facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi


Foto: stand by di lobi hotel Elaf Mashaer

Saya sudah terbiasa gerak cepat. Apapun dilakukan sebisa mungkin dengan perhitungan. Waktu bagi saya sangat berharga. Meski terkadang orang melihat saya santai. Ya, memang itu adalah saatnya santai.

Contohnya adalah, ketika jadwal sudah tertata dengan baik. Tapi bila melenceng sedikit, maka jadwal yang sudah tertata akan berimbas acak-acakan.

Selesai melaksanakan salat subuh berjamaan di Masjidil Haram. Saya memberi kabar pada kakak yang berada di kamar hotel.

Percakapan via whatsapp:

S: Mamah udah kelar salat, nih. Sekarang lagi jalan pulang ke hotel

K: Iya, Mah

S: Mamah sama papah langsung sarapan, ya. Nanti kakak nyusul.

K: Iya, Mah

S: Jangan telat. Kita pukul tujuh harus udah kumpul di lobi.

K: Iya, Mah

Hari itu, kami para jamaah akan mengunjungi beberapa museum di Makkah. Jadwalnya hanya setengah hari. Sisa setengah harinya merupakan jadwal bebas. Agar kami para jamaah fokus beribadah di Masjidil Haram.

Sesampainya di restoran, yang terlihat hanya suami.

S: Kakak belum sampai, Pah?

P: Tadi sih bilangnya mau mandi

Saya melihat jam di gawai menunjukkan hampir pukul setengah tujuh. Memang waktu salat subuhnya pukul 05.06. Memang masih ada waktu. Memang terkadang tidak semua jamaah dapat tepat waktu dengan waktu yang sudah ditentukan. Tapi saya tidak mau membuat orang menunggu. Biarlah orang yang telat, yang penting saya menepati jadwal.

Dua puluh menit menuju pukul tujuh, kakak datang. Dan saya meninggalkan kakak dengan maksud sebagai pelajaran karena ketidak disiplinannya.

S: Mamah nunggu di lobi ya, Kak

K: Iya, Mah

Tidak perlu mengeluarkan kalimat panjang, pidato, atau ceramah. Bersikap biasa saja, kakak sudah mengerti maksud dari saya meninggalkan kakak.

Hari berikutnya, kejadian pagi menjadi indah. Kami turun bersama-sama. Dan kumpul di lobi tepat waktu. Tetep untuk in time masih nggak bisa. Heuheu.

#HariKe3
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam




November 07, 2018 No komentar

Judul Buku : Melati dalam Kegelapan
Penulis : Sidik Nugroho
Penerbit : Gramedia
Jumlah hal : 199 hal

Buku ini sebenernya bacaan kakak. Kebetulan butuh refresh sebelum kembali ke bacaan non fiksi yang agak sedikit membutuhkan konsentrasi #gaya

Buku ini bergenre horor misteri dengan setting tempat di Pontianak. Melati pada judul buku ternyata adalah sebuah nama perempuan. Dia terbunuh di ruko yang tidak jauh dari komplek perumahan Tony. Melati dibunuh dalam keadaan hamil. Sang kekasihnya lah yang membunuh Melati. Usut punya cerita, Melati menuntut sang kekasih untuk bertanggung jawab karena dia hamil. Sedangkan sang kekasih tahu bahwa Melati adalah seorang ayam kampus. Hal ini membuat kekasihnya ragu dan memungkiri kalau dia bukanlah bapak dari anak yang dikandung Melati.

Melati pun mati penasaran. Rohnya sering menampakkan diri di pohon rambutan yang tumbuh di belakang rumah Tony. Saking seringnya dia muncul. Membuat Tony ingin menyelidiki latar belakang kehidupan Melati sebelum dia tewas dibunuh. Setidaknya itulah perkiraan Tony mengapa Melati sering datang mengunjunginya.

Di lain sisi, Tony juga seorang pemimpin cabang sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pakan ternak. Dengan segala keterbatasan karena perusahaan yang berskala kecil. Tony tidak menyangka bila ada yang menaruh dendam dengan gaya memimpinnya itu. Nyawa Tony terancam bahaya.

Sekarang Tony mempunyai dua misteri yang harus diungkap. Latar belakang Melati yang tewas dan juga mencari tahu mengapa ada seseorang yang sangat ingin membunuhnya.

Dua kasus berbeda yang sampai pada akhir cerita tetap membingungkan saya. Dua ending yang berbeda untuk Melati dan si pengancam Tony.

#oneweekonebook
#cloverlinecreative





Oktober 13, 2018 No komentar
Membiayai pendidikan adalah salah satu kewajiban orang tua. Orang tua hanya mampu membekali anaknya dengan ilmu. Agar kelak dengan ilmunya tersebut, ia bisa hidup mandiri.

Begitu pula perlakuanku pada kakak. Membiayai kuliahnya hingga ia mendapat gelar S1.

Seperti pada tulisan sebelumnya dimana aku pernah berkata bahwa pada semester enam tahun depan. Kakak sudah harus menentukan jurusan yang lebih spesifik. Antara akuntansi pajak dan publik. Setelah beberapa minggu kakak merenung dan menimbang-nimbang. Plihan kakak pun jatuh untuk mengambil akuntansi pajak.

Jam kuliah mata pelajaran pajak memang tidak banyak. Satu minggu paling hanya dua jam-an gitu. Belum lagi dosen yang terkadang berhalangan hadir. Ditambah tiga bulan liburan tahun ajaran baru. Makin sedikitlah waktu untuk mempelajari pajak tersebut.

Kakak pun memutuskan untuk mengambil kursus pajak untuk lebih memantapkan ilmu tersebut.

Jelas mau tidak mau aku harus menyiapkan dana di luar biaya kuliah reguler. Sampai pada suatu hari di sebuah percakapan antara aku dan kakak.

“Mah, kakak kan lagi nyelengin buat biaya kursus pajak. Mudah-mudahan duitnya ke kumpul sebelum semester lima berakhir.”

Aku diam sambil menganggukan kepala beberapa kali.

“Iyah, nanti kalau kurang mamah tambahin deh.” Akhirnya aku menjawab dengan perasaan haru.

#Harike10
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP





Oktober 13, 2018 No komentar
Membekali anak gadis dengan berbagai keterampilan adalah tugas seorang ibu. Urusan dapur merupakan hal terpenting yang akan dihadapi sang anak ketika akan berumah tangga.

Memasak telur mata sapi, mie instan, atau martabak mie sudah biasa. Jenis masakan yang mudah kalau itu sih, ya. Bagaimana kalau naik level sedikit. Kebetulan kakaknya minat dan yang mau dicoba adalah masakan kesukaan kakak. Tumis kangkung.

Masakan sederhana tapi cukup menantang bagi yang belum pernah mencobanya. Terlihat mudah tapi belum tentu hasil akhir akan memuaskan.

Memotong kangkung, kakak lulus dengan nilai baik. Batang yang agak besar versi aku, biasanya dibelah dua. Sedangkan kakak tidak menyukai batang besar. Alasannya karena dia pernah membaca dan mendengar berita tentang lintah yang menempel di batang kangkung. Nasib anak yang mengkonsumsi kangkung tersebut sangat mengenaskan. Alhasil kakak lebih baik membuang batang kangkung yang ukurannya agak besar itu.

Mengupas bawang putih, merajahnya beserta cabai dengan pelan dan sangat hati-hati. Nggak sabar sih waktu aku melihat kakak melakukannya.

Aku memandu kakak cara memasak tumis kangkung. Kubiarkan dia menakar bumbu seperti garam, gula, dan saos tiram. Kubiarkan pula dia merasai dan mencicipi hasil akhir masakan sesuai dengan seleranya.

“Hambar, Mah,” ucap kakak ketika dia memakan hasil masakannya beserta nasi panas.

“Tadi perasaan udah enak waktu diicipin sebelum diangkat,” lanjutnya lagi.

“Enak, kok,” papah menimpali ucapan kakak sambil makan dengan lahap.

Aku tahu bahwa suamiku hanya ingin menghibur masakan pertama kakak. Aku sih diam saja. Sampai akhirnya kakak berkata, “besok bikin tumis kangkung lagi, ah.”

“Iyah, besok mamah beliin lagi kangkung di tukang sayur,” jawabku pada kakak.

“Tapi besok terakhir ya, Kak. Lusanya jangan bikin tumis kangkung lagi. Bosen,” timpal papah.

#Harike9
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP






Oktober 12, 2018 No komentar
“Jadi mamah ngasih bekel berapa?”

Itu adalah kalimat pertanyaan yang kukatakan pada kakak sebelum dia pergi kembali untuk kos. Baru dua kali aku melakukan kebiasaan seperti itu.

Biasa sih aku menghitung keuangan kakak per hari adalah Rp 25.000. Jadi kalau empat hari kuliah dari Senin - Kamis. Berarti kebutuhan kakak adalah Rp 200.000. Lalu ditambah ongkos PP Rp 50.00 jadi total per minggu yang kuberikan adalah Rp 250.000.

“Dua ratus ribu aja, Mah. Kakak masih punya sisa seratus ribu minggu kemarin.”

Usut punya usut, ternyata kakak dan teman-temannya memanfaatkan promo online makan gratis dari sebuah restoran di Karawang. Nggak tanggung-tanggung, kakak dan teman-temannya melakukannya dua hari berturut-turut. Pantas saja uang mingguan kakak masih ada lebihan.

Aku suka kakak jujur tentang kebutuhan keuangannya. Padahal kan bisa saja kakak tetap mendapatkan jatah mingguan secara utuh. Entahlah nanti uang lebihannya untuk apa. Tapi ini malahan kakak minta dikurangi jatah mingguannya.

Akhirnya jatah sisa mingguan yang tidak diberikan pada kakak. Aku masukkan ke dalam tabungan untuk biaya kuliahnya.

Minggu berikutnya kakak melakukan hal serupa. Kutanyakan pada kakak apakah ada sisa uang lebih? Soalnya minggu sebelumnya kan sudah dikurangi jatahnya.

“Kakak dapet uang dari eyang mamah (nenek) pas main ke sana hari Jumat.”

Kusembunyikan wajah banggaku pada kakak. Setidaknya aku berhasil menumbuhkan sikap tanggung jawab, prihatin, jujur,  dan hemat pada kakak.

#Harike8
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP













Oktober 11, 2018 No komentar
Tiga kilogram mangga di dalam kantong plastik diletakkan di meja makan oleh papah. Harum buah mangga menyeruak ke seluruh ruang makan. Menambah semangat mempercepat makan malam yang biasa kami lakukan setelah salat magrib.

“Kakak yang kupas mangga, yah,” kataku pada kakak setelah kami selesai melaksanakan salat magrib.

Selama ini aku belum pernah meminta dan melihat kakak mengupas buah. Memotong juga termasuk latihan kemandirian, kan?

“Dih, mamah. Kakak tuh kalau di kos-an rajin ngupas buah dibanding Ali (Alifira) tahu.” Balas kakak beragumentasi. Ali adalah teman kos sekamar kakak.

“Ya udah kalau gitu kakak aja yang kupas mangga. Pinginlah mamah sekali-kali langsung makan buah tanpa harus ngupas terlebih dahulu.”

“Iyah, nanti kakak kupasin. Tapi abis salat isya, yah.”

Aku tersenyum karena telah berhasil membuat kakak mau memotong buah. Maklum, ini adalah permintaan untuk kesekian kalinya. Hampir setiap kakak pulang ke rumah. Aku meminta dia untuk mengupas dan memotong buah. Tapi alasan yang dibuatnya selalu ada.

Jarum pendek jam di dinding berada di tengah angka tujuh dan delapan. Kakak belum juga keluar dari kamar. Kuberikan beberapa menit sebelum aku meluncur ke kamarnya.

Oke. Time is up.  Kubuka kamar kakak. Dengan posisi tubuh di luar kamar. Hanya kepala saja yang kulongokkan ke dalam.

“Udah mau jam delapan, Kak. Kapan mau potong buahnya?” tanyaku pada kakak.

Sunyi merambat di ruangan 2,5 x 3,5 meter persegi bercat merah muda itu. Terlihat kakak asyik dengan gawainya. Setelah beberapa menit, baru dia menjawab pertanyaanku.

“Iyah, sebentar lagi.”

Oke. Jawaban sudah diterima. Aku pun menutup pintu kamar kakak. Kembali duduk di depan tv yang menonton diriku. Soalnya akunya main gawai. Heuheu.

Tidak lama kakak keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Aku senang karena sebentar lagi buah mangga potong akan menemaniku menonton tv. Kalau sambil makan buah, tv nya aku tonton, kok.

Iseng-iseng aku menghampiri kakak yang sedang mengupas mangga. Ya, sekadar ingin melihat aksinya memegang pisau. Belum lagi aku bekomentar, kakak yang melihatku mendekatinya langsung berkata,”susah nih ngupasnya, Mah.”

Aku melihat tetesan air buah mangga yang sudah sangat matang membasahi lengan kakak. Menetes di atas meja makan. Kulit yang tekupas pun begitu tebal. Membuat daging mangga terbawa menempel di kulitnya dan terbuang.

“Ketebelan ngupasnya, Kak. Katanya udah biasa ngupas buah di kos-an,” ucapku pada kakak.

“Buahnya yang kematengan, Mah. Jadi susah motong,” balas kakak.

Tidak banyak komentar yang akan berujung perdebatan. Aku mengambil sebuah pisau. Setelah sebelumnya kakak tidak memberikan pisau yang sedang dipegangnya padaku. Kakak  bersikukuh akan melanjutkan memotong buah mangga. Menolak aku yang akan memberi contoh memotong buah mangga tersebut.

Kakak melihat caraku memotong buah. Memang tidak mudah untuk kakak mengupas buah dengan kulit yang tipis. Tapi setidaknya sudah lebih baik lah, ya.

“Besok malam, kakak lagi yang ngupas buah, ya.”

Diamnya kakak kuanggap setuju.


#Harike7
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP








Oktober 10, 2018 No komentar
Mah, Kak Intan mau ambil yoghurtnya nanti malam pukul tujuh. Kali ini beneran, nggak pake molor lagi.

Begitu pesan kakak via whatsapp hari Minggu malam.

Setelah satu minggu reseller kakap kakak membuat order. Barangnya masih nongkrong santai di freezer. Malah dia jadi dingin, sebeku es. Mungkin dia ngambek karena menunggu terlalu lama (dia=yoghurt).

Waktu yang dijanjikan reseller kakak pukul tujuh, mulur satu jam. Aku dibangunkan oleh suami karena tertidur di kursi depan tv ketika Intan datang. Begitu selesai menemui dan menyerahkan barang pada Intan. Segera kukabari kakak.

Udah diambil ya, Kak.

Terima kasih Mamah.

Ampe ketiduran mamah, kak, nungguinnya. Kakak lagi apa?

Ya udah, terusin aja lagi tidurnya, Mah. Kakak lagi ngerjain tugas presentasi buat besok. Dikit lagi kelar.

Mamah ada deadline tugas bunsay, Kak. Jam 23.39 deadlinenya. Jadi tidurnya ntar abis setor tugas, deh.

Jangan malem-malem tidurnya, Mah. Kakak aja mau tidur jam sembilan. Besok kuliah pagi. Takut kesiangan kalo tidurnya kemaleman.

Sukurlah kakak sudah lebih bijak mengatur dirinya sendiri. Sudah tahu tentang apa yang dibutuhkan olehnya. Nggak apa baru sebatas kalau dia lagi di kos-an. Soalnya kalau di rumah, kakak tidurnya sering menjelang tengah malam. Pelan-pelan sambil memberi pengertian tentang kebutuhan tidur cukup. Lama-lama dia juga bakal mengerti dan tahu.

#Harike6
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Ibu Profesional
IIP



Oktober 09, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (15)
    • ▼  Oktober (2)
      • Ketika Passion Mengajak Lebih Jauh Melangkah
      • Pemilihan Walikota Hexagon City Dimulai
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ►  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose