facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

CeritaDesi

Bahasan hari ini, masih tentang lebaran. Terakhir saya menceritakan tentang pembagian THR (Tunjangan Hari Raya) pada saat masih anak-anak.

Penasaran juga dengan asal usul THR ini. Dari kapan sih THR ini mulai ada?

Setelah pencarian di google, didapatlah informasi bahwa THR dipelopori pertama kali pada era Soekiman Wirjosandjojo  tahun 1951. Saya tidak dapat menemukan kapan THR bagi anak-anak dimulai pertama kali. Mungkin bersamaan dengan diberlakukannya oleh pemerintah. Atau teman-teman memiliki informasi detailnya? Bolehlah di sharing, ya.

Kenangan masa kecil yang sangat berkesan, tidak akan terlupakan. Terlebih pengalaman tersebut akan ditularkan atau diturunkan kepada anak.

Ketika kakak (anak) masih kecil. Dia akan mendapatkan banyak THR dari nenek, kakek, tante, om, dan saudara-saudara lainnya. Lumayan besar nominalnya. Bila zaman saya dua ribu rupiah. Zaman kakak bisa 50-100 ribu rupiah. Tapi …, itu jadi seperti macam pemberian saling silang gitu.

Saling silang? Iyah, maksudnya kami saling memberi. Saling menghargai. Saling menghormati. Tidak ada untung rugi di sini, yang ada hanyalah saling berbagi kasih di hari yang penuh suka cita tersebut.
Saya pun memberikan THR kepada anak-anak sepupu alias keponakkan. Jadi kami saling memberi. Kantong emaknya kosong tapi kantong anaknya penuh. :)

Agar uang THR tidak menguap dan hilang tanpa bekas. Maka saya pun mengajak kakak untuk membuka tabungan di bank.

Tabungan dari THR inilah yang menjadi cikal bakal gemar menabung. Setiap bulan akan diberikan kepada kakak uang untuk disetor ke bank. Kebetulan bank tidak jauh dari rumah. Karena belum cukup umur. Maka buku tabungan di atas namakan berdua. Yaitu saya sebagai ibu dan kakak sebagai anak.

Hal tersebut berlanjut hingga THR pada tahun-tahun berikutnya.

Seiring bertambah usia kakak. Diberikanlah pengertian tentang arti THR. Kalau tidak salah waktu itu dia sudah duduk di bangku SMA. Biasanya THR kan diperuntukkan bagi anak-anak kecil. Jadi nanti pas lebaran berikutnya kalau kakak tidak mendapatkan THR lagi, Itu berarti kakak memang bukan anak kecil.


Ternyata dugaan saya salah. Sampai kakak menginjak semester lima alias sudah menyandang status mahasiswi. Dia tetap mendapatkan THR dari tante, uwa, nenek, dan kakeknya. Akhirnya disimpulkanlah bahwa THR tetap didapatkan sampai si anak mempunyai penghasilan sendiri.



Kalau dulu pada saat dia kecil uang hasil THR ditabung atas nama berdua. Sekarang berbeda. Uang hasil THR nya dibelikan beju lebaran, sepatu, jajan, dan ditabung. Emaknya ngirit lagi deh :)


"Nanti kalau kakak udah punya duit sendiri. Kakak beliin Mamah sama Papah baju lebaran, yah," ucap kakak pada saat kami mengantarkan dia membeli baju di sebuah mall. Dan pada saat kami juga membelikan hadiah lebaran berupa baju koko untuk orang tua dan mertua. Biar dia tahu, kami juga berbagi kebahagiaan kepada orang tua. Kelak bila dia sudah memiliki penghasilan sendiri, Dia akan melakukan hal yang sama. Bahkan kakak dilibatkan pula dalam memilih model dan warna untuk kakek-kakeknya.


Segala bentuk kegiatan atau pengalaman diberikan penjelasan agar terserap ke dalam memori kakak. Selanjutnya dia pun akan melakukan hal yang sama. Yatu tradisi berbagi THR. Selalu ada sisi positif bila kita menghadapi dan menjalaninya dengan bijak.



#ODOP















Juni 24, 2018 No komentar

Potho: koleksi pribadi

Lebaran adalah hari yang paling dinanti setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan lamanya. Berbagai macam persiapan dilakukan untuk menyambut hari nan Fitri. Mulai dari membeli pakaian, ketupat, opor ayam, sayur godog, sambal goreng hati, aneka kue kaleng, sampai mengecat tembok rumah atau pagar.

Dulu waktu saya masih kecil, kira-kira tahun 80-an. Ketahuan jadulnya :) Pengalaman menyambut lebaran masih terasa membekas sampai sekarang.

Lupa berapa minggu sebelum puasa. Mamah dan papap akan mengecat pagar atau tembok bagian luar. Saya pun diperbolehkan berpartisipasi. Senang sekali bermain cat, layaknya seperti melukis di kanvas super besar. Papap mengajari cara mencampur cat dengan air juga menakar kekentalan cat. Perlakuan tembok sebelum dicat dan cara mengecatnya.

Photo: Bersama Mamah (koleksi pribadi)

Kira-kira dua minggu menjelang lebaran. Mamah akan mengajak kami, anak-anaknya ke pasar. Pada tahun 80-an ini belum ada yang namanya dept. Store seperti sekarang. Dulu yang ada hanyalah pasar. Pasar yang bernama Proyek dan pasar Baru.

Pasar Proyek adalah pasar kering. Kering di sini maksudnya adalah pasar yang hanya menjual aneka sandang, perabot rumah tangga, dan buku. Sedangkan pasar Baru didominasi oleh penjual pangan. Sedangkan untuk toko pakaian tidak terlalu banyak pilihan. Dan mamah lebih suka membeli pakaian di Proyek, nama pendek yang biasa warga Bekasi pakai.

Mamah biasanya akan mengajak kami, anak-anaknya satu-persatu secara bergantian ke proyek untuk membeli pakaian. Satu orang anak yang dibawa akan lebih mudah mengontrolnya dibanding membawa tiga sekaligus. Kamu tahu kan pasar seperti apa? Mamah pasti akan terkonsentrasi melihat anak-anaknya daripada melihat pakaian yang akan dibeli. Terlebih kami masih kecil-kecil.

Masing-masing dari kami akan mendapatkan tiga stel pakaian. Sungguh hari yang sangat membahagiakan. Bagaimana tidak bahagia coba. Kami mendapat pakaian baru setahun sekali. Dan itu berlanjut hingga saya duduk di bangku SMA. Mungkin keadaan ekonomi yang membuat mamah berbuat seperti itu. Tapi, kami tidak keberatan, kok

Satu hari menjelang lebaran. Mamah dan papap sibuk mengisi ketupat sehabis sholat subuh. Dan aku suka membantunya. Tangan yang dicelupkan ke dalam baskom berisi rendaman beras, kemudian mengisi kulit ketupat. Saya pun mendapatkan ilmu lagi selain mengecat. Mengisi kulit ketupat tidak boleh asal. Terlalu banyak akan keras, terlalu sedikit akan lembek. Ada takarannya di setiap besar kecilnya kulit ketupat.

Menjelang magrib ketupat matang. Mamah bilang dibutuhkan delapan jam untuk memasak ketupat hingga matang. Sedangkan masakan lain seperti sayur kentang, sambal goreng hati, dan ayam goreng sudah matang terlebih dahulu.

Ketika gema takbir mulai berkumandang selepas magrib. Mamah akan mengajakku ke Proyek untuk membeli bunga hidup. Mamah suka menempatkan bunga hidup yang ditaruh di dalam vas di beberapa sudut rumah. Sedap malam, anyelir, dan beberapa tangkai bunga warna warni entah namanya bunga apa, saya lupa.

Indah dipandang mata dan tentunya harum semerbak. Mamah pintar merangkai bunga hingga menjadi rangkaian yang cantik. Lagi-lagi ilmu yang kudapat yaitu ilmu merangkai bunga. Tidak sembarang memotong tangkai bunga lho. Ada tips tertentu agar bunga tetap tahan lama hidup di dalam vas.

Hari lebaran pun tiba. Setelah melaksanakan sholat Ied dan tiba di rumah. Kami akan bersalaman dengan mencium tangan mamah dan papap. Dan, papap akan memberi THR. Ini adalah moment yang sangat dinanti dan akan menjadi tradisi turun menurun pada saya dan anak saya kelak.

Bersambung

#ODOP


Juni 20, 2018 No komentar
Bersama teman komplek

Minggu ini adalah minggu ketiga di Bulan Ramadan. Minggu ini pun sudah ketiga kalinya acara berbuka puasa bersama di lingkungan komplek rumah.

Tradisi buka puasa ini sudah berlangsung kurang lebih tiga atau empat kali Ramadan. Tidak lama dari berdirinya mushola As Salam. Karena perumahan Cluster Citra Residence yang letaknya di Kp.Cerewed, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur ini,baru berusia tujuh tahun. Dan baru ramai penghuni di tahun ketiga.

Jumlah rumah yang tidak lebih dari seratus lima dan dihuni kira-kira 95 kepala keluarga. Membuat warga sepakat untuk dijadikan satu RT. Padahal maksimal pembentukan RT adalah lima puluh kepala keluarga. Yah, menurut mereka agar tidak ada kecemburuan sosial.

Setelah dikurangi non muslim, maka sisa jumlah warga yang menjalankan ibadah puasa itu dibagi menjadi empat kelompok. Empat kelompok ini akan mendapat giliran satu kali pada hari Sabtu selama Bulan Ramadan.

Mengapa dibagi menjadi kelompok dalam giliran membawa penganan buka puasa? Dan kelompok di sini dibuat bukan berdasarkan baris rumah. Sebagaimana diketahui bahwa tata letak rumah tinggal pada sebuah komplek. Biasanya berbentuk sebuah barisan memanjang yang saling berhadapan. Biarpun posisi rumah saling berhadapan atau bersebelahan. Kesibukkan masing-masing warga menyebabkan mereka jarang bertegur sapa.

Sekadar informasi. Warga komplek Cluster Citra Residence ini sebagian besar dihuni oleh pasangan muda. Dimana para istri bekerja di ranah publik. Sehingga menyebabkan pada hari libur pun, mereka jarang bersosialisasi dengan para tetangga. Mereka akan keluar rumah untuk mengajak anak-anak berekreasi atau sekadar jalan-jalan ke mall.

Nah, untuk saling mengenal sesama tetangga. Dibuatlah kelompok yang berisi warga komplek secara acak. Jadi tidak berdasarkan posisi rumah. Akan tetapi saling silang antar blok. Sehingga mau tidak mau, mereka akan berkoordinasi antar sesama warga untuk pembagian jenis penganan yang akan disuguhkan atau dibawa.

Inilah yang akan membuat mereka saling mengakrabkan diri. Sistem potluck yang digunakan, mau tidak mau membuat mereka harus saling berkomunikasi. Oh iya, sistem potluck adalah dimana warga akan membawa makanan masing-masing yang kemudian akan dimakan secara bersama-sama.

Nah, agar penganan yang dibawa oleh mereka banyak macamnya dan untuk menghindari makanan yang sejenis. Maka di dalam grup wa sekumpulan emak-emak komplek. Dibuatlah daftar nama peserta dan jenis penganan yang akan dibawa.

Misalnya seperti dua minggu yang lalu atau minggu pertama berbuka puasa. Di dalam kelompok ada yang berinisiatif untuk membawa bakso. Bila ditanggung sendiri tentu akan terasa berat. Porsi yang dibutuhkan lebih dari lima puluh. Sehingga anggota kelompok sebanyak lima orang akan patungan untuk membeli bakso. Buka puasa enak, biaya yang dikeluarkan tidak banyak.

Begitu satu jam sebelum berbuka. Anggota dalam kelompok akan menyiapkan penganan pada mobil pick up yang sudah dialasi dengan taplak plastik. Mereka akan bekerja sama dalam menyajikan dan menata makanan.

Hal yang paling membahagiakan, bukan? Usaha panitia dalam hal ini DKM (Dewan Keamanan masjid) berhasil. Akhirnya warga saling berinteraksi, berkoordinasi, dan melakukan aksi bersama untuk acara berbuka puasa bersama.

Berharap bila bulan Ramadan berlalu. Mereka tetap akan melanjutkan keakraban. Saling mengenal dan peduli satu sama lain. Saudara terdekat adalah tetangga. Tetanggalah yang dimintai pertolongan pertama kali sebelum keluarga datang membantu.

Bulan penuh keberkahan dan kemuliaan. Bulan keakraban sesama warga. Semoga pertemuan ini akan berlanjut pada Ramadan tahun berikutnya. Aamiiin.

#ODOP



Juni 03, 2018 No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

Kelas Bunda Produktif

recent posts

Blog Archive

  • ►  2020 (15)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (10)
  • ▼  2018 (130)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (11)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ▼  Juni (3)
      • THR #2 Lebaran
      • Lebaran Masa Kecil #1
      • Bulan Penuh Keakraban
    • ►  Mei (4)
    • ►  April (12)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (31)
    • ►  Januari (15)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Desember (1)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose