Saling Berbagi "Makanan"

by - Februari 25, 2020


Sampai juga di minggu ke-6. Beri tepuk tangan dan angkat topi buat diri sendiri. Salut heuheu. Jarang-jarang soalnya konsisten 😬

Minggu ke-6 adalah saatnya berbagi kepada teman. Yaitu berbagi makanan kesukaan mereka. Alhasil, dari mulai dibagi tugas sampai kemarin, saya berselancar di internet. Mencari hadiah untuk teman-teman baru yang istimewa.

Untuk teman pertama yang berdomisili di Arab Saudi, yaitu Mbak Vifta. Saya memberikan hadiah sebuah tulisan karya sendiri tentang Keluarga Finansial yang merupakan kelas favorit beliau.  Sekalian minta pendapat Mbak Vifta tentang gaya saya mengatur Finansial keluarga. Barangkali aja ada masukkan untuk perbaikan.

Ini adalah hasil tulisan saya yang dipersembahkan untuk Mbak Vifta seorang 😊


Finansial Rumah Tangga "Ala-Ala"
Oleh: Desi Noviany


Sekadar berbagj apa yang sudah dilakukan oleh saya dalam mengatur keuangan rumah tangga 😉


Layaknya rumah tangga yang lain. Saya pun mempunyai gaya sendiri dalam mengatur keuangan. 
Gaya mengatur keuangan ala-ala waktu masih bekerja seperti ini:


1. Perusahaan tempat saya bekerja mempunyai kerjasama dengan bank tertentu untuk membayar gaji pegawainya. Mau tidak mau kita harus membuka rekening di bank yang telah ditunjuk perusahaan. Rekening awal milik saya ini tidak ditutup tapi tetap digunakan.


2. Demi menjaga stabilitas arus keluar masuk kas rekening. Dibuatlah rekening di bank lain. Jadi, setiap terima transferan di awal bulan. Lima puluh persen dari pendapatan dipindahkan ke rekening bank awal yang saya miliki.  Sedangkan sisa 50% nya, digunakan untuk biaya hidup. Seperti, kebutuhan dapur, bayar sekolah, listrik, telepon, BPJS, dan senang-senang untuk diri sendiri (jalan bareng teman).


3. Saya pun membuka rekening untuk anak saya. Dulu waktu mempunyai anak dua. Saya buka dua rekening tabungan atas nama mereka. Dikarenakan sekarang hanya ada kakak. Maka rekening adiknya ditutup. 
Perlakuan yang sama seperti no. 2. Setiap awal bulan setelah menerima transferan dari perusahaan. Saya pun mengisi tabungan anak-anak. Biaya pendidikan yang semakin besar di setiap tahunnya. Membuat saya mewajibkan diri menyisihkan dana sedari dini. Biar apa coba? Biar kakak bisa sekolah tinggi 😊 
Eh iya, dana pembagian pengisian rekening ini diambil dari 50% pertama tadi, ya. 


4. Alhamdulillah setiap tahun perusahaan selalu memberi bonus. Stt, ini suami nggak dikasih tahu, lho 😜 Ya, kalau dapat bonus, dia cuma ngerasain traktiran istrinya makan enak. Untung nggak ditanya kenapa ditraktir. Secara traktirnya dibeliin trus dibungkus dan makannya di rumah 😅
Nah, dana bonus ini, selain masuk ke tabungan sendiri dan anak. Dibelikan jugalah LM atau emas perhiasan. Judulnya, harus menabung sebanyak mungkin. 


5. Satu-satunya pendapatan yang dibelanjakan terlebih dahulu alias sisa, ya, uang THR. Setelah dipotong pengeluaran kebutuhan hari raya seperti untuk orang tua, mertua, anak, suami, dan diri sendiri. Barulah sisanya ditabung. 


6. Terus kabar uang suami kemana? 
Dia mah urusannya cicilan rumah, gaji Mbak, dan memenuhi kebutuhan sendiri. Jadi THR suami buat kebutuhan suami sendiri. Biar dia juga bisa punya tabungan dan bisa traktir orang tuanya. 


7. Terus kalau mau piknik alias tamasya pakai uang siapa dong? 
Heuheu ini nih yang seru kalau mau jalan yang agak jauhan dari kota sendiri. Suka berdebat mana yang akan ditanggung oleh kita masing-masing selama piknik. Misal nih, saya bagian urusan makan dan oleh-oleh. Suami bagiannya transportasi dan menginap. Tapi yang jelas, porsi suami biasanya lebih besar 😬 


8. Saya pun hobi banget selap-selip uang. Uang pecahan lima ribu, sepuluh ribu, atau terkadang lima puluh ribu rupiah, saya selipin di bawah baju atau dalam saku baju yang tergantung di dalam lemari. Ceritanya nanti mereka jadi uang kaget gitu. Kalau lagi kepepet ada kebutuhan, kan lumayan buat tambah-tambah 😋


9. Saya juga suka ngumpulin koin. Seperti koin pecahan seribu-an. Celengan koin ini berupa toples bekas selai. Biar kelihatan cepat penuh ceritanya heuheu. Entahlah uang koin ini untuk apa. Sampai sekarang masih terpajang manis di atas lemari kamar. Toplesnya lama penuh, dikarenakan susahnya ngedapetin uang koin seribu-an itu. 


10. Ketinggalan satu, nih. Di laci meja kantor, saya juga punya kaleng bekas kue yang diisi khusus pecahan lima puluh dan seratus ribu rupiah. Sehabis tarik uang dari atm seminggu sekali. Saya menyisihkan untuk mengisi kaleng bekas kue itu.
Eh, apa nih yang seminggu sekali tarik uang via atm? 
Begini, kebutuhan bulanan yang sudah dijelaskan di no. 2. Saya tuh ambil uangnya seminggu sekali. Lebih nyaman dan terkontrol dibanding saya mengambil dana untuk satu bulan penuh sekaligus. (lain hal kalau sudah tidak bekerja) 


Hmm, sepertinya mengatur keuangan pada zaman saya di ranah publik sudah semua, deh. Ya, kurang lebih seperti itulah gayanya. 


Sekarang, mari membahas gaya mengatur finansial keluarga ala-ala ranah domestik. 


Setelah menyandang profesi Ibu Profesional selama dua tahun. Mengatur keuangan keluarga pun berubah seratus delapan puluh derajat. Secara sumber penghasilan sekarang cuma satu. 


1. Awal berhenti bekerja, mbak yang sudah ikut dengan kami selama sepuluh tahun, akhirnya disudahi. Sungguh itu adalah keputusan terberat. Bahkan sampai sekarang masih suka kangen. Untung Mbak sesekali suka main ke rumah. 


2. Sebelum berhenti, tabungan hasil dan bonus kerja digunakan untuk melunasi sisa tanggungan rumah. Alhamdulillah, akhirnya bisa bebas lepas dari riba. 


3. Sebelumnya memiliki beberapa buku tabungan. Sekarang hanya satu saja yang dimiliki. Kan, kakak sudah besar. Jadi, dia sudah bisa punya tabungan atas nama sendiri. Tabungan kakak biasanya hasil dari THR alias amplop lebaran dari saudara-saudara saya dan suami 😬. Sesekali kakak diberi uang lebih di akhir bulan, supaya bisa mengisi tabungannya. Maklum, anak gadis biasanya punya banyak kebutuhan mendadak, kan. 


4. Satu rekening yang dimiliki itu digunakan untuk pembelian token listrik, BPJS, telpon, belanja bulanan (sabun-sabunan dan cs nya), biaya kos dan semesteran kakak. Sisanya tetap dalam rekening sebagai tabungan. Dilarang berat untuk diotak-atik, kecuali diisi 😅


5. Pengeluaran rumah tangga makin diperketat tapi sewajarnya, kok. Makan masih tetap yang bergizi dan sehat heuheu. Kadang kalau nggak masak, masih jajan bakso atau beli masakan padang. Masih hitungan bergizi juga, kan? 😅
Sistem amplop adalah yang paling saya suka. Amplop ini adalah cara saya untuk mengatur keuangan yang dikeluarkan secara cash. Seperti, belanja ke tukang sayur, beli air galon dan gas, kebutuhan kakak kuliah (transport dan jajan), arisan RT, dan jajan untuk diri sendiri seminggu sekali. 


6. Mencari sumber penghasilan yang lain. Saat ini saya sedang menekuni menulis. Belum menghasilkan banyak, sih. Tapi, sesekali untuk jajan sendiri bisa lah, ya. Kan memang rencananya, menulis itu untuk self healing dan bermanfaat buat orang lain. Kalau menghasilkan, ya, Alhamdulillah banget 😊


7. Tetap nyelengin dong, meski nggak punya penghasilan tetap. Isinya, sisa uang belanja atau terkadang suami suka memberi uang ekstra. 


8. Ini nih bagian yang paling seru. Suami sampai bilang antara pintar dan licik 😂. Jadi, dia kan suka beli jajanan di minimarket gitu. Nah, saya suka nyolong-nyolong nebeng belanja kebutuhan bulanan. Ya, kayak pasta gigi. Lain waktu, sabun mandi. Atau sabun cuci, gula pasir, pembersih muka. Judulnya setiap dia ke minimarket, saya ikutan ambil satu item yang memang sudah habis stoknya di rumah. Nominalnya kalau bisa jangan lebih dari tiga puluh ribu, biar dia nggak terlalu berasa bayar 😅. Lumayan kan ngirit belanja bulanan. 


9. Piknik? Alhamdulillah. Meski penghasilan cuma satu sumber. Piknik tetap ada, yang penting kan kebersaman. Ya, piknik tipis-tipis gitu. Soalnya kan nggak ada pembagian jatah pengeluaran. Semua dari suami. 


10. Bantu doa dan kasih support buat suami dalam bekerja. Mood yang baik buat suami bahagia. Bahagia membuat suami semangat bekerja. Semangat bekerja membuat hasil kerjaan suami disenangi bos. Bos senang kan bisa naik gaji dan dapat bonus gede 😊. Aamiiin. 


Ah, semoga praktik keluarga finansial ala-ala saya, berkenan untuk dibaca. Saya pun menerima dengan senang hati bilamana Mbak Vifta bersedia memberi tanggapan atau masukkan untuk menambah wawasan saya dalam mempraktikan mengatur finansial keluarga ini. 


Terima kasih banyak atas waktu luangnya Mbak Vifta. 


Salam bahagia, sehat, dan damai selalu. 
Desi
***

Dan, saya pun mendapat kiriman hadiah makanan lagi dari Mbak Vifta 😍 Yaitu tentang Manajemen Waktu ala Rasulullah SAW. Nampol banget pas ditonton. Kudu langsung dicopy paste ini mah. Ya, belum bisa semuanya, sih. Paling nggak 1-2 pola keseharian Rasul SAW dapat dikuti gitu.

Manajemen Waktu Ala Nabi Muhammad


Bismillah,
Produktivitas waktu Nabi Muhammad SAW untuk hidup berkah dunia dan akhirat.
Sering kita mendengar, seiring sejahtera suatu bangsa, maka akan semakin Panjang umur masyarakatnya. Namun tidak demikian menurut Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW.
”Umur umatku antara 60-70th dan sedikit yang melewati itu”.  Kualitas hidup meningkat karena lebih sehat, mungkin saja, namun, sebagai umat Islam, kita meyakini Sabda Nabi Muhammad SAW ini, karena maut bukan hanya milik orang sakit atau tua.
Apabila usia pensiun di Indonesia adalah 55th, maka hanya tinggal kurang lebih 5th lagi waktunya yang tersisa. Maka, jika kita tidak belajar agama islam sedini mungkin, maka kapankah waktu yang paling tepat? Akan sangat merugi hidupnya.
Imam Hasan Al- Basri mengatakan “Kalian hanyalah susunan hari-hari, apabila berlalu waktumu, maka berlalu juga dirimu.”Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah, memaksimalkan waktunya dengan sangat baik setiap harinya. Dengan waktu hanya 63 th, memiliki tugas yang mencakup seluruh bumi, menghapus kejahiliyahan di muka bumi ini. Subhanallah, dengan panduan hidup Al-qurán, usia yang diberikan dalam jangka waktu 23 th usia kenabian beliau, satu Jazirah Arab telah memeluk islam.
55th adalah usia Nabi Muhammad ketika pertama kali mendapatkan perintah perang, yaitu perang badar. Sejak itu, sampai usia 61th, rata-rata, setiap 4 bulan Nabi Muhammad berperang. Masya Allah. Terkadang jarak menuju peperangan itu dekat, namun tidak jarang jaraknya sangat jauh. Terkadang cuaca sejuk, namun seringkali cuaca sangat buruk, panas terik ataupun dingin yang menusuk tulang.
Sebagai pemimpin terbaik, melahirkan pemimpin-pemimpin hebat, yang menutup peradaban Romawi dan Persia, manajemen waktu macam apa yang beliau miliki? Kapan beliau tidur?
Sila dilihat di sini 😊


Ada lagi nih kiriman dari teman kedua di Banten, tepatnya IP Regional Banten. Mbak Ririn mengirim tentang motivasi penulis dari Asma Nadia. Katanya biar saya semangat dan konsisten menulis. 

Eeh, setelah ditonton, ternyata memang saya merasa ditampar. Ini mah gue banget. Cita-cita jadi penulis tapi NATO (No Action Talk Only). Alasannya tidak terbatas 😞




Sebagai tanda terima kasih pada Mbak Ririn. Saya pun mengirim tentang Sastra Anak yang menjadi kelas favorit Mbak Ririn. Dari saling kirim hadiah makanan ini. Kami saling bercakap ria via wa. Seru ketemu temen yang punya passion sama. Saling bertukar informasi dan bercerita tentang perjalanan kita masing-masing dalam proses pembelajaran penulisan cernak. Kita pun saling berharap dan mengkhayal kalau kita bertemu. Huhu pasti seru banget ceritanya. 

Nggak sampai disini. Saya juga mendapat kiriman dari seorang teman di IP Regional Surabaya, Mbak Ajeng. Terharu saya tuh pas buka link youtube nya. Sebuah talk show dari dua penyair sekaligus sastrawan besar Indonesia yang di moderatori oleh Nazwa Shihab. 









Menjadi manusia ini adalah link instagram yang isinya puisi sastra. Pas dlihat-lihat, saya tuh jadi baper. Mau ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), ah.

Sebagai tanda terima kasih. Saya pun mengirim hadiah makanan lagi yang sesuai dengan kelas favoritnya, yaitu kelas Desain. 

Mbak Ajeng itu kepingin bisa buat cover buku sendiri dan ingin bisa membuat animasi.  Saya juga tertarik dengan kelas ini. Secara kalau menulis pastinya butuh covernya, kan? Kalau buat sendiri pasti seru, tuh.

Pokoknya mah, saya berterima kasih untuk tugas minggu ke-6 ini. Saya bisa belajar makanan kesukaan teman dan mendapat hadiah makanan dari mereka juga. Love love buat semua.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu6
#materi6
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#InstituteIbuProfesional










You May Also Like

0 komentar