facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi



“Jadinya hari ini Kakak mau berobat ke mana?” Saat itu waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Saya berdiri di samping tempat tidur kakak yang sedang bermain hp. Susah juga memberikan pengertian pada kakak untuk tidak berlama-lama main hp. Game pula.

“Kakak mau ke RSUD. Dokternya praktek sore, jadi daftarnya jam 13.00.”

Sebelumnya saya sudah menyarankan untuk berobat ke klinik terdekat. Tapi kakak kurang yakin dan percaya dengan dokter di klinik tersebut. Maklumlah, beberapa kali berobat di sana, kurang memuaskan. Ya, wajarlah yah. Namanya juga gratisan. Jadi yah obatnya ala kadar gitu deh.

Ya, sudahlah terserah kakak saja kalau dia memang ingin berobat ke dokter yang lebih jauh dari rumah. Padahal maksud saya kan agar kakak tidak capek. Mata yang sakit dan semakin merah, lebih baik kan tidak terlalu kena angin. Ah, mau bagaimana lagi. Setidaknya dia menuruti nasihat saya untuk memakai kacamata dan pergi lebih awal.

“Mah, dokternya nggak ada. Hari ini dia nggak praktek.” Kakak menyampaikan hal itu sesaat setelah dia mengirim pesan lewat wa. Dan saya menelpon balik ke dia. Perjalanan mengendarai ojol memang lebih cepat. Tidak sampai dua puluh menit, kakak memberi kabar tentang dokter mata yang dituju.

Coba tadi mengikuti kata-kata saya untuk langsung ke klinik. Setidaknya saat itu tentu sudah kembali ke rumah dengan obat dari dokter di klinik yang sarankan tadi. Ucap batin saya tentu.

“Kakak langsung ke klinik aja ya, Mah .” Tuh kan. Akhirnya kakak menyampaikan bahwa dia akan langsung ke klinik.

Dan pembicaraan pun selesai. Kenapa nggak dari awal ikutin kata mamah sih, Kak?
*
“Tuh kan, Mah. Mata Kakak merah bukan karena main hp.” Kakak masuk ke dalam kamar saya. Kemudian duduk disisi tempat tidur. Saya alihkan pandangan dari hp pada kakak.

Ya, kakak baru saja kembali dari apotek. Kami lupa kalau tetangga tidak jauh dari rumah ada dokter spesialis mata. Kakak memberikan laporan  hasil pemeriksaan dokter mata tersebut.

“Dokter Diki bilang, kalau merahnya karena radiasi hp, mata yang kena tuh dua-duanya, bukan cuma sebelah.” Saya tetap mendengarkan penjelasan kakak. Kemudian kakak pun mengeluarkan dua strip obat tetes mata dari kantong plastik kecil. Kemudian menunjukkannya ke saya, “Nah, ini obatnya yang oke punya, Mah. Yang dari klinik tadi nggak usah dipake lagi. Obat minumnya juga nggak usah.”

Sekali lagi kekurang yakinan kakak pada dokter di klinik terbukti benar. Obat yang diteteskan pada mata kakak. Membuat matanya bertambah merah. Bukan mengarah pada perbaikan.

Okelah, pada malam tersebut, saya cuma menjadi pendengar. Padahal maksud saya bilang mata kakak merah akibat kebanyakan main hp, biar kakak bisa mengurangi jam main hp-nya. Tapi apa boleh buat. Kakak mempunyai argumentasi lebih kuat. Yaitu dari dokter spesialis mata.

#hari2 (intensity of eye contact, choose the right time)
#gamelevel1
#tantangan10 hari/17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



September 07, 2018 No komentar

Setelah menunaikan salat isya. Saya mengetuk pintu kamar kakak. Kali ini saya ingat pesan kakak untuk mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Setelah beberapa kali saya melanggar privasinya dengan nyelonong masuk kamar tanpa izin. Alhasil dia marah karena merasa daerah privasinya dimasuki seorang penyelundup. Meski saya adalah ibunya sendiri.

Pintu saya buka setelah izin diterima. Lalu duduklah saya di tempat tidur kakak. Kami duduk bersisian. Tidak dibilang kalau saya sedang mempunyai tugas Bunsay game level satu tentang komunikasi produktif. Bisa-bisa nanti seperti kejadian waktu perkuliahan matrikulasi. Ditertawakan. Hadewh.

Maksud saya menghampiri kakak ke kamar menjelang pukul delapan. (Choose the right time). Karena pada siang hari saya melihat mata sebelah kanan kakak merah. Bukan karena kecolok atau sakit mata. Tapi seperti luka, di bagian putih matanya.

Kami duduk berhadapan di atas tempat tidur kakak. Kami saling menatap dan saya melihat mata kanannya mulai kecil dan agak bengkak. (intensity of eye contact)

“Bener apa yang dibilang papah kali, Kak. Matanya mungkin iritasi karena main hp nya keseringan.” Saya mendukung dan menguatkan pernyataan papahnya pada kakak. Setelah magrib tadi papahnya
ada bilang seperti itu.

“Apaan sih, Mah. Masa karena main hp. Pake logika dong, Mah. Kalau iritasi karena main hp masa nggak berasa gatel, bengkak, atau apalah gitu.” Tersinggung kakak akan ucapan saya tadi.

“Ini cuma merah aja, Mah.” Kakak membuka lebar matanya dibantu dengan ibu jari dan telunjuk.

“Tuh, lihat! Nggak semua bagian matanya merah, kan?” jelasnya lagi.

Merasa tahu akan ada perlawanan. Disodorkanlah kacamata anti radiasi yang saya bawa dari dalam lemari bufet, sebelum masuk ke kamar kakak. Kacamata yang dulu saya gunakan pada waktu zaman masih bekerja.

“Nih, pake kacamata ini!” Sambil meletakkan kacamata ke pangkuan kakak, dimana tangannya sedang memegang hp yang salah satu aplikasinya terbuka. Sedangkan kakak tetap bergeming dengan hp yang tidak lepas dari genggamannya. (kaidah 7-35-55).

Kakak langsung menolak begitu melihat model kacamata tersebut. Dia malah tertawa kencang ketika melihat saya memakai kacamatanya. (I’m responsible for my communication result).

“Nggak deh, Mah. Ntar Kakak jadi kelihatan tua kayak Mamah kalau pakai kacamata itu.”

Perdebatan dan adu argumentasi pun tak kunjung selesai. Kakak tetap bersikukuh tidak mau menggunakan kacamata anti radiasi. Karena kakak merasa merahnya mata dikarenakan debu saat naik ojol. Bukan karena radiasi hp.

Saya pun keluar kamar. Mengambil kacamata lain yang lebih keanak-mudaan gitu.

“Nah, ini nih kacamata yang dicari-cari kakak.”

Setelah sebelumnya kacamata berwarna cokelat berbetuk persegi panjang ditolaknya. Kakak bilang, framenya tidak cocok dengan wajah kakak yang bulat.

Akhirnya untuk sementara waktu, kami sudahi perbincangan tersebut. Dengan memutuskan kakak akan memakai kacamata setiap akan naik ojol. Dan akan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan matanya agar cepat diobati. Ia pun mengutarakan sesaat setelah percakapan kami selesai bahwa ia akan mengistirahatkan matanya dengan tidur lebih cepat. (clear and clarify).

#hari1komunikasiproduktif (choose the right time)
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional




September 06, 2018 No komentar
                                 Foto: pixabay

     Adalah rutinitas Iyen duduk di balai atau bermain ayunan dibawah pohon kersen setelah pulang sekolah. Gadis cilik yang duduk di kelas TK B itu selalu berwajah ceria. Energinya seperti iklan batu baterai yang sudah tidak tayang lagi di tv-tv. Rambut kuncir kudanya tidak pernah diam, selalu saja bergoyang mengikuti gerak tubuhnya.

          Teman sebaya Iyen yang menjadi tetangganya dan juga satu sekolah, selalu bermain bersama. Namun hari ini, teman-teman Iyen tidak datang. Padahal hari akan mulai beranjak ke pertengahan. Seharusnya mereka sudah memetik buah kersen beberapa menit yang lalu.

         Tidakkah kau tahu Iyen, kalau teman-temanku sedang terancam? Aku mendengar pembicaraan Yoyon, Sanih, Isah, Dantri, dan Talih ketika kamu sedang mengambil mainan ke dalam rumah kemarin siang. Bahwa hari ini mereka diminta ayah dan ibunya untuk membantu menebang pohon di halaman rumah. Mereka diminta untuk mengumpulkan ranting pepohonan untuk dijadikan bahan bakar.
         Alasan mereka macam-macam tentang pemusnahan teman-temanku itu. Seperti Yoyon, “ayah mau bikinin kamar buat si Mbak yang sebentar lagi nikah.” Atau Sanih, “ibu minta dibagunin warung buat nambah-nambah duit dapur.”  Begitu pula alasan orang tua Isah, Dantri, dan Talih tidak jauh berbeda. Pohonnya udah kegedean lah, capek tiap hari harus menyapu dedaunan yang berjatuhan lah, agar terlihat lebih lega lah. Dan katanya lagi kalau temanku musnah, bekasnya  bisa dijadikan sebagai tempat bermain kalian, anak-anaknya.
           Kemudian kami pun berbincang melalui angin sore. Kami tidak dapat menahan kesedihan hingga akhirnya helaian daun berjatuhan ke tanah. Bukan … , bukan masalah kami yang akan musnah. Tapi bagaimana dengan nasib kalian. Tidakkah para orang tua merasakan bahwa setiap hari mereka mendapati anak-anak mendapat berkecukupan udara bersih yang masuk ke dalam paru-parunya?
           Ah, mengapa kita tidak saling mengerti saja, sih. Kita kan saling membutuhkan. Kita sama-sama hidup. Ya, walaupun tetap saja manusia yang berkuasa. Jangankan kami yang hidup di halaman rumahmu. Teman-teman kami yang hidup di alam liar sana saja tetap ditebang secara membabi buta. Dan alasannya adalah karena kaummu membutuhkan tanah untuk tempat tinggal dimana teman-teman kami berada.
          Iyen duduk bersila di atas balai dengan sebuah buku cerita di atas pangkuannya. Sesekali bola mata hitam berbulu mata lentik dan lebat itu menengok rumah teman-temannya yang tidak begitu jauh.
        Ada keinginan untuk memanggil Talih ketika dilihatnya Talih sedang membawa tali rafia ke halaman rumah. Mulut Iyen yang sudah terbuka dan siap meneriakkan nama Talih tertahan di tenggorokan. Suaranya tidak jadi keluar karena seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri Talih.
         “Jangan!” pelan suara Iyen ketika dilihat pohon kersen di halaman rumah Talih akhirnya jatuh berdebam dan terbaring pasrah di atas tanah. Buku di atas pangkuannya sekarang dipenuhi daun kecil berwarna hijau tua segar dan berwarna coklat. Mereka tidak mampu menahan dirinya lagi pada ranting. Kuncir kuda Iyen bergoyang. Padahal ia hanya duduk bersila di atas balai.
          Ya, angin siang tiba-tiba berteriak dan menjerit mengangkat segala yang ada di sekitarnya. Kepalan tisu bercap bibir merah, bungkus rokok dan puntungnya, gelas plastik bekas berisi teh, jus, dan air mineral, warna-warni kaleng soda, plastik roti rasa kacang, ada juga tusuk lidi bekas cilor.
         Kau lihat Iyen. Lihat di sekelilingmu. Apakah aku dan teman-temanku yang berperan besar atau mereka yang berserakan karena ulah orang-orang dewasa? Mereka selalu mengutamakan kecantikan dan kerapihan diri sendiri tanpa mengikut sertakan kami. Padahal kami bisa menunjang kalian menjadi lebih cantik lagi. Banyak kata seandainya untuk menangkis alasan mereka, Iyen. Tapi kami hanya cuma satu kata seandainya yaitu kesadaran.
**
        Iyen terbaring lemah di tempat tidurnya. Nafas berat diperlihatkan oleh kempis perut ketika ia  mencoba menangkap oksigen. Sayang, Iyen terbatuk ketika oksigen kotor itu mencoba menerobos masuk melalui lubang hidungnya yang berkembang. Terlihat barisan debu halus terbang berbaris rapi membentuk segitiga tidak sama kaki terkena sinar matahari yang menembus kusen jendela.
         Angin belum berhenti juga berteriak dan menjerit semenjak pohon kersen Talih dan teman-temannya, termasuk Iyen dimusnahkan. Pun mereka jarang bermain bersama lagi. Menjelang kemarau, orang tua mereka melarang untuk pergi bermain di luar. Cuaca panas dan berdebu membuat mereka rentan terkena penyakit.
           Pertahanan rumah mereka roboh karena ulah mereka sendiri. Kini tidak ada lagi keceriaan dan tawa Iyen, Yoyon, Sanih, Isah, Dantri serta Talih. Tidak ada lagi ayunan, duduk sila di atas balai dan buku cerita. Tidak ada lagi kersen untuk dipetik lalu dimakan. Tidak ada lagi angin nakal dan bersih menerpa wajah mereka ketika sedang bermain. Dimana napas mereka selalu dikawal dengan oksigen dari hasil dedaunan pohon kersen.
         Kini yang ada hanyalah sebuah rangka kayu yang berdiri doyong. Ayah bilang, “nanti kalau uangnya sudah kumpul. Ayah akan melanjutkan kembali pembangunan warung beras itu.”

#ODOP

Agustus 26, 2018 No komentar

Foto: Pixabay

Mungkin sebagian dari kita sering mendengar ucapan, “kalau gak utang gak punya barang.” Ambil saja cicilan 0%, kan gak kena bunga. Barang dapat tanpa menguras kantong.

Berutang sepertinya sudah menjadi hal biasa di zaman sekarang. Terlebih kartu kredit pun sekarang mudah sekali didapat. Upah tenaga kerja yang lumayan cukup tinggi di beberapa daerah kota. Membuat syarat untuk mendapatkan kartu kredit bukanlah hal yang sulit.

Apalagi banyak toko seperti, elektronik, gawai, atau furniture, tidak membutuhkan kartu kredit lagi untuk mencicil barang. Kita sungguh amat dimanja dengan aneka fasilitas kemudahan ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun pernah berutang. Tapi beliau berutang untuk makanan yang benar-benar sedang dibutuhkan. Bahkan beliau menggadaikan baju besinya karena tidak bisa membayar tunai.

Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu’anhaa, bahwasanya dia berkata:

( أَنَّ النَّبِيَّ –صلى الله عليه وسلم– اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ )

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)

Walaupun utang diperbolehkan, tapi alangkah lebih baiknya bila tidak menjadi kebiasaan. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:

( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ)

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berutang“

Sekarang malah kebalikan, bukan takut berutang alih-alih perbuatan utang menjadi candu. Belum selesai utang yang satu. Sudah ambil lagi utang baru. Alhasil, gali lubang tutup lubang.

Awal mula utang untuk kebutuhan, lama kelamaan berutang untuk hal konsumtif. Besar pasak daripada tiang pun tidak dapat dihindari.

Tahukah bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang tentang soal utang?

( مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ )

“Betapa sering engkau berlindung dari utang?”

Beliau pun menjawab:

( إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ. )

“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)

Orang yang berutang sangat dekat dengan perbuatan dosa ingkar janji dan berdusta. Setiap kali ditagih selalu memberi janji yang pada akhirnya diingkari karena tidak bisa memenuhi janjinya sendiri.

Apakah kita dapat menjamin umur kita akan sampai sebelum utang lunas?
Ingatlah bahwa utang yang tidak terlunasi hingga ajal menjemput maka utang tersebut akan menahan jiwa seseorang untuk masuk surga. Bahkan jika seseorang meninggal dalam keadaan syahid.

Seperti yang dikatakan dalam hadist:

"Rasulullah Muhammad SAW bersabda, 'Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai utangnya itu dilunasi."

Sungguh ancaman yang menakutkan bagi orang-orang beriman. Baiknya hindarilah utang semampu mungkin. Jangan tergoda oleh gaya hidup. Aturlah sebijak mungkin pengeluaran kita. Sisihkan pendapatan di awal bukan sisa. Bila menginginkan sesuatu, menabung lebih baik daripada berutang.

#ODOP
Agustus 19, 2018 No komentar

Komunitas IP Bekasi (Rumbel Boga)

Hai Rabu,
Bangun pagi sudah biasa. Mandi pagi yang tidak biasa. Terlebih berdandan rapi dan sarapan. Semua tidak biasa kulakukan pada pagi hari. Terlebih ini adalah bulan ke sembilan aku menyandang profesi IRT.

Hai Rabu,
Pukul 05.55 aku sudah bertandang ke rumah tetangga. Bukan ,,, , bukan bertamu. Ia adalah salah satu anggota yang akan kuajak serta dalam mengikuti acara komunitas IP Rumbel Boga Bekasi.

Hai Rabu,
Dua ojol membawa kami menuju stasiun kereta api. Tidak terasa rutinitas lima tahun yang lalu kulakukan pagi ini. Tapi bukan berjalan kaki seperti dulu.

Hai Rabu,
Kami tiba di stasiun Bekasi pukul 06.15. Dan sudah duduk manis di CL. Sebelumnya tentu saja hunting kursi kosong yang sulit ditemui ini. Mataku tak lepas menatap tajam pada setiap kursi yang rata-rata hampir penuh. Bagai singa yang akan mengincar rusa..

Hai Rabu,
Pagi ini adalah pagi kedua setelah tiga belas Juli kemarin. Aku mengikuti kegiatan Komunitas IP (Ibu Profesional) Bekasi. Seharusnya ini adalah kegiatan Rumbel Boga. Tapi dikarenakan kekurangan anggota untuk kunjungan ke pabrik Sasa. Maka diambilah anggota yang bukan anggota komunitas IP.

Hai Rabu,
Pukul 06.43 kereta membawa kami yang berjumlah kurang lebih sebelas orang duduk terpisah di dua gerbong. Tentu saja bukan hal yang sulit bila nanti kami harus mencari di stasiun Tanah Abang. Dikarenakan pakaian yang kami pakai berwarna hitam dengan hijab merah muda. Oh ya, kami rata-rata belum saling mengenal lho. Jadi pakaian berwarna seragam akan sangat memudahkan bila kami berada di keramaian, seperti stasiun.

                     Rombongan ketiga sedang menunggu mobil online

Hai Rabu,
Kami tiba di PT. Sasa Inti kurang lebih 08.45. Dan pihak perusahaan telah menyiapkan welcome drink, susu coklat, kopi, dan krim.
Sambil menyeruput minuman hangat. Kami diminta untuk mengisi questionnaire dan data diri.

Pukul 09.00 kami berada di ruangan yang lumayan besar dan luas. Semacam aula. Kursi yang berbaris rapi pun kami duduki.

Ibu Lita sedang memberikan product knowledge
pada peserta cooking class

Sebelum demo masak dimulai. Terlebih dahulu perwakilan dari PT Sasa Inti mempresentasikan product knowledge. Di sesi ini juga kami sebagai peserta bertanya jawab tentang aneka produk sasa. Pengetahuan dan tips penggunaan sasa ini sangat berguna. Ternyata dari emak-emak yang hadir, sebagian besar belum tahu cara pemakaian produk sasa ini.

Empat puluh lima menit sesi perkenalan produk. Dilanjut oleh seorang chef yang mempresentasikan keunggulan Sasa dalam masakan. Tidak hanya teori saja yang diberikan. Chef tersebut juga mempraktekannya di dapur Sasa.

                     cheff Kong sedang memberi demo masak

Pada saat tirai di belakang chef dibuka. Banyak pasang mata emak-emak terpesona dengan penampilan dapurnya. Luas, bersih, lengkap, dan modern.

Terdapat delapan tungku dan dua tungku untuk frying pan. Dari delapan tungku tersebut, empat di antaranya sudah diletakkan sebuah panci. Masing-masing panci berisi dua ekor ayam yang airnya sudah panas dan siap mendidih.

Panci yang berisi ayam tersebut nantinya akan dimasak oleh kami. Yaitu kami yang sebagai peserta cooking class. Kami yang berjumlah dua puluh lima orang akan dibagi menjadi empat kelompok.

Tapi sebelum demo dimulai. Chef Kong, begitu dia dipanggil. Katanya sih dikarenakan tubuhnya yang besar dan gemuk membuat teman kantor memanggil dia Kong. Chef Kong akan memberikan contoh empat menu masakan yang akan dipraktekan oleh kami. Dimulai dari soto banjar, bakso tahu dan baso ayam, ikan bumbu bali, dan bakwan sayur. Semua menggunakan produk Sasa.

                    Hasil olahan demo masak grup kami

Setelah Chef Kong selesai demo dan juga icip-icip. Tibalah giliran kami untuk melakukan hal yang sama. Tidak sulit ternyata untuk membuat keempat resep tersebut. Mungkin karena praktisnya bumbu instan membuat rasa akan dijamin enak. Ikuti saja petunjuknya, dijamin gagal menyingkir.

                      Saya dan rekan satu grup

Setelah demo selesai. Ya, kita makan sendiri. Tidak lupa ciri khas emak-emak. Ada sis, dibungkus deh, dibawa pulang. Heuheu.

#ODOP
Agustus 12, 2018 No komentar
28 Juli 2018

Jarum jam menunjukkan angka delapan. Pakaian baru saja dijemur. Hari ini saya akan menghadiri seminar dari salah satu platform olshop besar yang sering bersliweran di facebook. Dia mendeklarasikan bahwa platformnya sudah memiliki reseller sebanyak 53 ribu. Bukan jumlah yang sedikit, bukan? Dan 98% nya adalah emak-emak.

Acara dimulai pada pukul sembilan. Telepon berbunyi saat saya sedang memakai hijab.

“Gue udah sampe dari jam delapan, nih. Lo udah di mana?”

Kulihat jam dinding berbentuk segilima. Pantas saja teman saya itu menelepon. Sepuluh menit menuju pukul sembilan. Dan saya masih berada di rumah.

“Bentaran, yak. Gue booking ojol dulu. Lo masuk duluan aja.”

Biasanya sih saya tidak begini. Selalu datang sebelum acara dimulai. Tapi karena ini adalah acara kedua dari komunitas yang sama. Maka saya yakin kalau acara akan dimulai setengah sepuluh.

“Mah, udah rame nih. Mamah udah di mana?”

Pesan dari kakak tidak sempat dibalas karena saya sudah duduk manis di ojol.

“Tadi kakak cuma setengah jam, udah sampai, mah.”

Begitu yang saya baca pesan lanjutan dari kakak.

Yah, seminar ini adalah acara komunitas kakak. Dia meminta saya untuk meramaikan acaranya untuk menambah jumlah peserta yang kurang. Saya pun mengajak beberapa orang teman,  walaupun hanya dua orang yang bergabung dari sepuluh yang saya tawari.

Laju motor pelan sekali untuk kecepatan di jalan raya. Perkiraan saya sih, sepertinya tidak lebih dari 40 km/jam. Bahkan lebih seringnya mungkin 20 km/jam. Meski tidak sabar karena sudah telat, saya tidak berani untuk meminta tambah kecepatan. Biarkan saja deh.

Tiba di lokasi menjelang setengah sepuluh.

“Hampir aja gue pulang lagi.”

Salah satu teman yang lain ngedumel karena saya tidak kunjung tiba dari waktu yang ditentukan.

“Kan di dalem udah ada Divi.” Sambil membayar ojol.

Kami pun bertiga akhirnya bertemu di tempat registrasi ulang. Dan ruangan sudah hampir penuh. Kami duduk di barisan kedua dari belakang. Menurut kakak, dari target 300 orang, hanya dihadiri 215 sudah termasuk panitia sebanyak 25 orang.

Benar saja, acara dimulai kurang lebih hampir mendekati pukul sepuluh.

Dua proyektor dan layar terpampang cukup besar yang diletakkan di sebelah kiri dan kanan. Sehingga audience dapat melihat dengan mudah dari berbagai sisi. Kecuali saya dan teman-teman yang duduk di belakang, terhalang kepala-kepala para peserta.

Acara berlangsung lancar dan baik. Seperti halnya berdagang. Maka testimoni pun diperlukan agar bisa banyak menarik pembeli.

Nah, disinilah tujuan utama si platform ini. Untuk meyakinkan para peserta seminar akan usaha yang sudah berjalan tersebut. Maka didatangkanlah dua reseller sebagai nara sumber. Salah satu dari mereka sudah beromset ratusan juta per bulan.

Siapa sih yang tidak tertarik untuk tidak bergabung menjadi salah satu dari 53rb reseller tersebut? Dua orang teman saya yang turut serta dalam seminar itu juga tertarik. Akhirnya mereka malah daftar jadi reseller deh.

Acaranya keren dan ok banget. Sebelum masuk ke acara berbincang-bincang dan tanya jawab oleh dua narasumber yang sudah berhasil tersebut. Ada seorang wanita yang mendekati persalinan dua minggu katanya, menjadi pembicara. Mungkin lebih tepatnya dia menjadi motivator dan inspirator buat kami yang hadir disana.

Bingung kan mengapa wanita hamil begitu istimewa? Yang istimewanya itu, dia penyandang disabilitas, tuna rungu. Salut saya, sampai mata berkaca-kaca saking takjubnya. Ibu yang mendidiknya pasti bangga mempunyai anak seperti dia.

Tahu tidak? Dia berhasil menamatkan jenjang S2 nya selama lima tahun. Keren kan. Hampir tiga kali lebih lama dari yang fisiknya normal, dia baru menyelesaikan studi S2 nya. Dan kerennya lagi. dia mengambil bidang studi komunikasi. Bayangkan, seorang tuna rungu dan bicara adalah penunjang utama dalam ilmu komunikasi. Tapi yang diambil malah jurusan yang mengharuskan dia banyak menggunakan kata-kata. Bayangkan deh teman-teman bagaimana usaha kerasnya akhirnya membuahkan hasil.

Meskipun dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar setelah lulus S2. Tetap ketimpangan dan ketidakadilan selalu diterimanya. Seperti yang dialami sewaktu sekolah dulu. Menurutnya, dia dari mulai SD sampai SMA belajar di sekolah umum bukan khusus untuk anak berkebutuhan khusus.

Ketimpangan yang dia rasakan membuatnya berpikir bagaimana nasib sesamanya yang menyandang disabilitas juga. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengundurkan diri.

Dengan keahlian yang dia miliki. Membuatnya dapat menampung 1500 orang penyandang disabilitas dalam lapangan kerja yang diciptakannya di bidang jasa. Seperti, cleaning service.

Keberhasilannya tersebut membuat dia diundang sebagai pembicara motivator. Bahkan sampai terbang ke Amerika.

Kemauan, usaha, sabar, dan doa selalu membuahkan hasil yang manis. Kalimat ini adalah yang dapat saya simpulkan dari seminar pada hari itu.

Saya? Apakah akhirnya saya tertarik sama seperti kedua teman saya yang mendaftar menjadi reseller platform tersebut di akhir acara?

Ya, saya memang tertarik. Sayang, hanya sebatas kata tertarik. Karena saya sudah membranding diri dengan Yo’Qta (yoghurt) dan menulis. Mereka adalah passion saya. Merekalah yang membuat hidup saya bergairah. Bahkan pada saat mereka mengecewakan, saya tidak pernah meninggalkannya.

Saya hanya kurang keras dan tegas pada diri sendiri. Karena apapun yang dikerjakan kurang maksimal. Kadang suka masih banyak Mr. Alasan kalau sudah menghadapi masalah.

Tapi sekarang sudah mulai agak keras pada diri. Saya sudah mulai mengubah kandang waktu. Dan sudah mulai terlihat hasilnya. Semoga perubahan yang sedikit ini dapat menyingkirkan Mr. A. Aamiiin.

#ODOP

Juli 29, 2018 No komentar
Sumber foto: pixabay

Sebagai emak-emak memang harus cerdas, cerdik, gesit, baik itu dalam bergerak artian bekerja atau pun dalam artian berpikir cepat. Emak-emak itu harus kreatif dan inovatif. Harus berpikir maju demi menjaga anggota keluarga tetap sehat, ceria, baik itu jasmani maupun rohani.

Terlebih tiang rumah tangga adalah ibu. Bahkan iblis pun mengincar emak-emak untuk meruntuhkan rumah tangganya. Para emak bakal dihilangkan kesabarannya dalam mengurus anak-anaknya.

Belum lagi urusan keuangan. Zaman now, dimana harga-harga melambung tinggi. Emak harus bisa menjadi menteri keuangan yang tangguh. Amanat yang didapat dari suami tercinta harus dipergunakan agar bisa sampai di penghujung angka kalender di tiap bulannya.

Berbagai macam cara dilakukan agar tidak ada kebocoran dana. Pengetatan ikat pinggang emak dilakukan sedemikian rupa. Pemangkasan pun dilakukan di sana-sini. Biasa beli buku demi menunjang kegiatan menulis. Akhirnya sekarang beli buku second atau e-book (pemberian teman komunitas😋). Keluar rumah kalau memang diperlukan. Seperti, keperluan bisnis (ketemu pembeli, prospek, atau menambah ilmu), menengok yang sakit, silaturahim karena sudah lama tidak bertemu, ini masih ok lah yah. Pengeluaran kalau keluar rumah itu biaya lumayan lho. Emak kan perlu memakai bedak, lipstik biar pantas dilihat kalau keluar rumah. Diperlukan ongkos untuk transportasi juga,  belum lagi makan dan minum.

Kembali lagi pada pembahasan bahwa para emaklah yang akan memastikan semua anggota keluarga ceria, bahagia,  sehat jasmani dan rohani.

Ceria, Bahagia dengan tersenyum
Iringi kepergian suami ke tempat bekerja dan anak-anak ke sekolah dengan memberikan senyuman kinclong yang emak punya. Senyuman emak itu sama cerahnya dengan sinar matahari pagi. Jangan biarkan mereka melihat wajah lelah emak yang sudah kasak kusuk dari sebelum subuh. Hati yang ceria dengan senyum mengembang di bibir emak, dapat membuat suami melangkah ringan dan penuh semangat meninggalkan rumah. Mencari nafkah pun akan berkah karena keikhlasan dan doa dari emak. Begitu juga dengan anak-anak. Dia akan semangat mencari ilmu di sekolah. Hati akan tenang dan tentram karena dilepas dengan wajah ceria emak.

Sehat jasmani
Jasmani/raga/tubuh yang sehat akan menunjang seluruh kegiatan suami dan anak pada hari itu. Untuk mendapatkan raga yang sehat dan kuat tentunya membutuhkan asupan makanan. Dan asupan makanan itu harus sehat dan bergizi. Soal makanan ini bukanlah hal yang mudah lho. Terlebih dengan harga sembako yang meroket. Emak harus pintar, cerdas, kreatif, dan inovatif. Berpikir bagaimana caranya mengolah bahan masakan sederhana, murah, meriah, mewah, dan lezat.

Seperti saya yang membuat menu asam manis dari tempe bukan memakai daging ayam. Atau memvariasikan jenis tumisan dengan sayuran yang bergantian. Biasanya menggunakan tiga sampai empat jenis sayuran dalam satu masakkan. Maka demi menghemat dana belanja, dipakailah dua jenis sayuran saja. Tidak lupa bakso dan potongan tahu putih sebagai pelengkap. Tumis memang masakan mudah dan cepat dengan menggunakan sedikit minyak.

Tidak ada sekolah yang terdapat mata pelajaran atau mata kuliah menjadi seorang ibu. Saya pun dulu tidak mengerti apa yang harus dilakukan ketika menjadi seorang emak-emak dengan dua anak. Melihat cara ibu merawat cucunya, mengingat kembali masa kecil, melihat tetangga yang mengasuh anaknya, acara tv ibu dan anak, juga tabloid yang membahas tentang membesarkan buah hati. Dari hal-hal tersebutlah saya belajar mengasah naluri alamiah sebagai seorang emak.

Ketika suami dan anak sukses dalam bidangnya. Hal itu akan menjadi kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan materi. Terbayar sudah lelah yang telah dilakukannya.

Selamanya pekerjaan seorang emak akan mendatangkan amal tanpa kenal putus.

#ODOPsesi2










Juli 22, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose