Minggu, 19 Agustus 2018

Jangan Mencandui Utang


Foto: Pixabay

Mungkin sebagian dari kita sering mendengar ucapan, “kalau gak utang gak punya barang.” Ambil saja cicilan 0%, kan gak kena bunga. Barang dapat tanpa menguras kantong.

Berutang sepertinya sudah menjadi hal biasa di zaman sekarang. Terlebih kartu kredit pun sekarang mudah sekali didapat. Upah tenaga kerja yang lumayan cukup tinggi di beberapa daerah kota. Membuat syarat untuk mendapatkan kartu kredit bukanlah hal yang sulit.

Apalagi banyak toko seperti, elektronik, gawai, atau furniture, tidak membutuhkan kartu kredit lagi untuk mencicil barang. Kita sungguh amat dimanja dengan aneka fasilitas kemudahan ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun pernah berutang. Tapi beliau berutang untuk makanan yang benar-benar sedang dibutuhkan. Bahkan beliau menggadaikan baju besinya karena tidak bisa membayar tunai.

Seperti yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu’anhaa, bahwasanya dia berkata:

( أَنَّ النَّبِيَّ –صلى الله عليه وسلم– اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ )

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)

Walaupun utang diperbolehkan, tapi alangkah lebih baiknya bila tidak menjadi kebiasaan. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:

( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ)

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berutang“

Sekarang malah kebalikan, bukan takut berutang alih-alih perbuatan utang menjadi candu. Belum selesai utang yang satu. Sudah ambil lagi utang baru. Alhasil, gali lubang tutup lubang.

Awal mula utang untuk kebutuhan, lama kelamaan berutang untuk hal konsumtif. Besar pasak daripada tiang pun tidak dapat dihindari.

Tahukah bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang tentang soal utang?

( مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ )

“Betapa sering engkau berlindung dari utang?”

Beliau pun menjawab:

( إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ. )

“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)

Orang yang berutang sangat dekat dengan perbuatan dosa ingkar janji dan berdusta. Setiap kali ditagih selalu memberi janji yang pada akhirnya diingkari karena tidak bisa memenuhi janjinya sendiri.

Apakah kita dapat menjamin umur kita akan sampai sebelum utang lunas?
Ingatlah bahwa utang yang tidak terlunasi hingga ajal menjemput maka utang tersebut akan menahan jiwa seseorang untuk masuk surga. Bahkan jika seseorang meninggal dalam keadaan syahid.

Seperti yang dikatakan dalam hadist:

"Rasulullah Muhammad SAW bersabda, 'Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu dia terbunuh lagi dua kali, dan dia masih punya utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai utangnya itu dilunasi."

Sungguh ancaman yang menakutkan bagi orang-orang beriman. Baiknya hindarilah utang semampu mungkin. Jangan tergoda oleh gaya hidup. Aturlah sebijak mungkin pengeluaran kita. Sisihkan pendapatan di awal bukan sisa. Bila menginginkan sesuatu, menabung lebih baik daripada berutang.

#ODOP

Minggu, 12 Agustus 2018

Cooking Class PT. Sasa Inti


Komunitas IP Bekasi (Rumbel Boga)

Hai Rabu,
Bangun pagi sudah biasa. Mandi pagi yang tidak biasa. Terlebih berdandan rapi dan sarapan. Semua tidak biasa kulakukan pada pagi hari. Terlebih ini adalah bulan ke sembilan aku menyandang profesi IRT.

Hai Rabu,
Pukul 05.55 aku sudah bertandang ke rumah tetangga. Bukan ,,, , bukan bertamu. Ia adalah salah satu anggota yang akan kuajak serta dalam mengikuti acara komunitas IP Rumbel Boga Bekasi.

Hai Rabu,
Dua ojol membawa kami menuju stasiun kereta api. Tidak terasa rutinitas lima tahun yang lalu kulakukan pagi ini. Tapi bukan berjalan kaki seperti dulu.

Hai Rabu,
Kami tiba di stasiun Bekasi pukul 06.15. Dan sudah duduk manis di CL. Sebelumnya tentu saja hunting kursi kosong yang sulit ditemui ini. Mataku tak lepas menatap tajam pada setiap kursi yang rata-rata hampir penuh. Bagai singa yang akan mengincar rusa..

Hai Rabu,
Pagi ini adalah pagi kedua setelah tiga belas Juli kemarin. Aku mengikuti kegiatan Komunitas IP (Ibu Profesional) Bekasi. Seharusnya ini adalah kegiatan Rumbel Boga. Tapi dikarenakan kekurangan anggota untuk kunjungan ke pabrik Sasa. Maka diambilah anggota yang bukan anggota komunitas IP.

Hai Rabu,
Pukul 06.43 kereta membawa kami yang berjumlah kurang lebih sebelas orang duduk terpisah di dua gerbong. Tentu saja bukan hal yang sulit bila nanti kami harus mencari di stasiun Tanah Abang. Dikarenakan pakaian yang kami pakai berwarna hitam dengan hijab merah muda. Oh ya, kami rata-rata belum saling mengenal lho. Jadi pakaian berwarna seragam akan sangat memudahkan bila kami berada di keramaian, seperti stasiun.

                     Rombongan ketiga sedang menunggu mobil online

Hai Rabu,
Kami tiba di PT. Sasa Inti kurang lebih 08.45. Dan pihak perusahaan telah menyiapkan welcome drink, susu coklat, kopi, dan krim.
Sambil menyeruput minuman hangat. Kami diminta untuk mengisi questionnaire dan data diri.

Pukul 09.00 kami berada di ruangan yang lumayan besar dan luas. Semacam aula. Kursi yang berbaris rapi pun kami duduki.

Ibu Lita sedang memberikan product knowledge
pada peserta cooking class

Sebelum demo masak dimulai. Terlebih dahulu perwakilan dari PT Sasa Inti mempresentasikan product knowledge. Di sesi ini juga kami sebagai peserta bertanya jawab tentang aneka produk sasa. Pengetahuan dan tips penggunaan sasa ini sangat berguna. Ternyata dari emak-emak yang hadir, sebagian besar belum tahu cara pemakaian produk sasa ini.

Empat puluh lima menit sesi perkenalan produk. Dilanjut oleh seorang chef yang mempresentasikan keunggulan Sasa dalam masakan. Tidak hanya teori saja yang diberikan. Chef tersebut juga mempraktekannya di dapur Sasa.

                     cheff Kong sedang memberi demo masak

Pada saat tirai di belakang chef dibuka. Banyak pasang mata emak-emak terpesona dengan penampilan dapurnya. Luas, bersih, lengkap, dan modern.

Terdapat delapan tungku dan dua tungku untuk frying pan. Dari delapan tungku tersebut, empat di antaranya sudah diletakkan sebuah panci. Masing-masing panci berisi dua ekor ayam yang airnya sudah panas dan siap mendidih.

Panci yang berisi ayam tersebut nantinya akan dimasak oleh kami. Yaitu kami yang sebagai peserta cooking class. Kami yang berjumlah dua puluh lima orang akan dibagi menjadi empat kelompok.

Tapi sebelum demo dimulai. Chef Kong, begitu dia dipanggil. Katanya sih dikarenakan tubuhnya yang besar dan gemuk membuat teman kantor memanggil dia Kong. Chef Kong akan memberikan contoh empat menu masakan yang akan dipraktekan oleh kami. Dimulai dari soto banjar, bakso tahu dan baso ayam, ikan bumbu bali, dan bakwan sayur. Semua menggunakan produk Sasa.

                    Hasil olahan demo masak grup kami

Setelah Chef Kong selesai demo dan juga icip-icip. Tibalah giliran kami untuk melakukan hal yang sama. Tidak sulit ternyata untuk membuat keempat resep tersebut. Mungkin karena praktisnya bumbu instan membuat rasa akan dijamin enak. Ikuti saja petunjuknya, dijamin gagal menyingkir.

                      Saya dan rekan satu grup

Setelah demo selesai. Ya, kita makan sendiri. Tidak lupa ciri khas emak-emak. Ada sis, dibungkus deh, dibawa pulang. Heuheu.

#ODOP

Minggu, 29 Juli 2018

Motivasi Ada Dimana-Mana

28 Juli 2018

Jarum jam menunjukkan angka delapan. Pakaian baru saja dijemur. Hari ini saya akan menghadiri seminar dari salah satu platform olshop besar yang sering bersliweran di facebook. Dia mendeklarasikan bahwa platformnya sudah memiliki reseller sebanyak 53 ribu. Bukan jumlah yang sedikit, bukan? Dan 98% nya adalah emak-emak.

Acara dimulai pada pukul sembilan. Telepon berbunyi saat saya sedang memakai hijab.

“Gue udah sampe dari jam delapan, nih. Lo udah di mana?”

Kulihat jam dinding berbentuk segilima. Pantas saja teman saya itu menelepon. Sepuluh menit menuju pukul sembilan. Dan saya masih berada di rumah.

“Bentaran, yak. Gue booking ojol dulu. Lo masuk duluan aja.”

Biasanya sih saya tidak begini. Selalu datang sebelum acara dimulai. Tapi karena ini adalah acara kedua dari komunitas yang sama. Maka saya yakin kalau acara akan dimulai setengah sepuluh.

“Mah, udah rame nih. Mamah udah di mana?”

Pesan dari kakak tidak sempat dibalas karena saya sudah duduk manis di ojol.

“Tadi kakak cuma setengah jam, udah sampai, mah.”

Begitu yang saya baca pesan lanjutan dari kakak.

Yah, seminar ini adalah acara komunitas kakak. Dia meminta saya untuk meramaikan acaranya untuk menambah jumlah peserta yang kurang. Saya pun mengajak beberapa orang teman,  walaupun hanya dua orang yang bergabung dari sepuluh yang saya tawari.

Laju motor pelan sekali untuk kecepatan di jalan raya. Perkiraan saya sih, sepertinya tidak lebih dari 40 km/jam. Bahkan lebih seringnya mungkin 20 km/jam. Meski tidak sabar karena sudah telat, saya tidak berani untuk meminta tambah kecepatan. Biarkan saja deh.

Tiba di lokasi menjelang setengah sepuluh.

“Hampir aja gue pulang lagi.”

Salah satu teman yang lain ngedumel karena saya tidak kunjung tiba dari waktu yang ditentukan.

“Kan di dalem udah ada Divi.” Sambil membayar ojol.

Kami pun bertiga akhirnya bertemu di tempat registrasi ulang. Dan ruangan sudah hampir penuh. Kami duduk di barisan kedua dari belakang. Menurut kakak, dari target 300 orang, hanya dihadiri 215 sudah termasuk panitia sebanyak 25 orang.

Benar saja, acara dimulai kurang lebih hampir mendekati pukul sepuluh.

Dua proyektor dan layar terpampang cukup besar yang diletakkan di sebelah kiri dan kanan. Sehingga audience dapat melihat dengan mudah dari berbagai sisi. Kecuali saya dan teman-teman yang duduk di belakang, terhalang kepala-kepala para peserta.

Acara berlangsung lancar dan baik. Seperti halnya berdagang. Maka testimoni pun diperlukan agar bisa banyak menarik pembeli.

Nah, disinilah tujuan utama si platform ini. Untuk meyakinkan para peserta seminar akan usaha yang sudah berjalan tersebut. Maka didatangkanlah dua reseller sebagai nara sumber. Salah satu dari mereka sudah beromset ratusan juta per bulan.

Siapa sih yang tidak tertarik untuk tidak bergabung menjadi salah satu dari 53rb reseller tersebut? Dua orang teman saya yang turut serta dalam seminar itu juga tertarik. Akhirnya mereka malah daftar jadi reseller deh.

Acaranya keren dan ok banget. Sebelum masuk ke acara berbincang-bincang dan tanya jawab oleh dua narasumber yang sudah berhasil tersebut. Ada seorang wanita yang mendekati persalinan dua minggu katanya, menjadi pembicara. Mungkin lebih tepatnya dia menjadi motivator dan inspirator buat kami yang hadir disana.

Bingung kan mengapa wanita hamil begitu istimewa? Yang istimewanya itu, dia penyandang disabilitas, tuna rungu. Salut saya, sampai mata berkaca-kaca saking takjubnya. Ibu yang mendidiknya pasti bangga mempunyai anak seperti dia.

Tahu tidak? Dia berhasil menamatkan jenjang S2 nya selama lima tahun. Keren kan. Hampir tiga kali lebih lama dari yang fisiknya normal, dia baru menyelesaikan studi S2 nya. Dan kerennya lagi. dia mengambil bidang studi komunikasi. Bayangkan, seorang tuna rungu dan bicara adalah penunjang utama dalam ilmu komunikasi. Tapi yang diambil malah jurusan yang mengharuskan dia banyak menggunakan kata-kata. Bayangkan deh teman-teman bagaimana usaha kerasnya akhirnya membuahkan hasil.

Meskipun dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar setelah lulus S2. Tetap ketimpangan dan ketidakadilan selalu diterimanya. Seperti yang dialami sewaktu sekolah dulu. Menurutnya, dia dari mulai SD sampai SMA belajar di sekolah umum bukan khusus untuk anak berkebutuhan khusus.

Ketimpangan yang dia rasakan membuatnya berpikir bagaimana nasib sesamanya yang menyandang disabilitas juga. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengundurkan diri.

Dengan keahlian yang dia miliki. Membuatnya dapat menampung 1500 orang penyandang disabilitas dalam lapangan kerja yang diciptakannya di bidang jasa. Seperti, cleaning service.

Keberhasilannya tersebut membuat dia diundang sebagai pembicara motivator. Bahkan sampai terbang ke Amerika.

Kemauan, usaha, sabar, dan doa selalu membuahkan hasil yang manis. Kalimat ini adalah yang dapat saya simpulkan dari seminar pada hari itu.

Saya? Apakah akhirnya saya tertarik sama seperti kedua teman saya yang mendaftar menjadi reseller platform tersebut di akhir acara?

Ya, saya memang tertarik. Sayang, hanya sebatas kata tertarik. Karena saya sudah membranding diri dengan Yo’Qta (yoghurt) dan menulis. Mereka adalah passion saya. Merekalah yang membuat hidup saya bergairah. Bahkan pada saat mereka mengecewakan, saya tidak pernah meninggalkannya.

Saya hanya kurang keras dan tegas pada diri sendiri. Karena apapun yang dikerjakan kurang maksimal. Kadang suka masih banyak Mr. Alasan kalau sudah menghadapi masalah.

Tapi sekarang sudah mulai agak keras pada diri. Saya sudah mulai mengubah kandang waktu. Dan sudah mulai terlihat hasilnya. Semoga perubahan yang sedikit ini dapat menyingkirkan Mr. A. Aamiiin.

#ODOP

Minggu, 22 Juli 2018

Emak Itu Penjaga "Rumah"

Sumber foto: pixabay

Sebagai emak-emak memang harus cerdas, cerdik, gesit, baik itu dalam bergerak artian bekerja atau pun dalam artian berpikir cepat. Emak-emak itu harus kreatif dan inovatif. Harus berpikir maju demi menjaga anggota keluarga tetap sehat, ceria, baik itu jasmani maupun rohani.

Terlebih tiang rumah tangga adalah ibu. Bahkan iblis pun mengincar emak-emak untuk meruntuhkan rumah tangganya. Para emak bakal dihilangkan kesabarannya dalam mengurus anak-anaknya.

Belum lagi urusan keuangan. Zaman now, dimana harga-harga melambung tinggi. Emak harus bisa menjadi menteri keuangan yang tangguh. Amanat yang didapat dari suami tercinta harus dipergunakan agar bisa sampai di penghujung angka kalender di tiap bulannya.

Berbagai macam cara dilakukan agar tidak ada kebocoran dana. Pengetatan ikat pinggang emak dilakukan sedemikian rupa. Pemangkasan pun dilakukan di sana-sini. Biasa beli buku demi menunjang kegiatan menulis. Akhirnya sekarang beli buku second atau e-book (pemberian teman komunitas😋). Keluar rumah kalau memang diperlukan. Seperti, keperluan bisnis (ketemu pembeli, prospek, atau menambah ilmu), menengok yang sakit, silaturahim karena sudah lama tidak bertemu, ini masih ok lah yah. Pengeluaran kalau keluar rumah itu biaya lumayan lho. Emak kan perlu memakai bedak, lipstik biar pantas dilihat kalau keluar rumah. Diperlukan ongkos untuk transportasi juga,  belum lagi makan dan minum.

Kembali lagi pada pembahasan bahwa para emaklah yang akan memastikan semua anggota keluarga ceria, bahagia,  sehat jasmani dan rohani.

Ceria, Bahagia dengan tersenyum
Iringi kepergian suami ke tempat bekerja dan anak-anak ke sekolah dengan memberikan senyuman kinclong yang emak punya. Senyuman emak itu sama cerahnya dengan sinar matahari pagi. Jangan biarkan mereka melihat wajah lelah emak yang sudah kasak kusuk dari sebelum subuh. Hati yang ceria dengan senyum mengembang di bibir emak, dapat membuat suami melangkah ringan dan penuh semangat meninggalkan rumah. Mencari nafkah pun akan berkah karena keikhlasan dan doa dari emak. Begitu juga dengan anak-anak. Dia akan semangat mencari ilmu di sekolah. Hati akan tenang dan tentram karena dilepas dengan wajah ceria emak.

Sehat jasmani
Jasmani/raga/tubuh yang sehat akan menunjang seluruh kegiatan suami dan anak pada hari itu. Untuk mendapatkan raga yang sehat dan kuat tentunya membutuhkan asupan makanan. Dan asupan makanan itu harus sehat dan bergizi. Soal makanan ini bukanlah hal yang mudah lho. Terlebih dengan harga sembako yang meroket. Emak harus pintar, cerdas, kreatif, dan inovatif. Berpikir bagaimana caranya mengolah bahan masakan sederhana, murah, meriah, mewah, dan lezat.

Seperti saya yang membuat menu asam manis dari tempe bukan memakai daging ayam. Atau memvariasikan jenis tumisan dengan sayuran yang bergantian. Biasanya menggunakan tiga sampai empat jenis sayuran dalam satu masakkan. Maka demi menghemat dana belanja, dipakailah dua jenis sayuran saja. Tidak lupa bakso dan potongan tahu putih sebagai pelengkap. Tumis memang masakan mudah dan cepat dengan menggunakan sedikit minyak.

Tidak ada sekolah yang terdapat mata pelajaran atau mata kuliah menjadi seorang ibu. Saya pun dulu tidak mengerti apa yang harus dilakukan ketika menjadi seorang emak-emak dengan dua anak. Melihat cara ibu merawat cucunya, mengingat kembali masa kecil, melihat tetangga yang mengasuh anaknya, acara tv ibu dan anak, juga tabloid yang membahas tentang membesarkan buah hati. Dari hal-hal tersebutlah saya belajar mengasah naluri alamiah sebagai seorang emak.

Ketika suami dan anak sukses dalam bidangnya. Hal itu akan menjadi kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan materi. Terbayar sudah lelah yang telah dilakukannya.

Selamanya pekerjaan seorang emak akan mendatangkan amal tanpa kenal putus.

#ODOPsesi2










Minggu, 24 Juni 2018

THR #2 Lebaran

Bahasan hari ini, masih tentang lebaran. Terakhir saya menceritakan tentang pembagian THR (Tunjangan Hari Raya) pada saat masih anak-anak.

Penasaran juga dengan asal usul THR ini. Dari kapan sih THR ini mulai ada?

Setelah pencarian di google, didapatlah informasi bahwa THR dipelopori pertama kali pada era Soekiman Wirjosandjojo  tahun 1951. Saya tidak dapat menemukan kapan THR bagi anak-anak dimulai pertama kali. Mungkin bersamaan dengan diberlakukannya oleh pemerintah. Atau teman-teman memiliki informasi detailnya? Bolehlah di sharing, ya.

Kenangan masa kecil yang sangat berkesan, tidak akan terlupakan. Terlebih pengalaman tersebut akan ditularkan atau diturunkan kepada anak.

Ketika kakak (anak) masih kecil. Dia akan mendapatkan banyak THR dari nenek, kakek, tante, om, dan saudara-saudara lainnya. Lumayan besar nominalnya. Bila zaman saya dua ribu rupiah. Zaman kakak bisa 50-100 ribu rupiah. Tapi …, itu jadi seperti macam pemberian saling silang gitu.

Saling silang? Iyah, maksudnya kami saling memberi. Saling menghargai. Saling menghormati. Tidak ada untung rugi di sini, yang ada hanyalah saling berbagi kasih di hari yang penuh suka cita tersebut.
Saya pun memberikan THR kepada anak-anak sepupu alias keponakkan. Jadi kami saling memberi. Kantong emaknya kosong tapi kantong anaknya penuh. :)

Agar uang THR tidak menguap dan hilang tanpa bekas. Maka saya pun mengajak kakak untuk membuka tabungan di bank.

Tabungan dari THR inilah yang menjadi cikal bakal gemar menabung. Setiap bulan akan diberikan kepada kakak uang untuk disetor ke bank. Kebetulan bank tidak jauh dari rumah. Karena belum cukup umur. Maka buku tabungan di atas namakan berdua. Yaitu saya sebagai ibu dan kakak sebagai anak.

Hal tersebut berlanjut hingga THR pada tahun-tahun berikutnya.

Seiring bertambah usia kakak. Diberikanlah pengertian tentang arti THR. Kalau tidak salah waktu itu dia sudah duduk di bangku SMA. Biasanya THR kan diperuntukkan bagi anak-anak kecil. Jadi nanti pas lebaran berikutnya kalau kakak tidak mendapatkan THR lagi, Itu berarti kakak memang bukan anak kecil.


Ternyata dugaan saya salah. Sampai kakak menginjak semester lima alias sudah menyandang status mahasiswi. Dia tetap mendapatkan THR dari tante, uwa, nenek, dan kakeknya. Akhirnya disimpulkanlah bahwa THR tetap didapatkan sampai si anak mempunyai penghasilan sendiri.



Kalau dulu pada saat dia kecil uang hasil THR ditabung atas nama berdua. Sekarang berbeda. Uang hasil THR nya dibelikan beju lebaran, sepatu, jajan, dan ditabung. Emaknya ngirit lagi deh :)


"Nanti kalau kakak udah punya duit sendiri. Kakak beliin Mamah sama Papah baju lebaran, yah," ucap kakak pada saat kami mengantarkan dia membeli baju di sebuah mall. Dan pada saat kami juga membelikan hadiah lebaran berupa baju koko untuk orang tua dan mertua. Biar dia tahu, kami juga berbagi kebahagiaan kepada orang tua. Kelak bila dia sudah memiliki penghasilan sendiri, Dia akan melakukan hal yang sama. Bahkan kakak dilibatkan pula dalam memilih model dan warna untuk kakek-kakeknya.


Segala bentuk kegiatan atau pengalaman diberikan penjelasan agar terserap ke dalam memori kakak. Selanjutnya dia pun akan melakukan hal yang sama. Yatu tradisi berbagi THR. Selalu ada sisi positif bila kita menghadapi dan menjalaninya dengan bijak.



#ODOP















Rabu, 20 Juni 2018

Lebaran Masa Kecil #1


Potho: koleksi pribadi

Lebaran adalah hari yang paling dinanti setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan lamanya. Berbagai macam persiapan dilakukan untuk menyambut hari nan Fitri. Mulai dari membeli pakaian, ketupat, opor ayam, sayur godog, sambal goreng hati, aneka kue kaleng, sampai mengecat tembok rumah atau pagar.

Dulu waktu saya masih kecil, kira-kira tahun 80-an. Ketahuan jadulnya :) Pengalaman menyambut lebaran masih terasa membekas sampai sekarang.

Lupa berapa minggu sebelum puasa. Mamah dan papap akan mengecat pagar atau tembok bagian luar. Saya pun diperbolehkan berpartisipasi. Senang sekali bermain cat, layaknya seperti melukis di kanvas super besar. Papap mengajari cara mencampur cat dengan air juga menakar kekentalan cat. Perlakuan tembok sebelum dicat dan cara mengecatnya.

Photo: Bersama Mamah (koleksi pribadi)

Kira-kira dua minggu menjelang lebaran. Mamah akan mengajak kami, anak-anaknya ke pasar. Pada tahun 80-an ini belum ada yang namanya dept. Store seperti sekarang. Dulu yang ada hanyalah pasar. Pasar yang bernama Proyek dan pasar Baru.

Pasar Proyek adalah pasar kering. Kering di sini maksudnya adalah pasar yang hanya menjual aneka sandang, perabot rumah tangga, dan buku. Sedangkan pasar Baru didominasi oleh penjual pangan. Sedangkan untuk toko pakaian tidak terlalu banyak pilihan. Dan mamah lebih suka membeli pakaian di Proyek, nama pendek yang biasa warga Bekasi pakai.

Mamah biasanya akan mengajak kami, anak-anaknya satu-persatu secara bergantian ke proyek untuk membeli pakaian. Satu orang anak yang dibawa akan lebih mudah mengontrolnya dibanding membawa tiga sekaligus. Kamu tahu kan pasar seperti apa? Mamah pasti akan terkonsentrasi melihat anak-anaknya daripada melihat pakaian yang akan dibeli. Terlebih kami masih kecil-kecil.

Masing-masing dari kami akan mendapatkan tiga stel pakaian. Sungguh hari yang sangat membahagiakan. Bagaimana tidak bahagia coba. Kami mendapat pakaian baru setahun sekali. Dan itu berlanjut hingga saya duduk di bangku SMA. Mungkin keadaan ekonomi yang membuat mamah berbuat seperti itu. Tapi, kami tidak keberatan, kok

Satu hari menjelang lebaran. Mamah dan papap sibuk mengisi ketupat sehabis sholat subuh. Dan aku suka membantunya. Tangan yang dicelupkan ke dalam baskom berisi rendaman beras, kemudian mengisi kulit ketupat. Saya pun mendapatkan ilmu lagi selain mengecat. Mengisi kulit ketupat tidak boleh asal. Terlalu banyak akan keras, terlalu sedikit akan lembek. Ada takarannya di setiap besar kecilnya kulit ketupat.

Menjelang magrib ketupat matang. Mamah bilang dibutuhkan delapan jam untuk memasak ketupat hingga matang. Sedangkan masakan lain seperti sayur kentang, sambal goreng hati, dan ayam goreng sudah matang terlebih dahulu.

Ketika gema takbir mulai berkumandang selepas magrib. Mamah akan mengajakku ke Proyek untuk membeli bunga hidup. Mamah suka menempatkan bunga hidup yang ditaruh di dalam vas di beberapa sudut rumah. Sedap malam, anyelir, dan beberapa tangkai bunga warna warni entah namanya bunga apa, saya lupa.

Indah dipandang mata dan tentunya harum semerbak. Mamah pintar merangkai bunga hingga menjadi rangkaian yang cantik. Lagi-lagi ilmu yang kudapat yaitu ilmu merangkai bunga. Tidak sembarang memotong tangkai bunga lho. Ada tips tertentu agar bunga tetap tahan lama hidup di dalam vas.

Hari lebaran pun tiba. Setelah melaksanakan sholat Ied dan tiba di rumah. Kami akan bersalaman dengan mencium tangan mamah dan papap. Dan, papap akan memberi THR. Ini adalah moment yang sangat dinanti dan akan menjadi tradisi turun menurun pada saya dan anak saya kelak.

Bersambung

#ODOP


Minggu, 03 Juni 2018

Bulan Penuh Keakraban

Bersama teman komplek

Minggu ini adalah minggu ketiga di Bulan Ramadan. Minggu ini pun sudah ketiga kalinya acara berbuka puasa bersama di lingkungan komplek rumah.

Tradisi buka puasa ini sudah berlangsung kurang lebih tiga atau empat kali Ramadan. Tidak lama dari berdirinya mushola As Salam. Karena perumahan Cluster Citra Residence yang letaknya di Kp.Cerewed, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur ini,baru berusia tujuh tahun. Dan baru ramai penghuni di tahun ketiga.

Jumlah rumah yang tidak lebih dari seratus lima dan dihuni kira-kira 95 kepala keluarga. Membuat warga sepakat untuk dijadikan satu RT. Padahal maksimal pembentukan RT adalah lima puluh kepala keluarga. Yah, menurut mereka agar tidak ada kecemburuan sosial.

Setelah dikurangi non muslim, maka sisa jumlah warga yang menjalankan ibadah puasa itu dibagi menjadi empat kelompok. Empat kelompok ini akan mendapat giliran satu kali pada hari Sabtu selama Bulan Ramadan.

Mengapa dibagi menjadi kelompok dalam giliran membawa penganan buka puasa? Dan kelompok di sini dibuat bukan berdasarkan baris rumah. Sebagaimana diketahui bahwa tata letak rumah tinggal pada sebuah komplek. Biasanya berbentuk sebuah barisan memanjang yang saling berhadapan. Biarpun posisi rumah saling berhadapan atau bersebelahan. Kesibukkan masing-masing warga menyebabkan mereka jarang bertegur sapa.

Sekadar informasi. Warga komplek Cluster Citra Residence ini sebagian besar dihuni oleh pasangan muda. Dimana para istri bekerja di ranah publik. Sehingga menyebabkan pada hari libur pun, mereka jarang bersosialisasi dengan para tetangga. Mereka akan keluar rumah untuk mengajak anak-anak berekreasi atau sekadar jalan-jalan ke mall.

Nah, untuk saling mengenal sesama tetangga. Dibuatlah kelompok yang berisi warga komplek secara acak. Jadi tidak berdasarkan posisi rumah. Akan tetapi saling silang antar blok. Sehingga mau tidak mau, mereka akan berkoordinasi antar sesama warga untuk pembagian jenis penganan yang akan disuguhkan atau dibawa.

Inilah yang akan membuat mereka saling mengakrabkan diri. Sistem potluck yang digunakan, mau tidak mau membuat mereka harus saling berkomunikasi. Oh iya, sistem potluck adalah dimana warga akan membawa makanan masing-masing yang kemudian akan dimakan secara bersama-sama.

Nah, agar penganan yang dibawa oleh mereka banyak macamnya dan untuk menghindari makanan yang sejenis. Maka di dalam grup wa sekumpulan emak-emak komplek. Dibuatlah daftar nama peserta dan jenis penganan yang akan dibawa.

Misalnya seperti dua minggu yang lalu atau minggu pertama berbuka puasa. Di dalam kelompok ada yang berinisiatif untuk membawa bakso. Bila ditanggung sendiri tentu akan terasa berat. Porsi yang dibutuhkan lebih dari lima puluh. Sehingga anggota kelompok sebanyak lima orang akan patungan untuk membeli bakso. Buka puasa enak, biaya yang dikeluarkan tidak banyak.

Begitu satu jam sebelum berbuka. Anggota dalam kelompok akan menyiapkan penganan pada mobil pick up yang sudah dialasi dengan taplak plastik. Mereka akan bekerja sama dalam menyajikan dan menata makanan.

Hal yang paling membahagiakan, bukan? Usaha panitia dalam hal ini DKM (Dewan Keamanan masjid) berhasil. Akhirnya warga saling berinteraksi, berkoordinasi, dan melakukan aksi bersama untuk acara berbuka puasa bersama.

Berharap bila bulan Ramadan berlalu. Mereka tetap akan melanjutkan keakraban. Saling mengenal dan peduli satu sama lain. Saudara terdekat adalah tetangga. Tetanggalah yang dimintai pertolongan pertama kali sebelum keluarga datang membantu.

Bulan penuh keberkahan dan kemuliaan. Bulan keakraban sesama warga. Semoga pertemuan ini akan berlanjut pada Ramadan tahun berikutnya. Aamiiin.

#ODOP