facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

Pelaksanaan pilkada di beberapa daerah di Indonesia masih tarik ulur. Pro dan kontra terjadi antara pihak yang tetap bersikukuh melaksanakan pilkada dan pihak yang meminta untuk menunda pilkada. Penundaan pilkada dikarenakan negara kita, Indonesia, masih berada di tengah pandemi. 

Menurut pendapat yang kontra akan penundaan pilkada. Bila pilkada tetap dilanjutkan, ditakutkan penyebaran virus covid akan meluas. Hal ini bertentangan dengan usaha pemerintah sendiri yang sedang mengurangi laju penyebaran virus.

Kurva pandemi dari awal penyebaran covid-19 sampai sekarang, rata-rata masih terlihat landai dan bahkan belum mencapai puncak.

Seperti yang diungkapkan oleh epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman. Dicky mengatakan, landai atau tidaknya kurva pandemi bisa dilihat dari dua indikator, yakni angka kematian dan angka kasus baru harian. 

"Dua-duanya ini kan kita lihat masih tinggi. Artinya, tentu ini belum menunjukkan kalau kurva sudah melandai," kata Dicki pada kompas (22/09/2020).

Dikarenakan hal tersebut di atas, beberapa daerah zona yang kembali menjadi merah, menerapkan PSBB untuk kedua kalinya.

Hal ini  membuat aktivitas warga kembali terbatas. Dampak perekonomian mau tidak mau ikut melandai seperti kurva covid-19. 

Bahkan kuartal ketiga tahun ini Indonesia menghadapi resesi. Tapi tidak dengan kami. Kami akan menghadapi resesi dan tetap berkarya. Agar perekonomian tetap berjalan, khususnya perekonomian rumah tangga. 

Siapa kami? 

Kami adalah Komunitas Ibu Profesional. Aku adalah salah satu mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan Bunpro (Bunda Produktif). 

Namanya juga produktif. Jadi kami harus dan wajib produktif meski di tengah pandemi. 

Bahkan di masa pandemi inilah, rasa akan terasah untuk melihat peluang. Peluang yang akan membuat keterbatasan gerak menjadi sebuah kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri. Dan pada akhirnya berdampak pada masyarakat sekitar dimana kita tinggal. 

Begitulah kurang lebih salah satu tujuan dari perkuliahan Bunpro. Menjadi pribadi yang berkualitas dan bisa berbagi pada sesama dengan apa yang dimilikinya. 

Sungguh, sebuah passion bila dibagi pada sesama akan membuat diri kita menjadi berbinar dan merasa telah menjalankan apa yang diperintah oleh Sang Pencipta. 

Bukankah perintah Tuhan untuk berbagi pada sesama itu wajib? Bukan saja materi tapi ilmu pun wajib diberikan pada sesama. 

Bagaimana caranya di pandemi seperti ini menjadi kreatif? 

Hmm, sebelum menjadi kreatif. Kami diminta untuk memilih walikota di kota yang telah kami bentuk. Kota yang bukan sembarang kota. Namanya juga Kota Produktif. Berarti isinya ya, tentang keproduktivas-an. 

Seperti aku yang berada di co-housing Literasi dan Bahasa. Bertetanggaan dengan co-housing,  public speaking, komunikasi, video dan fotografi. Empat co-housing dikumpulkan menjadi satu cluster. Oh iya, masing-masing co-housing berjumlah sepuluh co-housing. Berarti dalam satu cluster kurang lebih ada empat puluh co-housing. 

Seru, kan, nama-nama co-housingnya. Bukan sembarang nama ini, lho. Nama-nama itu diambil sesuai passion pemilik co-house nya. Jadi bisa dibayangkan kalau kami bisa produktif dengan passion kami itu. Insha Allah akan menghasilkan sesuatu yang dapat saling mengisi sesuai kebutuhan di masa pandemi ini. Aamiiin. 

Calon Walikota

Layaknya sebuah warga yang terpusat disatu wilayah. Maka adanya pemimpin menjadi suatu keharusan. 

Leadership is relationship in which one person, the leader, influences, others to work together willingly on related task to attain that which the leader desires. - George. R Terry

Jadi, maksud George R Terry dengan kalimat di atas adalah bahwa kepemimpinan itu  merupakan aktivitas untuk memengaruhi orang-orang agar diarahkan mencapai tujuan organisasi. 

Disini, aku sebagai sebagai salah satu anggota atau penduduk Hexagon City. Diharuskan untuk memilih salah satu kandidat untuk dijadikan walikota Hexagon City.

Ada enam kandidat yang telah berkampanye selama seminggu. Dan semalam adalah kampanye terakhir dengan mengadakan adu pendapat atau debat secara live di FBG Ibu Profesional.

Asli, seru banget. Ya, meski aku telat hadir. Tapi enam kandidat calon walikota benar-benar telah tampil keren dengan visi-misinya masing-masing. 

Tujuan para calon kandidat hampir sama semua. Yaitu ingin memajukan kami sebagai penduduk Hexagon City dapat produktif dengan passion kami masing-masing dalam naungan komunitas Ibu Profesional.

Dalam kampanye oleh salah satu kandidat no. 2 kemarin. Ada satu pertanyaan yang menarik dari anggota IP Bekasi. 

Yaitu tentang gambaran Hexagon City yang terdiri banyak banyak cohousing (passion). Sehingga peran apa yang akan dilakukan oleh kandidat tersebut untuk mengkolaborasikan sehingga bisa menghasilkan karya.

Jawabannya lugas, simple, dan langsung pada tujuan. Bila disimpulkan, jawabannya adalah, kandidat akan menguatkan co-housing terlebih dahulu. Lalu mengakomodir tantangan yang dihadapi para co-housing. Dari tantangan tersebut akan didapat ide solutif. Dari ide solutif itu akan menghasilkan inovasi karya. Inovasi karya pun akan semakin beragam dengan berkolaborasi antar co-housing lainnya. Hasil akhir tentu sebuah karya yang baru.

Hmm, nggak sabar mau menggunakan hak pilihku, nih. ID Carp Bunpro juga udah siap. 

Siapapun yang terpilih nanti, semoga warga Hexagon City dapat menjadi produktif dengan passionnya masing-masing. Aamiiin. 

#Hexagoncity

#Hexagonia

#Kuliahbundaproduktif

#Instituteibuprofesional







 


 






Oktober 04, 2020 No komentar
KIRANA
Rahmawati Lestari, Desi Noviany, Nina Amelia Sasmita, dan Rizky Purnama Indah

Foto: clipart.email

"Ibu pergi lagi?", pertanyaan si Sulung mengagetkanku. 
"Iya, Nak. Tolong jaga adik-adikmu. Kamu tidur duluan ya. Tidak usah tunggu Ibu pulang." Yang diajak bicara hanya mengangguk. Kilatan sedih di matanya aku lihat, tapi aku bisa apa. 

Kurapikan barang-barang yang harus kubawa. Aku bergegas, purnama di luar memberi cahaya pada malam. Ah purnama, aku seperti mendapat kekuatan setiap malam terang bulan. Derap langkahku beradu suara dengan nyanyian jangkrik. Di ujung jalan kulihat 3 orang bapak sedang bermain karambol.

Kurapatkan jaket coklat tua yang panjangnya hampir menyamai blus atasan yang kukenakan. Jaket kulit ini cukup menghangatkan tubuhku dari terpaan angin malam.

Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ah, aku terlambat. Aku harus bergegas. Aku tidak mau sudut-sudut taman dibuat kotor oleh mereka.

Suara gaduh terdengar menembus keheningan malam.
Buk.... Buk... Buk. Suara jok motor dipukul keras.
"Motor siapa ini? Kalau tidak ada yang mengaku ban motor saya kempesin."
Sepasang muda-mudi terlihat menghampiri si Ibu.
"Pada ngapain jam segini belum pada pulang? Kamu anak perempuan gak dicariin orang tua? 
Mau-maunya diajakin mojok di taman. Pada pulang sana nanti saya lapor ke satpol PP nih." Ucap si Ibu 

"Siapa itu bang? Ngapain malam-malam razia sendirian?" tanyaku pada penjual kopi.
"Oh itu, Bu Kirana tiap malam memang razia di taman ini. Dengar-dengar suaminya meninggal ditusuk orang pas lagi nolongin perempuan yang yang mau dikerjain cowoknya. Pelakunya kabur sampai sekarang belum ketangkap. Katanya anak pengusaha jadi kasusnya ditutup-tutupi jadi korban perampokan." 

Otakku mengakses memori masa lalu yang kembali hadir melalui mimpi-mimpi buruk tiga hari terakhir. Mimpi tanganku bersimbah darah. 
Lintasan peristiwa itu hadir lagi kali ini lebih lengkap. Tepat di tempat Ibu muda itu berdiri lima tahun lalu.

Saat itu, aku melintasi taman sepulangnya mengantar suami yang pergi dinas ke pulau seberang. Bu Kirana terlibat pertengkaran mulut dengan muda-mudi di dalam taman gelap. Suara gaduh teriakan menggangguku yang melintas sepulangnya dari mengantar suami ke Bandara. Aku pinggirkan mobil di tepi jalan di seberang taman. Beberapa detik kemudian terlihat Bu Kirana berjalan gontai keluar taman. Dia berusaha berdiri memegang tiang listrik semampunya. Segera kuhampiri dengan berlari.

" Apakah ibu baik baik saja?", kataku. "Apakah ibu terluka?". Ibu Kirana hanya terdiam ketika aku bertanya. Kulihat gerombolan muda mudi tadi sudah menghilang. Tiba-tiba Ibu Kirana menangis. Aku ingin sekali mengecek ke taman tapi apa daya aku tak berani. Akhirnya aku hanya berdiri menemani si ibu yang masih menangis. Namun tiba-tiba saja, bu Kirana menghentikan tangisannya dan mengambil telepon genggam dari saku bajunya. "Pak polisi saya mau melaporkan ada penusukan di taman dan korbannya sudah tak bernyawa". Setelah telepon itu berakhir dan diiringi dengan rasa terkejutku. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku terdiam. Kemudian kulihat wajah bu Kirana tanpa ekspresi dan matanya menatap kosong ke depan.




Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti tantangan menulis Cerpen Keroyokan yang diselenggarakan oleh Rumbel Literasi IP Bekasi. 
Agustus 05, 2020 No komentar
Bulan kedua mengantar papap kontrol ke RSUPN Citpo. Kali ini bukan ke klinik THT.

Setelah menjalani operasi Tumor Sinonasal tanggal 29 Juni yang lalu. Hari ini adalah pertama kali untuk pemeriksaan lebih lanjut ke Poli Hematologi. Hasil kontrol dari poli THT minggu lalu. Biopsi hasil kedua dinyatakan bahwa diagnosa papap adalah kelenjar getah bening.

Entahlah, aku bingung. Setelah CT Scan berbicara tumor, biopsi pertama pun tidak ada bicara ada indikasi kelenjar getah bening. Di biopsi kedua inilah papap dinyatakan terdapat kelenjar getah bening di area hidung.

Sempet tanya ke dokter waktu itu. Kok bisa kelenjar getah bening di area sinonasal? Bukankah biasanya di bagian leher, dibelakang telinga dekat tengkuk? Kesimpulan yang diambil dari penjelasan panjang lebarnya dokter. Nggak dijelasin kenapa bisa kelenjar getah bening ada di area sinonasal. Ya sudahlah, mungkin dokter mudanya juga belum tahu pasti (pikiran aku, lho).

Dari hasil biopsi kedua yang dibacakan oleh dokter poli THT itulah, akhirnya papap dirujuk untuk kontrol lebih lanjut ke poli Hematologi (Poliklinik Penyakit Dalam).

Selesai kontrol kurang lebih pukul 14.00 dari mulai tiba di RSUPN pukul 06.45. Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya waktu kontrol ke poli Anestesi. Akhirnya aku dan adikku melakukan survey terlebih dahulu.

Survey yang dilakukan adalah:
1. Letak poli Hematologi
2. Cara pendaftaran

Letak Poli Hematologi

Poli Hematologi adalah bagian dari Poli Penyakit Dalam. Beberapa minggu lalu setelah pasca operasi, sebetulnya papap ada kontrol ke poli Penyakit Dalam, yaitu poli Ginjal dan Hipertensi. Eladalah poli Hematologi nggak tahunya ada dilantai yang sama dengan poli Ginjal dan Hipertensi, yaitu dilantai dua. 

Polinya lumayan luas. Jadi poli Penyakit Dalam ini adalah sub spesialisnya Penyakit Dalam. Seperti poli khusus konsultasi Kardiovaskular, Reumatologi, Hematologi-Onkologi Medik, Ginjal Hipertensi, Alergi Imunologi, Tropik Infeksi, Psikosomatik, Pulmonologi, Geriatri, Gastroenterologi, Gastroenterohepalogi, Endokrin Metabolik Diabetes (ya Allah nulisnya sampe nyontek berkali-kali saking takut salah huruf).

Cara Pendaftaran

Waktu pendaftaran secara umum adalah sama, yaitu batas maksimal sampai pukul dua belas siang untuk semua poli.

Hasil bertanya pada perawat yang bagian Hematologi. Katanya pendaftarannya harus online melalui aplikasi RSCMOnline. Sayang, pendaftaran online ini untuk peserta BPJS. Kalau papap kan pake Jamkesda alias KS (Kartu Sehat) daerah Bekasi. Jadi belum bisa online daftarnya.

Juga, pendaftaran pasien baru cuma ada di hari Kamis. Nanti untuk pemeriksaan berikutnya dapat dilakukan selain hari selain Kamis.

Hari Kamis yang ditunggu tiba, 23 Juli. Setelah dua hari sebelumnya adik laki-lakiku melakukan pendaftaran online untuk mendapatkan Surat Referensi dari Dinas Kesehatan Bekasi (Dinkes). Kami pun berangkat seperti biasa dari rumah, 05.50.

Begitu mobil diparkir di RSCM Kencana (parkir di RSCM publik susah dapet parkiran). Aku langsung turun dari mobil, dan segera melanhgkah cepat. Maksudnya sih biar dapet no mudaan alias lebih awal.

Emang sih waktu ambil no antrian didekat bagian informasi dapetnya no. E003. Tapi begitu masuk ke ruang admisi tetap aja antri pake banget.

Setelah nomor urut dengan awalan huruf I yang artinya untuk antrian Lansia sampai angka dua puluh. Baru deh, antrian dengan huruf E yang artinya untuk antrian Jamkesda dipanggil.

Sewaktu menunggu panggilan antrian. Aku sudah menyiapkan dokumen untuk mendapatkan SJP (Surat Jaminan Pelayanan), yaitu:
1. Surat rujukan dari RSUD Bekasi
2. Kartu Keluarga
3. KTP
4. KS (Kartu Sehat)
5. Kartu berobat
6. Surat rujukan konsultasi dari klinik asal (THT)

Pukul 07.28 aku sudah memgantri lagi di klinik Hematologi. Sedang papap dan adik laki-lakiku sedari tiba di RSCM langsung menunggu dilantai dua.

Ya Allah, belum pukul delapan, tapi sudah dapat nomor urut dua puluh empat.

Setelah menunggu hampir menunggu tujuh jam-an. Pukul 14.45 dipanggil juga ke ruang periksa.

Hasil pemeriksaaannya diceritain diberikutnya aja, yaa. Hayati mau rehat dulu.

Catatan:
Tidak ada foto dikarenakan pihak RS tidak mengizinkan pengambilan foto dalam proses pelayanan. 


Juli 24, 2020 No komentar
Rencana pertama yang telah dibuat adalah menentukan arah tulisan. Yaitu fokus menulis fiksi atau non fiksi. Nah, untuk mendapatkan salah satu dari pilihan tersebut. Saya harus membaca. Kalau nggak salah target membaca ada di poin ketiga yang ada dipostingan sebelum ini, deh.

Untuk menggairahkan minat baca yang melempem. Saya memilih bacaan ringan terlebih dahulu. Isitlahnya mah, seperti manasin mobil sebelum jalan, gitu. Alhasil, lumayanlah ya. Dalam waktu lima hari bisa menyelesaikan dua novel. Kira-kira untuk masing-masing novel berjumlah 230 halaman gitu, deh.


Ini novel dalam bentuk ebook, pinjam dari iPusnas. Maklum harga buku mahal. Apalagi sekarang sedang musim virus. Nggak kuat kantongnya, eung. Jadi baca online aja, deh. 

Duh, bacaan receh banget, kan? Tapi, sebagai seorang pemula yang bakal terjun kedunia kepenulisan. Nulisnya dimulai sama yang ringan-ringan aja dulu. Sambil mempelajari alur, plot, dialog, gaya menulis, juga ide cerita. 

Rencananya, sih, habis ini mau cari novel yang penulisnya Indonesia lagi. Selang-seling dengan penulis luar. Kan, gaya dan ide cerita mereka berbeda-beda. Saya butuh wawasan menulis ceritanya.

Trus gimana dengan non fiksinya? Nah, untuk non fiksi, saya belum baca buku. Tapi, saya baca esai di salah satu portal online https://mojok.co/esai/.

Portal berita mojok.co ini mau jadi sasaran media online buat kirim tulisan. Lumayan banyak udah baca, nih. Soalnya saya tuh perlu tahu gaya menulis dan cerita yang disuguhkan web ini. Jadi, kudu banyak baca. Biar bisa menulis dengan gaya yang sesuai webnya mereka. 

Ternyata, memang agak sulit untuk bisa jebol media mereka. Sudah seminggu ini mencari ide yang cocok untuk dikirim ke mereka. Tapi belum ketemu, huhu. Ide ceritanya sih, udah dapet. Cuma gaya nulisnya itu, lho, yang bikin sedikit putar otak. Ah, semoga aja bisa ketemu dalam waktu tiga hari ini. Yang penting kudu banyak baca aja, dah. 

Gimana menulisnya? Cuma baca doang? Nggak juga, sih. Saya nulis cerita anak di wattpad. Diusahain update cerita seminggu sekali. Lumayan yang udah mampir baca. Jadi bikin semangat nulis. Ada, lho, yang jadiin tulisan saya sebagai read aloudnya anak-anak mereka. Duh, seneng banget. Asli. Bolehlah mampir kalau butuh bacaan anak yang ispiratif dengan selipan pesan moral didalamnya ke https://my.w.tt/97HHV3zNk7.


Nggak cuma menulis cernak aja, sih, sebenernya. Saya juga ikut One Day One Post Blogger gitu. Blog sederhana dengan cerita keseharian. Kan katanya perempuan butuh 20.000 kata per hari buat dikeluarin. Nah, ini saya menulisnya seminggu sekali aja. Itung-itung mengabadikan cerita harian. Jadi semacam jurnal. Duh, kayak drakor yang berlatar belankang kerajaan gitu, heuheu. Mereka kan tulis semua, tuh, tentang kejadian hari-hari yang mereka kerjain. Mau mampir baca-baca pas santai? Hayu atuh main kesini https://inirumahtangga.blogspot.com/?m=1

Serius ini bukan maruk jenis tulisan, tapi saya lagi mencari kenyamanan menulis. Fiksi, non fiksi, cernak, atau novel. Jadi semua dijalanin. Istilah kalau mamak-mamak olshop, mah. Palugada (pa lu mau gw ada) 

Semoga saya cepat bertemu dengan belahan jiwa (menulis ini maksudnya).  Aamiiin. 

#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#kelaskupu-kupu
#buncekbacth1
#instituteibuprofesional



Juni 15, 2020 No komentar

Skala Prioritas

Alhamdulillah, mulai mengerjakan tugas lagi setelah libur lebaran kurang lebih dua minggu.

Tugas kali ini adalah tahap akhir sebelum kelulusan di kelas Buncek yang masih tersisa  lima minggu lagi. Tugas yang merupakan tujuan hidup diri. agar menjadi pribadi berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Merujuk pada mind mapping sebelumnya, maka didapatlah hasil tertulis seperti pada gambar di atas. Maksudnya, sih, untuk mengingatkan diri agar tidak melenceng dari tujuan yang sudah dibuat. Maklum, kalau gelap mata, apa yang menarik dihadapan langsung dikerjain. Terus yang tertulis di skala prioritas dinomor duakan. Duh, jangan ditiru ya plends.

Tujuan



Nah, ini yang dimaksud dengan tujuan dalam skala prioritas. Yaitu membuat susunan "tujuan" untuk mencapai target diri. 

Dari tiga item yang disebut di Skala Prioritas. Dengan berat hati ditinggalkanlah crafting dan menjahit. Tapi bukan berarti ditinggalin seratus persen. Kalau lagi mentok menulis, selingannya bisa mengerjakan crafting atau menjahit. Biasanya kan ide muncul pas lagi kasak-kusuk mengerjakan kegiatan lain, kan? 

Katanya kalau cita-cita harus dibuat setinggi mungkin. Kalau cita-cita cetek, sama aja merendahkan Tuhan. Manusia memang selalu ada sisi "nggak mungkin". Tapi buat Tuhan, apa yang dibilang jadi maka jadilah segala apa yang dikehendakiNya.

Usaha tanpa henti, haram putus asa. Seenggaknya kalau belum berhasil, kita udah dapat pahala dari usaha kita. Kan Allah mah nggak minta kita berhasil. Allah mah cuma minta kita usaha dan doa. Keberhasilan adalah hak prerogatif Allah. Kumaha? Satuju? 

Semoga tujuan menjadi penulis profesional terwujud. Aamiiin. 

Rencana


Sebenarnya waktu menulis rencana di tabel atas agak deg-degan gitu. Secara yang tertulis itu kan jadi janji diri. Ada keterikatan kalau nggak dijalanin. Bismillah aja, deh.

Ini kan ikrar untuk kebaikan diri sendiri. Kalau nggak dimulai sekarang. Kalau nggak dipaksa saat ini. Alamat semua cuma jadi wacana dalam angan. Kapan majunya #tutupmuka.

Doanya kudu makin kenceng, nih. Minta ke Allah supaya diri ini konsisten. Dijauhin sama males dan alasan. Soalnya musuh terbesar hambatan buat maju ya cuma diri sendiri.

Semangat

#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#instituteibuprofesional









Juni 08, 2020 No komentar

Hhm, baru beberapa kali ngobrol via messsenger. Ceritanya saya dimentorin gitu. Lumayan nyambung sih kita ngobrolnya.

Waktu ngobrol di tahap kedua pertama kali. Kita saling memahami satu sama lain terlebih dahulu. Saling tukar informasi. Saling mengenal  apa yang saya mau sebagai mentee dan pasangan sebagai mentor.

Saya sebagai mentee menceritakan apa yang akan dicapai selama enam minggu kedepan. Dan mentor pun menampung apa yang mentee sampaikan, untuk dibuat perencanaannya.

Dari beberapa kali obrolan kita minggu ini. Mentor pun memberikan informasi media online untuk kita pelajari bersama. Sayang, ternyata web nya sudah tidak aktif. Gagal deh untuk belajar bareng dari web tersebut.

Esok lusanya, mentor memberikan informasi dua web sebagai penhganti. Dan saya pun diminta memilih di antara dua web tersebut. Maksudnya untuk menyamakan visi dan misi yang saya mau.

Eladalah ternyata salah satu web yang mentor maksud adalah sama dengan yang saya punya. Beliau salah tulis satu kata didepannya. Heuheu jadi bodor kita berdua.

Tips artikel jebol media kuncinya untuk saat ini adalah menulis terus tanpa henti. Kalau belum jebol media, coba terus. Jangan putus asa.

Mari kita latihan menulis di tahap berikutnya.

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#institutibuprofesional
Mei 15, 2020 No komentar
Alhamdulillah, sampai juga di tahap terakhir sebelum menjadi kupu-kupu cantik. Meski tertatih-tatih melawan diri. Nggak sangka hampir tiba di garis finish meski masih delapan minggu lagi. Semangat!

Kata orang tahap akhir itu ujiannya makin berat. Itu memang benar adanya. Sempat berpikir untuk menyerah, udahan, atau mundur aja sekalian. Kayaknya tantangan akhir ini berat banget. Secara aku mah orangnya minderan dan agak-agak introvert gitu.

Tahu nggak tugas akhir ini apa. Jadi mentor bo'.  Hadeh, da aku mah apa atuh. Sampai sekarang aja masih cari guru atau mentor buat belajar menulis. Ini diminta jadi mentor.

Keahlian aku mah nanggung-nanggung semuanya. Jahit, nanggung. Menulis, nanggung juga, cfafter juga nanggung. Masak? Pas-pasan pun bisanya. Itu juga cuma buat konsumsi rumahan. Kalau orang diminta coba. Tutup muka aja dah. Manajemen waktu? Masih acak adul alias sesuai mood.  Manajemen emosi? Setali dua uang dengan manajemen waktu. Argh, mamah akutu pusing dan hampir desperado.

Alhamdulillah, pinangan menjadi mentee diterima. Seenggaknya mengurangi pikiran karena belum dapat mentee. Tapi boleh senang nggak, sih? Ternyata yang belum dapat mentee banyak heuheu.

Mentorku ini adalah pilihan dari beberapa mentor yang ada dengan tema tentang kepenulisan. Nggak tahu kenapa aku tertarik dengan Mbak Adita. Eladalah, pas chat lewat messenger, nggak tahunya kita udah berteman. Nggak tahunya juga kita ada didalam wadah grup kepenulisan yang sama. Ini sih namanya satu pedepokan.

Tapi Mbak Adita adalah seorang yang konsisten dalam bidangnya. Itu terbukti Mbak Adita masih ada didalam grup wa kepenulisan tersebut. Sedangkan aku mah udah diremove sejak lama heuheu. Jadi wajar dong kalau aku mau berguru dan belajar bersama Mbak Adita. Siapa tahu ketularan konsisten. Kalau menulis mah, kunci suksesnya kan kudu bin wajib menulis terus tiada henti.

Duh, nggak sangka aja kalau ternyata kita udah berteman. Semoga nggak cuma lancar diawal aja. Tapi sampai selesai dan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu dewasa dan cantik.

Semangat buat kita semua terkhusus diriku!

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelaskupu-kupu
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Mei 08, 2020 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose