facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

Foto: Kakak menuju stasiun

Jadwal kuliah semester 5 kakak sudah fix. Jadwal semula adalah Senin - Kamis dan Sabtu. Jumat libur. Hal inilah yang membuat kakak BT. Hari terjepit dan tanggung bila pulang ke Bekasi.

Bersyukur di minggu pertama jalannya perkuliahan, jadwal berubah. Dosen muda yang mengisi kuliah hari Sabtu memajukan jadwal kuliahnya menjadi Rabu malam pukul 18.30. Kabar bahagia tersebut kakak sampaikan via whatsapp.

“Akhirnya kakak bisa pulang seminggu sekali lagi.”

Aku pun turut senang mendengar hal itu. Ada satu pertanyaan yang mengganjal. Jadwal kuliah kakak kan sampai sore. Sedangkan kereta terakhir dari Karawang menuju Bekasi kira-kira pukul setengah empat sore. Dengan apa kakak akan pulang?

“Emangnya ada kereta sore, Kak?”

“Nggak ada sih, Mah. Kakak kan selesai kuliahnya pukul lima lebih-an gitu.”

Begitu percakapan kami via whatsapp. Diakhiri dengan kalimat bahwa kakak akan mencari informasi mengenai transportasi selain kereta yang menuju Bekasi.

Terus terang, aku tidak mau kakak menggunakan bus tiga perempat. Selain tidak nyaman, juga tidak aman. Makanya aku tidak menyarankan kakak untuk menaikinya.

Aku pun tahu kakak mempunyai teman yang tinggal di Tambun. Kakak pun pernah minta izin untuk pulang nebeng bersama temannya itu. Tapi aku tidak memberi izin. Kalau kendaraan yang ditumpanginya roda empat sih, oke-oke saja. Lah, ini roda dua. Bukan perjalanan rumah ke mall, lho ini. Bukan perjalanan sepuluh atau lima belas menit.

Aku tidak bisa membayangkan kakak duduk di atas motor selama kurang lebih dua jam. Belum lagi jalan yang akan dilaluinya. Serem! Jalan arteri Karawang kan banyak kendaraan besar seperti truk, container, bus. Haduh, nggak deh. Belum angin, apalagi ini pulangnya sore dari Karawang. Big no, Kak!

Aku pun tidak mempunyai solusi lain. Kakak tetap dengan pendiriannya tetap akan pulang Kamis sore selepas kuliah. Ia tidak mau membuang waktu untuk berlama-lama di kos-an. Kakak mau segera pulang dan berkumpul dengan kami, kedua orang tuanya.

“Mah, Kakak udah di mobil, nih.”

Begitu pesan yang saya baca pada sore hari menjelang magrib.

Kok bisa kakak ada di mobil? Mobil apa nih maksudnya? Berada di mobil siapa pula kakak, nih?

Kami, aku dan kakak pun terlibat percakapan via whatsapp. Usut punya cerita. Ternyata kakak mencari informasi transportasi selain kereta ke beberapa teman di kampusnya. Akhirnya kakak pun mendapat informasi dari teman lintas kelas. Heuheu keren kan, lintas kelas.

Dari teman lintas kelas tersebut. Kakak mendapatkan informasi bahwa temannya tersebut terkadang menggunakan travel. Travel tujuan Karawang - UKI, Cawang itu tidak keluar Bekasi Timur pun Bekasi Barat. Jadi kakak harus turun di bawah jembatan.

Ngeri juga mendengar kakak harus turun di bawah jembatan. Lalu menaikin undakan tanah ke atas menuju tepi jalan. Aku tahu bagaimana kondisi daerah tersebut.

Kuusulkan kakak untuk keluar tol barat. Tapi kakak menyampaikan bahwa kondisi bawah jembatan tol barat lebih menyeramkan dibanding tol timur. Terus terang aku tidak tahu kondisi daerah jembatan tol barat. Jadi yah, aku percaya dengan kakak.

Aku pun menyimpulkan bahwa situasi dan kondisi yang dialami kakak sudah memenuhi tugas kemandirian dari kelas Bunsay#4.

Berdasarkan kesimpulan ciri kemandirian Gea dan Havighurst (www.dispsiad.mil.id/index.php/en/psikologi-olah-raga/290-membentuk-kemandirian-anak-remaja).  Maka kakak sudah memenuhi dua poin kemandirian, yaitu:

1. Mampu berinisiatif; orang yang mandiri mampu berinisiatif yaitu bertindak dengan keinginannya sendiri tanpa harus menunggu instruksi orang lain. Di sini kakak berinisiatif mencari informasi kendaraan selain kereta menuju Bekasi.

2. Mampu mengambil keputusan; ketika dihadapkan pada berbagai pilihan dia dapat menentukan pilihan yang sesuai bagi dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Pada poin dua ini, kakak dapat        mengambil keputusan di mana ia akan turun. dari kendaraan yang dinaikinya. Ia memahami kondisi dan situasi daerah yang akan dilaluinya. Bahwa ia memutuskan untuk turun di bawah jembatan tol timur.

#Hari1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian

#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP






Oktober 04, 2018 No komentar
Sabtu pagi menjelang siang. Kakak menghampiri saya, kemudian duduk di kursi makan. Sedang saya duduk di atas lantai sambil mengulek bumbu.

Hari ini saya akan membuat daging gepuk alias empal daging. Buat bekal kakak besok pulang ke kos-an. Biar irit nggak usah beli lauk makan katanya. Nasib anak kos kudu bisa menghemat pengeluaran seminimal mungkin.

“Kenapa matanya jadi tambah parah, Kak?” ucap saya yang belum sempat ditanyakan ke kakak kemarin.

“Itu lho, Mah. Kakak baru inget sekarang. Kalo di kelas ada temen Kakak yang lagi sakit mata.”

Saya mengusap dan mengucek mata. Heran aja, setiap ngulek bawang merah selalu aja mata perih dan berair.

“Kakak pake kacamata, nggak?”

“Pake, Mah.”

“Temen Kakak pake, nggak?”

“Nggak.”

“Pantes. Seharusnya dia pake kacamata, yah. Kan kasian sama temen kelas yang lain.”

Kakak menepuk-nepuk tisu ke daerah matanya yang berair. Terlihat matanya merah dan bengkak. Kasihan kakak.

“Udah ditetesin obat mata lagi, belom?”

“Ntar deh sebentar lagi. Baru kelar makan, masa tiduran.”

Kakak pun beranjak dari duduknya. Meninggalkan saya yang masih mengusap sisa air mata yang berair karena bawang merah.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 15, 2018 No komentar
Tadi siang kakak memberi kabar bahwa kuliah hari Jumat ini diliburkan. Hadewh, baru masuk empat hari, hari kelima malah diliburin. Nggak ngerti deh sama sistem perkuliahan zaman now.

Pesan terakhir via wa dari kakak adalah, “Mah, siapin uang ojol lima ribu, yak. Ntar Kakak ganti.”

Ngobrol satu jam tapi karena diseling iklan (baca: ngurus rumah), ya, paling sebenernya cuma sepuluh menit. Dari mulai kakak berada di mobil travel sampai kendaraan yang ditumpanginya tiba di tol Timur. Pesan di atas itulah percakapan terakhir saya dan kakak.

Kedatangan kakak yang sudah biasa. Membuat sikap saya juga biasa saja. Toh, kakak memang seminggu sekali pulang ke rumah. Saya melanjutkan chatting dengan grup Bunsay. Sedang kakak langsung mandi.

Sampai akhirnya tiba waktu ashar. Kakak menghampiri saya dan berkata,”mata Kakak merah lagi nih, Mah. Bengkak dan kayak ada yang ngeganjel gitu di dalem mata.”

Padahal ya, waktu kakak kembali ke Karawang hari Senin. Matanya itu sudah membaik. Paling satu hari berobat lagi, mata kakak akan sembuh seperti sedia kala. Lah ini. Saya kaget dong. Matanya jadi mengecil karena bengkak dan merah.

Saya meminta kakak untuk memberi obat tetes mata pada mata kanannya. Sedangkan saya, kembali berkutat di dapur.

Setelah magrib, saya menemui kakak di kamar. Untuk melihat kondisi matanya. E...ladalah, dia lagi main hape.

“Hapenya ntar-ntaran lagi, Kak. Itu kan matanya lagi bengkak. Istirahatin dulu tuh mata. Kasihan.”

Cuma lirikan mata doang sebagai balasan dari saran saya. Itu juga lirikan karena kakak nggak mau kalah sama game yang sedang dimainkan.

Ya, sudah. Saya pun keluar dari kamar kakak.

Selang beberapa lama kemudian. Saya masuk ke kamar kakak lagi untuk kedua kalinya.

“Udah ditetesin lagi matanya?”

“Udah, baru aja,” balas kakak sambil berkaca memeriksa matanya.

“Mata Kakak tambah berair nih, Mah.”

“Makanya main hapenya diudahin dulu. Kan dah dibilang tadi. Itu mata butuh istirahat.”

Terdengar musik dari hape kakak yang diletakkan di atas kasur.

“Yah, baru aja mau baca buku, Kakak.”

Sebuah novel di samping hape sudah disiapkan kakak untuk dibaca.

“Udah, hapenya dengerin musik aja. Bacanya juga nanti-nanti aja. Nggak kasian apa sama tuh mata.”

Saya keluar kamar. Sama seperti keluar kamar kakak pada saat saya masuk. Untuk yang kedua kali ini pun. Saya tidak mendapat janji kakak untuk menuruti saran saya.

Tapi yang jelas. Ketika saya masuk ke kamar. Kamar kakak gelap, lampunya sudah dimatikan. Berarti dia tidak main hape dan tidak juga membaca novel.

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 14, 2018 No komentar


Hari ini super duper padat kegiatan saya. Workshop yang diikuti hari ini fullday. Berangkat dari rumah pukul delapan dan tiba di rumah kembali pukul 19.30.

Laporan ke kakak satu hari sebelumnya, cuma bilang kalau saya akan mengikuti workshop.

Saat masih di kereta kakak mengirim pesan via wa. Kakak ternyata ingin berbicara langsung denganku. Apa boleh buat situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Kereta pada jam pulang kantor setelah magrib benar-benar sumpek, ramai pakai banget. Nggak perlu pakai pegangan, secara berdiri saja sudah terhimpit dan nggak bisa bergerak. Apa kabarnya terima telpon coba?

Setelah selesai makan malam dan beristirahat sebentar. Setengah jam kemudian kakak mengirim pesan. Menanyakan apakah saya sudah sampai di rumah atau belum. Sepertinya benar-benar masalah penting. Sampai-sampai kakak tidak mau menyampaikan maksudnya via wa.

Setelah beberapa kali video call saya tidak dijawab oleh kakak. Saya pun menelepon kakak lewat GSM nya.

“Kenapa, Kak?” Tanya saya setelah mengucapkan salam dan menanyakan kabar.

Ternyata kakak ingin memberi kabar bahwa jadwal kuliahnya berubah. Jadwal kuliah semula adalah pada hari Senin - Jumat. Perubahan jadwal kuliah terbaru adalah Senin - Selasa, Kamis - Sabtu. Jadi kesimpulannya, perubahan jadwal tersebut membuat kepulangan kakak seminggu sekali ke Bekasi menjadi terganggu.

Harusnya kakak bisa pulang pada hari Jumat siang. Sekarang malah terancam tidak pulang. Ia memaksakan diri untuk pulang ke Bekasi setiap Sabtu dengan cara nebeng temennya.

Saya pun memberikan alasan jarak tempuh yang terlalu jauh dengan motor. Karawang - Bekasi dengan menggunakan motor tentu akan membuat tubuh tidak nyaman. Saya pun menambahkan alasan kesehatan. Untuk sementara, keputusan awalnya adalah kakak pulang ke Bekasi satu bulan sekali. Dan pada minggu ketiga, kami akan mengunjungi kakak. Sebagai pelepas rindu gitu, deh.

“Kakak BT tau, Mah, di kosan sendirian. Mana nggak ada wifi. Boros kuota deh, Kakak.” Itu adalah salah satu alasan yang diberikan. Kakak keberatan dengan usul saya pulang satu bulan sekali. Setelah alasan sebelumnya adalah sedih karena nggak bisa kumpul bersama kami, kedua orang tuanya.

Setelah tawar-menawar yang cukup rumit. Pun hampir dua puluh menit pembicaraan kesepakatan belum tercapai. Akhirnya kakak dengan berat hati menerima keputusan saya tersebut.
Itu juga pakai kalimat hiburan dan janji yang lain. Bahwa hal tersebut akan dibicarakan bila kakak pulang dan berada di rumah.

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 13, 2018 No komentar

Masih melanjutkan pembicaraan soal mepet. Kali ini percakapannya lewat aplikasi whatsapp.

Setengah jam berlalu semenjak kakak meninggalkan rumah. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul sebelas. Harusnya kakak sudah sampai stasiun dan sudah di atas kereta.

Kukirim pesan pendek karena berita yang ditunggu tak kunjung datang. Hati gelisah karena takut ojol yang dikendarai tak bisa tepat waktu sampai di stasiun.

Percakapan via wa (whatsapp)
“Udah sampe stasiun, Kak?”
“Udah, Mah. Pukul 10.47 tadi.”
“O, berarti udah di kereta dong, ya?”
“Keretanya masih di Jatinegara, Mah. Gak tahu nih Kakak harus sedih atau seneng.”

Hmm, mungkin maksud kakak dengan sedih karena kereta telat berarti jam tiba di kampusnya terancam. Terancam ketinggalan kuliah hari pertama pukul satu siang. Sedangkan senang, berarti kakak bisa terangkut kereta. Karena kereta berikutnya baru ada sekitar pukul tiga.

“Kan sekarang masih sepuluh menit dari pukul sebelas. Mudah-mudahan keretanya cepat sampai dan terkejar sampai tiba di kelas dengan lancar.” Hiburku menenangkan kakak yang juga menstabilkan deg-degan jantungku sendiri. Asli. Mepet banget ini, sih.

“Untung tadi dapet abang ojolnya anak muda gitu. Jadi diminta ngebut deh sama Kakak. Trus ya, Mah. Jadwal kereta nggak tahunya pukul 10.52.”

“Lho, Kakak bilang pukul sebelas jadwal keretanya. Untung telat tuh kereta datengnya. Coba kalo on time.”

Untuk sementara kami pun menyudahi percakapan tersebut.

Aku pun melanjutkan pekerjaan rumah. Sambil sesekali memerhatikan jam di dinding. Aku berencana akan menanyakan kabar perkembangan perjalanan kakak ke Karawang. Harapannya sih, kakak yang memberi kabar.

Akhirnya, pukul 11.15 aku yang menanyakan kabar kakak lewat wa. Anaknya anteng, emaknya yang rempong. Hadewh Kakak… Kakak.

“Udah di kereta kan, Kak”
“Udah, Mah. Udah sampe Kedunggedeh, nih.”
“Keburu nggak?”

Walaupun jawaban kakak menenangkan tapi tetap saja ada rasa khawatir. Kali ini aku harus benar-benar percaya pada kakak. Karena memang kakak yang tahu jarak tempuh dan waktu yang diperlukan untuk mencapai kampusnya.

Alhamdulillah, perkiraan kakak memang tidak meleset. Sepertinya hari ini keberuntungan kakak. Semoga kejadian tersebut tidak terulang kembali.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 12, 2018 No komentar
Senin adalah hari tersibuk saya dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Senin saya harus menyiapkan dan mengirim barang serta mem-booking ojol.
Dalam waktu dua jam mencuci, merapikan rumah, packing, belanja, harus sudah selesai.

Di hari Senin ini pulalah, kakak akan kembali memulai perkuliahan. Kesibukan pagi saya tersebut membuat tidak punya banyak waktu untuk berbincang dengan kakak. Pukul sepuluh ia harus segera berangkat. Jadwal kereta menurutnya adalah pukul sebelas.

“Mah, Kakak udah mau berangkat, nih.”Teriak kakak memanggil saya yang sedang diatas membereskan cucian yang memang sudah selesai.

Saya pun mengiyakan panggilan kakak untuk turun menemuinya.

“Cepet, Mah. Mana bekelnya (baca:uang).”

Jarum pendek pada jam dinding diatas pintu depan berada di angka sepuluh. Sedangkan jarum panjang berada di angka empat.

Saya menghampiri kakak di kamar setelah mengambil beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu. Terlihat kakak sedang memakai masker.

“Udah booking ojolnya?”

“Udah.” Kakak masih terlihat sibuk mempersiapkan sisa-sisa barang yang akan dibawa.

“Udah dari tadi padahal bookingnya. Satu menit melulu tapi nggak sampe-sampe,” ucap kakak sambil menutup resleting tas dengan dipaksakan.

“Gimana tas nggak cepet rusak. Biar tas yang mahal sekali pun juga kalau overload gitu isinya. Bakal cepet rusaklah, Kak.”

Saya melihat sudut mata kakak sedikit berkerut. Ada sekilas sinar cahaya dari bola matanya yang tidak tertutup masker. Ya, kakak tersenyum. Rupanya ia menyetujui dan membenarkan apa yang dikatakan saya.

“Kak.” Saya berdiri di pintu kamar kakak. Biar deh waktu yang cuma sebentar ini saya cerewet.
“Tadi malem udah mepet janjian ketemuan sama reseller. Sekarang mepet lagi aja mau pulang. Kereta mah nggak nungguin Kakak,” lanjut saya.

Kakak masih kasak-kusuk menurunkan dua tas dari atas kasur. Menyiapkan ongkos ojol, kereta, dan ongkos ojol ketika nanti sampai di Karawang nanti. Dimasukkannya uang-uang tersebut di saku celana yang kiri, kanan, dan belakang.

Ya, saya memang meminta kakak untuk mempersiapkan uang pas untuk transportasi sebelum berangkat. Dengan maksud agar kakak tidak perlu membuka tas dan dompet di tempat keramaian seperti stasiun. Demi keamanan dan terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Misalnya ada barang yang terjatuh atau tercecer ketika membuka tas yang sarat akan isi.

Kakak menenteng tas dan membawanya keluar kamar. Kemudian meletakkannya di samping pintu keluar.

“Itungan Kakak tuh, Mah. Kalau kereta berangkat pukul sebelas. Kakak masih dapet kuliah yang pukul satu. Palingan Kakak sampai Karawang pukul 12.30,” ucap kakak sambil membalikkan badan menghadap saya yang berada persis di belakangnya. Meyakinkan saya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lima menit kemudian ojol pun datang. Kakak mencium tangan dan berpamitan pada saya.

Semoga perjalanan kakak lancar dan bisa sampai di Karawang sebelum pukul satu. Aamiiin.

#hari6 (Clear and clarify, choose the right time)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



September 11, 2018 No komentar

Terkadang kalau kakak sudah mulai sibuk. Entah itu perkuliahan pada hari biasa yang mengharuskan ia kos. Sehingga waktu  untuk saya berduaan dengannya cukup susah ditemukan. Atau bila ia berada di rumah, tapi weekend pun disibukkan dengan kegiatan komunitasnya.

Dikarenakan hal di atas itulah. Maka saya harus jeli melihat moment untuk berbicara dengannya. Bukan hal yang penting banget, sih. Kadang kegiatan harian pun akan menjadi topik obrolan.

Seperti semalam. Sepulang kakak dari acara meeting dengan komunitasnya. Yang menyebabkan seseorang harus menunggu kedatangan kakak. Seseorang yang merupakan reseller kakak. Reseller yang akan mengambil barang. Sebetulnya saya bisa saja mewakili kakak menggantikannya. Tapi di mana tanggung jawab kakak dong.

Kakak tiba di rumah pukul tujuh lewat lima sepuluhan gitu. Ia langsung menyiapkan barang pesanan.
Saat itu saya baru keluar dari toilet.

“Emang orangnya udah sampe, Kak?”
“Udah, baru aja.”

Saya melihat ke arah pintu luar dari ruang tengah di mana kami berada. Benar saja, sebuah motor sudah terparkir di luar.

“Kakak sih, pulangnya telat. Udah tau punya janji. Pulangnya mepet. Kasian kan, dia jadi nunggu.”

Kakak tidak menggubris ucapan saya. Ia tetap dengan pekerjaannya, mem-packing yoghurt ke dalam kantong plastik.
Memang sih bukan waktu yang tepat. Habis mau bagaimana lagi. Ya, setidaknya intonasi saya nggak tinggi seperti biasanya kalau lagi kesal deh.

Saya anggap diamnya kakak adalah penyesalan atau mungkin sedang membenarkan perkataan saya.

Setelah selesai serah terima barang dengan reseller kira-kira pukul 19.20. Saya biarkan kakak istirahat dan membersihkan diri.

Besok saya akan membicarakan hal ini dengan kakak. Hal tentang memenuhi janji dan ketepatan waktu.

#hari5 (I’m responsible for my commnunication results)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

September 10, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose