facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

Bahasan hari ini, masih tentang lebaran. Terakhir saya menceritakan tentang pembagian THR (Tunjangan Hari Raya) pada saat masih anak-anak.

Penasaran juga dengan asal usul THR ini. Dari kapan sih THR ini mulai ada?

Setelah pencarian di google, didapatlah informasi bahwa THR dipelopori pertama kali pada era Soekiman Wirjosandjojo  tahun 1951. Saya tidak dapat menemukan kapan THR bagi anak-anak dimulai pertama kali. Mungkin bersamaan dengan diberlakukannya oleh pemerintah. Atau teman-teman memiliki informasi detailnya? Bolehlah di sharing, ya.

Kenangan masa kecil yang sangat berkesan, tidak akan terlupakan. Terlebih pengalaman tersebut akan ditularkan atau diturunkan kepada anak.

Ketika kakak (anak) masih kecil. Dia akan mendapatkan banyak THR dari nenek, kakek, tante, om, dan saudara-saudara lainnya. Lumayan besar nominalnya. Bila zaman saya dua ribu rupiah. Zaman kakak bisa 50-100 ribu rupiah. Tapi …, itu jadi seperti macam pemberian saling silang gitu.

Saling silang? Iyah, maksudnya kami saling memberi. Saling menghargai. Saling menghormati. Tidak ada untung rugi di sini, yang ada hanyalah saling berbagi kasih di hari yang penuh suka cita tersebut.
Saya pun memberikan THR kepada anak-anak sepupu alias keponakkan. Jadi kami saling memberi. Kantong emaknya kosong tapi kantong anaknya penuh. :)

Agar uang THR tidak menguap dan hilang tanpa bekas. Maka saya pun mengajak kakak untuk membuka tabungan di bank.

Tabungan dari THR inilah yang menjadi cikal bakal gemar menabung. Setiap bulan akan diberikan kepada kakak uang untuk disetor ke bank. Kebetulan bank tidak jauh dari rumah. Karena belum cukup umur. Maka buku tabungan di atas namakan berdua. Yaitu saya sebagai ibu dan kakak sebagai anak.

Hal tersebut berlanjut hingga THR pada tahun-tahun berikutnya.

Seiring bertambah usia kakak. Diberikanlah pengertian tentang arti THR. Kalau tidak salah waktu itu dia sudah duduk di bangku SMA. Biasanya THR kan diperuntukkan bagi anak-anak kecil. Jadi nanti pas lebaran berikutnya kalau kakak tidak mendapatkan THR lagi, Itu berarti kakak memang bukan anak kecil.


Ternyata dugaan saya salah. Sampai kakak menginjak semester lima alias sudah menyandang status mahasiswi. Dia tetap mendapatkan THR dari tante, uwa, nenek, dan kakeknya. Akhirnya disimpulkanlah bahwa THR tetap didapatkan sampai si anak mempunyai penghasilan sendiri.



Kalau dulu pada saat dia kecil uang hasil THR ditabung atas nama berdua. Sekarang berbeda. Uang hasil THR nya dibelikan beju lebaran, sepatu, jajan, dan ditabung. Emaknya ngirit lagi deh :)


"Nanti kalau kakak udah punya duit sendiri. Kakak beliin Mamah sama Papah baju lebaran, yah," ucap kakak pada saat kami mengantarkan dia membeli baju di sebuah mall. Dan pada saat kami juga membelikan hadiah lebaran berupa baju koko untuk orang tua dan mertua. Biar dia tahu, kami juga berbagi kebahagiaan kepada orang tua. Kelak bila dia sudah memiliki penghasilan sendiri, Dia akan melakukan hal yang sama. Bahkan kakak dilibatkan pula dalam memilih model dan warna untuk kakek-kakeknya.


Segala bentuk kegiatan atau pengalaman diberikan penjelasan agar terserap ke dalam memori kakak. Selanjutnya dia pun akan melakukan hal yang sama. Yatu tradisi berbagi THR. Selalu ada sisi positif bila kita menghadapi dan menjalaninya dengan bijak.



#ODOP















Juni 24, 2018 No komentar

Potho: koleksi pribadi

Lebaran adalah hari yang paling dinanti setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan lamanya. Berbagai macam persiapan dilakukan untuk menyambut hari nan Fitri. Mulai dari membeli pakaian, ketupat, opor ayam, sayur godog, sambal goreng hati, aneka kue kaleng, sampai mengecat tembok rumah atau pagar.

Dulu waktu saya masih kecil, kira-kira tahun 80-an. Ketahuan jadulnya :) Pengalaman menyambut lebaran masih terasa membekas sampai sekarang.

Lupa berapa minggu sebelum puasa. Mamah dan papap akan mengecat pagar atau tembok bagian luar. Saya pun diperbolehkan berpartisipasi. Senang sekali bermain cat, layaknya seperti melukis di kanvas super besar. Papap mengajari cara mencampur cat dengan air juga menakar kekentalan cat. Perlakuan tembok sebelum dicat dan cara mengecatnya.

Photo: Bersama Mamah (koleksi pribadi)

Kira-kira dua minggu menjelang lebaran. Mamah akan mengajak kami, anak-anaknya ke pasar. Pada tahun 80-an ini belum ada yang namanya dept. Store seperti sekarang. Dulu yang ada hanyalah pasar. Pasar yang bernama Proyek dan pasar Baru.

Pasar Proyek adalah pasar kering. Kering di sini maksudnya adalah pasar yang hanya menjual aneka sandang, perabot rumah tangga, dan buku. Sedangkan pasar Baru didominasi oleh penjual pangan. Sedangkan untuk toko pakaian tidak terlalu banyak pilihan. Dan mamah lebih suka membeli pakaian di Proyek, nama pendek yang biasa warga Bekasi pakai.

Mamah biasanya akan mengajak kami, anak-anaknya satu-persatu secara bergantian ke proyek untuk membeli pakaian. Satu orang anak yang dibawa akan lebih mudah mengontrolnya dibanding membawa tiga sekaligus. Kamu tahu kan pasar seperti apa? Mamah pasti akan terkonsentrasi melihat anak-anaknya daripada melihat pakaian yang akan dibeli. Terlebih kami masih kecil-kecil.

Masing-masing dari kami akan mendapatkan tiga stel pakaian. Sungguh hari yang sangat membahagiakan. Bagaimana tidak bahagia coba. Kami mendapat pakaian baru setahun sekali. Dan itu berlanjut hingga saya duduk di bangku SMA. Mungkin keadaan ekonomi yang membuat mamah berbuat seperti itu. Tapi, kami tidak keberatan, kok

Satu hari menjelang lebaran. Mamah dan papap sibuk mengisi ketupat sehabis sholat subuh. Dan aku suka membantunya. Tangan yang dicelupkan ke dalam baskom berisi rendaman beras, kemudian mengisi kulit ketupat. Saya pun mendapatkan ilmu lagi selain mengecat. Mengisi kulit ketupat tidak boleh asal. Terlalu banyak akan keras, terlalu sedikit akan lembek. Ada takarannya di setiap besar kecilnya kulit ketupat.

Menjelang magrib ketupat matang. Mamah bilang dibutuhkan delapan jam untuk memasak ketupat hingga matang. Sedangkan masakan lain seperti sayur kentang, sambal goreng hati, dan ayam goreng sudah matang terlebih dahulu.

Ketika gema takbir mulai berkumandang selepas magrib. Mamah akan mengajakku ke Proyek untuk membeli bunga hidup. Mamah suka menempatkan bunga hidup yang ditaruh di dalam vas di beberapa sudut rumah. Sedap malam, anyelir, dan beberapa tangkai bunga warna warni entah namanya bunga apa, saya lupa.

Indah dipandang mata dan tentunya harum semerbak. Mamah pintar merangkai bunga hingga menjadi rangkaian yang cantik. Lagi-lagi ilmu yang kudapat yaitu ilmu merangkai bunga. Tidak sembarang memotong tangkai bunga lho. Ada tips tertentu agar bunga tetap tahan lama hidup di dalam vas.

Hari lebaran pun tiba. Setelah melaksanakan sholat Ied dan tiba di rumah. Kami akan bersalaman dengan mencium tangan mamah dan papap. Dan, papap akan memberi THR. Ini adalah moment yang sangat dinanti dan akan menjadi tradisi turun menurun pada saya dan anak saya kelak.

Bersambung

#ODOP


Juni 20, 2018 No komentar
Bersama teman komplek

Minggu ini adalah minggu ketiga di Bulan Ramadan. Minggu ini pun sudah ketiga kalinya acara berbuka puasa bersama di lingkungan komplek rumah.

Tradisi buka puasa ini sudah berlangsung kurang lebih tiga atau empat kali Ramadan. Tidak lama dari berdirinya mushola As Salam. Karena perumahan Cluster Citra Residence yang letaknya di Kp.Cerewed, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur ini,baru berusia tujuh tahun. Dan baru ramai penghuni di tahun ketiga.

Jumlah rumah yang tidak lebih dari seratus lima dan dihuni kira-kira 95 kepala keluarga. Membuat warga sepakat untuk dijadikan satu RT. Padahal maksimal pembentukan RT adalah lima puluh kepala keluarga. Yah, menurut mereka agar tidak ada kecemburuan sosial.

Setelah dikurangi non muslim, maka sisa jumlah warga yang menjalankan ibadah puasa itu dibagi menjadi empat kelompok. Empat kelompok ini akan mendapat giliran satu kali pada hari Sabtu selama Bulan Ramadan.

Mengapa dibagi menjadi kelompok dalam giliran membawa penganan buka puasa? Dan kelompok di sini dibuat bukan berdasarkan baris rumah. Sebagaimana diketahui bahwa tata letak rumah tinggal pada sebuah komplek. Biasanya berbentuk sebuah barisan memanjang yang saling berhadapan. Biarpun posisi rumah saling berhadapan atau bersebelahan. Kesibukkan masing-masing warga menyebabkan mereka jarang bertegur sapa.

Sekadar informasi. Warga komplek Cluster Citra Residence ini sebagian besar dihuni oleh pasangan muda. Dimana para istri bekerja di ranah publik. Sehingga menyebabkan pada hari libur pun, mereka jarang bersosialisasi dengan para tetangga. Mereka akan keluar rumah untuk mengajak anak-anak berekreasi atau sekadar jalan-jalan ke mall.

Nah, untuk saling mengenal sesama tetangga. Dibuatlah kelompok yang berisi warga komplek secara acak. Jadi tidak berdasarkan posisi rumah. Akan tetapi saling silang antar blok. Sehingga mau tidak mau, mereka akan berkoordinasi antar sesama warga untuk pembagian jenis penganan yang akan disuguhkan atau dibawa.

Inilah yang akan membuat mereka saling mengakrabkan diri. Sistem potluck yang digunakan, mau tidak mau membuat mereka harus saling berkomunikasi. Oh iya, sistem potluck adalah dimana warga akan membawa makanan masing-masing yang kemudian akan dimakan secara bersama-sama.

Nah, agar penganan yang dibawa oleh mereka banyak macamnya dan untuk menghindari makanan yang sejenis. Maka di dalam grup wa sekumpulan emak-emak komplek. Dibuatlah daftar nama peserta dan jenis penganan yang akan dibawa.

Misalnya seperti dua minggu yang lalu atau minggu pertama berbuka puasa. Di dalam kelompok ada yang berinisiatif untuk membawa bakso. Bila ditanggung sendiri tentu akan terasa berat. Porsi yang dibutuhkan lebih dari lima puluh. Sehingga anggota kelompok sebanyak lima orang akan patungan untuk membeli bakso. Buka puasa enak, biaya yang dikeluarkan tidak banyak.

Begitu satu jam sebelum berbuka. Anggota dalam kelompok akan menyiapkan penganan pada mobil pick up yang sudah dialasi dengan taplak plastik. Mereka akan bekerja sama dalam menyajikan dan menata makanan.

Hal yang paling membahagiakan, bukan? Usaha panitia dalam hal ini DKM (Dewan Keamanan masjid) berhasil. Akhirnya warga saling berinteraksi, berkoordinasi, dan melakukan aksi bersama untuk acara berbuka puasa bersama.

Berharap bila bulan Ramadan berlalu. Mereka tetap akan melanjutkan keakraban. Saling mengenal dan peduli satu sama lain. Saudara terdekat adalah tetangga. Tetanggalah yang dimintai pertolongan pertama kali sebelum keluarga datang membantu.

Bulan penuh keberkahan dan kemuliaan. Bulan keakraban sesama warga. Semoga pertemuan ini akan berlanjut pada Ramadan tahun berikutnya. Aamiiin.

#ODOP



Juni 03, 2018 No komentar

Ramadan adalah bulan istimewa di antara sebelas bulan lainnya. Bahkan berkah ramadan banyak dirasa oleh semua kalangan agama. Lihat saja pedagang dadakan yang menata mejanya di depan rumah atau di pinggir jalan. Aneka macam kudapan tersedia menggugah selera. Semua ingin mendapatkan berkah dari orang-orang yang berpuasa.

Mereka menyadari bahwa banyak masyarakat yang ingin mengistimewakan momen berbuka puasa dengan hidangan yang tidak mereka dapat di bulan biasa. Sebut saja salah satunya adalah kolak.

Yah, meskipun kolak bisa dibuat dan didapat bukan pada bulan Ramadan saja. Tapi tetap kolak selalu identik dengan hidangan buka puasa. Aneka kolak pun sekarang banyak jenisnya, sebut saja kolak pisang, kolang kaling, tapai, labuh, pacar cina, biji salak, ubi, atau kalian punya jenis kolak lainnya?

Mulai kapan sih, kolak menjadi salah satu primadona hidangan berbuka puasa? Memang kolak berasal dari mana?

Menurut beberapa artikel, penamaan kolak itu ada filosofinya, lho. Karena ternyata kolak itu ada hubungannya dengan penyebaran agama islam pada zaman dulu. Bukan hanya melalui gamelan atau wayang saja yang kita tahu dalam penyebaran agama islam ini. Nama kolak berasal dari kata khalik yang artinya Tuhan pencipta alam semesta atau Allah swt.

Kolak adalah hasil rembukan para ulama di Jawa untuk memasyarakatkan agama islam. Dengan cara sederhana ini, diharapkan masyarakat dapat mengenal dan memahami agama islam.

Dan memang benar, pendekatan melalui makanan yang merupakan kegiatan sehari-hari ini, sangat mengena di kehidupan masyarakat. Sehingga mereka dengan mudah menerima suatu ajaran. Dalam hal ini adalah agama islam.

Para ulama pun menamai kolak yang sarat akan makna, sehingga masyarakat akan dengan mudah mengerti tentang ajaran islam yang diberikan.

Seperti isian bahan kolak pisang, yang pada umumnya menggunakan jenis pisang kepok. Kepok disini mempunyai maksud dan arti kapok. Kapok dengan perbuatan dosa dan jera untuk tidak melakukannya lagi. Dengan kesalahannya tersebut, masyarakat harus segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah swt.

Ada juga isian kolak berbahan dasar ubi atau telo pendem. Ubi yang tumbuh di dalam tanah diartikan bahwa masyarakat harus mengubur kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Mereka harus kembali kepada jalan yang diridhoi Allah swt.

Kudapan kolak ini awalnya disajikan pada bulan Syaban, satu bulan menjelang Ramadan. Masyarakat diajak untuk menyambut bulan penuh berkah dengan mendekatkan diri kepada Allah swt. Tapi ternyata kudapan kolak tersebut berlanjut hingga pada bulan Ramadan. Kolak akhirnya menjadi tradisi sebagai hidangan buka puasa.

Rasanya yang manis dari gula aren ditambah dengan santan, membuat kudapan kolak ini menjadi favorit masyarakat untuk berbuka. Terlebih mengkonsumsi kolak akan membuat tubuh  terisi dengan energi setelah berpuasa satu hari penuh.

Kepopuleran kudapan manis tradisi jawa ini akhirnya merambat hingga ke daerah lainnya. Seperti Padang yang terkenal dengan bubur kampiunnya yang mirip dengan kolak. Dengan berbahan dasar bubur sumsum, santan dan gula merah dijadikan sebagai pemanis atau kuahnya.

Bahkan kudapan kolak ini sampai ke Asia Tenggara. Tentunya disesuaikan dengan tradisi mereka.

Bahkan kolak sekarang sudah mengalami kreasi dan inovasi sesuai selera masing-masing tempat dan individu.
Tapi tetap tadisi jawa ini mengingatkan akan asal muasal kolak yang tidak lepas dari keberadaan Allah swt.

Jadi, favorit kolak berbuka puasamu apa?

#ODOP99days
Mei 27, 2018 No komentar

Judul : Of Bees and Mist
Penulis : Erick Setiawan
Penerbit : Gagas Media
Jml hal : 570hlm

Kisah klise tentang menantu vs mertua. Tapi disuguhkan dengan menarik. Dari segi bahasa, diksi, detail deskripsi baik itu tokoh maupun suasana yang digambarkan begitu nyata. Membawa jantung pembaca berdegup kencang, hati menjadi cemas dan khawatir bila terjadi konflik antar tokoh didalam cerita.

Diawali dengan perkenalan Meridia, seorang gadis yang begitu tertutup dan tidak mempunyai banyak teman, dengan Daniel, seorang laki-laki tampan yang begitu ceria.

Meridia hidup dengan seorang ibu yang tidak banyak bicara tapi sangat sayang padanya. Ibu yang banyak menghabiskan waktunya hanya di dapur dengan membuat banyak makanan untuk ayahnya.

Sedang Ayah Meridia menjadi tanda tanya besar. Apakah dia mencintai Meridia? Karena dia memperlakukan Meridia bukan seperti anaknya. Kekakuan, penghormatan, ketakutan, keseganan. Menjelang akhir cerita barulah diketahui tentang perasaan sang ayah pada putri semata wayangnya itu.

Tidak perlu waktu lama bagi Meridia untuk memutuskan menikah dengan Daniel. Terlebih alasan Meridia menikah di usia enam belas tahun dikarenakan ingin lepas pergi dari sisi ayahnya.

Adalah ibu Daniel menambah kekuatan untuk segera menikah. Dia begitu baik dan ramah, meskipun Meridia tidak tahu alasan apa yang menyebabkan dia dan Malin begitu buruk memperlakukan adiknya, Permony.

Menjadi bagian dari keluarga Daniel sungguh membahagiakan Meridia. Ibu mertuanya banyak memberikan tugas yang belum pernah dia rasakan ketika menjadi di rumah orang tuanya.

Tugas-tugas seperti: memasak, menjahit, berbelanja, berkebun lama kelamaan menjadi kewajiban. Tindakan ibu mertua pada Meridia layaknya seperti pada Patina. Seorang pembantu tua yang nanti di tengah cerita akan membuat pembaca terkejut.

Konflik menajam ketika Eva, ibu Daniel ikut turut campur pada rumah tangga mereka. Hingga Meridia memutuskan kembali ke rumah orang tuanya.

Tapi konflik pertama ini dapat diselesaikan dengan sebuah perjanjian antara orang tua Daniel dan Meridia. Hingga pasangan pengantin yang baru tiga bulan ini dapat bersatu kembali.

Konflik demi konflik mulai muncul ketika Meridia dan Daniel sudah tinggal terpisah dari ibu mertuanya,Eva.

Eva tetap mengendalikan rumah tangga pasangan muda ini. Keahlian Eva dalam memengaruhi anaknya dengan lebah, membuat rumah tangga Meridia dan Daniel terguncang kembali. Padahal saat itu Meridia sedang hamil.

Meridia yang mulai bisa memahami para lebah yang sering menyerang suami dan dirinya, mulai mengatur strategi melawan Eva. Meridia muda ternyata cerdas dan cerdik. Beberapa kali situasi dapat dikendalikan. Meskipun begitu kekuatan Eva sang ibu mertua sulit dilawan. Bahkan ayah Daniel tidak kuasa melawan kehendak istrinya tersebut.

Toko perhiasan dan rumah dengan modal pinjaman dari orang tua Daniel tidak menjadi besar. Eva selalu meminta Daniel memberikan lebih keuntungan, bahkan pernah Meridia menjual perhiasan mas kawinnya untuk memenuhi permintaannya. Sedangkan pasokan batu mulia dari toko ayahnya Daniel, Elias hanya diberikan barang berkualitas rendah. Bagaimana pasangan tersebut bisa melunasi pinjamannya pada mereka?

Meridia yang pandai dalam hal pembukuan dan mengatur keuangan keluarga, pandai juga dalam berbisnis. Dengan modal dua batang emas pemberian ibunya, Ravenna. Walaupun pada akhir cerita ternyata emas dan amplop berisi uang yang diselipkan di depan pintu setelah kunjungan Ravenna ke rumahnya ternyata bukanlah pemberian ibunya. Menggadaikan batang emas tersebut pada pemasok batu mulia. Tentu hal ini tanpa sepengetahuan Eva.

Perkembangan dan kemajuan bisnis inilah yang pada akhirnya membuat pasangan muda tersebut dapat mempunyai rumah dan toko perhiasan sendiri.

Sayang, perkiraan Meridia salah. Sang ibu mertua masih saja mengganggu kehidupan keluarga kecilnya. Dengan alasan menengok cucu, Eva tetap membuat provokasi pada Daniel untuk membenci Meridia.
Rahasia mengapa ayah dan ibu Meridia begitu dingin dan tak saling bicara. Elias suami Eva yang terus dihantui rasa bersalah karena melukai cucunya, anak dari Meridia dan Daniel hingga akhirnya dia meninggal. Pemanfaatan Eva pada Malin untuk membenci adiknya, pernikahan Permony yang direncanakan Eva, yang pada akhirnya membuat Permony meninggal ketika melahirkan.
Begitu banyak konflik pada semua tokohnya.

Kekuasaan seorang ibu yang ingin tetap menguasai suami dan anak-anaknya. Mengatur hidup dan memutuskan apa yang baik bagi mereka.

Apakah anak-anaknya akan mengerti sikap ibunya? Bukankah manusia punya batas kesabaran? Akhir cerita yang tragis dan membahagiakan bagi sang ibu, Meridia, dan Daniel akan didapat setelah kamu baca sendiri kisahnya.

#ODOP


















Mei 20, 2018 No komentar

Kakak mengeluhkan giginya yang sakit. Dia bilang gigi paling belakang seperti mau tumbuh tapi sakit banget. Makan pun terganggu karena setiap gerakan mengunyah akan mengundang rasa linu.

Saya menganggap hal biasa. Itu kan gigi bungsu yang memang sudah sewajarnya tumbuh. Lupa sih bagaimana gigi bungsu saya tumbuh dulu. Jadi kalau agak sakit, itu memang sudah bawaan alaminya. Toh, anak bayi mau tumbuh gigi saja suhu tubuhnya juga terkadang naik dan dibarengi dengan rewel.

Ternyata sangkaan saya salah. Laporan hasil dari pemeriksaan dokter gigi. Rahang kakak tidak cukup ruang untuk gigi bungsu yang akan tumbuh. Rahangnya terlalu kecil, sehingga membuat kedua gigi bungsu tersebut tumbuh miring dan menabrak gigi di depannya.

Usia 17-25 tahun memang tumbuhnya gigi terakhir dari orang dewasa. Jumlah gigi orang dewasa pada umumnya adalah 32. Tapi bagi yang mempunyai rahang kecil seperti kakak, maka jumlah maksimal gigi yang dimiliki adalah 28.

Rontgen pun dilakukan untuk melihat lebih jelas dan memastikan tindakan yang akan diambil lebih lanjut. Dan saran dokter gigi setelah memperlihatkan hasil rontgen bahwa kedua gigi bungsu kakak harus dicabut.

Dengan menggunakan BPJS, dokter di klinik memberikan surat rujukan ke rumah sakit. Dari rumah sakit, dokter memberikan rujukan ke Lakesgilut (Lembaga Kesehatan Gigi dan Mulut) milik AU (Angkatan Udara).

Yah, hanya Lakesgilut milik AU yang bersedia melayani kasus bedah mulut. Wajar bila masa tunggunya hingga mencapai enam bulan. Karena BPJS hanya mengcover Rp 850.000,- dari total biaya 1,8-2,5 juta rupiah per satu buah gigi.

Dikarenakan hasilnya tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Tiga bulan penantian untuk mencabut gigi di RSUD Bekasi. Dan penantian di Lakesgilut hingga Oktober. Maka kami memutuskan untuk keluar dari jalur BPJS.

Gigi bungsu sebelah kanan kakak tidak bisa menunggu hingga Oktober. Dikarenakan giginya sudah memperlihatkan mahkotanya. Bisa-bisa gigi di depannya terancam tertabrak dan akhirnya akan menimbulkan masalah baru.

Akhirnya dikeluarkanlah biaya sebesar dua setengah juta rupiah. Kami tidak mau menanggung resiko menunggu sampai Oktober. Nah, kalau untuk gigi bungsu sebelah kiri, sepertinya dapat menunggu hingga Juli di RSUD Kota Bekasi.

Tidak semua RS menerima kasus ini meskipun menggunakan BPJS atau KS (Kartu Sehat). Mungkin karena bukan termasuk kategori penyakit. Maka banyak RS tidak bersedia menanggung biaya tindakan bedah mulut untuk kasus ini.

Semoga kakak lekas pulih dengan kondisi yang menyedihkan ini. Tidak enak makan, minum, tidur, pipi bengkak.

Mamah sayang kakak.

#ODOP
Mei 13, 2018 No komentar

Judul buku: Dilan 1990
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Jml hal: 332 hal

Demam Dilan dan Milea belum lama berakhir. Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang penasaran akan filmnya.

Maklum saya kan produk tahun 1990. Pernah kuliah di Bandung juga sekitar tahun 1992 - 1996. Yah, jadi sedikit banyak masih tergambar jelas apa yang Pidi Baiq sang penulis Dilan 1990 tuangkan ke dalam novelnya.

Apalagi saya tinggal di Jalan Patuha, tidak jauh dari wilayah Buah Batu. Makin jelaslah apa yang sudah Dilan jelaskan ke Milea, pada saat mereka berdua berboncengan naik motor, menyusuri jalan Bandung.

Pada awal-awal bab, penyuguhan cerita biasa saja, alias tidak ada yang istimewa. Cuma gombalannya Dilan tidak seperti anak remaja kebanyakkan.

Usut punya usut, di pertengahan bab lah kita akan mengetahui mengapa rayuan dan gombalan Dilan begitu elegan dan bermakna. Tidak perlu kata-kata romantis,tidak perlu suasana mendayu dan mengharu biru. Di angkot, menyusuri jalan sekolah pun lontaran kata-kata Dilan mampu meluluhkan hati Milea yang sudah memiliki pacar di Jakarta.

Konflik yang disuguhkan bukanlah konflik Dilan sendiri. Tapi lebih karena Dilan si Panglima Tempur geng motor mempunyai anggota yang nakal dan susah diatur.
Akibatnya terjadilah penyerangan oleh geng motor lain ke sekolah untuk mencari anak buah Dilan tersebut.

Meski hubungan Dilan dan Milea lebih dari sekadar teman. Tanpa peresmian tentu hal ini membuat Milea gusar. Benarkah dia pacar Dilan? Seperti yang dia dengar dari mulut ibu Dilan sendiri.

Di sinilah istimewanya seorang Dilan yang berbeda dari remaja kebanyakkan. Buku Kahlil Gibran yang dibacanya, membuat dia dapat meluluhkan hati Milea. Rayuan bukan gombal.

Bahkan di pertengahan bab sampai akhir. Penulis menyuguhkan kalimat sederhana namun sarat makna. Begitu mumpuninya dia, menulis dari sudut orang pertama perempuan. Padahal kan Pidi Baiq laki-laki. Tidak menggunakan banyak tempat sebagai setting ceritanya. Paling banyak lokasi cerita cuma sekolah dan rumah.

Selesai membaca buku ini, saya mesem-mesem sendiri. Mungkin karena saya pernah hidup di jaman itu. Dan saya pernah mengalami salah satu adegan di dalam film tersebut. Stt, rahasia.

Kalau kamu menonton film Dilan, tentu kamu juga bakal punya adegan favorit yang pernah dialami pada jaman tersebut.



Mei 06, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose