Kami duduk bersisian. Tidak dibilang kalau saya sedang mempunyai tugas Bunsay game level satu tentang komunikasi produktif. Bisa-bisa nanti seperti kejadian waktu perkuliahan matrikulasi. Ditertawakan. Hadewh.

Maksud saya menghampiri kakak ke kamar menjelang pukul delapan. (Choose the right time). Karena pada siang hari saya melihat mata sebelah kanan kakak merah. Bukan karena kecolok atau sakit mata. Tapi seperti luka, di bagian putih matanya.

Kami duduk berhadapan di atas tempat tidur kakak. Kami saling menatap dan saya melihat mata kanannya mulai kecil dan agak bengkak. (intensity of eye contact)

“Bener apa yang dibilang papah kali, Kak. Matanya mungkin iritasi karena main hp nya keseringan.” Saya mendukung dan menguatkan pernyataan papahnya pada kakak. Setelah magrib tadi papahnya
ada bilang seperti itu.

“Apaan sih, Mah. Masa karena main hp. Pake logika dong, Mah. Kalau iritasi karena main hp masa nggak berasa gatel, bengkak, atau apalah gitu.” Tersinggung kakak akan ucapan saya tadi.

“Ini cuma merah aja, Mah.” Kakak membuka lebar matanya dibantu dengan ibu jari dan telunjuk.

“Tuh, lihat! Nggak semua bagian matanya merah, kan?” jelasnya lagi.

Merasa tahu akan ada perlawanan. Disodorkanlah kacamata anti radiasi yang saya bawa dari dalam lemari bufet, sebelum masuk ke kamar kakak. Kacamata yang dulu saya gunakan pada waktu zaman masih bekerja.

“Nih, pake kacamata ini!” Sambil meletakkan kacamata ke pangkuan kakak, dimana tangannya sedang memegang hp yang salah satu aplikasinya terbuka. Sedangkan kakak tetap bergeming dengan hp yang tidak lepas dari genggamannya. (kaidah 7-35-55).

Kakak langsung menolak begitu melihat model kacamata tersebut. Dia malah tertawa kencang ketika melihat saya memakai kacamatanya. (I’m responsible for my communication result).

“Nggak deh, Mah. Ntar Kakak jadi kelihatan tua kayak Mamah kalau pakai kacamata itu.”

Perdebatan dan adu argumentasi pun tak kunjung selesai. Kakak tetap bersikukuh tidak mau menggunakan kacamata anti radiasi. Karena kakak merasa merahnya mata dikarenakan debu saat naik ojol. Bukan karena radiasi hp.

Saya pun keluar kamar. Mengambil kacamata lain yang lebih keanak-mudaan gitu.

“Nah, ini nih kacamata yang dicari-cari kakak.”

Setelah sebelumnya kacamata berwarna cokelat berbetuk persegi panjang ditolaknya. Kakak bilang, framenya tidak cocok dengan wajah kakak yang bulat.

Akhirnya untuk sementara waktu, kami sudahi perbincangan tersebut. Dengan memutuskan kakak akan memakai kacamata setiap akan naik ojol. Dan akan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan matanya agar cepat diobati. Ia pun mengutarakan sesaat setelah percakapan kami selesai bahwa ia akan mengistirahatkan matanya dengan tidur lebih cepat. (clear and clarify).

#hari1komunikasiproduktif (choose the right time)
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional




September 06, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ▼  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ▼  September (10)
      • Mata Lagi - Mata Lagi
      • Matanya Diistirahatkan Dulu yah, Kak
      • Kakak BT!
      • Hari Keberuntungan Kakak
      • Kenapa Senangnya Mepet sih, Kak?
      • Jangan Membuat Orang Menunggu, Kak!
      • Keputusan Kakak
      • Cocok, Mah!
      • Kan, Bukan Karena Radiasi HP
      • Kak, Matanya Merah, Tuh!
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose