facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

Percakapan aku dan suami via whatsapp:

“Pah, hari ini mamah istirahat, yah.” Begitu bunyi pesanku pada suami.

Begitulah aku kalau pada hari sebelumnya bekerja keras. Mencuci sprei atau handuk, menyetrika, beberes rumah. Maklum mencucinya kan manual. Jadi esok harinya aku mau bersantai. Melepas lelah dengan tidak memasak.

Maklum cuma berdua di rumah. Hari-hari biasa, kakak kan nge-kos. Jadi urusan mah gampang lah, ya.

“Kenapa? Mamah sakit?” Balas suamiku dengan nada khawatir. Setidaknya itulah dalam bayanganku kalau dia sedang berbicara menanggapi kalimat pernyataan tadi.

“Nggak apa-apa kok, Pah. Cuma pengen istirahat aja hari ini.” Balasku dengan memberi emoji orang berkaca mata hitam.

Saat itu pukul dua siang-an gitu. Detik-detik mendekati waktu bertugas di dapur.

“Mamah mau dibeliin apa buat makan malam?”

Pertanyaan yang diharapkan muncul juga akhirnya. Pengertian banget sih, my lope lope husband. Cuma dengan satu kata kunci istirahat. Dapat membuka ke pintu lain yang sangat berhubungan dengan kenyamanan tubuh dan perut.

Kalau makan malam boleh beli, berarti kan tubuh nggak perlu berdiri di dapur. Aku hanya memerlukan tubuh ini duduk manis di meja makan. Bersiap untuk memanjakan lidah yang bakal membuat perut yang kenyang.

Oke, mulai berpikir. Ayam bakar, ayam penyet, martabak telur, atau satai kambing.

“Ayam penyet atau ayam bakar?”

Pesan berikutnya muncul, setelah beberapa lama aku tidak tidak membalas pesan terakhir papah.

Ya ampun, papah mengerti banget sih apa yang dimau istrinya.

“Ayam bakar aja deh, Pah.” Dengan cepat aku membalas pesan papah.

“Oke.” Balesnya pendek.

Percakapan siang itu selesai. Aku pun berkutat dan menekuni kembali dengan gawaiku. Tanggung lagi asik leyeh-leyeh nonton drakor. Heuheu.

Adzan ashar berkumandang satu jam kemudian. Aku pun menyudahi sementara drakor yang sedang seru-serunya itu. Aku bangun dari posisi rebahan di kursi lalu menuju tempat wudhu yang melewati dapur.

Sebelum sampai tempat wudhu terlintas dipikiranku. Kalau nanti papah beli ayam bakar dua potong. Itu berarti tiga puluh ribu yang harus dikeluarkan papah. Jumlah tersebut kan cukup buat makan siang papah dua hari. Bisa juga cukup buat bensin motornya. Kalau duit tiga puluh ribunya diberikan ke aku. Lalu ditambahkan dua ribu rupiah, bisa dapet empat potong ungkep ayam di Babang Rico tukang sayur.

Otakku memerintahkan tubuhku balik kanan dari tempat wudhu yang dua langkah lagi sampai. Kuambil gawai yang diletakkan di meja dekat kursi di mana aku rebahan tadi.

“Pah, nggak usah beli lauk makan malem, deh. Mamah mau masak aja, deh.”

Sayang juga belanjaan tadi pagi kalau nggak diolah. Baiklah, setelah shalat ashar mari kita bekerja di dapur.

Kupastikan tanda centang dua pada pesan yang baru saja dikirim. Setelah itu, aku pun ngeloyor pergi ke tempat wudhu.

#TantanganRumlitIPBekasi
#DiariIbuProfesional
#CeritaIbu
#CeritaKeluarga
#CeritaKita





November 23, 2018 No komentar
Oke. Sekarang aku akan mencuci piring bekas makan malam. Ah, cuma dua buah. Nggak sampai lima menit selesai. Keburulah bikin sarapan.

Eh, kenapa itu panci kosong masih di atas kompor? Pasti bau. Dua hari tuh panci buat menghangatkan semur jengkol. Oke, mari kita mencuci panci dulu. Hmm, cingcailah palingan ggak sampai lima menit buat membersihkannya.

Ku ambil buncis, cabai, tempe dari dalam lemari pendingin. Hmm, tumis buncis, tempe lada hitam. Nggak terlalu berat untuk sarapan. Dan nggak terlalu lama memasaknya. Pas.

Eh, itu wajan bekas goreng ayam minyaknya hitam banget, sih. Sebentar, itu minyaknya sudah buat berapa kali goreng, yah? Ah, dicuci saja, deh. Nggak sampai lima menit lah mencuci wajan ukuran kecil begini.

Ya, ampun! Belum masak nasi. Hadewh. Baiklah, sekarang mari kita masak nasi dulu. Lho, ini air tampungan air bersih isinya tinggal sedikit. Ih..., dasar embernya sudah terlihat kotor juga. Bersihin dulu deh sebentar. Palingan nggak sampai lima menit. Masih cukuplah. Pukul delapan kan masih beberapa jam lagi. Tanpa melihat jam di dinding, dan dengan keyakinan penuh bahwa semua pekerjaan akan selesai sebelum pukul delapan.

Setelah mencuci beras dan menaruhnya di magic com. Dilanjutkan dengan menyiangi sayuran, menggoreng tahu, dan selesai. Berarti satu pekerjaan pagi yang belum dikerjakan. Mencuci. Soalnya pukul delapan kan aku sudah harus pergi untuk memenuhi sebuah janji pada seseorang. Biar irit ongkos, jadi perginya nebeng suami.

Dua bola mataku hampir loncat keluar dari kelopaknya. What! Pukul 06.45. Berarti tadi kasak-kusuk hampir dua jam, dong. Padahal jatah di dapur kan cuma satu jam. Dasar lima menit!

Semoga saja satu jam cukup untuk mencuci. Dan selama mencuci aku memikirkan isi kulkas. Kalau masih ada stok sayuran dan lauk. Berarti aku menghemat waktu setengah jam untuk belanja. Itu artinya aku bisa mengalokasikan waktu belanja untuk mencuci. Oke, aku kurangi cucian. Demi bisa pergi keluar rumah bareng suami. Demi irit ongkos. Demi janji yang harus ditepati. Demi agar semua berjalan sesuai rencana.

#TantanganRumlitIPBekasi
#DiariIbuProfesional
#CeritaIbu
#CeritaKeluarga
#CeritaKita

November 22, 2018 No komentar
Wanginya Kiswah Kakbah
Oleh : Desi Noviany

Foto : Jamaah umroh sedang melaksanakan tawaf

Dambaan setiap jamaah yang mendatangi Mekkah adalah mencium batu Hajar Aswat. Dalam wikipedia Hajar Aswad (Arab: ٱلْØ­َجَرُ ٱلْØ£َسْÙˆَد‎, al-Ḥajaru al-Aswad) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya adalah Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena dia selalu menciumnya setiap saat tawaf.

Sayangnya tidak semua orang berhasil untuk menciumnya. Kalau pas tanggal 9 Dzulhizah pasti bisa mencium batu tersebut sepuasnya. Kan tanggal 9 Dzulhizah pada musim haji, para jamaahnya sedang wukuf di Arafah. Jadi Kakbah sepi. Heuheu tapi nggak mungkin juga, kan?

Begitu banyak orang berebutan untuk mencium batu Hajar Aswat tersebut. Setelah diperhatikan dan diamati, ternyata laki-laki yang mendominasi area batu tersebut diletakkan.

Memang beresiko besar bagi seorang perempuan bila memaksakan diri untuk mencium batu itu. Boro-boro menciumnya, mendekatinya saja susah. Tubuh laki-laki jauh lebih besar daripada tubuh perempuan. Dalam medan perebutan juga nggak melihat jenis kelamin. Nggak ada yang namanya sistem laki-laki mengalah pada perempuan. Mereka hanya tahu dan bertekad agar bibir mereka bisa mencium batu yang berasal dari surga tersebut.

Aku dan kakak penasaran. Nggak ada salahnya dicoba, kan? Dengan cara mengelilingi Kakbah dan mengikuti arus jamaah yang sedang tawaf. Dari lingkaran besar, kecil, lalu hanya beberapa langkah jarak kami dari batu hitam. Sangat jelas terlihat batu hitam yang diakibatkan dosa manusia itu. Aku menggandeng dsn memegang erat tangan kakak. Mencoba dan berusaha mendekat pada batu Hajar Aswat. Sayang, tubuh kami kalah besar dibanding laki-laki yang jumlahnya banyak dan berdesakan itu. Akhirnya kami pun membatalkan niat untuk mencium batu surga sangat kami inginkan.

Sebagai gantinya. Aku dan kakak berpindah ke sisi lain Kakbah. Mencari yang tidak terlalu ramai oleh jamaah. Agar kami dapat mencium kiswah Kakbah.

Alhamdulillah, kami berhasil mencium kiswah Kakbah. Ternyata, untuk mencium kiswahnya saja. Kami tetap harus berjuang menyelinap dan berebutan demgan para jamaah lain.

Wanginya kiswah Kakbah. Otot mata tidak dapat mengontrol air mata agar tidak menetes. Dalam doa, harapan, permohonan, permintaan, dan ucap syukur terucap dalam hati. Kulihat kakak masih menempelkan wajahnya pada kiswah. Aku pun mengikuti kakak. Kutempelkan kembali wajahku pada kiswah. Doa ku sepertinya kurang panjang.

Setelah dirasa penjabaran atas doa dan permintaanku selesai. Kupalingkan wajah ke arah kakak yang berada di sebelahku. Masih sama. Kakak masih mencium kiswah dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Ah, apa ya isi doa kakak? Aku penasaran.

#HariKe8
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam










November 12, 2018 No komentar
Segelas Air Hangat dari Kakak
Oleh : Desi Noviany

Foto: Meja prasmanan dengan menu Indonesia

Menjalankan ibadah umroh memang benar membutuhkan fisik yang kuat. Medan cuaca yang berbeda dengan negara Indonesia. Serta padatnya agenda ziarah di Madinah dan Makkah. Mengharuskan para jamaah menjaga stamina tubuh.

Tapi apa daya, pertahanan tubuh ambruk juga. Bertemu banyak jamaah dari berbagai negara. Dan banyak dari kondisi mereka dalam keadaan tidak sehat. Akhirnya flu dan batuk menghampiri dan bersemayam dalam tubuh.

Alhamdulillah, obat-obatan dasar seperti, flu, diare, koyo, balsem, dan minyak, sudah tersedia di dalam dompet khusus. Jadi, begitu terkena gejala flu. Langsunglah dikonsumsi obat tersebut. Kegiatan ibadah pun berjalan lancar kembali.

Kembali pada saat berada di Makkah, batuk menjadi tamu dan betah berlama-lama di dalam tubuh. Sayangnya, obat batuk tidak dipersiapkan sebagai bekal. Akhirnya demi meredam batuk, pantangan terhadap makanan dan minuman pun digalakkan. Makanan yang mengundang gatal pada tenggorokan dihindari.

Hari pertama di Madinah. Makan tiga kali sehari dapat dikontrol alias dapat menahan godaan pada menu yang begitu menggunggah selera. Termasuk es campur dengan potongan aneka warna-warni buah-buahan. Dengan melirik dan jual mahal, langkah kaki pun melenggang anggun melewati tempat es buah.

Ah, di Indonesia juga banyak. Paling rasanya sama aja. Aku menghibur hati yang sebetulnya tertarik.

“Ayo mamah. Jangan coba-coba ambil es campur. Inget mamah lagi batuk,” ucap kakak yang berada di belakang ku. Sepertinya ia tahu apa yang ada di dalam benakku.

Kami pun melangkah menuju meja makan di mana suamiku sudah berada di sana.

Kakak hanya menaruh piringnya di meja. Kemudian melangkah pergi meninggalkan kami. Sedangkan aku sudah mulai bersantap dengan menyuapkan potongan daging rendang ke dalam mulut. Ya, makanannya semenjak di Madinah hingga Makkah memang masakan Indonesia. Walaupun tidak semua rasa sama persis dengan masakan tanah air. Setidaknya sebagian besar, cocoklah dengan lidah.

Terlebih suasana di dua kota yaitu Madinah dan Makkah. Pada saat kami berada di sana sedang dalam musim peralihan dari panas ke musim dingin. Curah hujan dengan intensitas ringan alias gerimis sering menyapa. Membuat udara menjadi dingin seperti di puncak atau Lembang. Bahkan AC kamar pun tidak dinyalakan semenjak kami tidur di kamar.

Tidak berapa lama, kakak datang dengan dua gelas plastik berisi air putih hangat. Setelah menaruh dua gelas tersebut di hadapanku dan suami. Ia melangkah pergi lagi. Tidak kutanyakan untuk apa di beranjak pergi. Paling-paling ia akan mengambil susu panas.

Padahal kakak bisa saja mengambil es campur. Tapi tidak dilakukannya. Ia menjaga perasaan ibunya yang akan merasa tersiksa bila melihat dirinya minum es campur. Heuheu.

Sayang, hal tersebut cuma berlaku pada hari pertama. Ketika esok hari disuguhkan kembali es campur. Pertahananku roboh. Eladalah, pada saat itu kakak pun telat datang. Aku dari masjid sedang kakak dari kamar. Memang hari keberuntunganku. Demi menghilangkan rasa penasaran dengan rasa es campur buatan hotel Makkah. Kutuang dua centong es campur ke dalam mangkuk plastik. Daripada nanti terbayang-bayang kalau sudah pulang ke Indonesia. Daripada nanti menyesal. Ya, setidaknya aku punya cerita untuk dituliskan deh.

“Ayo, mamah. Bandel, ya!”

Aku tersontak kaget terciduk oleh kakak yang tiba-tiba duduk di hadapanku. Ah, ketahuan deh kalau aku maksa makan es campur di saat batuk mulai menjadi.

Tapi, kakak tidak mengambil mangkuk es campur. Ia cuma mengingatkan agar jangan terlalu banyak meminumnya. Kakak begitu mengerti kalau aku orangnya penasaran. Ia pun memberikan gelasnya yang berisi air putih hangat untukku.

“Langsung minum air putih anget ini nanti ya, Mah. Buat ngebilas manis dan lengketnya es di tenggorokan.”

#HariKe7
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam









November 11, 2018 No komentar
Satu Riyal
Oleh: Desi Noviany

Foto: salah satu petugas kebersihan di Masjid Nabawi

Beberapa bulan sebelum pergi umroh. Kakak sudah menyisihkan uang mingguannya. Aku memang menyarankan seperti itu. Agar kakak dapat membeli oleh-oleh untuk teman-temannya. Maksudnya sih agar meringankan beban aku juga. Jadi aku bisa mengalokasikan anggaran untuk yang lain.

Alhamdulillah, kakak sangat mengerti akan hal tersebut. Dan memang sudah kubiasakan untuk selalu menabung bila menginginkan sesuatu.

Rezeki kakak mendapatkan uang saku dari nenek dan kakeknya. Ia memperoleh 80 riyal. Jumlah lumayan bila ditambah oleh uang hasil tabungannya.

Kami pergi ke Madinah tanpa membawa uang riyal. Menurut informasi pemandu kami bahwa menukar di negara tujuan akan lebih murah dibanding di negara sendiri. Lagipula, di Madinah pun menerima uang pecahan lima puluh dan seratus ribu rupiah. Pedagangnya pun bisa berbahasa Indonesia walaupun seadanya. Seperti kata, murah, beli, dan beberapa angka untuk tawar menawar harga. Kita juga bisa dapat kembalian riyal kalau menggunakan rupiah, lho.

Pada hari kedua kami di Madinah, aku dan kakak menukar riyal di money changer yang tidak jauh dari masjid Nabawi. Tidak lupa kakak menukar pecahan satu riyal. Waktu itu kursnya 1 riyal = Rp 4.237.

“Kakak mau sedekah, ah,” ucapnya sambil menyimpan uangnya ke dalam dompet. Wajahnya begitu gembira mendapatkan beberapa pecahan riyal yang diinginkannya.

Ya, pada saat manasik dan berbincang dengan pemandu kami. Beliau memberitahu bila ingin bersedekah lebih baik memberi pada petugas kebersihan di sekitar masjid dibandingkan pada pengemis. Pemandu kami yang juga seorang ustaz berkata,”gaji mereka sangat kecil. Jadi lebih baik bersedekah pada mereka.”

Hal yang didengar dari Pak Ustaz itulah yang membuat kakak berinisiatif untuk bersedekah. Ketika kami menyelesaikan shalat berjamaah. Kakak mengeluarkan uang satu riyal dari dalam dompetnya. Ia menyiapkannya sebelum keluar dari masjid. Lalu aku berkata dengan sedikit mendekatkan mulutku ke telinga kakak,”ngasihnya ke orang yang udah agak tua aja, Kak!”

Kakak menjawab pertanyaanku dengan memutar matanya pada sekeliling masjid Nabawi. Menyeleksi petugas kebersihan yang memenuhi kriteria untuk diberi sedekah. Maklum petugas kebersihan yang kami temui di sekitar masjid berjumlah lebih dari sepuluh sepertinya.  Harap dimaklumi juga, uang kakak kan terbatas. Tak apa yah kak, yang penting niat sudah diwujudkan dengan aksi. Semoga kakak bisa bersedekah dengan jumlah besar, yah. Aamiiin.

#HariKe6
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam




November 10, 2018 No komentar
Tas siapakah ini?
Oleh : Desi Noviany

Foto: tempat wudhu perempuan di Masjid Nabawi (maaf lupa ambil foto tempat wudhu di Masjidil Harom)

Semburat langit merah terlihat di menara masjid Masjidil Harom. Magrib sebentar lagi menjelang. Langkah kaki kami, aku, suami, dan kakak pun menuju tempat wudhu.

Kami bertiga menuju tempat wudhu wanita terlebih dahulu. Setelahnya baru menuju tempat wudhu pria. Disanalah nanti pintu masuk masjid yang kami tuju.

Aku dan kakak menitipkan tas pada suami yang menunggu di luar. Kakak yang mengambil jarak dua bangku wudhu dariku menghampiri.

“Mah, masa ada tas di bawah bawah bangku wudhu.”

Aku melihat ke arah kakak menunjukkan di mana tas itu berada.

Sebuah tas selempang, tas paspor biasa kami menyebutnya. Tas itu tergeletak di lantai wudhu. Dompet yang sudah dalam keadaan terbuka. Sebuah buku agenda di atas bangku wudhu. Kami berdua hanya melihat tanpa menyentuhnya. Seperti film detektif yang takut akan meninggalkan sidik jari kami pada barang bukti.

“Punya orang Indonesia, Kak,” ucapku sambil membaca buku agenda bersampul coklat susu.

Beberapa menit aku dan kakak saling berdiskusi untuk memutuskan untuk mengambil dompet dan melihat isinya. Barangkali ada identitas yang bisa kami telusuri.

“Bilang papah dulu aja deh, Mah. Kita denger pendapat papah. Udah itu barang-barangnya jangan di sentuh dulu. Biar begitu adanya aja.” Kakak memberikan usulan dan keputusan tindakan untuk sementara.

Setelah mendapat izin suami. Kakak mengambil dompet. Sedangkan aku mengambil tas. Ditemukan dari dalam dompet selembar uang bernilai satu riyal dan KTP. Di dalam tas, terdapat ID card dari Kemenag. Kami menyimpulkan bahwa tas tersebut telah berpindah tangan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Kami bertiga menuju pintu masuk masjid. Kami akan menunggu di sana, sampai pemandu kami datang. Ya, aku telah menghubungi pemandu umrah kami untuk menyerahkan tas itu padanya. Kami berkeyakinan bahwa pemandu pasti saling mengetahui satu sama lain. Pasti tas itu akan kembali pada yang punya. Terlebih pemandu kami mengetahui letak hotel tersebut. Dan pada ID card terdapat no telepon yang bisa dihubungi.

Aku dan kakak saling bertatapan dan tersenyum lega, ketika bapak pemandu kami berhasil mengontak no telepon yang ada pada ID card. Tas itu besok akan kembali pada pemiliknya.

#HariKe5
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam



November 09, 2018 No komentar
Kakak Berdoa
Oleh: Desi Noviany

          Foto: Kakak berdiri di jendela kamar hotel Elaf Mashaer, Mekkah

Titik terdekat kita dengan Sang Pencipta adalah pada sujud terakhir sholat. Panjatkan doa dan permintaan saat pada posisi tersebut. In syaa Allah dikabulkan. Hmm, apalagi kalau salatnya di Masjidil Haram, yah? In syaa Allah berkah dan diijabah oleh Allah SWT.

Hal yang sama dilakukan oleh kakak. Kupikir saat aku duduk pada tahiyat akhir. Dan menurutku, lumayan lamalah yah aku melakukan sujud di akhir sholat. Nggak tahunya, kakak lebih lama lag sujudnya. Jadi penasaran isi doanya kakak. Hmm #kerlingmatapenasaran

Setelah selesai sholat wajib, dilanjut dengan sholat jenazah. Jadi, sholat jenazah itu selalu dilakukan setelah sholat fardhu. Sama jumlahnya, yaitu lima kali sehari. Dapat dimengerti, sih. Ibadah di tanah suci memang membutuhkan tenaga dan fisik yang kuat. Ritual ibadah sangat membutuhkan kekuatan fisik. Jadi dari ribuan jamaah dari berbagai belahan dunia. Wajar saja bila ada yang wafat di sana.

Sholat jenazah selesai. Dilanjut dengan sholat ba'da Isya. Dzikir lalu ditutup dengan doa.

Tidak langsung ku lipat mukena yang sedang dipakai. Kubiarkan kain putih panjang dengan renda bunga berwarna biru menutupi tubuhku. Sampai kakak selesai menengadahkan tangannya. Aku tidak mau mengganggu doanya dengan melihat aku melipat mukena. Begitulah setidaknya yang kulakukan sebelumnya. Dan aku tidak mau mengulanginya lagi. Wajah kakak begitu khusyu terlihat. Entahlah apa yang diminta oleh kakak dengan begitu lama.

Semoga semua doa kakak dikabulkan dan diijabah Allah SWT. Aamiiin.

#HariKe4
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam





November 08, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose