facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi


Hhm, baru beberapa kali ngobrol via messsenger. Ceritanya saya dimentorin gitu. Lumayan nyambung sih kita ngobrolnya.

Waktu ngobrol di tahap kedua pertama kali. Kita saling memahami satu sama lain terlebih dahulu. Saling tukar informasi. Saling mengenal  apa yang saya mau sebagai mentee dan pasangan sebagai mentor.

Saya sebagai mentee menceritakan apa yang akan dicapai selama enam minggu kedepan. Dan mentor pun menampung apa yang mentee sampaikan, untuk dibuat perencanaannya.

Dari beberapa kali obrolan kita minggu ini. Mentor pun memberikan informasi media online untuk kita pelajari bersama. Sayang, ternyata web nya sudah tidak aktif. Gagal deh untuk belajar bareng dari web tersebut.

Esok lusanya, mentor memberikan informasi dua web sebagai penhganti. Dan saya pun diminta memilih di antara dua web tersebut. Maksudnya untuk menyamakan visi dan misi yang saya mau.

Eladalah ternyata salah satu web yang mentor maksud adalah sama dengan yang saya punya. Beliau salah tulis satu kata didepannya. Heuheu jadi bodor kita berdua.

Tips artikel jebol media kuncinya untuk saat ini adalah menulis terus tanpa henti. Kalau belum jebol media, coba terus. Jangan putus asa.

Mari kita latihan menulis di tahap berikutnya.

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#kelaskupu-kupu
#buncekbatch1
#institutibuprofesional
Mei 15, 2020 No komentar
Alhamdulillah, sampai juga di tahap terakhir sebelum menjadi kupu-kupu cantik. Meski tertatih-tatih melawan diri. Nggak sangka hampir tiba di garis finish meski masih delapan minggu lagi. Semangat!

Kata orang tahap akhir itu ujiannya makin berat. Itu memang benar adanya. Sempat berpikir untuk menyerah, udahan, atau mundur aja sekalian. Kayaknya tantangan akhir ini berat banget. Secara aku mah orangnya minderan dan agak-agak introvert gitu.

Tahu nggak tugas akhir ini apa. Jadi mentor bo'.  Hadeh, da aku mah apa atuh. Sampai sekarang aja masih cari guru atau mentor buat belajar menulis. Ini diminta jadi mentor.

Keahlian aku mah nanggung-nanggung semuanya. Jahit, nanggung. Menulis, nanggung juga, cfafter juga nanggung. Masak? Pas-pasan pun bisanya. Itu juga cuma buat konsumsi rumahan. Kalau orang diminta coba. Tutup muka aja dah. Manajemen waktu? Masih acak adul alias sesuai mood.  Manajemen emosi? Setali dua uang dengan manajemen waktu. Argh, mamah akutu pusing dan hampir desperado.

Alhamdulillah, pinangan menjadi mentee diterima. Seenggaknya mengurangi pikiran karena belum dapat mentee. Tapi boleh senang nggak, sih? Ternyata yang belum dapat mentee banyak heuheu.

Mentorku ini adalah pilihan dari beberapa mentor yang ada dengan tema tentang kepenulisan. Nggak tahu kenapa aku tertarik dengan Mbak Adita. Eladalah, pas chat lewat messenger, nggak tahunya kita udah berteman. Nggak tahunya juga kita ada didalam wadah grup kepenulisan yang sama. Ini sih namanya satu pedepokan.

Tapi Mbak Adita adalah seorang yang konsisten dalam bidangnya. Itu terbukti Mbak Adita masih ada didalam grup wa kepenulisan tersebut. Sedangkan aku mah udah diremove sejak lama heuheu. Jadi wajar dong kalau aku mau berguru dan belajar bersama Mbak Adita. Siapa tahu ketularan konsisten. Kalau menulis mah, kunci suksesnya kan kudu bin wajib menulis terus tiada henti.

Duh, nggak sangka aja kalau ternyata kita udah berteman. Semoga nggak cuma lancar diawal aja. Tapi sampai selesai dan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu dewasa dan cantik.

Semangat buat kita semua terkhusus diriku!

*Gunakan Hastag*

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelaskupu-kupu
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Mei 08, 2020 No komentar



Mbak Tetik namanya. My buddy yang berasal dari IP Jombang. Ketertarikan pada dunia sastra anak lah yang membuatnya berada di kelas sastra. Dari kelas yang sama ini pula, kami saling mengenal.  Hal membahagiakan bila bertemu teman dengan passion yang sama. Seakan bekal yang diberikan adalah untuk diri sendiri juga.

Untuk langkah awal menulis sastra anak, tentu kita harus mengetahui definisinya itu sendiri. Apa sih karakter sastra anak itu sebenarnya. Hal ini perlu dicari tahu agar langkah awal menghasilkan akhir yang benar alias tidak melenceng dari definisi.

Lalu ditujukan kepada siapa sasaran pembaca kita? Apakah batita, balita, paud, TK, atau SD? Karena sasaran baca akan menentukan gaya menulis kita. Entah itu jumlah kalimat atau pun jumlah halaman buku. Namanya juga untuk anak. Pasti cerita yang akan disuguhkan juga harus mengandung pendidikan  karakter dan pengembangan diri. Anak akan mudah terpengaruh dari apa yang dibacanya. Itulah mengapa menulis cerita anak, susah-susah gampang.


Membaca dulu baru menulis. Apa yang akan ditulis bila kita tidak membaca. Jadi, membaca buku sastra anak sangat diwajibkan. Berikut adalah referensi  20 buku cerita anak terbaik yang harus dibaca sebelum usia 12-
tahun.  Nah, sebagai awal perkenalan menulis, bolehlah kita review buku-buku tersebut dengan gaya sastra. Bisa juga kita ATM (Amati Tiru Modifikasi) salah satu adegan cerita dalam buku itu menjadi pic book. Jadi deh buku untuk anak usia paud atau balita. #gampangnyangomong heuheu

Tidak lupa untuk menjadi pengikut IG milik pemerintah. Seperti @litara.foundation, @balaibahasajabar,  @badanbahasakemendikbud. Mereka kan fokus sasaran bacanya untuk usia anak SD gitu. Disana banyak info menarik seputar kepenulisan, seperti kata baku KBBI baru, peluncuran buku baru, lomba menulis, atau tips menulis cerita anak.

Sekedar informasi kalau DKJ Sastra Anak baru diadakan tahun 2019 lalu. Biasanya kan DKJ untuk novel dewasa. Nah, hasil penjurian dari ratusan naskah yang masuk. Tidak ada yang memenuhi untuk menjadi juara satu, lho. Miris kan? Sebegitu miskinnya kita akan koleksi sastra anak di negara republik tercinta ini. Huhu, hayuk atuh kita mulai ikutan menulis di ajang lomba DKJ tahun ini. (sambil mikir tema dan kesanggupan diri untuk menulis).

Atau mau ikut Nubar yang diadakan oleh Kompas? Belum pernah coba pun. Pernah lihat hasil karya yang lolos. Keren-keren euy. Penasaran juga sih pingin coba. Ayo Mbak Tetik kita harus semangat!

Pernah baca status seorang penulis novel yang beberapa bukunya sudah diangkat ke layar lebar. Beliau bilang, penulis pun harus jadi pebisnis yaitu harus bisa mempromosikan karyanya. Nggak bisa kita serta merta hanya mengandalkan toko buku. Itulah makanya kita perlu branding diri kalau kita adalah seorang penulis. Rajin bersosial media dengan membuat status yang bermanfaat. Agar ketika kita menerbitkan buku, para pembaca yang nota bene adalah calon pembeli sudah mengenal kita. Sehingga mereka akan membeli karya kita tanpa pikir panjang. Interaksi di sosmed ternyata penting, kan? (terus terang, bagian ini saya belum sampe #tutupmuka).

Bila ada tambahan, masukkan, atau koreksi barangkali. Silakan tinggalkan komen ya teman-teman, khususnya Mbak Teti.

Salam Literasi!

#janganlupabahagia
#jurnalminggu8
#materi8
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekiip
#InstitutIbuProfesional





Maret 10, 2020 1 komentar

Sampai juga di minggu ke-6. Beri tepuk tangan dan angkat topi buat diri sendiri. Salut heuheu. Jarang-jarang soalnya konsisten 😬

Minggu ke-6 adalah saatnya berbagi kepada teman. Yaitu berbagi makanan kesukaan mereka. Alhasil, dari mulai dibagi tugas sampai kemarin, saya berselancar di internet. Mencari hadiah untuk teman-teman baru yang istimewa.

Untuk teman pertama yang berdomisili di Arab Saudi, yaitu Mbak Vifta. Saya memberikan hadiah sebuah tulisan karya sendiri tentang Keluarga Finansial yang merupakan kelas favorit beliau.  Sekalian minta pendapat Mbak Vifta tentang gaya saya mengatur Finansial keluarga. Barangkali aja ada masukkan untuk perbaikan.

Ini adalah hasil tulisan saya yang dipersembahkan untuk Mbak Vifta seorang 😊


Finansial Rumah Tangga "Ala-Ala"
Oleh: Desi Noviany


Sekadar berbagj apa yang sudah dilakukan oleh saya dalam mengatur keuangan rumah tangga 😉


Layaknya rumah tangga yang lain. Saya pun mempunyai gaya sendiri dalam mengatur keuangan. 
Gaya mengatur keuangan ala-ala waktu masih bekerja seperti ini:


1. Perusahaan tempat saya bekerja mempunyai kerjasama dengan bank tertentu untuk membayar gaji pegawainya. Mau tidak mau kita harus membuka rekening di bank yang telah ditunjuk perusahaan. Rekening awal milik saya ini tidak ditutup tapi tetap digunakan.


2. Demi menjaga stabilitas arus keluar masuk kas rekening. Dibuatlah rekening di bank lain. Jadi, setiap terima transferan di awal bulan. Lima puluh persen dari pendapatan dipindahkan ke rekening bank awal yang saya miliki.  Sedangkan sisa 50% nya, digunakan untuk biaya hidup. Seperti, kebutuhan dapur, bayar sekolah, listrik, telepon, BPJS, dan senang-senang untuk diri sendiri (jalan bareng teman).


3. Saya pun membuka rekening untuk anak saya. Dulu waktu mempunyai anak dua. Saya buka dua rekening tabungan atas nama mereka. Dikarenakan sekarang hanya ada kakak. Maka rekening adiknya ditutup. 
Perlakuan yang sama seperti no. 2. Setiap awal bulan setelah menerima transferan dari perusahaan. Saya pun mengisi tabungan anak-anak. Biaya pendidikan yang semakin besar di setiap tahunnya. Membuat saya mewajibkan diri menyisihkan dana sedari dini. Biar apa coba? Biar kakak bisa sekolah tinggi 😊 
Eh iya, dana pembagian pengisian rekening ini diambil dari 50% pertama tadi, ya. 


4. Alhamdulillah setiap tahun perusahaan selalu memberi bonus. Stt, ini suami nggak dikasih tahu, lho 😜 Ya, kalau dapat bonus, dia cuma ngerasain traktiran istrinya makan enak. Untung nggak ditanya kenapa ditraktir. Secara traktirnya dibeliin trus dibungkus dan makannya di rumah 😅
Nah, dana bonus ini, selain masuk ke tabungan sendiri dan anak. Dibelikan jugalah LM atau emas perhiasan. Judulnya, harus menabung sebanyak mungkin. 


5. Satu-satunya pendapatan yang dibelanjakan terlebih dahulu alias sisa, ya, uang THR. Setelah dipotong pengeluaran kebutuhan hari raya seperti untuk orang tua, mertua, anak, suami, dan diri sendiri. Barulah sisanya ditabung. 


6. Terus kabar uang suami kemana? 
Dia mah urusannya cicilan rumah, gaji Mbak, dan memenuhi kebutuhan sendiri. Jadi THR suami buat kebutuhan suami sendiri. Biar dia juga bisa punya tabungan dan bisa traktir orang tuanya. 


7. Terus kalau mau piknik alias tamasya pakai uang siapa dong? 
Heuheu ini nih yang seru kalau mau jalan yang agak jauhan dari kota sendiri. Suka berdebat mana yang akan ditanggung oleh kita masing-masing selama piknik. Misal nih, saya bagian urusan makan dan oleh-oleh. Suami bagiannya transportasi dan menginap. Tapi yang jelas, porsi suami biasanya lebih besar 😬 


8. Saya pun hobi banget selap-selip uang. Uang pecahan lima ribu, sepuluh ribu, atau terkadang lima puluh ribu rupiah, saya selipin di bawah baju atau dalam saku baju yang tergantung di dalam lemari. Ceritanya nanti mereka jadi uang kaget gitu. Kalau lagi kepepet ada kebutuhan, kan lumayan buat tambah-tambah 😋


9. Saya juga suka ngumpulin koin. Seperti koin pecahan seribu-an. Celengan koin ini berupa toples bekas selai. Biar kelihatan cepat penuh ceritanya heuheu. Entahlah uang koin ini untuk apa. Sampai sekarang masih terpajang manis di atas lemari kamar. Toplesnya lama penuh, dikarenakan susahnya ngedapetin uang koin seribu-an itu. 


10. Ketinggalan satu, nih. Di laci meja kantor, saya juga punya kaleng bekas kue yang diisi khusus pecahan lima puluh dan seratus ribu rupiah. Sehabis tarik uang dari atm seminggu sekali. Saya menyisihkan untuk mengisi kaleng bekas kue itu.
Eh, apa nih yang seminggu sekali tarik uang via atm? 
Begini, kebutuhan bulanan yang sudah dijelaskan di no. 2. Saya tuh ambil uangnya seminggu sekali. Lebih nyaman dan terkontrol dibanding saya mengambil dana untuk satu bulan penuh sekaligus. (lain hal kalau sudah tidak bekerja) 


Hmm, sepertinya mengatur keuangan pada zaman saya di ranah publik sudah semua, deh. Ya, kurang lebih seperti itulah gayanya. 


Sekarang, mari membahas gaya mengatur finansial keluarga ala-ala ranah domestik. 


Setelah menyandang profesi Ibu Profesional selama dua tahun. Mengatur keuangan keluarga pun berubah seratus delapan puluh derajat. Secara sumber penghasilan sekarang cuma satu. 


1. Awal berhenti bekerja, mbak yang sudah ikut dengan kami selama sepuluh tahun, akhirnya disudahi. Sungguh itu adalah keputusan terberat. Bahkan sampai sekarang masih suka kangen. Untung Mbak sesekali suka main ke rumah. 


2. Sebelum berhenti, tabungan hasil dan bonus kerja digunakan untuk melunasi sisa tanggungan rumah. Alhamdulillah, akhirnya bisa bebas lepas dari riba. 


3. Sebelumnya memiliki beberapa buku tabungan. Sekarang hanya satu saja yang dimiliki. Kan, kakak sudah besar. Jadi, dia sudah bisa punya tabungan atas nama sendiri. Tabungan kakak biasanya hasil dari THR alias amplop lebaran dari saudara-saudara saya dan suami 😬. Sesekali kakak diberi uang lebih di akhir bulan, supaya bisa mengisi tabungannya. Maklum, anak gadis biasanya punya banyak kebutuhan mendadak, kan. 


4. Satu rekening yang dimiliki itu digunakan untuk pembelian token listrik, BPJS, telpon, belanja bulanan (sabun-sabunan dan cs nya), biaya kos dan semesteran kakak. Sisanya tetap dalam rekening sebagai tabungan. Dilarang berat untuk diotak-atik, kecuali diisi 😅


5. Pengeluaran rumah tangga makin diperketat tapi sewajarnya, kok. Makan masih tetap yang bergizi dan sehat heuheu. Kadang kalau nggak masak, masih jajan bakso atau beli masakan padang. Masih hitungan bergizi juga, kan? 😅
Sistem amplop adalah yang paling saya suka. Amplop ini adalah cara saya untuk mengatur keuangan yang dikeluarkan secara cash. Seperti, belanja ke tukang sayur, beli air galon dan gas, kebutuhan kakak kuliah (transport dan jajan), arisan RT, dan jajan untuk diri sendiri seminggu sekali. 


6. Mencari sumber penghasilan yang lain. Saat ini saya sedang menekuni menulis. Belum menghasilkan banyak, sih. Tapi, sesekali untuk jajan sendiri bisa lah, ya. Kan memang rencananya, menulis itu untuk self healing dan bermanfaat buat orang lain. Kalau menghasilkan, ya, Alhamdulillah banget 😊


7. Tetap nyelengin dong, meski nggak punya penghasilan tetap. Isinya, sisa uang belanja atau terkadang suami suka memberi uang ekstra. 


8. Ini nih bagian yang paling seru. Suami sampai bilang antara pintar dan licik 😂. Jadi, dia kan suka beli jajanan di minimarket gitu. Nah, saya suka nyolong-nyolong nebeng belanja kebutuhan bulanan. Ya, kayak pasta gigi. Lain waktu, sabun mandi. Atau sabun cuci, gula pasir, pembersih muka. Judulnya setiap dia ke minimarket, saya ikutan ambil satu item yang memang sudah habis stoknya di rumah. Nominalnya kalau bisa jangan lebih dari tiga puluh ribu, biar dia nggak terlalu berasa bayar 😅. Lumayan kan ngirit belanja bulanan. 


9. Piknik? Alhamdulillah. Meski penghasilan cuma satu sumber. Piknik tetap ada, yang penting kan kebersaman. Ya, piknik tipis-tipis gitu. Soalnya kan nggak ada pembagian jatah pengeluaran. Semua dari suami. 


10. Bantu doa dan kasih support buat suami dalam bekerja. Mood yang baik buat suami bahagia. Bahagia membuat suami semangat bekerja. Semangat bekerja membuat hasil kerjaan suami disenangi bos. Bos senang kan bisa naik gaji dan dapat bonus gede 😊. Aamiiin. 


Ah, semoga praktik keluarga finansial ala-ala saya, berkenan untuk dibaca. Saya pun menerima dengan senang hati bilamana Mbak Vifta bersedia memberi tanggapan atau masukkan untuk menambah wawasan saya dalam mempraktikan mengatur finansial keluarga ini. 


Terima kasih banyak atas waktu luangnya Mbak Vifta. 


Salam bahagia, sehat, dan damai selalu. 
Desi
***

Dan, saya pun mendapat kiriman hadiah makanan lagi dari Mbak Vifta 😍 Yaitu tentang Manajemen Waktu ala Rasulullah SAW. Nampol banget pas ditonton. Kudu langsung dicopy paste ini mah. Ya, belum bisa semuanya, sih. Paling nggak 1-2 pola keseharian Rasul SAW dapat dikuti gitu.

Manajemen Waktu Ala Nabi Muhammad


Bismillah,
Produktivitas waktu Nabi Muhammad SAW untuk hidup berkah dunia dan akhirat.
Sering kita mendengar, seiring sejahtera suatu bangsa, maka akan semakin Panjang umur masyarakatnya. Namun tidak demikian menurut Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW.
”Umur umatku antara 60-70th dan sedikit yang melewati itu”.  Kualitas hidup meningkat karena lebih sehat, mungkin saja, namun, sebagai umat Islam, kita meyakini Sabda Nabi Muhammad SAW ini, karena maut bukan hanya milik orang sakit atau tua.
Apabila usia pensiun di Indonesia adalah 55th, maka hanya tinggal kurang lebih 5th lagi waktunya yang tersisa. Maka, jika kita tidak belajar agama islam sedini mungkin, maka kapankah waktu yang paling tepat? Akan sangat merugi hidupnya.
Imam Hasan Al- Basri mengatakan “Kalian hanyalah susunan hari-hari, apabila berlalu waktumu, maka berlalu juga dirimu.”Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah, memaksimalkan waktunya dengan sangat baik setiap harinya. Dengan waktu hanya 63 th, memiliki tugas yang mencakup seluruh bumi, menghapus kejahiliyahan di muka bumi ini. Subhanallah, dengan panduan hidup Al-qurán, usia yang diberikan dalam jangka waktu 23 th usia kenabian beliau, satu Jazirah Arab telah memeluk islam.
55th adalah usia Nabi Muhammad ketika pertama kali mendapatkan perintah perang, yaitu perang badar. Sejak itu, sampai usia 61th, rata-rata, setiap 4 bulan Nabi Muhammad berperang. Masya Allah. Terkadang jarak menuju peperangan itu dekat, namun tidak jarang jaraknya sangat jauh. Terkadang cuaca sejuk, namun seringkali cuaca sangat buruk, panas terik ataupun dingin yang menusuk tulang.
Sebagai pemimpin terbaik, melahirkan pemimpin-pemimpin hebat, yang menutup peradaban Romawi dan Persia, manajemen waktu macam apa yang beliau miliki? Kapan beliau tidur?
Sila dilihat di sini 😊


Ada lagi nih kiriman dari teman kedua di Banten, tepatnya IP Regional Banten. Mbak Ririn mengirim tentang motivasi penulis dari Asma Nadia. Katanya biar saya semangat dan konsisten menulis. 

Eeh, setelah ditonton, ternyata memang saya merasa ditampar. Ini mah gue banget. Cita-cita jadi penulis tapi NATO (No Action Talk Only). Alasannya tidak terbatas 😞




Sebagai tanda terima kasih pada Mbak Ririn. Saya pun mengirim tentang Sastra Anak yang menjadi kelas favorit Mbak Ririn. Dari saling kirim hadiah makanan ini. Kami saling bercakap ria via wa. Seru ketemu temen yang punya passion sama. Saling bertukar informasi dan bercerita tentang perjalanan kita masing-masing dalam proses pembelajaran penulisan cernak. Kita pun saling berharap dan mengkhayal kalau kita bertemu. Huhu pasti seru banget ceritanya. 

Nggak sampai disini. Saya juga mendapat kiriman dari seorang teman di IP Regional Surabaya, Mbak Ajeng. Terharu saya tuh pas buka link youtube nya. Sebuah talk show dari dua penyair sekaligus sastrawan besar Indonesia yang di moderatori oleh Nazwa Shihab. 









Menjadi manusia ini adalah link instagram yang isinya puisi sastra. Pas dlihat-lihat, saya tuh jadi baper. Mau ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), ah.

Sebagai tanda terima kasih. Saya pun mengirim hadiah makanan lagi yang sesuai dengan kelas favoritnya, yaitu kelas Desain. 

Mbak Ajeng itu kepingin bisa buat cover buku sendiri dan ingin bisa membuat animasi.  Saya juga tertarik dengan kelas ini. Secara kalau menulis pastinya butuh covernya, kan? Kalau buat sendiri pasti seru, tuh.

Pokoknya mah, saya berterima kasih untuk tugas minggu ke-6 ini. Saya bisa belajar makanan kesukaan teman dan mendapat hadiah makanan dari mereka juga. Love love buat semua.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu6
#materi6
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#InstituteIbuProfesional










Februari 25, 2020 No komentar

Minggu ini masih berkelana di hutan pengetahuan. Dan masih menebas ilmu manajemen waktu yang ternyata nggak habis-habis. Padahal sudah dua minggu. Malahan anggota Keluarga Uluwatu (manajemen waktu) bertambah menjadi 500 dari yang asalnya 466. Ternyata eh ternyata, banyak juga yang butuh ilmu ini.

Dikarenakan turunan ilmu manajemen waktu ini lumayan banyak. Akhirnya dibuatlah keluarga kecil manajemen waktu, agar kami para anggota dapat fokus hanya pada salah satunya.  

Maklumlah ya, mamak² kan kerempongannya tidak terbatas. Termasuk mood yang turun naik alias sering berubah. Alhasil, manajemen waktu yang sudah dibuat pun cuma jadi wacana aja.

Nah, ini nih keluarga turunan Manajemen Waktu:

1.Bullet Journal
2.Manajemen konsistensi
3. Manajemen Waktu Dalam Islam 
4. Pomodoro 
5. Managemen Waktu Ibu Ranah Publik 
6. Managemen Waktu Ibu Ranah Domestik 
7. Perencanaan Proyek Keluarga 
8. Fokus dan Prioritas 
9. Kandang Waktu & To Do List
10. Aplikasi Gadget & Heat Map 

Tuh kan, beneran bingung mau masuk ke keluarga kecil yang mana. Rasanya kepingin nyemplung ke semua keluarga kecil yang diatas itu. Apadaya, kemampuan diri yang terbatas akan ilmu yang tidak terbatas ini harus dipaksa memilih. 

Dari ke-10 keluarga tersebut, akhirnya memilih keluarga Manajemen Konsistensi. 

Why memilih keluarga no. 2?

Hmm, kalau menurut aku sih, ya. Menurut pendapat sendiri lho ini, ya. Sebagus apapun rencana atau list yang dibuat, kalau inkonsisten, ya gak kelar juga kerjaannya. Jadi, menurutku kunci dari terealisasinya rencana adalah konsisten dan disiplin. 

Itulah kelemahan aku, sering konsisten dengan tidak kekonsistenan. Alhasil hasil kerjaan yang sudah direncanakan sering molor atau juga delay. 

Ilmu manajemen waktu yang diambil ini sebetulnya kan batu loncatan untuk mencapai  tujuan hidup. Dan meski petunjuk materi minggu ini boleh meninggalkan keluarga asal atau tetap tinggal sambil bergabung dengan keluarga lainnya. Tapi dengan catatan, kita bisa mengikutinya. 

Dengan pertimbangan dan mengukur diri. Akhirnya diputuskanlah untuk bergabung dengan keluarga Sastra Anak tanpa meninggalkan keluarga Uluwatu. Mencoba melangkah mencari ilmu yang memang sesuai dengan tujuan hidup. 

Ah, semoga penyerapan ilmu berjalan lancar. Kalau lancar, berarti nanti bisa nyemplung ke keluarga lain. Ya, nggak?  

#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#InstituteIbuProfesional





Februari 10, 2020 No komentar

Menentukan Keluarga


Nggak terasa sudah masuk meteri ketiga di kelas Buncek ini. Dan ada yang berbeda untuk minggu ketiga di kelas ulat sekarang.

Setelah sebelumnya berjalan dan mengambil apa yang dibutuhkan di Jungle of Knowledge. Sekarang saatnya menentukan apa yang benar-benar memang dibutuhkan. Yaitu menentukan keluarga yang akan mengayomi untuk bisa tumbuh besar sebelum akhirnya nanti lepas dan keluar rumah dengan bekal yang cukup (kupu-kupu).

Bukan hal mudah menentukan sebuah keluarga yang akan didiami. Karena begitu banyak keluarga yang menawarkan berbagai macam ilmu. Godaan begitu amat besar. Terlebih keluarga yang tersedia juga banyak sesuai mind map.

Berikut ini pilihan makanan utama/grup keluarga yang bisa dipilih:

1.  Agama
     Kepala Keluarga : Farahdiba Tangerang Kota
2.  Bahasa
     Kepala Keluarga : Ika Nurmaya Gresik
3.  Bermain Bersama Anak
     Kepala Keluarga : Raisa Dea Sukabumi
4.  Bisnis
     Kepala Keluarga : Ismi Novianti Lamongan
5.  Cooking
     Kepala Keluarga : Riyadlotus sholichah Gresik
6.  Counseling & Couching
     Kepala Keluarga : Titik Maryani Bogor
7.  Desain
     Kepala Keluarga : Kishartati Banten
8.  Driving
     Kepala Keluarga : Ratna Sari Dewi Bandung
9.  Entrepreneurship
     Kepala Keluarga :Dian Vijayanti Sidoarjo
10.Finansial
     Kepala Keluarga : Indah Pratiwi Bontara
11. Fotografi-videografi
      Kepala Keluarga : Rahmah Chemist Surabaya dan Madura
12. Gizi Anak
      Kepala Keluarga : Rani Apriyanti Sukabumi
13. Home Schooling
      Kepala Keluarga : Fitri Meilawati Bandung
14. Ilmu Pengetahuan Umum
      Kepala Keluarga : Eka Rizki Indriyani,
      Tangerang kota
15. Kecantikan
      Kepala Keluarga : Nimas Zahrotul Ayniyah
      Sidoarjo
16. Kerumahtanggaan (Bebenah, food
       preparation, kitchen)
       Kepala Keluarga : Esti Darmawati Gresik
17. Keterampilan
       Kepala Keluarga : Rowfi Fitriana  Sumut
18. Komunikasi
       Kepala Keluarga : Rasmi Widya Rani Bandung
19. Lainnya Kepala Keluarga : Asri Diana Kamilin Qoffal. Surabaya madura
20. Literasi
       Kepala Keluarga : Andriani Lestari Karawang
21. Manajemen
      Kepala Keluarga : Dewi Fitriana Tangerang Kota
22. Manajemen Belajar
      Kepala Keluarga : Husna Amalya Melati Kalimantan Barat
23. Manajemen Emosi
      Kepala Keluarga : Aisyah Fitriana Samkabar
24. Manajemen Gadget
      Kepala Keluarga : Linda Kurniawati Banyumas
25. Manajemen Ruhiyah & Ibadah
      Kepala Keluarga : Renny Oceanita Nasution Balikpapan
26. Manajemen Waktu
      Kepala Keluarga : Nur Laila Samkabar
27. MPASI dan Laktasi
      Kepala Keluarga : Ariyantika Wulandari Semarang
28. Parenting
      Kepala Keluarga : Tamia Dian Ayu Kalimantan Barat
29. Pecinta Alquran/tahsin/tahfidz
      Kepala Keluarga : Siti Rochmatuniyah Pekanbaru
30. Pendidikan (anak, abk, fitrah)
      Kepala Keluarga : Ivorie Rahiema Verandra Asyigah sidoarjo
31. Portofolio Anak
      Kepala Keluarga : Himmatul Mardliyah Sidoarjo
32. Public Speaking
      Kepala Keluarga : Imaniar Prastiwi Jember
33. Sastra
      Kepala Keluarga : Rian Andini Samkabar
34. Seni, olah raga, herbal dan Kesehatan
      Kepala Keluarga : Deasy Irawati Solo
35. Suistainable Living ( Berkebun, pilah sampah, komposting, zero waste)
      Kepala Keluarga : emiria letfiani Sidoarjo
36. Talent Mapping
       Kepala Keluarga : Rima Melanie Puspitasari Banyumas
37. Teknologi
      Kepala Keluarga : Andriyani Bekasi
38. Traveling
      Kepala Keluarga : Khotimatus Sa'diyah Tangerang selatan
39. Tutorial
      Kepala Keluarga : Yuanita Andhina Pacitan
40. Web-blog-SEO
      Kepala Keluarga : uminyaaltair-Palembang

Argh! Asli aku tuh kepingin banget bergabung dengan keluarga yang ada hubungannya dengan menulis. Seperti, Keluarga Literasi, Keluarga Sastra, dan Keluarga Web-SEO. Merekalah sebenarnya tujuan utama dalam mind mapping.

Nggak sampai disitu aja ternyata kegalauanku. Aku pun tertarik dengan Keluarga Bisnis dan Finansial. Asli, aku tuh semakin bingung.

Kupandangi dan kurenungi mind mapping yang telah dibuat. Kucoba untuk bernegosiasi dengan diri agar langkah awal yang diambil tetap sesuai dengan arahan mind map tersebut.

Keluarga Manajemen Waktu


Akhirnya aku bergabung dengan Keluarga Manajemen Waktu. Keluarga yang merupakan sebuah batu loncatan sebelum melangkah ke tujuan berikutnya. 

466 anggota keluarga sudah berkumpul dalam Keluarga Manajemen Waktu ini. Kebayang kan bagaimana ramainya bila separuh dari anggota keluarga ikut ngobrol. Aku mah sementara ini cuma bisa jadi pemantau alias SR (silent reader). Mencoba memahami obrolan mereka. Tapi, aku juga menyimpan beberapa catatan penting dari obrolan mereka itu. Seperti macam metode manajemen waktu yang baru aku tahu. 

Ternyata manajemen waktu itu luas juga. Apalagi teknik podomoro. Eeh, nggak tahunya salah sebut. Lah, yang aku tahu kan, podomoro itu nama real estate. Penulisan yang betul itu adalah pomodoro heuheu.

Ada juga teknik manajemen waktu heatmap dan bullet journal yang belum familiar di telingaku. Tapi tanggal 3-4 Pebruari ini, teknik-teknik tersebut akan dibahas. Ah, senangnya dapaf ilmu baru. 

Semoga keluarga baruku ini nanti dapat membawa langkah kakiku menuju tujuan akhir. Aamiiin. 

#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#InstituteIbuProfesional






Februari 03, 2020 No komentar


Bismillah. 
Ini adalah tugas bahagia bulan ke-2 kelas Buncek (Bunda Cekatan). Itu artinya tabel di atas adalah hasil dari materi pertama setelah tahap telur, yaitu ulat 

Itu tabel bukan sembarang dipejeng. Tapi, itu tabel didapat dari teman-teman sesama ulat. Itu, tuh, kolom yang "aku belajar tentang". 

Jadi ceritanya pada tahap ulat ini, kita berada di dalam hutan pengetahuan. Bahasa kerennya, Jungle of Knowledge. Kayaknya diri ini rela, deh,  kalau tersesat di hutan pengetahuan ini,  heuheu. 

Nah, terus kita diminta saling memberi makan, biar bisa hidup di hutan. Akhirnya, kita bawa makanan alias ilmu pengetahuan. Macam pot luck kalau ibu-ibu ngumpul, jadi bisa saling barter gitu. Seru, kan? 

Nah, ini potluck yang saya bawa sebagai bekal untuk teman-teman sesama ulat di dalam hutan. 



Dari sekian ratus daun di dalam hutan #ceritanya. Didapatlah beberapa daun (ilmu) yang dapat memenuhi kebutuhan saya sebagai ulat. Kebetulan ilmu yang dibutuhkan adalah tentang manajemen waktu. 

Beberapa ilmu yang disebutkan didalam tabel di atas tersebut (kolom aku belajar tentang) memiliki keterkaitan dengan lmu manajemen waktu (kolom aku ingin tahu tentang). 

Ternyata benar apa yang disampaikan ibu Septi, bahwa di dalam satu ilmu yang kita tuju, ilmu itu akan bercabang. Untung sudah buat peta. Kebayang deh kalau nggak punya peta. Bakal mampir ke daun-daun hijau dan segar lainnya. Ntar yang ada bakal lama sampai ke tujuan. Terus, selamanya bakal jadi ulat gitu? Ah, nggak enak banget nggak metamorfosis jadi kupu-kupu cantik. 

Sedangkan untuk kolom "aku tahu tentang" sebetulnya kurang PD, sih. Secara seandainya nanti dapat giliran berbagi ilmu, cuma bisa memberi apa yang sudah dipraktikan selama ini.  Gak ada panduan atau sumber buku. Maklum, sumber ilmu yang didapat adalah contoh dari ibu. Saya memerhatikan dan melihat, serta cerita bagaimana ibu mengatur keuangan rumah tangganya. Alhamdulillah bermanfaat sangat untuk kehidupan rumah tangga saya. 

Semangat belajar!! 

#janganlupabahagia
#jurnalmunggu1
#materi1
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch2
#buncekIIP
#instiuteibuprofesional






Januari 18, 2020 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose