facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

KIRANA
Rahmawati Lestari, Desi Noviany, Nina Amelia Sasmita, dan Rizky Purnama Indah

Foto: clipart.email

"Ibu pergi lagi?", pertanyaan si Sulung mengagetkanku. 
"Iya, Nak. Tolong jaga adik-adikmu. Kamu tidur duluan ya. Tidak usah tunggu Ibu pulang." Yang diajak bicara hanya mengangguk. Kilatan sedih di matanya aku lihat, tapi aku bisa apa. 

Kurapikan barang-barang yang harus kubawa. Aku bergegas, purnama di luar memberi cahaya pada malam. Ah purnama, aku seperti mendapat kekuatan setiap malam terang bulan. Derap langkahku beradu suara dengan nyanyian jangkrik. Di ujung jalan kulihat 3 orang bapak sedang bermain karambol.

Kurapatkan jaket coklat tua yang panjangnya hampir menyamai blus atasan yang kukenakan. Jaket kulit ini cukup menghangatkan tubuhku dari terpaan angin malam.

Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ah, aku terlambat. Aku harus bergegas. Aku tidak mau sudut-sudut taman dibuat kotor oleh mereka.

Suara gaduh terdengar menembus keheningan malam.
Buk.... Buk... Buk. Suara jok motor dipukul keras.
"Motor siapa ini? Kalau tidak ada yang mengaku ban motor saya kempesin."
Sepasang muda-mudi terlihat menghampiri si Ibu.
"Pada ngapain jam segini belum pada pulang? Kamu anak perempuan gak dicariin orang tua? 
Mau-maunya diajakin mojok di taman. Pada pulang sana nanti saya lapor ke satpol PP nih." Ucap si Ibu 

"Siapa itu bang? Ngapain malam-malam razia sendirian?" tanyaku pada penjual kopi.
"Oh itu, Bu Kirana tiap malam memang razia di taman ini. Dengar-dengar suaminya meninggal ditusuk orang pas lagi nolongin perempuan yang yang mau dikerjain cowoknya. Pelakunya kabur sampai sekarang belum ketangkap. Katanya anak pengusaha jadi kasusnya ditutup-tutupi jadi korban perampokan." 

Otakku mengakses memori masa lalu yang kembali hadir melalui mimpi-mimpi buruk tiga hari terakhir. Mimpi tanganku bersimbah darah. 
Lintasan peristiwa itu hadir lagi kali ini lebih lengkap. Tepat di tempat Ibu muda itu berdiri lima tahun lalu.

Saat itu, aku melintasi taman sepulangnya mengantar suami yang pergi dinas ke pulau seberang. Bu Kirana terlibat pertengkaran mulut dengan muda-mudi di dalam taman gelap. Suara gaduh teriakan menggangguku yang melintas sepulangnya dari mengantar suami ke Bandara. Aku pinggirkan mobil di tepi jalan di seberang taman. Beberapa detik kemudian terlihat Bu Kirana berjalan gontai keluar taman. Dia berusaha berdiri memegang tiang listrik semampunya. Segera kuhampiri dengan berlari.

" Apakah ibu baik baik saja?", kataku. "Apakah ibu terluka?". Ibu Kirana hanya terdiam ketika aku bertanya. Kulihat gerombolan muda mudi tadi sudah menghilang. Tiba-tiba Ibu Kirana menangis. Aku ingin sekali mengecek ke taman tapi apa daya aku tak berani. Akhirnya aku hanya berdiri menemani si ibu yang masih menangis. Namun tiba-tiba saja, bu Kirana menghentikan tangisannya dan mengambil telepon genggam dari saku bajunya. "Pak polisi saya mau melaporkan ada penusukan di taman dan korbannya sudah tak bernyawa". Setelah telepon itu berakhir dan diiringi dengan rasa terkejutku. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku terdiam. Kemudian kulihat wajah bu Kirana tanpa ekspresi dan matanya menatap kosong ke depan.




Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti tantangan menulis Cerpen Keroyokan yang diselenggarakan oleh Rumbel Literasi IP Bekasi. 
Agustus 05, 2020 No komentar
Bulan kedua mengantar papap kontrol ke RSUPN Citpo. Kali ini bukan ke klinik THT.

Setelah menjalani operasi Tumor Sinonasal tanggal 29 Juni yang lalu. Hari ini adalah pertama kali untuk pemeriksaan lebih lanjut ke Poli Hematologi. Hasil kontrol dari poli THT minggu lalu. Biopsi hasil kedua dinyatakan bahwa diagnosa papap adalah kelenjar getah bening.

Entahlah, aku bingung. Setelah CT Scan berbicara tumor, biopsi pertama pun tidak ada bicara ada indikasi kelenjar getah bening. Di biopsi kedua inilah papap dinyatakan terdapat kelenjar getah bening di area hidung.

Sempet tanya ke dokter waktu itu. Kok bisa kelenjar getah bening di area sinonasal? Bukankah biasanya di bagian leher, dibelakang telinga dekat tengkuk? Kesimpulan yang diambil dari penjelasan panjang lebarnya dokter. Nggak dijelasin kenapa bisa kelenjar getah bening ada di area sinonasal. Ya sudahlah, mungkin dokter mudanya juga belum tahu pasti (pikiran aku, lho).

Dari hasil biopsi kedua yang dibacakan oleh dokter poli THT itulah, akhirnya papap dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke poli Hematologi (Poliklinik Penyakit Dalam).

Selesai kontrol kurang lebih pukul 14.00 dari mulai tiba di RSUPN pukul 06.45. Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya waktu kontrol ke poli Anestesi. Akhirnya aku dan adikku melakukan survey terlebih dahulu.

Survey yang dilakukan adalah:
1. Letak poli Hematologi
2. Cara pendaftaran

Letak Poli Hematologi

Poli Hematologi adalah bagian dari Poli Penyakit Dalam. Beberapa minggu lalu setelah pasca operasi, sebetulnya papap ada kontrol ke poli Penyakit Dalam, yaitu poli Ginjal dan Hipertensi. Eladalah poli Hematologi nggak tahunya ada dilantai yang sama dengan poli Ginjal dan Hipertensi, yaitu dilantai dua. 

Polinya lumayan luas. Jadi poli Penyakit Dalam ini adalah sub spesialisnya Penyakit Dalam. Seperti poli khusus konsultasi Kardiovaskular, Reumatologi, Hematologi-Onkologi Medik, Ginjal Hipertensi, Alergi Imunologi, Tropik Infeksi, Psikosomatik, Pulmonologi, Geriatri, Gastroenterologi, Gastroenterohepalogi, Endokrin Metabolik Diabetes (ya Allah nulisnya sampe nyontek berkali-kali saking takut salah huruf).

Cara Pendaftaran

Waktu pendaftaran secara umum adalah sama, yaitu batas maksimal sampai pukul dua belas siang untuk semua poli.

Hasil bertanya pada perawat yang bagian Hematologi. Katanya pendaftarannya harus online melalui aplikasi RSCMOnline. Sayang, pendaftaran online ini untuk peserta BPJS. Kalau papap kan pake Jamkesda alias KS (Kartu Sehat) daerah Bekasi. Jadi belum bisa online daftarnya.

Juga, pendaftaran pasien baru cuma ada di hari Kamis. Nanti untuk pemeriksaan berikutnya dapat dilakukan selain hari selain Kamis.

Hari Kamis yang ditunggu tiba, 23 Juli. Setelah dua hari sebelumnya adik laki-lakiku melakukan pendaftaran online untuk mendapatkan Surat Referensi dari Dinas Kesehatan Bekasi (Dinkes). Kami pun berangkat seperti biasa dari rumah, 05.50.

Begitu mobil diparkir di RSCM Kencana (parkir di RSCM publik susah dapet parkiran). Aku langsung turun dari mobil, dan segera melanhgkah cepat. Maksudnya sih biar dapet no mudaan alias lebih awal.

Emang sih waktu ambil no antrian didekat bagian informasi dapetnya no. E003. Tapi begitu masuk ke ruang admisi tetap aja antri pake banget.

Setelah nomor urut dengan awalan huruf I yang artinya untuk antrian Lansia sampai angka dua puluh. Baru deh, antrian dengan huruf E yang artinya untuk antrian Jamkesda dipanggil.

Sewaktu menunggu panggilan antrian. Aku sudah menyiapkan dokumen untuk mendapatkan SJP (Surat Jaminan Pelayanan), yaitu:
1. Surat rujukan dari RSUD Bekasi
2. Kartu Keluarga
3. KTP
4. KS (Kartu Sehat)
5. Kartu berobat
6. Surat rujukan konsultasi dari klinik asal (THT)

Pukul 07.28 aku sudah memgantri lagi di klinik Hematologi. Sedang papap dan adik laki-lakiku sedari tiba di RSCM langsung menunggu dilantai dua.

Ya Allah, belum pukul delapan, tapi sudah dapat nomor urut dua puluh empat.

Setelah menunggu hampir menunggu tujuh jam-an. Pukul 14.45 dipanggil juga ke ruang periksa.

Hasil pemeriksaaannya diceritain diberikutnya aja, yaa. Hayati mau rehat dulu.

Catatan:
Tidak ada foto dikarenakan pihak RS tidak mengizinkan pengambilan foto dalam proses pelayanan. 


Juli 24, 2020 No komentar
Rencana pertama yang telah dibuat adalah menentukan arah tulisan. Yaitu fokus menulis fiksi atau non fiksi. Nah, untuk mendapatkan salah satu dari pilihan tersebut. Saya harus membaca. Kalau nggak salah target membaca ada di poin ketiga yang ada dipostingan sebelum ini, deh.

Untuk menggairahkan minat baca yang melempem. Saya memilih bacaan ringan terlebih dahulu. Isitlahnya mah, seperti manasin mobil sebelum jalan, gitu. Alhasil, lumayanlah ya. Dalam waktu lima hari bisa menyelesaikan dua novel. Kira-kira untuk masing-masing novel berjumlah 230 halaman gitu, deh.


Ini novel dalam bentuk ebook, pinjam dari iPusnas. Maklum harga buku mahal. Apalagi sekarang sedang musim virus. Nggak kuat kantongnya, eung. Jadi baca online aja, deh. 

Duh, bacaan receh banget, kan? Tapi, sebagai seorang pemula yang bakal terjun kedunia kepenulisan. Nulisnya dimulai sama yang ringan-ringan aja dulu. Sambil mempelajari alur, plot, dialog, gaya menulis, juga ide cerita. 

Rencananya, sih, habis ini mau cari novel yang penulisnya Indonesia lagi. Selang-seling dengan penulis luar. Kan, gaya dan ide cerita mereka berbeda-beda. Saya butuh wawasan menulis ceritanya.

Trus gimana dengan non fiksinya? Nah, untuk non fiksi, saya belum baca buku. Tapi, saya baca esai di salah satu portal online https://mojok.co/esai/.

Portal berita mojok.co ini mau jadi sasaran media online buat kirim tulisan. Lumayan banyak udah baca, nih. Soalnya saya tuh perlu tahu gaya menulis dan cerita yang disuguhkan web ini. Jadi, kudu banyak baca. Biar bisa menulis dengan gaya yang sesuai webnya mereka. 

Ternyata, memang agak sulit untuk bisa jebol media mereka. Sudah seminggu ini mencari ide yang cocok untuk dikirim ke mereka. Tapi belum ketemu, huhu. Ide ceritanya sih, udah dapet. Cuma gaya nulisnya itu, lho, yang bikin sedikit putar otak. Ah, semoga aja bisa ketemu dalam waktu tiga hari ini. Yang penting kudu banyak baca aja, dah. 

Gimana menulisnya? Cuma baca doang? Nggak juga, sih. Saya nulis cerita anak di wattpad. Diusahain update cerita seminggu sekali. Lumayan yang udah mampir baca. Jadi bikin semangat nulis. Ada, lho, yang jadiin tulisan saya sebagai read aloudnya anak-anak mereka. Duh, seneng banget. Asli. Bolehlah mampir kalau butuh bacaan anak yang ispiratif dengan selipan pesan moral didalamnya ke https://my.w.tt/97HHV3zNk7.


Nggak cuma menulis cernak aja, sih, sebenernya. Saya juga ikut One Day One Post Blogger gitu. Blog sederhana dengan cerita keseharian. Kan katanya perempuan butuh 20.000 kata per hari buat dikeluarin. Nah, ini saya menulisnya seminggu sekali aja. Itung-itung mengabadikan cerita harian. Jadi semacam jurnal. Duh, kayak drakor yang berlatar belankang kerajaan gitu, heuheu. Mereka kan tulis semua, tuh, tentang kejadian hari-hari yang mereka kerjain. Mau mampir baca-baca pas santai? Hayu atuh main kesini https://inirumahtangga.blogspot.com/?m=1

Serius ini bukan maruk jenis tulisan, tapi saya lagi mencari kenyamanan menulis. Fiksi, non fiksi, cernak, atau novel. Jadi semua dijalanin. Istilah kalau mamak-mamak olshop, mah. Palugada (pa lu mau gw ada) 

Semoga saya cepat bertemu dengan belahan jiwa (menulis ini maksudnya).  Aamiiin. 

#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#kelaskupu-kupu
#buncekbacth1
#instituteibuprofesional



Juni 15, 2020 No komentar

Skala Prioritas

Alhamdulillah, mulai mengerjakan tugas lagi setelah libur lebaran kurang lebih dua minggu.

Tugas kali ini adalah tahap akhir sebelum kelulusan di kelas Buncek yang masih tersisa  lima minggu lagi. Tugas yang merupakan tujuan hidup diri. agar menjadi pribadi berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Merujuk pada mind mapping sebelumnya, maka didapatlah hasil tertulis seperti pada gambar di atas. Maksudnya, sih, untuk mengingatkan diri agar tidak melenceng dari tujuan yang sudah dibuat. Maklum, kalau gelap mata, apa yang menarik dihadapan langsung dikerjain. Terus yang tertulis di skala prioritas dinomor duakan. Duh, jangan ditiru ya plends.

Tujuan



Nah, ini yang dimaksud dengan tujuan dalam skala prioritas. Yaitu membuat susunan "tujuan" untuk mencapai target diri. 

Dari tiga item yang disebut di Skala Prioritas. Dengan berat hati ditinggalkanlah crafting dan menjahit. Tapi bukan berarti ditinggalin seratus persen. Kalau lagi mentok menulis, selingannya bisa mengerjakan crafting atau menjahit. Biasanya kan ide muncul pas lagi kasak-kusuk mengerjakan kegiatan lain, kan? 

Katanya kalau cita-cita harus dibuat setinggi mungkin. Kalau cita-cita cetek, sama aja merendahkan Tuhan. Manusia memang selalu ada sisi "nggak mungkin". Tapi buat Tuhan, apa yang dibilang jadi maka jadilah segala apa yang dikehendakiNya.

Usaha tanpa henti, haram putus asa. Seenggaknya kalau belum berhasil, kita udah dapat pahala dari usaha kita. Kan Allah mah nggak minta kita berhasil. Allah mah cuma minta kita usaha dan doa. Keberhasilan adalah hak prerogatif Allah. Kumaha? Satuju? 

Semoga tujuan menjadi penulis profesional terwujud. Aamiiin. 

Rencana


Sebenarnya waktu menulis rencana di tabel atas agak deg-degan gitu. Secara yang tertulis itu kan jadi janji diri. Ada keterikatan kalau nggak dijalanin. Bismillah aja, deh.

Ini kan ikrar untuk kebaikan diri sendiri. Kalau nggak dimulai sekarang. Kalau nggak dipaksa saat ini. Alamat semua cuma jadi wacana dalam angan. Kapan majunya #tutupmuka.

Doanya kudu makin kenceng, nih. Minta ke Allah supaya diri ini konsisten. Dijauhin sama males dan alasan. Soalnya musuh terbesar hambatan buat maju ya cuma diri sendiri.

Semangat

#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#instituteibuprofesional









Juni 08, 2020 No komentar

Hhm, baru beberapa kali ngobrol via messsenger. Ceritanya saya dimentorin gitu. Lumayan nyambung sih kita ngobrolnya.

Waktu ngobrol di tahap kedua pertama kali. Kita saling memahami satu sama lain terlebih dahulu. Saling tukar informasi. Saling mengenal  apa yang saya mau sebagai mentee dan pasangan sebagai mentor.

Saya sebagai mentee menceritakan apa yang akan dicapai selama enam minggu kedepan. Dan mentor pun menampung apa yang mentee sampaikan, untuk dibuat perencanaannya.

Dari beberapa kali obrolan kita minggu ini. Mentor pun memberikan informasi media online untuk kita pelajari bersama. Sayang, ternyata web nya sudah tidak aktif. Gagal deh untuk belajar bareng dari web tersebut.

Esok lusanya, mentor memberikan informasi dua web sebagai penhganti. Dan saya pun diminta memilih di antara dua web tersebut. Maksudnya untuk menyamakan visi dan misi yang saya mau.

Eladalah ternyata salah satu web yang mentor maksud adalah sama dengan yang saya punya. Beliau salah tulis satu kata didepannya. Heuheu jadi bodor kita berdua.

Tips artikel jebol media kuncinya untuk saat ini adalah menulis terus tanpa henti. Kalau belum jebol media, coba terus. Jangan putus asa.

Mari kita latihan menulis di tahap berikutnya.

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#institutibuprofesional
Mei 15, 2020 No komentar
Alhamdulillah, sampai juga di tahap terakhir sebelum menjadi kupu-kupu cantik. Meski tertatih-tatih melawan diri. Nggak sangka hampir tiba di garis finish meski masih delapan minggu lagi. Semangat!

Kata orang tahap akhir itu ujiannya makin berat. Itu memang benar adanya. Sempat berpikir untuk menyerah, udahan, atau mundur aja sekalian. Kayaknya tantangan akhir ini berat banget. Secara aku mah orangnya minderan dan agak-agak introvert gitu.

Tahu nggak tugas akhir ini apa. Jadi mentor bo'.  Hadeh, da aku mah apa atuh. Sampai sekarang aja masih cari guru atau mentor buat belajar menulis. Ini diminta jadi mentor.

Keahlian aku mah nanggung-nanggung semuanya. Jahit, nanggung. Menulis, nanggung juga, cfafter juga nanggung. Masak? Pas-pasan pun bisanya. Itu juga cuma buat konsumsi rumahan. Kalau orang diminta coba. Tutup muka aja dah. Manajemen waktu? Masih acak adul alias sesuai mood.  Manajemen emosi? Setali dua uang dengan manajemen waktu. Argh, mamah akutu pusing dan hampir desperado.

Alhamdulillah, pinangan menjadi mentee diterima. Seenggaknya mengurangi pikiran karena belum dapat mentee. Tapi boleh senang nggak, sih? Ternyata yang belum dapat mentee banyak heuheu.

Mentorku ini adalah pilihan dari beberapa mentor yang ada dengan tema tentang kepenulisan. Nggak tahu kenapa aku tertarik dengan Mbak Adita. Eladalah, pas chat lewat messenger, nggak tahunya kita udah berteman. Nggak tahunya juga kita ada didalam wadah grup kepenulisan yang sama. Ini sih namanya satu pedepokan.

Tapi Mbak Adita adalah seorang yang konsisten dalam bidangnya. Itu terbukti Mbak Adita masih ada didalam grup wa kepenulisan tersebut. Sedangkan aku mah udah diremove sejak lama heuheu. Jadi wajar dong kalau aku mau berguru dan belajar bersama Mbak Adita. Siapa tahu ketularan konsisten. Kalau menulis mah, kunci suksesnya kan kudu bin wajib menulis terus tiada henti.

Duh, nggak sangka aja kalau ternyata kita udah berteman. Semoga nggak cuma lancar diawal aja. Tapi sampai selesai dan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu dewasa dan cantik.

Semangat buat kita semua terkhusus diriku!

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelaskupu-kupu
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Mei 08, 2020 No komentar



Mbak Tetik namanya. My buddy yang berasal dari IP Jombang. Ketertarikan pada dunia sastra anak lah yang membuatnya berada di kelas sastra. Dari kelas yang sama ini pula, kami saling mengenal.  Hal membahagiakan bila bertemu teman dengan passion yang sama. Seakan bekal yang diberikan adalah untuk diri sendiri juga.

Untuk langkah awal menulis sastra anak, tentu kita harus mengetahui definisinya itu sendiri. Apa sih karakter sastra anak itu sebenarnya. Hal ini perlu dicari tahu agar langkah awal menghasilkan akhir yang benar alias tidak melenceng dari definisi.

Lalu ditujukan kepada siapa sasaran pembaca kita? Apakah batita, balita, paud, TK, atau SD? Karena sasaran baca akan menentukan gaya menulis kita. Entah itu jumlah kalimat atau pun jumlah halaman buku. Namanya juga untuk anak. Pasti cerita yang akan disuguhkan juga harus mengandung pendidikan  karakter dan pengembangan diri. Anak akan mudah terpengaruh dari apa yang dibacanya. Itulah mengapa menulis cerita anak, susah-susah gampang.


Membaca dulu baru menulis. Apa yang akan ditulis bila kita tidak membaca. Jadi, membaca buku sastra anak sangat diwajibkan. Berikut adalah referensi  20 buku cerita anak terbaik yang harus dibaca sebelum usia 12-
tahun.  Nah, sebagai awal perkenalan menulis, bolehlah kita review buku-buku tersebut dengan gaya sastra. Bisa juga kita ATM (Amati Tiru Modifikasi) salah satu adegan cerita dalam buku itu menjadi pic book. Jadi deh buku untuk anak usia paud atau balita. #gampangnyangomong heuheu

Tidak lupa untuk menjadi pengikut IG milik pemerintah. Seperti @litara.foundation, @balaibahasajabar,  @badanbahasakemendikbud. Mereka kan fokus sasaran bacanya untuk usia anak SD gitu. Disana banyak info menarik seputar kepenulisan, seperti kata baku KBBI baru, peluncuran buku baru, lomba menulis, atau tips menulis cerita anak.

Sekedar informasi kalau DKJ Sastra Anak baru diadakan tahun 2019 lalu. Biasanya kan DKJ untuk novel dewasa. Nah, hasil penjurian dari ratusan naskah yang masuk. Tidak ada yang memenuhi untuk menjadi juara satu, lho. Miris kan? Sebegitu miskinnya kita akan koleksi sastra anak di negara republik tercinta ini. Huhu, hayuk atuh kita mulai ikutan menulis di ajang lomba DKJ tahun ini. (sambil mikir tema dan kesanggupan diri untuk menulis).

Atau mau ikut Nubar yang diadakan oleh Kompas? Belum pernah coba pun. Pernah lihat hasil karya yang lolos. Keren-keren euy. Penasaran juga sih pingin coba. Ayo Mbak Tetik kita harus semangat!

Pernah baca status seorang penulis novel yang beberapa bukunya sudah diangkat ke layar lebar. Beliau bilang, penulis pun harus jadi pebisnis yaitu harus bisa mempromosikan karyanya. Nggak bisa kita serta merta hanya mengandalkan toko buku. Itulah makanya kita perlu branding diri kalau kita adalah seorang penulis. Rajin bersosial media dengan membuat status yang bermanfaat. Agar ketika kita menerbitkan buku, para pembaca yang nota bene adalah calon pembeli sudah mengenal kita. Sehingga mereka akan membeli karya kita tanpa pikir panjang. Interaksi di sosmed ternyata penting, kan? (terus terang, bagian ini saya belum sampe #tutupmuka).

Bila ada tambahan, masukkan, atau koreksi barangkali. Silakan tinggalkan komen ya teman-teman, khususnya Mbak Teti.

Salam Literasi!

#janganlupabahagia
#jurnalminggu8
#materi8
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekiip
#InstitutIbuProfesional





Maret 10, 2020 1 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose