facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

                                 Foto: pixabay

     Adalah rutinitas Iyen duduk di balai atau bermain ayunan dibawah pohon kersen setelah pulang sekolah. Gadis cilik yang duduk di kelas TK B itu selalu berwajah ceria. Energinya seperti iklan batu baterai yang sudah tidak tayang lagi di tv-tv. Rambut kuncir kudanya tidak pernah diam, selalu saja bergoyang mengikuti gerak tubuhnya.

          Teman sebaya Iyen yang menjadi tetangganya dan juga satu sekolah, selalu bermain bersama. Namun hari ini, teman-teman Iyen tidak datang. Padahal hari akan mulai beranjak ke pertengahan. Seharusnya mereka sudah memetik buah kersen beberapa menit yang lalu.

         Tidakkah kau tahu Iyen, kalau teman-temanku sedang terancam? Aku mendengar pembicaraan Yoyon, Sanih, Isah, Dantri, dan Talih ketika kamu sedang mengambil mainan ke dalam rumah kemarin siang. Bahwa hari ini mereka diminta ayah dan ibunya untuk membantu menebang pohon di halaman rumah. Mereka diminta untuk mengumpulkan ranting pepohonan untuk dijadikan bahan bakar.
         Alasan mereka macam-macam tentang pemusnahan teman-temanku itu. Seperti Yoyon, “ayah mau bikinin kamar buat si Mbak yang sebentar lagi nikah.” Atau Sanih, “ibu minta dibagunin warung buat nambah-nambah duit dapur.”  Begitu pula alasan orang tua Isah, Dantri, dan Talih tidak jauh berbeda. Pohonnya udah kegedean lah, capek tiap hari harus menyapu dedaunan yang berjatuhan lah, agar terlihat lebih lega lah. Dan katanya lagi kalau temanku musnah, bekasnya  bisa dijadikan sebagai tempat bermain kalian, anak-anaknya.
           Kemudian kami pun berbincang melalui angin sore. Kami tidak dapat menahan kesedihan hingga akhirnya helaian daun berjatuhan ke tanah. Bukan … , bukan masalah kami yang akan musnah. Tapi bagaimana dengan nasib kalian. Tidakkah para orang tua merasakan bahwa setiap hari mereka mendapati anak-anak mendapat berkecukupan udara bersih yang masuk ke dalam paru-parunya?
           Ah, mengapa kita tidak saling mengerti saja, sih. Kita kan saling membutuhkan. Kita sama-sama hidup. Ya, walaupun tetap saja manusia yang berkuasa. Jangankan kami yang hidup di halaman rumahmu. Teman-teman kami yang hidup di alam liar sana saja tetap ditebang secara membabi buta. Dan alasannya adalah karena kaummu membutuhkan tanah untuk tempat tinggal dimana teman-teman kami berada.
          Iyen duduk bersila di atas balai dengan sebuah buku cerita di atas pangkuannya. Sesekali bola mata hitam berbulu mata lentik dan lebat itu menengok rumah teman-temannya yang tidak begitu jauh.
        Ada keinginan untuk memanggil Talih ketika dilihatnya Talih sedang membawa tali rafia ke halaman rumah. Mulut Iyen yang sudah terbuka dan siap meneriakkan nama Talih tertahan di tenggorokan. Suaranya tidak jadi keluar karena seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri Talih.
         “Jangan!” pelan suara Iyen ketika dilihat pohon kersen di halaman rumah Talih akhirnya jatuh berdebam dan terbaring pasrah di atas tanah. Buku di atas pangkuannya sekarang dipenuhi daun kecil berwarna hijau tua segar dan berwarna coklat. Mereka tidak mampu menahan dirinya lagi pada ranting. Kuncir kuda Iyen bergoyang. Padahal ia hanya duduk bersila di atas balai.
          Ya, angin siang tiba-tiba berteriak dan menjerit mengangkat segala yang ada di sekitarnya. Kepalan tisu bercap bibir merah, bungkus rokok dan puntungnya, gelas plastik bekas berisi teh, jus, dan air mineral, warna-warni kaleng soda, plastik roti rasa kacang, ada juga tusuk lidi bekas cilor.
         Kau lihat Iyen. Lihat di sekelilingmu. Apakah aku dan teman-temanku yang berperan besar atau mereka yang berserakan karena ulah orang-orang dewasa? Mereka selalu mengutamakan kecantikan dan kerapihan diri sendiri tanpa mengikut sertakan kami. Padahal kami bisa menunjang kalian menjadi lebih cantik lagi. Banyak kata seandainya untuk menangkis alasan mereka, Iyen. Tapi kami hanya cuma satu kata seandainya yaitu kesadaran.
**
        Iyen terbaring lemah di tempat tidurnya. Nafas berat diperlihatkan oleh kempis perut ketika ia  mencoba menangkap oksigen. Sayang, Iyen terbatuk ketika oksigen kotor itu mencoba menerobos masuk melalui lubang hidungnya yang berkembang. Terlihat barisan debu halus terbang berbaris rapi membentuk segitiga tidak sama kaki terkena sinar matahari yang menembus kusen jendela.
         Angin belum berhenti juga berteriak dan menjerit semenjak pohon kersen Talih dan teman-temannya, termasuk Iyen dimusnahkan. Pun mereka jarang bermain bersama lagi. Menjelang kemarau, orang tua mereka melarang untuk pergi bermain di luar. Cuaca panas dan berdebu membuat mereka rentan terkena penyakit.
           Pertahanan rumah mereka roboh karena ulah mereka sendiri. Kini tidak ada lagi keceriaan dan tawa Iyen, Yoyon, Sanih, Isah, Dantri serta Talih. Tidak ada lagi ayunan, duduk sila di atas balai dan buku cerita. Tidak ada lagi kersen untuk dipetik lalu dimakan. Tidak ada lagi angin nakal dan bersih menerpa wajah mereka ketika sedang bermain. Dimana napas mereka selalu dikawal dengan oksigen dari hasil dedaunan pohon kersen.
         Kini yang ada hanyalah sebuah rangka kayu yang berdiri doyong. Ayah bilang, “nanti kalau uangnya sudah kumpul. Ayah akan melanjutkan kembali pembangunan warung beras itu.”

#ODOP

Agustus 26, 2018 No komentar

Foto: Pixabay

Mungkin sebagian dari kita sering mendengar ucapan, “kalau gak utang gak punya barang.” Ambil saja cicilan 0%, kan gak kena bunga. Barang dapat tanpa menguras kantong.

Berutang sepertinya sudah menjadi hal biasa di zaman sekarang. Terlebih kartu kredit pun sekarang mudah sekali didapat. Upah tenaga kerja yang lumayan cukup tinggi di beberapa daerah kota. Membuat syarat untuk mendapatkan kartu kredit bukanlah hal yang sulit.

Apalagi banyak toko seperti, elektronik, gawai, atau furniture, tidak membutuhkan kartu kredit lagi untuk mencicil barang. Kita sungguh amat dimanja dengan aneka fasilitas kemudahan ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun pernah berutang. Tapi beliau berutang untuk makanan yang benar-benar sedang dibutuhkan. Bahkan beliau menggadaikan baju besinya karena tidak bisa membayar tunai.

Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu’anhaa, bahwasanya dia berkata:

( أَنَّ النَّبِيَّ –صلى الله عليه وسلم– اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ )

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)

Walaupun utang diperbolehkan, tapi alangkah lebih baiknya bila tidak menjadi kebiasaan. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:

( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ)

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berutang“

Sekarang malah kebalikan, bukan takut berutang alih-alih perbuatan utang menjadi candu. Belum selesai utang yang satu. Sudah ambil lagi utang baru. Alhasil, gali lubang tutup lubang.

Awal mula utang untuk kebutuhan, lama kelamaan berutang untuk hal konsumtif. Besar pasak daripada tiang pun tidak dapat dihindari.

Tahukah bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang tentang soal utang?

( مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ )

“Betapa sering engkau berlindung dari utang?”

Beliau pun menjawab:

( إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ. )

“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)

Orang yang berutang sangat dekat dengan perbuatan dosa ingkar janji dan berdusta. Setiap kali ditagih selalu memberi janji yang pada akhirnya diingkari karena tidak bisa memenuhi janjinya sendiri.

Apakah kita dapat menjamin umur kita akan sampai sebelum utang lunas?
Ingatlah bahwa utang yang tidak terlunasi hingga ajal menjemput maka utang tersebut akan menahan jiwa seseorang untuk masuk surga. Bahkan jika seseorang meninggal dalam keadaan syahid.

Seperti yang dikatakan dalam hadist:

"Rasulullah Muhammad SAW bersabda, 'Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai utangnya itu dilunasi."

Sungguh ancaman yang menakutkan bagi orang-orang beriman. Baiknya hindarilah utang semampu mungkin. Jangan tergoda oleh gaya hidup. Aturlah sebijak mungkin pengeluaran kita. Sisihkan pendapatan di awal bukan sisa. Bila menginginkan sesuatu, menabung lebih baik daripada berutang.

#ODOP
Agustus 19, 2018 No komentar

Komunitas IP Bekasi (Rumbel Boga)

Hai Rabu,
Bangun pagi sudah biasa. Mandi pagi yang tidak biasa. Terlebih berdandan rapi dan sarapan. Semua tidak biasa kulakukan pada pagi hari. Terlebih ini adalah bulan ke sembilan aku menyandang profesi IRT.

Hai Rabu,
Pukul 05.55 aku sudah bertandang ke rumah tetangga. Bukan ,,, , bukan bertamu. Ia adalah salah satu anggota yang akan kuajak serta dalam mengikuti acara komunitas IP Rumbel Boga Bekasi.

Hai Rabu,
Dua ojol membawa kami menuju stasiun kereta api. Tidak terasa rutinitas lima tahun yang lalu kulakukan pagi ini. Tapi bukan berjalan kaki seperti dulu.

Hai Rabu,
Kami tiba di stasiun Bekasi pukul 06.15. Dan sudah duduk manis di CL. Sebelumnya tentu saja hunting kursi kosong yang sulit ditemui ini. Mataku tak lepas menatap tajam pada setiap kursi yang rata-rata hampir penuh. Bagai singa yang akan mengincar rusa..

Hai Rabu,
Pagi ini adalah pagi kedua setelah tiga belas Juli kemarin. Aku mengikuti kegiatan Komunitas IP (Ibu Profesional) Bekasi. Seharusnya ini adalah kegiatan Rumbel Boga. Tapi dikarenakan kekurangan anggota untuk kunjungan ke pabrik Sasa. Maka diambilah anggota yang bukan anggota komunitas IP.

Hai Rabu,
Pukul 06.43 kereta membawa kami yang berjumlah kurang lebih sebelas orang duduk terpisah di dua gerbong. Tentu saja bukan hal yang sulit bila nanti kami harus mencari di stasiun Tanah Abang. Dikarenakan pakaian yang kami pakai berwarna hitam dengan hijab merah muda. Oh ya, kami rata-rata belum saling mengenal lho. Jadi pakaian berwarna seragam akan sangat memudahkan bila kami berada di keramaian, seperti stasiun.

                     Rombongan ketiga sedang menunggu mobil online

Hai Rabu,
Kami tiba di PT. Sasa Inti kurang lebih 08.45. Dan pihak perusahaan telah menyiapkan welcome drink, susu coklat, kopi, dan krim.
Sambil menyeruput minuman hangat. Kami diminta untuk mengisi questionnaire dan data diri.

Pukul 09.00 kami berada di ruangan yang lumayan besar dan luas. Semacam aula. Kursi yang berbaris rapi pun kami duduki.

Ibu Lita sedang memberikan product knowledge
pada peserta cooking class

Sebelum demo masak dimulai. Terlebih dahulu perwakilan dari PT Sasa Inti mempresentasikan product knowledge. Di sesi ini juga kami sebagai peserta bertanya jawab tentang aneka produk sasa. Pengetahuan dan tips penggunaan sasa ini sangat berguna. Ternyata dari emak-emak yang hadir, sebagian besar belum tahu cara pemakaian produk sasa ini.

Empat puluh lima menit sesi perkenalan produk. Dilanjut oleh seorang chef yang mempresentasikan keunggulan Sasa dalam masakan. Tidak hanya teori saja yang diberikan. Chef tersebut juga mempraktekannya di dapur Sasa.

                     cheff Kong sedang memberi demo masak

Pada saat tirai di belakang chef dibuka. Banyak pasang mata emak-emak terpesona dengan penampilan dapurnya. Luas, bersih, lengkap, dan modern.

Terdapat delapan tungku dan dua tungku untuk frying pan. Dari delapan tungku tersebut, empat di antaranya sudah diletakkan sebuah panci. Masing-masing panci berisi dua ekor ayam yang airnya sudah panas dan siap mendidih.

Panci yang berisi ayam tersebut nantinya akan dimasak oleh kami. Yaitu kami yang sebagai peserta cooking class. Kami yang berjumlah dua puluh lima orang akan dibagi menjadi empat kelompok.

Tapi sebelum demo dimulai. Chef Kong, begitu dia dipanggil. Katanya sih dikarenakan tubuhnya yang besar dan gemuk membuat teman kantor memanggil dia Kong. Chef Kong akan memberikan contoh empat menu masakan yang akan dipraktekan oleh kami. Dimulai dari soto banjar, bakso tahu dan baso ayam, ikan bumbu bali, dan bakwan sayur. Semua menggunakan produk Sasa.

                    Hasil olahan demo masak grup kami

Setelah Chef Kong selesai demo dan juga icip-icip. Tibalah giliran kami untuk melakukan hal yang sama. Tidak sulit ternyata untuk membuat keempat resep tersebut. Mungkin karena praktisnya bumbu instan membuat rasa akan dijamin enak. Ikuti saja petunjuknya, dijamin gagal menyingkir.

                      Saya dan rekan satu grup

Setelah demo selesai. Ya, kita makan sendiri. Tidak lupa ciri khas emak-emak. Ada sis, dibungkus deh, dibawa pulang. Heuheu.

#ODOP
Agustus 12, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ▼  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ▼  Agustus (3)
      • Pohon Kersen (cerpen)
      • Jangan Mencandui Utang
      • Cooking Class PT. Sasa Inti
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose